
Siapkan hati, tenangkan pikiran.
I love you, readers 😘
***
Jika ada yang bertanya siapa orang yang paling dikasihi oleh Raka, jawabannya hanya satu...
Davina.
Namun, jika ada lagi yang bertanya siapa orang yang paling tidak Raka inginkan untuk melihatnya gagal...
Dia tetaplah Davina.
Sebab Raka ingin selalu jadi yang sempurna untuk Davina. Dia selalu ingin menjadi lebih untuk wanitanya itu.
Lebih baik, lebih mencintai, lebih hebat, lebih mampu menopang mimpi mereka bersama...
Raka hanya sesederhana ingin menjadi segala hal baik dalam hidup Davina.
Tanpa Raka sadari...
Dia hanyalah manusia biasa. Yang tak luput dari segala kekurangan dan kegagalan.
Raka terlalu sibuk berusaha menjadi sempurna...
Sampai melupakan bahwa bukan seseorang yang sempurna yang diinginkan oleh Davina...
Melainkan hanya sesederhana orang yang selalu ada...
Sesederhana menjadi orang yang selalu memegang tangannya, di setiap kegagalan dalam hidup mereka.
Sebab manusia mana yang tidak pernah merasakan kegagalan? Manusia mana yang tidak pernah luput dari kesalahan?
***
Raka mendengar semuanya. Dia mengetahui segalanya. Setiap kata yang diucapkan oleh Albert untuk memberi sedikit petunjuk pada Davina tentang kondisinya. Setiap keraguan dalam kalimat Julia. Setiap kesedihan di suara Davina. Dan tentu saja, dia jelas tahu bahwa tadi Nikolaslah yang mengantar Davina.
Dia duduk di atas sofa, mengamati wajah Davina di hadapannya. Paras Davina yang cantik, yang menatapnya sendu di balik airmata. Kekasihnya itu duduk dengan pilu di atas sebuah kursi roda.
Tidak pernah terbayangkan oleh Raka, Davinanya setidakberdaya ini.
Davina adalah segala bentuk keindahan yang dirusak oleh Raka.
Jika dia tidak pernah mencintai Davina...
Jika dia tidak pernah menyentuh Davina...
Jika dia tidak berusaha mengejar Davina lagi sampai ke Paris...
Terlalu banyak jika di dalam hubungan ini.
Terlalu banyak kemungkinan baik dalam hidup wanita itu jika tidak bersama dirinya.
Raka menjalani hidupnya selama bertahun-tahun dengan mudah. Dia punya orangtua yang baik dan berkecukupan. Dia selalu mendapatkan segala keinginan dalam hidupnya. Namun, sekarang, dia tidak lebih dari segala bentuk kegagalan dalam hidup.
Dan salah satu bentuk kegagalannya berada di hadapannya saat ini.
Creature dihempas begitu saja karena kesalahan orang lain. Mimpinya direnggut semudah itu oleh karena seseorang yang bukan dirinya. Sama seperti Julia yang selalu merasa bertanggung jawab atas hancurnya Creature saat ini, begitulah Raka terhadap segala mimpi yang dipunya Davina.
Dia bisa ikhlas menerima kesalahan Julia. Namun, dia sungguh-sungguh tidak sanggup menerima jika dia yang jadi penyebab Davina tidak lagi berada di atas panggung. Dia rela menjadi terdakwa kasus apapun, asal tidak di kasus yang dapat merenggut mimpi Davina.
Bagi beberapa orang, hal ini terasa konyol. Namun, hanya Raka yang bisa mengerti betapa menghancurkannya perasaan bersalah. Apalagi saat seseorang ingin dia jaga sepenuh hati justru adalah orang yang dia renggut kebahagiaannya.
Davina tidak bisa berkata-kata lebih banyak, dia hanya menangis.
"Kamu kenapa nangis, Devni?" tanya Raka, tanpa nada. Dia heran sekali kenapa Davina masih mau menangis untuknya.
"Aku kangen kita, Ka. Aku kangen kamu."
Kita? Aku? Betapa konyolnya kamu, Devni...
Pikir Raka, merutuk. Bukan pada dirinya lagi, tapi kepada Davina yang masih begitu mengasihinya.
Segala kekonyolan ini...
Segala bentuk pembelaan diri Raka tadi...
Segalanya jadi tidak berarti lagi...
Sejak awal, pada dasarnya, Raka adalah orang yang sangat mementingkan pikiran dan perasaannya sendiri. Dia tidak sanggup lagi menjadi kegagalan terus menerus di dalam hidup Davina.
Dia bangkit berdiri.
"AKU GAK MAU!"
Tapi Raka mengabaikan Davina. Dia mendorong kursi roda itu sampai keluar ruangan.
"RAKA!!! AKU GAK MAU!!! TOLONGIN AKU!!! AKU MAU NGOMONG!!!"
Raka sudah tidak peduli lagi. Dia sudah tidak sanggup menahankan semuanya lagi.
Dia bahkan tidak tahu lagi beberapa bulan dari sekarang, apakah dia akan masih bisa merasakan udara bebas atau tidak...
Davina harus tetap aman...
Davina harus bisa berdiri tanpanya...
Davina berhak mendapatkan yang terbaik...
Dia mengabaikan segala jeritan dan makian Davina selama berada di mobilnya. Davina berhak mencacinya. Dia pantas mendapatkan segalanya itu.
Begitu tiba di depan rumah keluarga Mahardhika, Raka mendorong Davina sampai ke depan pintu. Airmata Davina telah mengering. Dia sudah begitu putus asa menghadapi sikap enggan Raka.
Kepergian Raka sudah berada tepat di depan matanya...
"Segitu pentingnya hal lain sampai kamu mengabaikan aku??? Aku yang sekarang sakit dan butuh support dari kamu???" Davina menatap Raka nanar. Tenaganya habis. Bahkan dengan keterbatasannya saat ini, Raka masih tega membiarkannya seperti ini. Apakah Raka sebenarnya punya hati???
"Banyak hal yang harus aku kerjakan untuk Creature, Devni."
"Apa, Ka??? Apa yang lebih penting dari aku???"
Raka tampak goyah sesaat.
Tidak pernah ada yang lebih penting dari Davina...
Justru karena wanita itu adalah hal terpenting dalam hidupnya...
Yang semestinya dia jaga... Yang dia gagal jaga...
Melihat keraguan dalam mata Raka, Davina mencoba peruntungan terakhirnya...
"Raka... Aku butuh kamu..." Dia merintih.
Dan begitulah isi hatinya yang sebenarnya. Davina semenyedihkan ini. Di atas kursi roda, kehilangan mimpi dan sebentar lagi, apakah dia juga harus kehilangan cintanya? Jangan sampai hal baik terakhir dalam hidupnya juga menghilang dari genggamannya...
"Devni, aku perlu ngurus Creature..."
Raka menggantungkan kalimatnya sejenak. Lalu dia menatap mata Davina dalam-dalam. Ingin membuat Davina tidak akan pernah memaafkannya atas ucapannya selanjutnya.
"Jangan karena kamu gak dapetin mimpi kamu... Aku juga gak bisa dapetin mimpiku..."
Davina terpana.
Seluruh hatinya luruh, begitupun airmatanya...
Tidak menyangka bahwa kalimat semenyakitkan itu terlontar dari oranh yang paling dia cintai seumur hidupnya...
Bagaimana mungkin Raka mengatakannya? Bukankah Raka harusnya jadi pendukung terbaik untuknya? Apakah Raka kehilangan akal saat mengatakannya? Tidak punyakah dia hati nurani? Belas kasihan sedikit saja untuk Davina? Haruskah dia menghukum Davina sekejam ini???
Dan Raka berbalik...
Bahkan di saat-saat seperti ini, separuh jiwa Davina terasa seperti melayang. Hal yang dia inginkan saat ini justru malah ingin memeluk dan menahan Raka.
"RAKAAA!!! ELRAKA ADITYA!!! TARIK LAGI KATA-KATA KAMU!!! TARIK SEKARANG JUGA!!! RAKAAAA!!!" Davina menjerit histeris sambil menangis tersedu-sedu. Sebab jika saat ini, Raka berbalik, menarik lagi setiap kata tadi, dia berjanji tidak akan pernah mengungkit hal itu pada Raka.
Please, berbalik...
Berbaliklah...
Davina membatin, pilu.
"RAKAAAAAAAAAAAA!!!"
Tapi Raka terus berjalan. Berbalik pun tidak.
Dia malah menyalakan dan melajukan mobilnya sesegera mungkin. Meninggalkan Davina berdarah-darah. Sebelum dia berubah pikiran. Sebelum dia kembali punya keinginan untuk merengkuh Davina dalam pelukannya.
Dia tidak akan berhak lagi.
***
Peluk readers banyak2 🤗