
“Udah gimana keadaan Davina, Ka?” tanya Julia saat akhirnya Raka muncul di kampus. Mereka sedang menunggu dosen untuk Tugas Akhir (TA) mereka.
Anak teknik informatika seperti mereka memang tidak menyusun skripsi untuk dapat lulus sarjana, tapi mereka harus membuat sebuah aplikasi secara beregu.
Kebetulan Raka dan Albert mengerjakan TA secara bersama-sama jadi saat ini mereka sedang menunggu dosen pembimbing mereka di depan ruang dosen. Sementara Julia baru selesai menghadap dosen pembimbingnya, dia disini hanya ingin melihat keadaan Raka dan memberikan moral support untuknya.
Benarlah firasat mereka, saat ini wajah Raka terlihat kusut dan kurang tidur. Sudah beberapa hari ini dia memang terus berjaga di rumah sakit, baru hari ini dia punya kesempatan untuk bertemu dengan Albert dan Julia.
“Udah mendingan,” jawab Raka, singkat.
“Sabar ya, Bro!” Albert menepuk pundak Raka.
Dia hanya bisa mengangguk.
“Ada perkembangan dari Om Ikhsan?” tanya Raka.
Albert garuk kepala. Sementara Julia menggigit bibir.
“Lo berdua boleh jujur kok,” kata Raka.
“Wetix udah masukin berkas ke pengadilan perdata dua hari yang lalu. Kemungkinan besar minggu depan kita udah dipanggil untuk sidang pertama.”
Raka mengangguk, lalu dia menatap ke luar jendela gedung.
“Kalau jatuh dari lantai dua, mati gak sih?” gumam Raka. Suaranya terdengar putus asa.
“Gue pengennya bilang iya, tapi sayangnya, enggak, Ka. Bakalan cuma patah tulang. Jangan bikin jadwal malaikat pencabut nyawa rusak karena lo nyoba bunuh diri dengan cara failed begitu.” Julia mencoba mengembalikan keceriaan di diri Raka.
Raka malah merenung.
“Oh, come on! Kita kan belum coba makanan penjara, jangan mati dulu dong!” Albert merangkul Raka.
“Temen kurang ajar ya lo berdua!” maki Raka.
Namun, sejurus kemudian, dia tertawa. Akhirnya… Raka bisa tertawa setelah beberapa hari hanya bisa berpikir dan berpikir. Bahkan malam hari dia jarang sekali bisa terlelap.
“Nama gue gak ada di akta dan perjanjian apa pun dengan Wetix. Jadi, kalau lo berdua masuk penjara, gue janji bakal tiap hari deh jengukin kalian dan bawa makanan,” goda Julia, lagi.
Raka terkekeh, “Sial! Rapi banget lo mainnya ya!”
“Iya kan. Yang salah siapa, yang masuk penjara siapa,” keluh Julia. Jadi serius sendiri. Ternyata dia masih merasa bersalah.
“Heh! Lo gak usah sok mellow ya! Yang terancam masuk penjara gue, yang baru biarin ceweknya nyebrang sendirian sampe ketabrak juga gue. Lo jangan coba-coba mellow!” Raka menekan kepala Julia, dengan sepenuh hati.
“Aw, sakit!!!” keluh Julia.
“Kalimat lo tuh serem banget kedengarannya.” Albert protes pada Raka.
“It’s true though…”
“Davina gak bakal nyalahin lo soal ini, Ka. Jadi lo jangan nyalahin diri sendiri dong,” kata Julia.
“Lebih bagus kalau semua orang nyalahin gue, Jules. Lebih bagus kalau gue disalahin aja…” gumam Raka.
Albert dan Julia saling tatap. Mereka sadar bahwa Raka sedang tidak baik-baik saja saat ini. Sama sekali tidak sedang baik-baik saja.
***
Sepulangnya dari kampus, Raka langsung mampir ke rumah sakit. Meski langkahnya terasa berat, dia tetap memaksakan diri untuk tetap datang.
Karena seperti kata Nayla, dia harus kuat untuk Davina.
Namun, saat membuka pintu, dia menemukan Davina sedang bersenda gurau dengan Yuni dan seorang laki-laki. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah laki-laki yang berduaan dengan Davina di kafe.
“Eh, Raka…” Yuni tersenyum saat menyadari kehadiran Raka.
Raka tersenyum, kecil.
“Kamu udah datang?” Wajah Davina berubah semakin sumringah. Dia mengulurkan tangan pada Raka, yang segera disambut oleh kekasihnya itu.
Raka sempat memperhatikan bahwa Nikolas diam-diam melirik genggaman tangan mereka. Well, laki-laki manapun pasti sadar bahwa Nikolas memang memiliki perasaan untuk Davina.
Anehnya, Raka tidak lagi membenci ide tersebut. Ide bahwa ada laki-laki lain yang mungkin lebih bisa mencintai Davina dengan benar, ide bahwa ada yang bisa menjaga Davina lebih baik dari dirinya.
Sungguh aneh.
Tapi sungguh itulah yang Raka rasakan saat ini.
“Kita datang mau jenguk Davina, sekaligus jelasin situasi waktu itu,” kata Yuni pada Raka.
“Gue baru kenal Davina hari itu. Jadi, gue gak tau lo siapa. Maaf kalau gue gak bisa jelasin apapun kemarin,” kata Nikolas.
Raka kembali hanya menjawab dengan anggukan.
“Oh iya, kenalin gue Nikolas.” Tangan Nikolas terulur untuk menyalam Raka.
Raka sampai harus melepas tangan Davina untuk menyambut Nikolas.
“Raka,” jawabnya singkat.
Dia kembali menggenggam tangan Davina setelah itu. Reaksi Nikolas sama seperti tadi.
“Jadi, jangan salah paham lagi ya, Ka. Waktu itu gue lagi ke toilet. Ketemu temen lama. Makanya gak keluar-keluar,” kata Yuni, lagi.
“It’s okay, Yun. Gue percaya kok. Gue cuma lagi ada kerjaan waktu itu, makanya buru-buru, gak bisa nungguin lo muncul,” kata Raka. Akhirnya, dia harus memaksakan diri untuk berbasa-basi dengan dua orang di depannya. Meski sebenarnya, dia sudah kehabisan tenaga saat ini.
Yuni dan Nikolas pun mengangguk setelah Raka buka suara.
“Oh iya, lo berdua udah makan?” tanya Raka.
“Udah kok. Sebelum kesini, kita udah makan.”
Raka mengangguk. Lalu dia menoleh pada Davina.
“Kamu udah makan?” tanyanya.
“Udah.”
“Mama Dee sama Papa Dave dimana?”
“Lagi konsul sama dokter mumpung ada Yuni dan Niko yang jagain.”
Raka mengangguk. Dia lalu menoleh lagi pada Yuni dan Nikolas, “Lo berdua masih lama kan disini? Kalau gue pergi sebentar mau denger penjelasan dokter Davina, boleh gak?”
“Oh, boleh kok, Ka. Gue sama Nikolas gak ada janji kemana-mana setelah ini.”
“Kamu mau ngapain sih?” tanya Davina. Suaranya merengek, seperti tidak rela Raka pergi.
“Sebentar aja. Aku cuma mau tanya keadaan kamu sama dokter.”
“Tapi kamu bakal balik kesini lagi kan?”
“Iya.”
“Janji?”
“Iya.”
“Yun… lo boleh muntah. Gue kalau ke Raka emang manja begini…” jelas Davina pada Yuni, tanpa sedikit pun menoleh dari Raka.
Yuni tertawa
“Asli lo najis banget sih, Dav.”
“I know.” Davina terkekeh.
“Ya udah, lo boleh ke dokter Davina, Ka. Bakal kita jagain,” kata Yuni.
Raka mengangguk.
“Sebentar ya.” Raka meremas pelan tangan Davina.
“Jangan lama-lama.”
Raka mengangguk, lalu melepas Davina.
Setelah itu Raka berjalan ke arah pintu.
Dia sempat melirik ke arah Davina sebentar sebelum menutup pintu. Davina sedang tertawa bersama Nikolas dan Yuni.
Dia memandang sebentar.
Lalu akhirnya menutup pintu.
Berbeda dari apa yang dia janjikan pada Davina, nyatanya, Raka tidak lagi kembali ke ruangan Davina malam itu.
***