Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Rambut Kamu Wangi



“Cepetan buka!” Davina mendesak saat Raka baru menancapkan pembuka botol wine.


“Iya, iya, Devni.” Raka menjawab dengan sabar. Tak lama, wine cork itu sudah terlepas dari mulut botol.


Davina pun segera merebut botol wine tersebut dari tangan Raka.


“Mau ambil gelas dulu gak?” tanya Raka.


Davina menggeleng, lalu segera meneguk wine itu langsung dari botolnya.


Raka terpukau.


Davina tidak peduli.


Setelah beberapa teguk, dia melepas botol dari mulutnya. Matanya berkilat memandang Raka.


“Apa?” tantangnya, merasa diperhatikan oleh Raka.


Raka cepat-cepat menggeleng, berusaha menghapuskan seluruh pikiran iblis dari kepalanya. Sesuka apapun dia pada sifat galak Davina, ternyata sifat membangkang dan semena-mena Davina seperti ini justru lebih membuatnya tidak bisa menahan diri.


Selama ini, dialah yang selalu bertindak sesukanya. Davina selalu jadi air yang memadamkan api pada dirinya. Dan sekarang, dia melihat api itu malah datang dalam diri Davina. Dia harus berusaha mati-matian menjaga kewarasannya. Demi langit dan bumi, ini rumah keluarga Mahardhika! Jangan sampai dia melakukan yang tidak-tidak!


Merasa diabaikan oleh Raka, Davina segera berbalik, lalu berjalan ke tempat tujuannya. Raka hanya bisa mengikuti langkah Davina.


Ternyata dia tidak kemana-mana, hanya menuju kolam renang. Dia langsung duduk di tepi kolam dan mencelupkan kakinya. Tidak peduli sama sekali jika celananya mulai basah.


Davina kembali meneguk wine-nya. Kali ini tidak menahan diri sama sekali. Raka sampai panik sendiri. Dia segera menahan botol tersebut.


“Devni, pelan-pelan.” Raka mengingatkan.


“Emang kamu siapa sih nyuruh-nyuruh aku?!” Davina membalikkan kata-kata yang pernah Raka ucapkan padanya.


Raka tersenyum. Setidaknya, Davina mengingat kalimat-kalimat iseng yang dia ucapkan. Bukankah itu pertanda baik?


“I’m your family,” jawab Raka, lembut.


(Aku ini keluarga kamu.)


“Keluarga?” Davina menunjuk Raka dan dirinya bergantian, berkali-kali.


Davina pun lanjut berkata dengan nada dramatis, “Emang kita ini apa? Saudara tiri? Saudara satu kakak? Apa? Kita ini apa?”


Raka sampai harus menahan senyumnya, sadar bahwa Davina mulai meracau. Mungkin alkohol mulai mengambil alih kesadarannya.


“I can be your husband, if you want,” goda Raka.


(Aku bisa jadi suami kamu, kalau kamu mau.)


“Bullshit!!!” Davina marah.


Raka mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mencegah tawa yang hampir meledak. Davina luar biasa. Hari ini dia seperti badai, meratakan Raka sampai ke tanah.


Lalu, Davina meneguk kembali wine-nya sambil memandangi Raka, seperti menantangnya karena tidak berhasil menghentikan keinginannya untuk benar-benar mabuk sepagi ini. Dan bukannya marah, Raka malah tersenyum miring. Seperti ingin bergabung dalam semua kegilaan ini. Dia pun merebut botol itu dari tangan Davina, dan ikut meneguk wine dengan rakus.


"Hey!" Davina kesal.


"Bukan kamu aja yang bisa nyebelin!" kata Raka. Lalu, dengan sukarela mengembalikan botol wine ke tangannya.


Davina menatap mulut botol dengan jijik, "Iyuuuuh, udah bekas kamu!"


Alis Raka terangkat, heran dengan sikap Davina yang satu ini. Dia pun bertanya sambil menunjuk mulut botol, "Really?! Kamu keberatan karena ini?"


"Ya, iyalah! Ini namanya ciuman gak langsung!"


Raka memutar bola matanya, "Oh, come on, Devni! We kissed, like a thousand times in the past!"


(Oh, yang benar saja, Devni! Kayaknya kita ciuman seribu kali di masa lalu!)


Davina mendengus. Tapi dalam hati membenarkan kalimat Raka.


"Kalau kamu beneran gak mau, sini aku aja yang minum!" Raka mencoba merebut botol wine itu lagi. Namun, Davina segera menjauhkannya.


Dia melotot sambil berkata, "Enak aja!"


Dia pun mengamati botol minuman itu sejenak, akhirnya memutuskan untuk meneguk lagi. Kali ini, Raka tidak menyembunyikan lagi tawanya.


"Cie, ciuman sama aku," godanya. Tingkah Raka sungguh di luar akal sehat manusia.


Davina mendengus. Memilih mengabaikan Raka, dan meneguk wine untuk kesekian kalinya.


"Kamu kenapa sama Nikolas?" Raka akhirnya bertanya.


"Well, setelah dia pulang, kamu langsung ngajak aku minum-minum sepagi ini. Kalau mau bohong, jangan segegabah itu."


Davina menggedikkan bahu, menunjukkan ketidakpedulian. Dia baru akan meneguk lagi, tapi Raka segera merebut botol wine itu.


"Jangan serakah juga!" kata Raka, lagi. Lalu dengan sengaja meneguk banyak-banyak wine yang tersisa. Mungkin kadar alkohol dari wine tersebut tidak terlalu tinggi, mungkin hanya lima belas persen saja, tapi Davina daridulu tidak terlalu terbiasa menenggak minuman beralkohol. Jadi, ini adalah salah satu caranya untuk menyelamatkan Davina dari hangover menyakitkan.


"Aku cape," kata Davina, tiba-tiba.


Raka tidak langsung menjawab, hanya menunggu dengan sabar.


"Aku cape jadi cewek baik-baik," katanya, lagi.


"Gak ngerti. Boleh jelasin lebih lanjut?"


"Ntahlah," jawab Davina, sambil merebut kembali botol wine tersebut. Ini sudah seperti perlombaan siapa yang bisa menghabiskan isi botol. Raka kah atau Davina. Keduanya meneguk minuman tersebut secara dramatis dan berlebihan.


"Devni," panggil Raka.


Davina menatapnya dengan sayu. Wajah Davina bahkan sudah mulai memerah. Ekspresinya terlihat mengawang. Sepertinya dia sudah mulai mabuk.


Raka tidak mengerti apa yang ada di pikiran Davina saat ini. Ada masalah apa dia dengan Nikolas.


Hanya satu yang dia tahu...


Bahwa dia sangat menginginkan wanita di hadapannya. Dia mencintainya, seada-adanya, sebesar-besarnya. Dia menyampirkan tangannya di pinggang Davina, bergerak mendekatkan wajahnya ke wajah cantik itu.


Davina bergeming, seperti terlihat menunggu. Raka semakin semangat mendekatkan diri. Namun, begitu bibir mereka hampir bersentuhan lagi, Davina segera berpaling.


"Cowok brengsek!" maki Davina.


Raka tertegun. Merasa sial bertubi-tubi. Dia segera meletakkan dahinya di bahu Davina, dan menggeram disana.


"Katanya gak mau jadi cewek baik-baik lagi," gerutu Raka di bahunya.


"Iya, tapi gak pake ciuman sama kamu juga!"


Raka terus menggeram di bahu wanita kesayangannya itu. Tidak menyangka bahwa percobaan keduanya untuk mencium Davina gagal total lagi. Yang pertama karena Keysha. Yang kedua karena Davina sudah tidak lagi terhipnotis dengan kehadirannya.


"Ka?" panggil Davina.


"Apa?" sahut Raka, kesal.


"Kepala kamu berat."


"Bodo!"


"Kamu pake sampo apa sih?"


"Gak tahu. Pesen asal di e-commerce."


Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang hangat di puncak kepalanya. Raka tertegun. Davina menciumnya?


Raka segera mengangkat wajahnya, setelah Davina menjauhkan bibir dari puncak kepalanya. Raka menatap Davina dengan tidak percaya. Apa yang baru saja terjadi?


Davina menggedikkan bahu.


"Rambut kamu wangi," katanya, polos.


Raka semakin tertegun.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Davina segera mengangkat kakinya dari kolam. Dia pun bangkit berdiri dan segera berjalan menjauh.


"Devni," panggil Raka, tidak terima, jika ditinggalkan tanpa penjelasan.


Tapi Davina tetap berjalan menjauh, mengabaikan seluruh panggilan Raka. Mungkin tingkahnya sekarang karena pengaruh besar alkohol. Mungkin dia hanya sedang terlalu tenggelam dalam kekalutan.


Ntahlah.


Davina tidak peduli lagi.


Adalah ide Nikolas untuk memberikan kesempatan pada Raka sejak awal. Davina tidak menginginkan ini semua. Dan bukan salahnya kan, jika akhirnya, dia pun benar-benar memberikan kesempatan?


Atau... begitulah setidaknya cara Davina mengacuhkan rasa bersalahnya saat ini.


***


IG : @ingrid.nadya