
" Aaakkhhh ..... "
Lana bangun dengan kepala yang rasanya sangat berat . Sean memang tidak melakukan apapun setelah pembicaraan mereka semalam , padahal ia mengira jika pria itu akan ' mengamuk ' seperti biasanya . Sebuah amukan yang pasti akan berakhir dengan jerit kepuasan pria itu di atas ranjangnya .
Dan setelah pembicaraan itu Lana menjadi tak bisa tidur dengan tenang . Otaknya seperti terus saja merekam kejadian enam tahun ketika kecelakaan itu terjadi . Dia dan ibunya menjauhi area kecelakaan karena waktu itu mereka benar benar ketakutan . Ada rasa sesal kenapa waktu itu dia tidak menolong Darrell , waktu itu pasti anak itu sangat kesakitan . Tapi ia benar benar takut saat itu ... sekilas Lana teringat jika ada darah yang merembes dari pintu supir dan penumpang .
Dan sayangnya ketika sang ayah menjemput mereka di toko kecelakaan itu sepertinya sudah ' dibersihkan ' . Bangkai mobil pun sudah tidak terlihat lagi , mungkin saja para penjaga Sean yang melakukan sweeping agar kejadian tidak membesar di media .
Felix Jensen bukanlah pengusaha recehan yang akan mudah dikalahkan oleh Sean suaminya . Lana yakin iblis itu pasti melakukan segala cara untuk menjatuhkan perusahaan keluarganya . Sean ingin Felix sendiri yang menyerahkan dirinya dengan dalih pernikahan bisnis .
Tapi bukan ... bukan ayahnya yang memaksa dirinya agar mau menikahi Sean Jayde ! Tapi dirinyalah sendiri yang memutuskan karena ini adalah satu satunya hal yang bisa mengatasi masalah perusahaannya . Felix sudah mempunyai banyak tanggungan di bank , tak mungkin ayahnya itu mencari pinjaman lagi .
Tapi setidaknya setelah ini semua ia menjadi tahu apa alasan iblis itu membencinya . Selama belum ada yang bisa mengungkap penyebab kecelakaan itu maka ia dan ayahnya akan tetap menjadi tersangkanya . Pelan tapi pasti , Lana akan mengungkap semua hanya karena hanya hal itulah yang membuatnya bisa terbebas dari cengkeraman suaminya .
TOK ... TOOKKK
Dengan langkah berat Lana membuka pintu kamarnya , tapi senyumnya mengembang ketika melihat seorang anak dengan kursi roda berada di depannya kini .
" Lana ... apa kau sakit ? Apa Daddy sudah marah marah lagi padamu !? "
Lana menggeleng pelan kemudian duduk bersimpuh di depan kursi roda Darrell , tampak anak yang berusia hampir tujuh tahun itu sangat kaget . Wanita itu tampak mengamati dua kaki Darrell dengan mata yang sudah tergenang air mata .
" Apa ini sakit !? "
" Tidak sama sekali , apa kau lupa jika kedua kakiku lumpuh ... Tidak bisa merasakan apa apa !? "
Lana tertawa kecil menyadari pertanyaan bodohnya , begitupun Darrell yang ikut tertawa karena merasa lucu atas pertanyaan itu .
Lana melihat Darrell menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyum tulus yang tak dibuat buat .
" Tidak , aku tidak akan membenci siapapun atas semua yang terjadi padaku ! Jika Tuhan sudah mengambil satu dari diriku maka aku tidak boleh lupa dengan banyaknya hal yang sudah Dia beri padaku . Dia ambil kemampuan kedua kakiku . Tapi Dia memberiku orang orang baik seperti kalian yang tulus menyayangiku , dia memberiku dua mata yang membuatku bisa melihat semua bentuk dan warna yang menakjubkan , dia masih memberiku dua tangan untuk meraih semuanya . Banyak hal yang tak bisa aku sebutkan satu persatu .... aku tidak pernah kekurangan apapun Lana ! Jadi tidak hal yang perlu aku keluhkan "
Dan jawaban itu membuat Lana harus menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan butiran air mata yang telanjur keluar dari dua sudut matanya . Entah ... tapi perkataan Darrell seperti menyayat hatinya . Ada sebuah pertanyaan besar dihatinya , bagaimana seorang raja iblis seperti Sean bisa mempunyai malaikat kecil seperti ini .
" Kau masih pusing ? Apa perlu aku panggil maid untuk mengambil obat ? "
" Jangan khawatir , saya biasa mengalami ini jika kurang istirahat " jawab Lana sambil cepat cepat menyapu air mata di pipinya , kemudian ia melirik ke arah jam digital yang ada di atas nakas . Sepertinya sudah waktunya dia membuat sarapan karena sebentar lagi Sean akan berangkat ke kantor .
" Kita ke dapur sekarang , kita akan buat roti isi spesial kali ini "
" Kita !!?? "
" Kali ini anda yang akan jadi chef-nya ! "
" Yeayyy !!! " pekik Darrell kegirangan , tak pernah satu kali pun ia berada di dapur untuk membuat sesuatu . Bahkan tak satu kali pun ia mengerjakan pekerjaan rumahan seperti anak lainnya walau itu hanya sekedar membuang sampah . Semua menganggap jika seorang Tuan Muda tidak boleh mengerjakan sesuatu .
Sampai di dapur Lana menyiapkan beberapa lembar roti dan berbagai isiannya . Dan Darrell dengan sangat bersemangat mengikuti arahan Lana untuk meletakkan isian itu ke atas roti .
Tanpa mereka sadari dua mata elang sedang menatap intens ke arah mereka . Sean mengira jika Lana akan terbebani karena harus merawat putranya , ia yakin putri manja dari pengusaha kaya seperti Lana pasti tidak akan mampu mengurus hidup seseorang .
Tapi yang ia lihat malah kebalikannya , Lana menikmatinya .... Dan putranya terlihat begitu menyayangi istri kedua yang ia benci itu .