Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Patah Hatilah Semengerikan Mungkin



Tadi pagi, saat matahari memasuki jendela kamarnya, Raka tertegun. Dia mengambil ponsel lalu mengetik sebuah pesan untuk Davina.


Jadi, ini pilihan kamu?


Kalimat depresi itu bahkan tidak juga dibalas oleh Davina sampai siang ini. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak.


Raka hampir gila rasanya. Inikah akhir segalanya? Jadi, apa artinya tatapan Davina semalam? Kenapa wanita kesayangannya itu mencarinya di tengah keramaian? Kalau jawaban dari semua ini bukanlah dirinya?


Segala pertanyaan itu tidak berhenti berputar-putar di kepalanya sejak tadi pagi. Bahkan dia sudah sengaja bertemu kedua orangtuanya untuk mengalihkan pikiran, tapi Raka tetap kembali ke pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu.


“Raka…” Seseorang memanggil namanya, menariknya kembali kepada realita. Dia pun menoleh dan menemukan papanya sudah duduk di sebelahnya.


Raka tidak menjawab, duduk sejajar dengan papanya, lalu malah kembali memandangi curahan hujan dari langit.


“Jangan bohongin perasaan kamu sendiri. Kamu lagi gak baik-baik aja, Ka,” kata Azel, lagi.


“Raka gak bohong. Raka tahu lagi patah hati. Kan Raka udah bilang daritadi.”


“Tapi kamu gak biarin diri kamu untuk bersedih.”


“Emang harus sedih? Masa Raka harus nangis?”


“Papa nangis waktu dulu pernah putus sama Mama.”


“Ya, itu Papa aja yang cengeng.”


Azel menggaruk kepala. Susah juga menahan diri untuk tidak mengeplak kepala anaknya itu. Padahal sedang patah hati, tapi dia tetap seperti orang yang minta dirajam batu oleh orang-orang sekecamatan.


“Iya, iya. Papa emang cengeng. Kamu hebat, jagoan. Tapi Papa boleh tahu kamu sama Davina kenapa? Bukannya baru beberapa hari yang lalu kalian datang ke rumah ini berduaan? Kirain udah balikan disitu.”


Raka menggeleng.


“Jadi?” desak Azel, lagi.


Raka menghela nafas panjang.


Benci jika mengakui bahwa memang baru beberapa hari yang lalu, Davina masih terasa hangat padanya. Katanya, tunggu saja, sambil memegang pipi Raka.


Apakah semua itu tidak ada artinya pada Davina? Bukankah itu terlalu kejam? Untuk menaikkan harapan seseorang, lalu menjatuhkannya begitu saja?


“Raka…” panggil Azel, lagi, saat melihat anaknya melamun lagi.


“Davina bilang bakal milih tadi malam. Kalau Davina milih Raka, dia bakal datang ke apartemen Raka. Kalau dia milih Nikolas, well… itu yang terjadi tadi malam.”


Akhirnya, Azel mengerti jalan ceritanya.


“Terus, gimana perasaan kamu sekarang?”


“Yah, patah hati.”


“Sedih? Pengen mati? Pengen bunuh diri?”


Raka melirik papanya.


“Papa tuh pengen menghibur atau malah ngasih motivasi ke Raka untuk ngelakuin salah satu dari tiga hal tadi sih?” Raka mengomel.


Azel berpikir sejenak. Lalu, tertawa pelan.


“Maaf, maaf. Salah ya? Maaf deh. Papa gak jago yang begini-begini. Kakakmu Rara yang biasanya jadi penenang semua orang. Kamu kenapa gak nyamperin Rara aja sih?”


“Terus, Papa lupa Kak Rara nginep dimana?”


“Ah, benar juga!” Azel tertawa, lagi.


Raka geleng-geleng.


Azel pun menepuk bahu anaknya.


“Kamu udah bareng sama Davina dari kecil. Ikatan kalian beda. Gak bakal ada yang ngerti itu semua, selain kalian sendiri–“


“Paaaa! Papa malah bikin Raka makin frustasi, sumpaaaaah.”


Azel tertawa, lagi.


“Bok ya sabar. Omongan orangtua tuh jangan dipotong!”


Raka pun diam, menunggu Azel melanjutkan kalimatnya.


“Jadi, inti cerita ini adalah…”


“Mungkin sekarang kamu pikir Davina adalah satu-satunya. Kamu gak bisa tanpa dia. Tapi, satu saat nanti, kamu bakal baik-baik aja, kamu bakal nemuin orang yang bisa bikin kamu jatuh cinta lagi.”


Raka gelisah. Setiap nasihat yang keluar dari mulut Azel malah membuat hatinya seperti ingin memberontak. Orang lain? Davina selalu jadi satu-satunya! Sejak awal!


Raka memandangi Azel. Dia menunjukkan jari-jarinya saat berbicara, “Putus dari Davina, dua kali! Tidurin cewek lain buat lupain Davina, sering! Tapi Raka selalu kembali ke tempat yang sama, Pa. Raka selalu kembali ke Davina.”


Azel tersenyum diam-diam. Anaknya benar-benar sedang jatuh cinta. Dan patah hati sedemikian hebatnya. Berkali-kali, dengan orang yang sama. Bagaimana mungkin dia mengungkit-ngungkit tentang menemukan orang lain, saat anaknya ini hanya mengenal satu wanita saja dalam hidupnya?


“Kamu tahu apa yang gak pernah benar dalam setiap perpisahan kamu sama Davina?”


Raka menoleh pada papanya.


“Kamu gak pernah ngucapin salam perpisahan yang bener. Kamu langsung nutup perasaan kamu. Kamu punya masalah sama Creature, kamu ninggalin dia tanpa penjelasan apapun. Kamu takut menghadapi patah hati yang sebenarnya, Ka.”


Mata Raka terbelalak. Bagaimana papanya bisa tahu soal Creature?


Azel tersenyum, “Kamu pikir kenapa Papa selalu tanya soal keadaan Creature sama kamu?”


“Papa tahu darimana?”


“Rara. Setahun yang lalu. Waktu semua masalah kamu udah kelar.”


Raka tertegun.


“Tapi, tenang, Mama kamu gak tahu.” Azel nyengir.


“Maaf, Pa…” gumam Raka.


“That’s okay, Ka. But let’s talk about it later. Kali ini Papa cuma pengen kamu bener-bener hadapin perasaan kamu. Temuin Davina sekali lagi. Kalau mau ngemis, silahkan ngemis. Kalau mau mohon-mohon di kaki Davina, silahkan. Patah hatilah semengerikan mungkin, semenghancurkan mungkin, sehebat-hebatnya, sekacau-kacaunya yang pernah kamu alami. Setelah itu, kamu baru bisa bangkit lagi.”


Dan…


Klik!


Ibarat bunyi gembok yang terbuka. Ada suatu pintu dalam hati Raka yang selama ini tertutup sempurna, disembunyikannya dari seluruh dunia, tiba-tiba terbuka. Segala kesedihannya kehilangan Davina, segala rasa sakit yang dipendam saat melihat wanita kesayangannya pergi, sejumlah kerinduan yang tidak lagi bisa tertahankan…


Segalanya menjadi sangat nyata. Seperih-perihnya luka mana pun yang pernah dia alami, tak pernah ada yang semenyakitkan ini.


Apalagi kini dia dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang dia sudah sepenuhnya kehilangan Davina!


Takkan pernah ada harapan lagi…


Untuk menggenggam tangannya…


Memeluk tubuh mungilnya…


Mencintainya sehebat-hebatnya…


Dan terutama, dicintai seluarbiasa itu…


Airmata Raka menggenang.


Dia langsung bangkit berdiri.


“Ra-raka tidur disini hari ini!” katanya terbata-bata, lalu segera berlari meninggalkan Azel. Dia berlari ke kamarnya yang dulu.


“Raka! Kamu kenapa?” Nayla bertanya saat melihat Raka berlari.


Tapi Raka tidak menjawab. Dia tidak ingin dilihat siapapun. Terlalu memalukan!


Dia membanting pintu kamarnya, menguncinya, dengan kasar. Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Dia menutupi wajahnya dengan bantal, tapi airmata itu tetap mengalir.


“Sh*t! ****! ****! Lo cemen banget! Bang*at lo, Ka!” Raka terus memaki dirinya sendiri.


Sementara itu, hujan turun dengan derasnya di luar sana. Seirama dengan hati Raka yang baru disadarinya, telah pecah berantakan. Sedemikian hancurnya.


Kenapa papanya ingin dia membuka pintu itu? Pintu yang ternyata akan membuatnya setidak-berdaya ini?


***


IG : @ingrid.nadya