Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Let It Rain



Raka memasuki runah keluarga Mahardhika dengan menaiki motornya yang dulu.


Davina langsung bersorak senang begitu melihat Raka mengendarai motor.


"Pagiiiii!" sapa Davina, dengan riang.


Raka tersenyum.


"Tumben banget naik motor."


"Biar seharian dipeluk terus."


"Okaaaaay!" Davina langsung setuju.


Raka pun mengamati Davina sejenak, ingin menikmati sebanyak-banyaknya waktu untuk merekam setiap tingkah wanita kesayangannya itu. Beberapa minggu lagi, Davina akan terbang ke Paris. Raka pasti akan rindu luar biasa.


Davina sebenarnya tahu apa yang dipikirkan oleh Raka. Dia pun menarik tangan kekasihnya itu, menggenggamnya erat, lalu bertanya, "Hayooo, mikir apa?"


Raka meletakkan telapak tangan Davina di pipinya.


"Aku bakal kangen banget," jawab Raka, sejujur-jujurnya.


"Setahun aja. Kalau kamu libur, kan bisa mampir juga."


"Mampiiiiiiiir, dikira Paris tuh sedekat Pasar Senen kali ah."


Davina tertawa.


"Hari ini kita mau kemana?" tanya Raka, sengaja mengalihkan topik.


"Ngurus visa, ngurus sesuatu di Nararya sebentar, abis itu terserah kamu. I'm all yours."


(Aku milik kamu sepenuhnya.)


Raka tersenyum miring, "Oke."


"Aku udah boleh naik?"


"Please, princess?"


Davina tertawa, lalu naik ke atas motor. Raka memang sengaja mengambil cuti demi menjadi supir Davina seharian. Apapun untuk Davina, apapun, asal wanita kesayangannya tidak kekurangan suatu apapun...


***


Setelah segala urusan di konsulat Perancis selesai, Raka pun menemani Davina mengurus sesuatu di Nararya.


"Aku ikut turun atau gimana?" tanya Raka.


"Ikut dong, nanti kamu nunggu di resepsionis ya, biar kayak dulu-dulu lagi."


Raka tertawa mendengar ide tersebut. Namun, dia tetap menurut ketika mereka susah tiba di resepsionis.


"Tunggu ya." Davina mengerling.


"Iyaaaaaa."


Davina pun berjalan masuk ke dalam Nararya, dia perlu meminjam beberapa guru untuk bergantian mengajar di Espoir saat dia dan rekan-rekannya pergi ke Paris. Ilana sudah setuju, mereka hanya tinggal menyesuaikan jadwal final-nya.


Saat berjalan itulah, Davina bertemu dengan Yuni.


"Hey, Yun!" sapa Davina, duluan.


"Hey!" Yuni hanya tersenyum simpul, apalagi saat menyadari Raka menemani Davina hari ini. Tidak ada lagi tatapan ramah darinya. Bagi Yuni, apapun yang dilakukan oleh Nikolas, Davina tetaplah menjadi penjahatnya disini. Seperti persahabatan mereka di Paris dulu tidak begitu berarti karena Nikolas.


Davina tidak menyalahkan Yuni. Mungkin Nikolas tidak menceritakan keseluruhan kisah mereka. Mungkin yang Yuni tahu, Nikolas hanya berselingkuh satu kali di Bandung, dan sudah selesai setelah ifu. Karena mana ada sih yang mau mengakui kesalahan, lebih mudah menunjuk orang lain untuk menjadi pelaku kejahatan.


"Lo emang bukan pacar yang baik ya, Dav, buat Nikolas. Makasih udah ninggalin dia," celetuk Yuni.


Davina tersenyum, tidak ingin berdebat.


"Sama-sama," jawabnya, singkat. Lalu dia berjalan meninggalkan Yuni.


Namun, setelah beberapa langkah, dia berhenti. Ada satu hal yang perlu diucapkannya.


"You know what, Yun?!"


Davina bisa melihat Yuni menyimaknya.


"Lo juga bukan teman yang baik buat gue. Makasih udah tetap dukung Nikolas walaupun lo tahu dia selingkuh sama sekretarisnya sendiri."


Yuni menggemeretakkan giginya.


Davina tidak peduli. Dia pun kembali lanjut berjalan, melenggang, tanpa ingin melihat ke belakang lagi.


Sudah cukup tentang Nikolas! Tidak usah dibahas lagi!


Seperti kata Taylor Swift di sebuah interviewnya.


You don't have to forgive and you don't have to forget to move on. You can move on without any of those things happening.


(Kamu tidak harus memaafkan dan melupakan untuk move on. Kamu bisa move on tanpa satu pun hal itu terjadi.)


Begitulah pendapat Davina tentang orang-orang beracun dalam hidupnya selama ini. Nikolas, Sienna, Angel dan juga Yuni. Beberapa orang memang hanya pantas masuk ke dalam daftar hitam, yaitu daftar orang-orang yang tidak perlu dia kenal lagi.


***


Setelah semua urusan di Nararya selesai, Davina pun berjalan menuju resepsionis dengan perasaan riang. Setelah ini, dia bisa pacaran sepuasnya dengan Raka.


"Udah kelar?" tanya Raka, begitu melihat Davina.


"Kita mau kemana lagi habis ini?" tanya Raka, lagi.


"Gak tahu."


"Semua urusan kamu udah kelar?"


"Udah dong."


"Mau makan? Laper nih."


"Mauuuu."


"Makan apa?"


"Jangan tanya cewek, mau makan apa. Pasti jawabannya..."


"Terseraaaah!" gerutu Raka, kesal.


Davina tertawa. Raka berpikir sejenak. Dan dia mendapat sebuah ide. Davina pasti akan kangen masakan Indonesia selama dia di Paris nanti. Mungkin dia akan membawanya ke sebuah restoran jadul di kawasan Menteng, tempat Davina bisa makan masakan Indonesia sepuasnya.


"Udah tahu mau makan dimana?" tanya Davina saat melihat binar di mata Raka.


"Bunga rampai, mau gak?"


Davina langsung merasa seleranya meningkat begitu mendengar nama restoran itu. Sate lilit, konro bakar, tahu telor. Masakan indonesia manapun bisa dia nikmati disana.


"Mauuuuu."


Raka tersenyum. Davina tidak lagi repot soal makanan. Dia melahap apapun yang dia inginkan saat ini. Sebagai gantinya, dia olahraga dan menari lebih lama agar membakar kalori yang diasup. Dan ternyata, sama sekali tidak menambah sedikit saja berat badannya. Tapi dia sudah menerimanya. Sebab dia hanya ingin melakuka apapun yang dia suka mulai sekadang. Sebab kunci dari kebahagiaan memang adalah mencintai diri sendiri.


Raka pun menggandeng tangan Davina dengan lugas. Lalu mereka pun berjalan ke luar dari Nararya. Mereka tertegun saat melihat langit.


"Ya ampun, gelap bangeeeet!" keluh Raka.


"Kayaknya bentar lagi hujan deh."


"Iya, gimana dong?! Mau neduh disini dulu?"


"Nanti lama banget, kayaknya hujannya bakal awet."


"Jadi, mau jalan terus aja?!"


"Iya, yuk buru?"


Mereka berdua pun segera menuju parkiran. Raka pun segera melajukan motornya begitu Davina duduk manis.


"Ayooo, Kaaa, cepat-cepaaaaaat!"


"Devni, kita harus hati-hati!"


Davina terkekeh, lalu menyampirkan tangannya di sekeliling pinggang Raka.


"I love you, Elraka..." bisik Davina.


Raka sebenarnya mendengar kalimat itu. Tapi dia sengaja tidak menjawab, biar dia mengira Davina tidak mendengarnya. Dia ingin menikmati momen tersebut dalam keheningan saja.


Dan perlahan gerimis turun membasahi bumi.


"Hujaaaaaaan!" jerit Davina, malah kesenangan.


Raka panik, melajukan motornya lebih cepat.


"Devni, kamu kok malah senang? Mau singgah dulu gak?" Raka bertanya.


Davina malah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, seperti bocah lima tahun yang kegirangan.


"I don't care! Let it rain! As long as I'm with you, let it rain!" Davina menjerit, sambil mengalungkan tangannya di bahu Raka.


(Aku gak peduli! Biarin aja hujan! Selama aku sama kamu, biarin aja hujan!)


Raka tertawa. Akhirnya menuruti permintaan Davina untuk tetap melajukan motornya. Hujan semakin deras. Mereka sudah basah kuyub. Tapi mereka tidak peduli.


Rasa-rasanya mereka kini kembali menjadi bocah SMA, alih-alih sebagai orang dewasa di pertengahan umur dua puluh.


"Rakaaaaa, aku sayaang kamuuuu," kata Davina.


Raka tersenyum. Sepuas-puasnya, Davina dapat mengatakan apapun isi hatinya.


"Sekarang giliran kamuuu, Ka!"


"Aku sayang kamuuuu juga, Devniiiii."


"Enggak, bukan ituuuu."


"Jadi?"


"Perasaan kamu yang sebenarnya!"


Ah, Raka mengerti. Selayaknya Davina mengerti dia. Baiklah, jika ini memang keinginan Davina...


"Devniiii, aku benciiii kamuuu pergiiii ke Pariiiiis!" jerit Raka, sejujur-jujurnya, seada-adanya.


***


IG : @ingrid.nadya