
" Anda tidak apa apa Tuan Sean ? Saya lihat anda sedang berpikir tentang sesuatu " ujar seorang klien yang mengundang Sean untuk makan malam sekaligus membicarakan tentang bisnis yang sedang di jalin dengan Alexander Corp .
" Tidak tapi saya rasa saya tidak bisa terlalu menemani anda , putra saya masih terbaring di rumah sakit saat ini ... "
" Maaf saya tahu Tuan , dan tadi saya sempat ingin mengundur pertemuan kita . Saya sudah menghubungi Tuan Damian tapi beliau bilang jika tidak masalah jika pertemuan ini tetap diadakan . Tuan Damian sudah mengirim semua file yang berkaitan dengan proyek kita agar pertemuan kali ini tidak memakan waktu lama " kata sang klien yang langsung membuat Sean harus mengerutkan dahinya .
" Kapan anda menghubungi dia !? "
" Siang tadi , saya sudah berusaha menghubungi anda tapi ponsel anda terlalu sibuk , akhirnya saya menghubungi Tuan Damian karena anda pernah berkata jika beliau adalah bayangan anda . Beliau orang kedua di Alexander Corp "
Sean terdiam dengan dua tangan terkepal di bawah meja , sepertinya ada sesuatu yang sudah ia lewatkan . Pantas saja ia merasa aneh kenapa sang klien tetap menjadwalkan pertemuan di saat seperti ini . Dan pria itu tiba tiba bangkit ....
" Saya harus pergi sekarang , mungkin dua atau tiga hari lagi kita bisa membuat janji lagi untuk membicarakan semuanya ! "
" Saya yang seharusnya minta maaf .... "
Tapi sang klien tidak meneruskan kata katanya karena melihat Sean sudah melesat keluar dari private room tempat mereka mengadakan pertemuan .
Sean melajukan mobilnya seperti orang kesetanan , dia yakin jika Damian sudah merencanakan semuanya . Pria itu sangat tahu semua jadwalnya dan menggunakan itu semua untuk maksud tertentu . Dan ia yakin ini berhubungan dengan Lana istrinya .
Sampai di rumah sakit ia segera berlari menuju kamar putranya , berharap keajaiban jika istrinya sedang ada disana dan mau kembali padanya . Dia yakin jika Darrell bisa meyakinkan Lana agar mampu memaafkannya .
Tapi kehadiran seseorang mampu menghentikan langkahnya , seorang pria yang berani menghadang jalannya .
" Bajingan ... keluar juga kau !! Mana dia !? " geram Sean mendekat pada Damian yang berdiri di pintu masuk lobi yang menghubungkan dengan area dalam rumah sakit .
Sedang Damian terlihat sangat tenang tidak terpancing pada pria yang penuh dengan sorot kemarahan itu . Bahkan ketika dua tangan kekar Sean sudah mencengkeram kerah kemeja yang ia kenakan .
" Sudah saya katakan sebelumnya , anda mulai lemah Tuan .... "
Gaya bicara Damian yang sudah kembali seperti semula menandakan jika pria itu sudah kembali seperti Damian yang dulu , yang menghargainya sebagai seorang atasan walaupun sebenarnya Sean menganggap Damian sudah seperti saudaranya . Sean sengaja diam agar pria di depannya meneruskan kata katanya .
" lnsting anda mulai tidak peka , seharusnya dengan mudah anda bisa membaca apa yang sedang saya pikirkan . Saya tidak pernah berniat menyembunyikan Nyonya Muda , tapi dengan keadaan emosi Tuan seperti ini saya rasa akan wajar jika saya menjaganya ! "
" Kondisi Nyonya sedang tidak baik baik saja , kesalahan sedikit saja akan berpengaruh pada kehamilannya . Pewaris sejati Alexander ada di dalam dirinya ! Jadi jangan salahkan jika saya akan melakukan apapun untuk menjaganya . Benturan emosi akan berpengaruh pada kehamilannya jadi saya mohon Tuan bisa berpikir dan mengesampingkan ego dahulu !! "
Sean terhenyak mendengar perkataan pria didepannya . Jika pria lain saja bisa mati matian menjaga calon anak dan istrinya , bagaimana mungkin ia malah pernah nyaris membahayakan mereka . Dia tak menyangka jika tubuh kecil itu akan menghadang pukulannya . Guci yang ia gunakan tampak hancur berkeping keping seiring tumbangnya tubuh istrinya . Rasa sakit yang Lana tahan saat itu pasti tak terperi .
" Apa dia masih bersama Darrell !? "
" Tidak , Nyonya belum di ijinkan terlalu lama keluar karena butuh banyak istirahat ! Saya akan menjaganya jadi jangan habiskan tenaga untuk sekedar mencarinya . Dia sudah berada di tangan yang tepat . Nyonya Lana sudah dalam penjagaan cucu dari Tuan Daniel Brown , saya rasa anda tahu seperti apa keluarga itu ! Nyonya akan menemui anda jika dia sudah benar benar siap menghadapi anda ... Jika saat itu tiba maka saya sendiri yang akan mengantarkannya ! "
" Tapi aku ... " Sean berkali kali menghembuskan nafasnya secara kasar , sesal pun kini tak ada artinya lagi . Tapi untuk meminta maaf pun rasanya ia belum siap karena meminta maaf adalah hal yang hampir tidak pernah ia lakukan selama hidupnya . Egonya masih terlalu tinggi untuk meminta maaf pada wanita yang ia ' paksa ' menjadi istrinya itu .
" Apa ini !? " tanya Sean ketika Damian menyerahkan satu map padanya .
" Semua yang anda ingin tahu ada di map itu , dan saya sudah mengirimkan share located di ponsel anda . Saya rasa anda perlu belajar untuk menyalurkan emosi pada orang yang benar " kata Damian dengan sebuah seringai yang terlihat begitu menyebalkan di mata Sean . Pria yang saat ini sudah melangkah pergi itu sedang menyindirnya , Damian mengejeknya karena sudah menyakiti fisik seorang wanita lemah . Hal yang tak mungkin dilakukan oleh seorang pria sejati .
Sean duduk di lobi rumah sakit dan segera membuka map ditangannya . Ada sebuah ponsel dan beberapa berkas terlihat di dalamnya . Karena penasaran Sean membuka ponsel dan langsung disuguhkan dengan riwayat pesan pada nomor yang ia kenal .
Si pemilik ponsel ternyata mengenal mantan istri pertamanya , terbukti banyak sekali pesan yang terkirim disana . Dan dua tangannya mengepal ketika melihat gambar gambar yang terpampang di layar itu . Gambar gambar yang sebagian pernah juga terkirim diponselnya , gambar kedekatan Damian dan Lana yang sempat membuat emosinya meledak .
Sean mengeratkan giginya ketika membaca semua pesan yang dikirim dan terkirim di ponsel yang sedang dipegangnya . Tiffany dan selingkuhannya yang sudah merencanakan pelenyapan Lana .
" Christ .... " akhirnya Sean menelpon orang yang ia rasa bisa menangani mantan istrinya . Sepertinya ia tak perlu menahan diri lagi karena apa yang dilakukan Tiffany sudah ada di luar batas kesabarannya .
" Tu-tuan Sean , selamat malam Tuan ! Ada yang bisa saya bantu !? " suara di seberang sana terdengar sangat gugup .
" Buat dia hidup di jalanan "
" Saya mengerti Tuan .... "
Setelah menutup panggilan teleponnya Sean segera menuju tempat yang Damian kirim padanya . Pria itu benar jika ia butuh menyalurkan emosinya saat ini . Dan ia tahu benar siapa yang dibawa tangan kanannya ... tak lain tak bukan adalah ayah kandung dari putranya !