
“Makasih ya udah nemenin aku.” Nikolas memegang tangan Davina.
Saat ini, mereka sudah berada dalam kediaman Nikolas. Setelah dirawat di rumah sakit selama dua hari, akhirnya Nikolas dapat diperbolehkan untuk dibawa kembali ke Jakarta.
Davina hanya tersenyum kecil, “Aku pulang dulu ya. Kamu istirahat lagi aja.”
Nikolas mengangguk.
Sebelum Davina menutup pintu, Nikolas memanggil, “Dav…”
Davina berhenti sebentar untuk memandang calon suaminya itu.
“I love you…”
Davina tersenyum kecil lagi.
“Besok kita ngomongin soal pemberkataan nikah kita ya.”
“Iya, Nik. Sekarang kamu istirahat dulu ya.”
Nikolas mengangguk.
“Good night, Nik.”
Davina pun menutup pintu kamar Nikolas. Lalu, dia melangkah menuju ruang keluarga. Dia menemukan Angel duduk bersama suaminya. Televisi dibiarkan menyala begitu saja, keduanya malah fokus dengan ponsel masing-masing.
“Ma, Pa, Davina pulang dulu ya.”
Angel beralih dari ponselnya sejenak, “Pulang sama siapa, Dav?”
Davina dapat mendengar nada curiga dalam suara Angel. Walaupun merasa tidak terima, Davina sedang merasa sangat lelah. Dia tidak ingin menimbulkan masalah apapun saat ini yang dapat menghambatnya untuk pulang dan merasakan kasur kamarnya yang nyaman.
“Supir, Ma. Tadinya mau dijemput sama Papa dan Mama karena mereka pengen lihat Nikolas, tapi batal karena udah malam banget.”
Angel menatap Davina lekat-lekat, seperti ingin menganalisa apakah calon menantunya sedang berbohong atau tidak.
“Mama bisa ikut nganterin ke depan kalau gak percaya,” kata Davina, lagi. Nadanya defensif kali ini. Sedikit terpancing karena tingkah laku Angel.
“Gak usah. Mama percaya sama kamu.”
Yeah, right, like I believe…
Batin Davina, kesal.
“Salam sama Mama dan Papa kamu, Dav. Bilang makasih karena udah bolehin kamu jagain Nikolas di Bandung.”
Davina mengangguk, lalu cepat-cepat beranjak keluar dari rumah itu sebelum dia meledak. Begitu menemukan mobil keluarganya, Davina segera masuk.
“Makasih ya Pak Mun udah mau jemput malam-malam,” kata Davina, tidak enak.
“Gak apa-apa, Mbak.” Pak Mun tersenyum.
Davina langsung menempelkan tubuhnya di jok mobil.
“Cape ya, Mbak? Tidur aja, nanti Bapak bangunin.”
“Makasih, Pak.” Davina mulai terlarut dalam kantuk. Dan benar saja, dalam beberapa detik, dia sudah jatuh tertidur. Davina baru sadar bahwa batin yang lelah ternyata lebih menyiksa dari apapun.
***
Pak Mun membangunkan Davina begitu mobil sudah tiba di rumah keluarga Mahardhika. Davina segera melangkah masuk ke dalam rumahnya, menemukan semua orang yang dia sayang duduk di ruang keluarga.
“Davina!” Rara yang pertama kali menyadari kehadiran Davina.
“Ya ampun, kamu kelihatan cape banget, Dav.” Diana langsung berdiri untuk memegang tangan anak perempuannya itu.
Davina bersumpah harus menahan mati-matian airmatanya. Baru kali ini dia menyadari bahwa keluarga benarlah tempat ternyamannya. Hanya disini dia tidak akan pernah merasa dihakimi.
Meski dia berduaan di kamar bersama Raka…
Meski dia menghabiskan waktu yang lama di kolam renang bersama Raka…
Tidak akan ada yang menghakimi, baik perasaan maupun kelakuannya…
Dia diterima.
Sebagaimana adanya.
Sekacau apapun.
Karena ini adalah keluarganya.
Dia tidak mungkin mengharapkan hal yang sama dari keluarga orang lain.
Meski orang lain tersebut juga akan menjadi keluarganya di kemudian hari.
“Gimana Nikolas, Dav?” tanya Dave, membuyarkan lamunan Davina.
“Udah baikan, Pa. Minggu depan udah bisa masuk kantor harusnya,” jawab Davina.
Mereka semua mengangguk.
“Keysha mana, Kak?” tanya Davina pada Rara.
“Udah tidur, Dav. Kan udah jam dua belas,” jawab Rara.
“Mamanya aja deh yang icip duluan.” Mata Rara berbinar.
“Babe, it’s been midnight.” Suami Rara mengingatkan, sengaja sambil mencubit pipinya.
(Sayang, ini udah tengah malam.)
Rara menjulurkan lidah, “Remember our vow! For better and worse.”
(Ingat janji pernikahan kita! Dalam keadaan baik maupun buruk.)
Suami Rara pura-pura meringis. Dave dan Diana tertawa. Sementara Davina hanya tersenyum kecil. Dia mengamati kedua pasangan di keluarganya itu.
Dave dan Diana mungkin pernah melalui masalah-masalah berat, tapi sebenarnya tidak ada yang bisa meragukan perasaan Dave pada Diana.
Sementara Rara dan suaminya…
Well, tidak ada yang perlu meragukan perasaan mereka berdua.
Davina menginginkan semua itu!
Davina ingin cinta yang besar. Cinta yang kuat. Dan dia tahu, kemungkinan besar dia tidak akan mendapatkan hal itu…
Davina langsung dipenuhi berbagai gejolak perasaan yang coba dia abaikan selama beberapa hari terakhir.
“Kamu cape ya, Dav? Tidur gih!” Diana mengelus pipi Davina.
“Iya, Ma. Cape banget. Aku ke kamar duluan ya.” Davina berbohong.
Dia pun segera beranjak ke kamarnya begitu melihat keluarganya mengangguk.
Begitu membuka pintu kamar dan menyalakan lampu, dia merasakan sesak di dadanya. Sesuatu bergemuruh, minta dipedulikan.
Davina merasakan matanya memanas. Dia memegang dadanya sendiri, lalu mulai terisak.
Ntah untuk apa…
Ntah untuk siapa…
Airmatanya hanya ingin menetes. Dia hanya ingin mempedulikan perasaannya sendiri.
Davina terus menangis dalam keheningan selama beberapa saat.
Sampai akhirnya, seseorang mengetok jendela kamarnya.
Davina kaget.
Dia menoleh pada asal suara.
Kemudian tertegun.
Orang yang paling tidak ingin dia temui, justru berada disana.
Raka tidak ingin mengatakan apa-apa, hanya ingin membuat Davina sadar bahwa dia ada disana, peduli pada kesedihan Davina saat ini.
Kenapa? Kenapa baru sekarang?
Batin Davina.
Davina ingin memaki Raka, mengusirnya, meneriakkan kalimat bahwa dia tidak ingin melihat Raka lagi.
Tapi bertentangan dengan semua keinginannya itu, Davina tidak bisa memungkiri bahwa kini hatinya malah mendamba Raka.
Cinta yang besar dan kuat hanya dia miliki untuk seseorang yang kini berada di balik jendela kamarnya itu…
Dia melangkah ke jendela kamarnya.
Tidak akan pernah membuka pembatas antara dirinya dan Raka, karena tentu dia tidak akan bisa menahan godaan sebesar itu.
Maka dia hanya berdiri di hadapan Raka, dibatasi oleh jendela kaca. Lalu Davina menempelkan telapak tangannya tepat di posisi Raka meletakkan tangannya.
Bahkan dengan tidak menyentuh Raka secara langsung seperti ini saja, Davina dapat merasakan ketenangan yang luar biasa. Selalu ajaib bagaimana kehadiran Raka dapat mendamaikannya seperti ini.
Apalagi jika Davina membiarkan tangan itu memegangnya, menyentuhnya, memeluknya…
Airmata Davina merebak lagi.
Seharusnya bahagianya hanya semudah ini…
Seharusnya cintanya sekuat ini…
Jika orang yang akan dia nikahi adalah Raka.
Bukan laki-laki lain.
Raka sendiri hanya bisa menempelkan dahinya di jendela kaca tersebut. Penyesalan di hatinya begitu membuncah, ketidakrelaannya melepas Davina semakin besar. Raka berada dalam ambang keputusasaan.
Dia tahu betul bahwa waktunya dengan Davian tidak akan banyak lagi.
Apalagi saat Davina ikut menempelkan dahinya di jendela kaca sambil menangis terisak.
Raka tahu bahwa dia sudah tidak punya kesempatan lagi.
***