Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Keep You Inside My Heart



Disarankan membaca bab ini sambil mendengar lagu "Hold You Til We're Old" oleh Jamie Miller.


***


"Tapi kamu bilang aku boleh pergiiiii!" jawab Davina, lantang.


"Emang bolehhhh."


"Lah, gimana?"


"Tapi aku tetap benci kamu pergi."


Davina tersenyum. Dia senang Raka yang jujur. Ini jauh lebih baik daripada ketika dia memendam perasaannya diam-diam. Perlahan tangan Davina melingkari pinggang Raka, mendekap punggung kekasihnya itu.


"Setahun aja, aku kan pergi setahun aja," ucap Davina, lembut.


Raka pun melepaskan tangan kirinya dari motor, lalu dia menepuk punggung tangan Davina si perutnya.


"Aku bakal nunggu, Devni, selama yang kamu butuhkan."


Davina tersenyum. Rakanya sungguh telah berubah menjadi dewasa.


"Sejak kapan sih kamu berhenti nyebelin?" Davina gemas sendiri.


Raka terkekeh, "Tunggu aja nanti kalau kamu udah pergi. Raka yang kangen tuh bisa jadi manusia paling menyebalkan di muka bumi!"


Davina semakin mempererat pelukannya.


"Ka..."


"Ya?"


"Aku gak mau ke Bunga Rampai!"


Raka mengernyit, "Loh? Kenapa?"


"Aku mau kesituuuu..." Davina menunjuk sebuah gedung.


Raka tertawa begitu menyadari mereka sedang melewati gedung apartemennya.


"Kita bakal dijutekin resepsionis kalau masuk lobby basah-basah begini."


"Emang kita dibolehin masuk kalau ke Bunga Rampai? Mending aku kesanaaaa ajaaaaa!" Davina merengek, sambil menunjuk sebuah gedung.


Raka tertawa.


"Kamu beneran?"


"Iya, Raka!"


"Nanti kelaperan loh."


"Bisa delivery." Davina bersikeras. Dia sebenarnya hanya ingin berduaan dengan Raka. Memeluk laki-laki itu selama mungkin dan sebebas mungkin. Seperti yang dulu-dulu, menghabiskan waktu hanya saling mendekap tanpa mempedulikan waktu sama sekali.


Dan seperti yang diketahui semua orang, permintaan Davina mana yang dapat ditolak oleh Raka?


***


Raka dan Davina masuk ke dalam gedung apartemen dengan pakaian yang basah kuyub. Banyak orang yang mengernyit heran, namun mereka tidak peduli sama sekali.


Mereka terus menerus tertawa bahkan sampai saat mereka sudah masuk ke dalam kamar apartemen Raka. Padahal mereka pun sebenarnya tidak tahu apa yang ditertawakan.


Mereka hanya sedang kelewat bahagia.


Itu saja.


Setelah mereka berhenti tertawa-tawa tidak jelas, Raka pun menyadari bahwa Davina mulai menggigil. Dia segera mengambil handuk kering dan menyelimuti seluruh tubuh Davina dengan handuk itu.


"Keringin badan kamu, Devni, nanti sakit."


Davina mengangguk.


Raka pun masuk ke dalam kamarnya dengan niat mengambil pakaian ganti untuk Davina. Tapi Davina malah mengikutinya.


"Keringin badannya dulu," perintah Raka, tegas.


"Iya, kan bisa sambilan," sahut Davina, sambil nyengir.


Raka menggerutu. Imannya tak sekuat itu!


Dia sengaja membelakangi Davina, dan mengaduk-aduk lemarinya sendiri. Memilihkan baju terkecil yang bisa dikenakan Davina. Lalu dia merasakan tangan Davina perlahan melingkupi pinggangnya. Wanita kesayangannya itu pun berjinjit tinggi-tinggi lalu mencium bahu Raka.


Raka terkekeh.


"Bisa aja yang mau pergi," ledek Raka.


Davina tidak menjawab.


Raka meletakkan baju di tangan Davina yang berada di perutnya saat ini.


"Ganti baju dulu ya," katanya.


Davina mengangguk, lalu melepaskan pelukannya.


Raka pun keluar dari kamarnya.


Davina segera mengganti seluruh bajunya yang basah dan mengenakan kaos hitam yang diberikan Raka. Walaupun itu kaos terkecilnya, ternyata Davina masih tenggelam nengenakannya.


"Oke, aku ganti baju dulu." Raka beranjak masuk ke dalam kamarnya.


"Aku boleh buat minuman gak?" tanya Davina, setengah berteriak.


"Boleh."


"Kamu mau apa?"


"Kopi aja."


"Oke."


Davina pun berjalan ke dapur. Dia mengambil teko lalu memanaskan air. Saat airnya mulai mengeluarkan gelembung, dia pun segera membuka lemari peralatan dapur hendak mencari cangkir.


Dan betapa terkejut Davina, ketika sadar bahwa baik gelas, piring, sendok, garpu, semuanya, masih sama persis dengan yang dia pilihkan dua tahun lalu. Raka benar-benar menyimpan seluruh benda pilihan Davina sebaik itu.


Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, ikut-ikutan mencium bahu Davina, seperti ingin membalas perbuatannya tadi.


"Kenapa melamun sih?" tanya Raka.


"Ini semua, kenapa belum diganti?" Davina menunjuk semua perabotan makan Raka.


Raka menggedikkan bahu. Dia tidak ingin terlihat culun di depan Davina. Sebab segalanya di apartemen ini masih sama persis seperti yang pilihkan dulu. Dia tidak butuh mengganti apapun, sama seperti hatinya tidak butuh pengganti siapapun. Sama seperti dia menyimpan benda-benda tersebut, begitulah Raka selalu menyimpan Davina dalam hatinya.


"Sekarang aku bisa tenang..." gumam Davina.


"Kenapa?"


"Apartemen kamu cewek banget. Lihat aja gambar cangkirnya bunga-bunga! Gak bakal ada cewek yang mau diajak pulang ke tempat ini!" Davina tersenyum bangga.


Raka mengernyitkan dahi. Dia memutar pinggang Davina agar menghadapnya.


"Menurut kamu, aku masih butuh cewek lain?"


"Yah, siapa tahu, kamu kesepian."


Raka geleng-geleng kepala. Wanita di hadapannya ini memang masih juga belum mengerti seberapa penting dirinya di hidup Raka!


"Devni, aku sayang banget sama kamu. Cuma kamu satu-satunya, dari dulu, sampe sekarang, sampe nanti."


Davina tersenyum, sambil mengalungkan tangannya di leher Raka.


"Masa sih?" tantangnya, jahil.


"Aku gak bakal bisa menang kalau adu debat sama kamu..." Raka menatap Davina lekat-lekat.


Davina terkekeh.


"Aku cium ya?" Raka mendekatkan wajahnya.


Davina tidak menjawab, hanya menutup matanya.


Raka pun merengkuh kedua pipi Davina, lalu menyentuhkan bibirnya ke bibir wanita kesayangannya itu. Ciuman pertama lagi, setelah sekian lama. Rasanya masih sama. Lembut, manis, tidak menuntut. Raka menjelajahi bibir Davina dengan sabar.


Davina terlarut.


Betapa selama ini, mereka telah membuang-buang waktu untuk mencari yang tidak pasti. Raka butuh Davina, begitupun Davina butuh Raka. Tidak butuh orang lain, tidak butuh siapapun lagi.


Dan sesuatu bergejolak dalam diri Raka.


Bolehkah dia? Haruskah dia?


Dia melepas sebentar ciumannya di bibir Davina, memandangi wanita itu lagi lekat-lekat. Davina hanya tersenyum. Memang ini yang dia inginkan!


Setelah mendapatkan sinyal persetujuan dari Davina, Raka langsung mengangkat tubuh wanita kesayangannya itu, menggendongnya dengan mudah. Davina terkekeh, lalu lanjut mencium Raka.


Raka pun berjalan, hendak menuju kamarnya.


"Bentar, bentar," cegah Davina.


"Apa?" tanya Raka, tidak sabar.


"Belum matiin kompor!"


Raka cepat-cepat kembali ke dekat kompor, dan Davina pun mematikan kompor tersebut. Lalu, mereka beranjak ke kamar. Raka meletakkan Davina dengan lembut di atas ranjang kamarnya.


Davina menatap Raka lama-lama, membelai pipi kekasihnya dengan penuh perasaan.


"I love you so much, Elraka," bisik Davina, lembut.


Raka terenyuh.


Pernahkah kalian sangat mencintai seseorang sampai-sampai kalian tidak percaya bahwa kalian berhasil memilikinya? Bahwa merasakan cinta dari orang tersebut dapat membuat kalian begitu bahagia, sampai ingin menangis.


Itulah yang Raka rasakan saat ini.


"I love you, Davina Elisabeth Mahardhika. I love you, more than life." Lalu Raka mencium Davina sambil menumpahkan seluruh perasaannya.


Bunyi hujan di luar menambah manis momen tersebut. Akhirnya, mereka sadar bahwa mereka akan saling menjaga hati, meskipun jauh. Bahwa Raka akan menunggu Davina pulang, dengan hati yang selalu terjaga hanya untuk Davina seorang.


***


IG : @ingrid.nadya