
"Selamat menikmati roti kalian. Sampai jumpa lagi." Ignacia melambaikan tangan pada Dianti sebelum pergi ke atas. Rananta bilang ia akan menunggu dirinya agar bisa langsung makan bersama-sama. Pesanan Ignacia langsung dibuatkan karena dapur tengah lenggang. Jadi beberapa menit setelah dia sudah ada di lantai ketiga makanan bisa langsung diambil dari lift.
Hanasta menunjukkan video yang ia rekam pada Ignacia. Nanti malam rencananya akan dia kirim di jam istirahat teman lainnya. Foto yang tadi mereka ambil sekarang sudah tersebar ke ruang obrolan teman-temannya ketiganya. Dianti pasti akan melihatnya nanti.
Ignacia tidak bisa menyiapkan kamera, takut Dianti akan curiga. Sebagai gantinya dia bercerita dengan detail beserta contoh asli suara Dianti ketika takut tadi. Mereka sampai menahan tawa agar tidak pecah dan mengganggu pengunjung lain. Ignacia berharap kejutan yang ia siapkan bersama kedua temannya tidak mengembalikan rasa takutnya tentang pria tidak sadar waktu itu.
Ignacia memesan taco yang sama seperti kedua temannya. Dari gambar yang Rananta kirimkan, makanan itu terlihat besar dan enak. Jika kurang kenyang, Ignacia bisa membawa kedua temannya untuk membeli roti seperti yang ia belikan untuk Dianti dan teman-temannya di bawah sana. Ia sempat memeriksa jam tutup toko roti itu. Ketiga teman ini masih punya waktu hingga nanti malam.
Mereka tidak punya bahan pembicaraan. Kelihatannya semua cerita menarik sudah mereka sampaikan ketika di kereta tadi. Untuk mengusir keheningan, Rananta mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk melakukan siaran siaran langsung. Daripada tidak melakukan apa-apa. Mungkin ada seorang teman yang bisa membawa obrolan untuk meja ini.
Ignacia tidak ikut muncul di kamera bersama kedua temannya. Ia lebih senang membaca beberapa komentar tanpa harus menunjukkan diri. Banyak dari teman-teman yang bergabung adalah mereka yang satu universitas dengan kedua teman ini. Mereka bertindak seperti penggemar sementara temannya merasa seperti artis. Pertemanan yang menarik.
Hanasta beberapa kali menunjukkan makanan yang ia pesan, berniat melakukan promosi secara cuma-cuma. Situasi bosan bisa membuat melakukan apa saja untuk keluar darinya. Kini bukan hanya Rananta yang bersikap seperti artis. Dia dan Hanasta sudah seperti influencer yang membuat video untuk promosi barang baru.
Di sela menikmati siaran langsung kedua temannya, Ignacia meraih ponsel dari dalam tas. Niatnya untuk mengirimkan foto keberadaannya pada Athira. Layar ponselnya menyala, ada beberapa pesan masuk dari seseorang. Senang sekali Ignacia mendapatkan Rajendra mengirimkan beberapa pesan.
Pesan pertama menanyakan kabar Ignacia saat ini, apakah si gadis baik-baik saja dalam keadaan sehat. Yang kedua bertanya apakah Ignacia sudah makan siang. Rajendra bilang dia sedang bingung ingin makan apa, jadi sekalian bertanya rekomendasi pada kekasihnya. Lalu ada pesan lain yang menyatakan rindu, ingin bertemu, khas hubungan jarak jauh.
Selanjutnya Rajendra meminta izin pada Ignacia untuk menanyakan sesuatu. Pesannya datang sekitar waktu kedatangan Ignacia dan kedua temannya di kota ini. Ada panggilan tak dijawab yang baru Ignacia sadari setelah melihat isi ruang obrolan. Kenapa Rajendra nampak terburu-buru? Menelpon memang bukan hal baru, namun jika berkali-kali--ada apa gerangan?
Ignacia mengetikkan pesan balasan secepat kilat. Balasan dari nomor yang ia hubungi jika cepat membalas. Sekitar sepuluh menit setelah pesan Ignacia terkirim. Rajendra sudah makan, kini ia akan menanyakan sesuatu yang membuatnya sampai meminta persetujuan tadi. Ignacia yakin ada hubungannya dengan panggilan yang datang tadi.
"Apa kakak perempuanku menghubungimu?"
Si gadis menjawab jujur pertanyaan kekasihnya. Tidak ada alasan untuk menyembunyikan fakta. Selanjutnya pesan itu hanya dibaca selama kurang lebih tiga menit oleh Rajendra. Dia masih ada di dalam ruang obrolan, membeku, tidak mampu mengetikan pertanyaan berikutnya. Kakaknya begitu berani mendekati perempuan kesukaannya lagi.
"Apa kakakku merepotkanmu? Apa yang membuat dia menghubungi kamu? Aku boleh tahu?"
Ignacia menjelaskan soal resep kue dan permintaan tolong Kak Amira. Panggilan telpon dan pesan singkat beberapa hari sebelumnya. Kak Amira tidak merepotkan, hanya minta tolong. Semuanya Ignacia sampaikan sejujur-jujurnya. Rasa penasarannya muncul, ingin tahu kenapa Rajendra bertanya. Ignacia kira Rajendra akan datang ke acara keponakannya.
"Aku tadi menelpon karena aku merindukanmu. Tapi rupanya kamu sedang berada di panggilan lain. Kukira kakakku merepotkanmu." Pesannya terdengar menyesal. Ignacia sudah bilang jika Kak Amira tidak membuatnya repot sama sekali.
"Baiklah, terima kasih sudah membalas pesanku. Aku ada urusan lain. Kita mengobrol lagi nanti malam, Ignacia."
Rajendra langsung keluar dari aplikasi, langsung pergi tanpa menunggu balasan Ignacia lagi. Keduanya tidak bertemu, namun Ignacia bisa merasakan sesuatu yang aneh sekali lagi. Kenapa Rajendra bertanya apakah kakaknya merepotkan? Ignacia dengan senang hati membantu. Bahkan merasa bangga karena kuenya diminati orang lain.
Ignacia melanjutkan niat untuk mengirimkan foto pada adiknya. Tak beberapa lama setelahnya Athira berganti mengirimkan foto. Menunjukkan hamparan mahasiswa yang tengah menikmati makan siang di kantin. Keduanya lanjut mengobrol singkat hingga Athira harus pergi ke kelas selanjutnya. Mahasiswa baru yang ia kenal ini terlihat sibuk.
Rananta dan Hanasta masih sibuk melakukan siaran. Ignacia sesekali di ajak bicara, ditawari untuk masuk ke dalam kamera namun terus menolak. Ignacia tidak mengenal siapapun yang sedang menonton, jadi lebih baik ia tetap berada di samping. Mengobrol dengan kedua temannya dan terus melanjutkan makan.
Kafe ini membuat betah. Sudah ada beberapa pertukaran pengunjung dan ketiga gadis ini masih duduk mengabiskan sisa makanan. Dianti naik, mendapati teman-temannya masih melakukan siaran. Dia sempat mendapatkan notifikasi, hanya saja tidak ia buka. Sudah sore, waktunya bagi Dianti untuk pulang. Sebentar lagi seseorang yang akan menggantikan dia hingga waktu tutup akan datang.
Ketiga temannya tidak menyangka bisa menetap cukup lama. Bahkan sampai seseorang yang mereka kunjungi tempat kerjanya hampir pergi. "Kaliam akan langsung pulang? Mau pergi makan malam denganku? Ada restoran bagus yang direkomendasikan ibuku. Mau mencobanya?"
Dianti duduk sambil mengamati teman-temannya membersihkan meja dari sampah makanan, tidak lupa mengemasi barang-barang dan memastikan semuanya terbawa. Mereka setuju dengan ajakan Dianti. Sebaiknya mereka makan malam dulu sebelum pulang. Kereta yang mereka tumpangi juga belum datang. Masih ada empat jam lagi.
"Dianti, apa kau mungkin tahu dimana Rajendra sekarang? Yang aku tahu hanya tempat kerjanya saja sejauh ini." Ignacia bertanya secara sembunyi-sembunyi, mencegah kedua teman lainnya ikut mendengarkan. "Mungkin kau tahu dimana seharusnya Rajendra sekarang?"
Yang ditanyai agak terkejut. Seperti tidak mungkin jika kekasihnya sendiri tidak tahu keberadaan orang yang ia cari. Dianti menggeleng, "Aku tidak mendapatkan informasi apapun. Kenapa tidak tanyakan saja padanya? Dia pasti ada di kota ini." Sayangnya Ignacia tidak bisa melakukan itu.
Ketika sampai di lantai dasar, para pegawai yang mengetahui keberadaan tiga gadis yang adalah teman Dianti itu mengucapkan terima kasih untuk rotinya secara bergantian. Meskipun bukan roti mewah, mereka sangat bersyukur mendapatkan makanan gratis. Mereka terlihat ramah, karenanya Dianti rela melepaskan pekerjaan perhotelan.
Keempat teman ini berjalan berpasangan. Dianti di depan bersama Rananta sementara Hanasta juga Ignacia mengikuti. Untuk beberapa saat Ignacia menikmati kesunyian tanpa ikut dalam obrolan ketiga temannya. Udara kota ini semakin hangat. Rajendra ada dimana? Sampai saat ini belum ada tanda-tanda mereka bisa bertemu di waktu yang tidak direncanakan seperti kata laki-laki itu.
Keempat gadis ini mengambil tempat di halte, obrolan mereka berganti dengan penjelasan Dianti soal tempat yang akan mereka tuju. Letaknya tidak dekat dengan kosnya, namun sesekali Dianti pergi kesana jika merindukan rumah. Tempatnya sering dikunjungi oleh mereka yang sudah berkeluarga. Ada anak-anak kecil, beberapa pria dan wanita paruh baya, juga keluarga muda yang bahagia.
Entah bagaimana Ignacia bisa langsung menyambungkan kriteria tempat tadi dengan restoran yang dikelola oleh keluarga Bagas. Padahal Ignacia sendiri tidak tahu ada berapa restoran yang mengusung tema serupa.
Jalan yang dituju hampir mirip dengan jalan ke arah restoran itu juga. Tebakan Ignacia semakin kuat Ignacia bisa saja bertanya apakah restoran yang ia pikirkan ini sesuai dengan yang Dianti tuju. Sayangnya Ignacia lupa nama tempatnya. Sudah lama ia tidak datang dan hanya ingat jalannya saja.
Beberapa menit setelahnya, Ignacia tidak terkejut lagi. Rasa penasarannya sudah terpuaskan. Benar ke tempat dahulu kekasihnya bekerja. Rasanya lebih hampa dari terakhir Ignacia datang. Keempat teman ini masuk, langsung menuju kasir untuk memesan. Ignacia akan memesan makanan yang pernah Bagas pesankan untuknya dulu. Bukan karena ia mengingat kebaikan laki-laki itu, melainkan momen pertama kali menemui Rajendra.
"Disini tempat kekasihmu dahulunya bekerja kan?" Dianti juga tahu jika Rajendra sudah tidak berada disini rupanya. Informasi yang keduanya miliki pasti tidak jauh berbeda. "Pernah sekali aku datang ke tempat ini, Ignacia. Rajendra sepertinya lupa padaku, atau mungkin aku yang sudah banyak berubah. Dia mengantarkan makananku lalu pergi setelah berkata semoga aku menyukai makananku."
Ignacia menyampaikan pesanannya pada Rananta agar bisa mendengarkan semua cerita Dianti. Hanya beberapa kali saja dia menatap ke arah para pekerja yang ada di sekitar meja kasir dan mereka yang keluar masuk dapur untuk mengirimkan makanan. Ignacia masih ingat mereka semua, hanya namanya saja yang tidak ia tahu.
Mereka mendapatkan meja di tengah-tengah ruangan. Kebetulan sekali baru selesai dibersihkan. Setelah mereka duduk, banyak orang masih mengantri. Mereka menatap cemas sekitar, takut tidak mendapatkan tempat duduk. Ada beberapa anak kecil yang diminta mengecek lantai kedua apakah masih ada tempat yang kosong. Iya, Ignacia hampir lupa dengan keberadaan lantai di atasnya.
Makanan keempatnya sampai sekitar tujuh menit setelah memesan. Tempat ini semakin ramai, wajar jika pelayanannya sedikit terlambat. Pramusaji yang membawakan pesanan untuk meja Ignacia tampak beberapa kali tertangkap melirik dirinya. Mungkin dia ingat jika Ignacia adalah seseorang yang pernah dikenalkan Rajendra padanya. Ketiga temannya menyadari tatapan aneh dan sapaan kecil pramusaji itu cepat atau lambat.
"Kalian saling kenal?" Hanasta berbisik pada Ignacia, Rananta juga ikut penasaran. "Laki-laki tadi sepertinya menyapamu."
Ignacia tidak tahu jika sekarang waktunya untuk mengatakan sesuatu soal masa lalu kekasihnya. Si gadis memberitahu jika dahulu Rajendra bekerja disini dan ia pernah dikenalkan pada teman-temannya. Ignacia sejujurnya tidak ingin membahasnya, ia anggap semua yang terjadi pada Rajendra juga dirinya adalah rahasia yang sebaiknya tidak ada yang tahu. Ignacia juga tidak tertarik membahas ini dengan orang lain.
Dari pintu dapur, Ignacia merasa ada beberapa orang yang tengah menatapnya. Mungkin laki-laki yang tadi memberitahu teman-temannya jika Ignacia ada disini. Mereka juga seperti mencari keberadaan Rajendra di sekitar. Teman mereka ini adalah orang yang baik, jadi semua pegawai disini menyukainya. Sudah lama mereka tidak bertemu.
Sebelum meninggalkan restoran, Ignacia pergi ke toilet sebentar. Ia merasa rambutnya agak berantakan. Riasan tipis di wajahnya juga hampir hilang, waktunya untuk memakai lagi. Teman-temannya sudah menunggu diluar. Begitu mendapati Ignacia keluar dari dalam restoran, Dianti pamit pulang lebih dulu. Ia memanggil taksi lalu pergi.
"Makanan disini enak. Tidak heran banyak yang datang," ucap Rananta. Dia mengajak kedua temannya untuk segera mencari halte. Sebentar lagi kereta mereka akan datang. Ignacia berjalan di sampingnya, menganggukkan kepala setuju. Tempat ini bahkan bisa lebih ramai ketika makan siang. "Lain kali mau datang kesini lagi untuk acara reuni kita?"
Entahlah, Ignacia setuju-setuju saja. Mungkin lain kali bisa tanpa sengaja bertemu Rajendra.
Baru berjarak beberapa langkah, ada sebuah suara yang memanggil nama Ignacia. Otomatis ketiga gadis ini berhenti, refleks manusia ketika nama temannya dipanggil. Seorang laki-laki berjalan mendekat, "Boleh kuminta waktumu sebentar? Ada yang ingin kuberikan padamu."
Rananta juga Hanasta mempersilahkan Ignacia mendekati laki-laki itu. Mereka tidak mungkin menahan temannya.
Ignacia menyisihkan diri, berjalan mendekat namun tetap memberikan jarak. Bagas mengulurkan tangan, menyodorkan sebuah gantungan kunci berbentuk burung hantu. "Bagaimana ini bisa ada di tanganmu?" Buru-buru Ignacia meraih benda itu dari tangan Bagas, memperhatikan lebih detail. Benda ini adalah gantungan kunci yang Ignacia berikan pada Rajendra.
"Tadi ada seorang gadis yang menitipkan ini padaku. Katanya aku pasti tahu pemiliknya." Ignacia membalikan tubuh burung hantu di tangannya, sebuah nama tertera di belakang kepala benda itu. Nama kekasihnya tertulis dengan jelas. "Kuberikan padamu karena kalian pasti akan bertemu lagi."
"Siapa nama gadis yang memberikan ini padamu?"
Bagas terlihat mengingat-ingat sesuatu. "Jika tidak salah namanya Farah atau Sarah. Entahlah aku sedikit lupa."
Jantung Ignacia seakan berhenti berdetak. Bagaimana bisa gadis itu menemukan benda yang Ignacia berikan pada kekasihnya? Apa mereka bertemu baru-baru ini? Dari banyaknya kemungkinan yang ada, kenapa harus Sarah yang menemukan benda ini? Juga kenapa benda ini bisa ditemukan orang lain?
Tangan Ignacia mengepal kuat sementara yang lainnya terasa lemah. "Dimana gadis itu menemukan ini? Kenapa dia memberikan ini padamu?"