
Janji Raka pada Davina molor tiga jam. Davina sudah bosan setengah mati menonton netflix. Saat dia terkantuk-kantuk, barulah mereka muncul di pintu kamar.
“Dav, balik ya?” Albert melambai genit.
Davina tersenyum.
“Au revoir, mon amour…” Julia juga mengerling.
Davina terkekeh sambil melambai.
Raka hanya bisa geleng-geleng, lalu segera menggeret kedua temannya ke pintu keluar.
“Buset! Lo udah konak banget ya?” Albert menggerutu sambil memakai sepatunya. Julia tertawa.
Raka hanya bisa memutar bola mata, tidak ingin menanggapi Albert. Setelah mereka selesai mengenakan sepatu, mereka segera keluar.
“Balik ya,” gumam Albert, asal-asalan.
“Have fun, love bird!” Julia mengerling lalu segera menghilang.
Raka geleng-geleng, sambil mengunci pintu apartemen. Saat dia berbalik, Davina ternyata sudah keluar dari kamar. Wanita itu sedang mengamati seluruh apartemen Raka.
“I miss you so much…” Raka berdiri di tempatnya sambil merentangkan tangan, meminta Davina berlari ke pelukannya.
Davina mengabaikannya.
“Ngambek?”
“Enggak. Bingung aja sama apartemen kamu, kenapa kosong begini?”
“Belum sempat isinya, Devni. Mama udah berkali-kali bilang mau bantuin isi, tapi akunya memang belum ada waktu kosong.”
Davina mengangguk.
“Kamu gak kangen?” tanya Raka yang masih pada posisi merentangkan tangan.
Davina menghela nafas. Akhirnya mau memeluk Raka.
“Maaf ya, jadi nunggu lama. Biar selama kami disana, aku gak digangguin lagi.”
Davina mengangguk. Dia melirik jam tangannya.
“Satu jam lagi kamu ulang tahun.”
Raka mengeratkan pelukannya, “Makasih ya. Pasti kamu cepetin datang biar bisa ngucapin jam dua belas ya?”
“Iya.”
“Makasih.” Raka mencium kening Davina.
“Aku gak sempat pesan apa-apa. Maaf ya.”
“You are my gift. I’m not complaining.”
Davina menyandarkan kepalanya di dada Raka, mencoba meredakan segala keresahan di hatinya. Tidak apa-apa, segalanya akan baik-baik saja, selama Raka mencintainya.
“Kamu nginep? Atau mau aku antar pulang?” tanya Raka.
“Kamu maunya?”
“Masa harus ditanya…”
Davina terkekeh.
“Tapi nanti Mama Dee sama Papa Dave ngamuk.”
“Mama sama Papa masih di Bandung. Besok baru jalan pulang.”
“Kamu pinter banget sih milih waktu pulang.” Raka nyengir lebar.
Davina melepas pelukannya lalu memandangi wajah tengil Raka. Dia mendengus lalu berjalan menjauh.
“Kok pergi?” Raka tidak terima.
Davina terus berjalan ke arah pintu kamar Raka.
Sambil memegang gagang pintu, dia berbalik sejenak, memandang Raka dalam-dalam, “Kamu yang bilang aku ini hadiah kamu. Jadi… mau dikasih hadiah gak?”
Raka tertawa. Dia segera berlari masuk ke dalam kamar.
***
Tepat saat jam dua belas malam, Davina mengecup singkat bibir Raka, “Happy birthday, love! May all your wishes come true…”
Raka tersenyum. Dia memandangi Davina sambil mengelus pipinya.
“Thank you, Devni.”
Davina mengangguk.
Raka menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Davina. Lalu dia mengeratkan lagi pelukannya.
“Besok aja ya kamu tiup lilinnya,” gumam Davina.
“Iya.”
“Apa aja keinginan kamu di umur yang baru?” tanya Davina, penasaran.
Raka berpikir sejenak.
Tapi saat hendak mengatakannya, Davina malah mencegahnya.
“Gak jadi deh, katanya keinginan itu disimpan dalam hati aja. Jangan dibilang-bilang.”
“Kata siapa? Ucapan adalah doa, right?”
“Iya sih, kamu bener. Jadi, apa dong?”
“Aku cuma pengen Creature jadi perusahaan yang lebih stabil.”
“Amiiiin!”
“Kamu percaya kan sama mimpiku?”
Davina tersenyum. Baru kali ini Raka terlihat seberharap ini.
“Kamu bisa, Ka. Aku yakin sama semua mimpi kamu. Aku juga yakin sama semua kemampuan kamu.”
“Terus, ada keinginan lain?”
Raka menggeleng.
Davina cemberut, “Untuk hubungan kita?”
Raka tertawa, “Devni, kamu ada disini, di pelukanku saat ini, udah ngabulin semua keinginanku.”
Davina mencibir, “Raja gombal memang!”
Raka malah mencium kening Davina. Dia tidak ingin mengatakan apa-apa. Biarkan saja Davina merasakan seluruh perasaannya dari sentuhannya. Tangan serta bibirnya kembali menjelajah. Sungguh Davina adalah candu.
***
Esoknya, Davina menyeret paksa Raka untuk berkeliling mencari perabotan.
“Devni, duitku terbatas ya. Penghasilan Creature masih dikit banget.” Raka mengingatkan Davina.
“Tenang aja. Aku ahlinya nyari perabotan murah tapi berkualitas.”
Mereka pun berkeliling mencari perabotan-perabotan untuk apartemen Raka. Davina bersemangat sekali. Dia akan menempatkan seluruh seleranya di apartemen Raka. Dia akan membuat wanita manapun yang datang kesana menyadari bahwa si empunya apartemen sudah memiliki kekasih.
Setelah semua hal-hal yang diperlukan dibeli, mereka pun pulang bersama beberapa pegawai toko untuk merakit perabotan-perabotan tersebut.
“Ngumpulin duitnya setengah mati, ngabisinnya dua jam doang,” gumam Raka saat melihat perabotan apartemennya satu per satu mulai terpasang.
Davina tertawa, “Kan ini berguna.”
“Iya, iya. Berguna buat nyenengin kamu.”
“Dih…”
“Eh, nanti malam kita ke rumah Mama ya. Katanya mau ngerayain bareng-bareng.”
“Iya. Tadi Mama Nay juga udah chat aku. Udah pesen kue juga buat kamu.”
“Semangat banget sih kamu.”
Mereka sibuk bercengkrama berdua saat sebuah panggilan masuk ke ponsel Raka.
Nama Jules terpampang di layar.
“Bentar ya, aku jawab dulu,” kata Raka. Dia langsung beranjak, menjauh.
Davina mengernyit.
Jika tidak ada sesuatu yang perlu dirahasiakan, kenapa Raka harus pergi menjauh darinya untuk sekedar menjawab telepon Julia?
Di tengah berisiknya pegawai toko itu sedang menukangi perabotan, Davina mencoba mencuri dengar omongan Raka.
“Ya udah, lo dimana sekarang?”
Sayup-sayup Davina dapat mendengar kalimat Raka. Firasatnya langsung tidak enak.
Dia pun berhenti mencuri dengar. Akan lebih baik jika dia tidak tahu saja.
Beberapa saat kemudian, Raka kembali ke sebelahnya dengan wajah gusar.
“Kamu kenapa?” tanya Davina.
“Devni, aku pergi dulu sebentar boleh?”
“Kenapa?”
“Aku gak paham kenapa Julia tuh bisa kena jebakan kayak gini. Anak IT bukan sih?!” Raka memaki.
“Kenapa emangnya?”
“Emailnya diretas hacker. Ada beberapa data klien yang ke-leak.” Raka menggaruk kepalanya, frustasi.
Davina tidak mengerti, namun dia tahu ini masalah serius.
“Ya udah kamu pergi deh. Pegawainya aku aja yang nungguin.”
“Gak apa-apa kamu sendirian? Pintunya kamu buka aja ya. Jangan ditutup.”
Davina mengangguk.
“Aku tinggal dulu ya?”
“Iya. Tapi nanti malam jangan lupa, kita ada janji di rumah papa mama kamu.”
“Oke. Kemungkinan aku agak lama. Kamu nanti pergi sendiri, gak apa?”
“It’s okay. Kita ketemu disana aja.”
“Oke.”
Raka pun segera beranjak keluar.
Davina memandangi punggung Raka sampai menghilang di balik pintu.
Tanpa dia sadari…
Sampai pegawai toko pulang dari apartemen Raka…
Sampai dia pergi dengan taksi sendirian ke rumah Azel dan Nayla…
Sampai dia selesai membantu Nayla memasak…
Sampai mereka menyelesaikan dua film Netflix di televisi…
Sampai mereka letih menunggu…
Bahkan sampai hari resmi berganti…
Raka tidak juga pulang.
***
Au revoir, mon amour \= Sampai jumpa lagi, sayangku (Bahasa Perancis)
You are my gift. I’m not complaining \= Kamu itu hadiahku. Aku gak bakal ngeluh (Bahasa Inggris)
***