Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Surprise!!!



"Buset dah! Apartemen lo boleh bagus, tapi masa gak punya satu meja pun sih, Ka?" Albert mengeluh, lagi, untuk kesekian kalinya.


Raka tertawa, "Udah sih, terima aja."


"Albert bener! Pinggang gue udah mau patah daritadi bungkuk terus." Julia akhirnya buka suara juga, sambil memijat sendiri bagian punggungnya.


"Saran gue, kalian mending hemat energi deh, kerjaan masih banyak," kata Raka. Matanya tidak lepas juga dari laptop.


Albert dan Julia menatap Raka tidak percaya. Memangnya untuk siapa mereka harus tersiksa seperti ini???


Mereka berdua kompak menjauhkan laptop dari pangkuan, lalu menghempaskan tubuh ke atas karpet.


"Bodo amat dah!" gerutu Albert.


"Iya, bodo amat! Deadline kan sebenarnya masih seminggu lagi!" Julia bermisuh-misuh.


"Eh, eh, kok gitu sih? Deadlinenya hari ini, cantik, biar gue bisa cekin dulu. Yuk bisa yuk? Bangun lagi yuk?" Raka menarik tangan Julia agar bangun.


"Ogah! Siapa suruh lo mulai besok gak bisa diganggu! Kan kita yang jadi menderita!" Julia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Raka.


"Tau! Gue mau main game, Ka!" Albert mengeluh.


"Jangan dong! Kita harus kelar hari ini. Yuk, Bert? Lo bisa yuk?" Raka membujuk.


"SALAH SIAPA HARUS KELAR HARI INI???" Albert menggerutu dengan nada tinggi.


Raka langsung cengengesan, "Jangan gitu dong, Albert Sayang. Kasihanilah pelaku LDR yang jarang ketemu ini."


"Bodo amat! Itu kan urusan lo! Lagian lo centil amat sih pake gak bisa diganggu seminggu cuma karena cewek lo datang dari Paris!" Julia menyuarakan isi hatinya.


"Jules, cewek gue lebih galak dari Tyrex. Kalau gue malah sibuk kerja padahal dia udah nyempetin ke Indonesia, bisa dimakan gue hidup-hidup." Raka berkata, jujur.


Sebulan terakhir ini, komunikasi dia dan Davina tidak selancar dulu. Sepulangnya dari Disneyland, Raka langsung merintis Creature, perusahaan start up barunya. Mereka sedang sibuk mencari muka dengan mengerjakan kilat semua permintaan perusahaan-perusahaan klien. Selama masa promosi, sudahlah harga dibanting, deadline dari klien pun tidak kira-kira! Beginilah nasib perusahaan baru...


Davina sendiri sudah memberi ultimatum. Saat dia berada di Jakarta, jangan sekalipun dia melihat Raka sibuk dengan laptopnya. Dia ingin mendapat perhatian penuh! Sebagai kompensasi dari waktu-waktu yang dihabiskan Raka untuk mengabaikan Davina.


Balik ke Creature...


Albert, Julia dan Raka hanya punya kekuatan tiga orang, makanya pekerjaan mereka selama sebulan terakhir sudah hampir membuat mereka gila! Mereka bahkan masih harus memikirkan tugas-tugas kuliah mereka, jangan sampai terlantar karena Creature!


Mereka memang sekelompok orang jenius. Tapi orang jenius kan tetap punya batas tenaga.


"Ya bodo amat sih! Itu kan masalah lo! Bukan masalah gue sama Albert." Julia tetap tidak mau bangkit dari karpet.


"Jules, ayo dong! Semangat!" Raka sekarang sudah menarik tangan Julia agar kembali duduk tegak.


"DAMN YOU, RAKA!!!" Julia memaki karena Raka berhasil mendudukkannya.


"Gue tonjok lo kalau berani ngelakuin hal yang sama!" ancam Albert.


Tapi, Raka kan tidak pernah takut pada siapapun! Dia tetap menarik tangan Albert untuk kembali duduk.


"Ayo, Bert! Lo pasti bisa!"


"SON OF A..." Albert ingin memaki.


Raka cengegesan lagi karena sudah berhasil mendudukkan teman-temannya.


"Good! Ayo, kerja lagi!" Raka mengambil laptop Albert dan meletakkan lagi di pangkuannya.


Dia menoleh pada Julia.


"Kalau lo letakin sendiri ya. Gue gak mau dituduh melakukan harrasment." Raka bercanda.


Julia menggerutu. Namun, akhirnya dia mengambil lagi laptopnya, lalu lanjut mengerjakan bagiannya.


Tanpa banyak omongan lagi, mereka pun kembali bekerja.


"Lo berdua laper gak? Gue pesenin pizza, pada mau?" tanya Raka.


"Sogokan kita cuma pizza???" Suara Julia meninggi.


"Ya ampun! Kalau gue udah kaya, gue kasih rumah di Pondok Indah."


"Meat lover sama american favorite ya! No sayur-sayur club!" kata Albert.


"Iyeee!"


"Pinggiran keju!"


"Siap, madam!"


Raka pun memesan makanan sogokan itu agar Albert dan Julia lebih semangat bekerja malam ini. Dia bahkan merogoh uang jajan bulanannya lebih dalam dengan memesan side dish yang lain.


"Lo tuh kalau udah nikah kayaknya bakal jadi suami-suami takut istri deh, Ka," cetus Julia.


Raka menoleh, lalu tertawa. Berkaca dari sang Papa, tentu dia tidak menolak bahwa ada turunan sifat itu di DNA-nya.


"Bukan takut, respect!"


"Halah! Itu mah alasan semua cowok-cowok yang ada di bawah ketiak ceweknya!" Julia tertawa.


"Davina emang alpha female?"


"Enggak sih."


"Sooooo?"


"Ya, karena gue sayang aja."


Albert dan Julia saling tatap, bulu kuduk mereka meremang melihat teman mereka ini tiba-tiba jadi seperti ini.


"Anj, gak pantes lo!" maki Albert.


"Asli! Lo tuh setan, Ka! Ingat!!! Setan! Iblis!" Julia histeris.


Raka tertawa.


"Gak cocok banget sih lo menye-menye begini!" Julia mengernyit.


"Gue jadi penasaran sama bentukan Davina. Ntar kalau udah di Jakarta, ketemuan dong," kata Albert.


"Iya, iya. Ntar gue tunjukin."


"Wah, pede dia. Berarti Davina cantik banget." Julia berasumsi.


"Gue aja begini. Cewek gue harus cantik banget dong!"


"Nah, ini baru Raka! Gak usah sok menye!" Albert pun kembali pada laptopnya.


"Najis banget sih lo!" Julia memaki.


Raka terkekeh saja. Ponselnya berbunyi. Nama sang mama muncul di layar.


"Kenapa, Ma?" tanya Raka.


"Lagi dimana, Ka?" Nayla balas bertanya.


"Apartemen. Kenapa?"


"Gak apa-apa. Mama kangen."


"Ya ampun, Ma. Raka kan baru kesana dua hari lalu."


"Ya masa gak boleh sih kangen sama anak sendiri!"


"Iya, iya, boleh. Tapi besok kan Davina pulang, pasti dia mau ketemu Mama sama Papa juga. Raka bakal kesana kok dalam waktu dekat."


"Iya. Harus datang ya!"


"Iyaaaaa. Eh, Ma, Raka pesen pizza nih. Abangnya udah di bawah. Raka ke bawah dulu ya."


"Oke."


Telepon pun terputus. Raka cepat-cepat berjalan keluar dari ruangan.


Begitu Raka menghilang, Albert dan Julia langsung tertawa terbahak-bahak.


"Asli, kalau lagi bareng kita aja tegasnya minta ampun. Kalau sama Mama dan ceweknya, melempem," ledek Julia.


"Kacau sih! Raka kan baru dua minggu lalu kesana!" Albert menirukan cara bicara Raka yang tadi.


Julia memukul bahu Albert, "Jahat lo! Mungkin kebiasaan di keluarganya harus pake nama gitu kalau lagi ngobrol!"


"Tetep ajaaaa! Umur dia udah dua puluh tiga tahun! Masih aja cara ngomongnya begitu!"


Mereka masih terus meledek Raka saat bel apartemen Raka berbunyi. Mereka tertawa lagi.


"Lupa bawa kunci dia kayaknya," kata Albert, bersiap berdiri.


"Eh, gak usah, Bert. Gue aja. Gue mau sambil lurusin punggung juga." Julia bangkit berdiri dan merenggangkan badan sejenak. Lalu dia berjalan ke arah pintu apartemen Raka dan membukanya.


"Surprise!!!" Seseorang berteriak.


Juliah menengadah. Kaget setengah mati saat menemukan bukan Rakalah orang yang berada di balik pintu, melainkan sesosok wanita mungil yang sangat cantik.


"Eh, aku salah unit ya? Ini unit 208 bukan?" Wanita itu terlihat bingung saat melihat Julia.


"Iya, benar, ini unit 208," jawab Julia.


Mata wanita itu membesar.


"Ka-kamu siapanya Raka?" Suaranya bergetar saat mengatakan hal ini.


Julia semakin bingung melihat ada amarah dalam pandangan dsn nada suara wanita di hadapannya.


Dia tidak menyadari sama sekali bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Davina.


***