Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Don’t Kill Us…



Melihat Davina tidak juga mau mengucapkan satu kata pun, Nikolas memutuskan untuk menunggu. Butuh keberanian besar baginya untuk melontarkan pertanyaan tersebut. Rasanya seperti menjatuhkan diri sendiri ke dalam jurang. Namun, ternyata menunggu jawaban Davina justru lebih menguras kewarasan Nikolas.


Kata orang, mata adalah jendela hati. Maka, kesanalah Nikolas mencari. Di mata Davina.


Ditatapnya kedua mata indah itu dan mencoba menyelami isi hati pemiliknya. Tidak sulit untuk Nikolas membaca Davina. Wanita itu ibarat sebuah buku yang terbuka, meskipun dia selalu mencoba menyembunyikan perasaannya.


Dan saat ini pun, jauh di lubuk hatinya sendiri, Nikolas tahu betul tentang keraguan Davina atas kelanjutan pernikahan mereka. Tapi, dia telah melangkah sejauh ini. Dia tidak ingin meninggalkan arena pertandingan begitu saja.


“Dav…” Akhirnya Nikolas memilih untuk memecah kesunyian itu. Karena jika menunggu Davina buka suara, keheningan ini akan berlangsung selamanya.


“Ambil waktu yang kamu butuhkan selama mungkin,” lanjut Nikolas.


Davina sampai dibuat tertegun dengan kalimat itu. Tidak menyangka sama sekali calon suaminya akan mengucapkan kalimat ini.


“Waktu yang aku kasih buat Raka berjuang memang tinggal dua minggu lagi. Tapi, kita gak perlu langsung nikah saat itu juga. Aku bebasin kamu untuk memilih tanggal. Kapan pun kamu siap.” Nikolas mengelus punggung tangan Davina, seperti ingin menyiratkan bahwa Davina adalah sesuatu yang sangat berharga. Yang pantas untuk ditunggu. Worth the pain, worth the wait.


“Aku mau kamu ambil waktu selama mungkin. Sampai keraguan kamu hilang. Asal pada akhirnya, aku tetap bisa nikah sama kamu.” Suara Nikolas sedikit bergetar di akhir kalimat. Seluruh penyesalan mulai menjadi nyata. Harusnya dia tidak pernah membiarkan Raka masuk dalam arena pertandingan ini. Harusnya dia tahu bahwa dia tidak akan pernah menang.


“Nik…” Davina akhirnya bersuara.


Namun, hal itu justru sangat menakutkan untuk Nikolas. Dia cepat-cepat menggeleng pada Davina.


“You are way above my imagination, Dav. You are the dream. You are the unicorn. Harusnya gak tergapai. Maafin aku kalau aku ketakutan, maafin aku kalau sekarang aku takut banget kehilangan kamu.”


(Kamu jauh di atas imajinasiku, Dav. Kamu adalah mimpi. Kamu gak nyata.)


“Yes, you should…” balas Davina. Airmatanya mulai menggenang.


(Iya, udah seharusnya…)


Mata Nikolas goyah, “Dav, aku mohon…”


Davina bergeming.


“Dav, please, don’t kill ‘us’…”


(Jangan bunuh ‘kita’…)


Airmata Davina kini sudah meleleh di seluruh pipinya.


“Kasih satu kesempatan lagi untuk kita, Dav. Please?” Nikolas memohon. Jika dia sanggup berlutut saat ini, akan dia lakukan hal itu saat ini juga, agar Davina tetap berada di sisinya. Agar wanita itu tidak meninggalkannya.


Davina tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Nikolas, meskipun airmata sudah mengaburkan pandangannya. Tidak sekalipun dia ingin berpaling dari Nikolas. Dia ingin melihat bagaimana Nikolas mempertahankannya.


Sejak awal Nikolas membiarkan Raka berjuang, Davina sudah menyangka bahwa hubungan mereka akan menjadi sesulit ini. Segalanya berantakan. Tidak lagi punya arah tujuan. Sejak awal harusnya Davina dan Nikolas tidak memperbolehkan siapapun masuk dalam hubungan mereka.


Tapi di tengah-tengah badai tersebut, di saat obrolan mereka yang masih menggantung itu, pintu kamar Nikolas tiba-tiba terbuka lebar.


“Niko!” Seseorang dengan suara khasnya masuk begitu saja.


Davina langsung cepat-cepat mengusap airmatanya.


“Eh, ada Davina, kapan datang? Kok gak nyapa-nyapa dulu?” tanya Angel.


Davina berdehem pelan untuk menghilangkan serak suaranya.


“Maaf, Ma, tadi udah lewat dari ruang keluarga, tapi Mama gak ada,” kata Davina.


“Masa sih? Daritadi Mama disitu loh.”


Davina berdehem lagi. Bagaimana caranya menyembunyikan perasaannya sendiri saat dia dituntut untuk berbicara terus?


“Ma, udahlah. Mungkin tadi Mama lagi ke toilet atau kemana.” Nikolas sudah tidak lagi bisa menyembunyikan kegusarannya.


Dia dan Davina sedang dalam pembicaraan penting. Tidak bisakah mamanya itu mengganggu mereka nanti? Ini bukanlah waktu yang tepat.


Akhirnya Angel hanya menjawab dengan menggedikkan bahu, “Ya udah deh, mumpung Davina disini juga, Mama cuma mau kasih tahu, gedung resepsi kalian kemarin ternyata punya jadwal kosong tiga minggu lagi. Tanggal 15 Juli. Tapi itu weekdays. Kalau kalian oke, biar Mama booking.”


“Ma, nanti aja ya kita bahas,” kata Nikolas, pada akhirnya, dengan nada suara yang letih.


“Kenapa nanti? Jangan ditunda-tunda lagi dong. Ini mumpung gedungnya available, Nik. Mama gak mau kalian nikah di gedung lain.”


“Nanti aja, Ma…” kata Nikolas, lagi.


“Gak bisa gitu dong, Nik. Masih ada katering, dekorasi dan lain-lain yang perlu diurusin. Waktu kita gak banyak–“


Angel belum menyelesaikan kalimatnya, Nikolas sudah meledak.


“AKU BILANG NANTI, MA!”


Davina kaget. Apalagi Angel. Dia menatap nanar ke arah anak laki-lakinya. Tidak pernah menyangka bahwa anak kebanggaannya, yang selalu sopan, membentaknya. Apalagi saat ini mereka tidak sedang berdua saja.


Angel adalah tipikal calon mertua perempuan yang akans selalu menganggap sang calon menantu sebagai saingan. Angel sama sekali tidak rela dibentak oleh Nikolas seperti itu di depan Davina.


“Kenapa kamu harus marah sih???” Suara Angel ikut meninggi.


“Kan aku udah bilang nanti aja, Ma!” Nikolas menjawab, dengan gusar.


Angel melirik Davina sekilas, lalu beralih menatap Nikolas, “Kamu belum nikah aja udah berani bentak Mama kayak gini ya. Gimana kalau udah nikah nanti???”


Davina terperangah. Kenapa dia dibawa-bawa di antara masalah ibu dan anak ini? Belum sempat Nikolas menjawab, Angel sudah beranjak pergi dari kamar Nikolas.


Airmata Davina merebak lagi, kali ini dia menoleh dengan cepat pada Nikolas.


“Dav, maafin Mama–“


Davina memotong cepat kalimat Nikolas.


“Now, tell me, Nik…” kata Davina, putus asa.


(Sekarang, kasih tahu aku, Nik…)


“Tell me how not to kill us.”


(Kasih tahu aku gimana caranya untuk gak ngebunuh ‘kita’.)


Nikolas terdiam. Tidak menyangka Davina terluka karena kejadian barusan.


Davina cepat-cepat mengambil tasnya dan melangkah keluar dari kamar itu. Dia sempat mendengar Nikolas meneriakkan namanya. Tapi dia tidak peduli sama sekali.


Kali ini dia ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Dia benci menjadi selemah dan sebodoh ini. Menerima perlakuan semena-mena orang lain pada dirinya sudah tidak bisa ditolerir lagi.


Tidak Raka. Tidak Nikolas. Tidak Angel. Siapapun tidak berhak memperlakukannya seperti ini terus!


Davina terus melangkah keluar dari kediaman Tedjakusuma. Dia tidak peduli, berjalan terus sampai dia tidak tahu arah.


Sampai dia lelah.


Sampai dia tidak lagi tahu ada dimana.


Akhirnya dia menepi.


Davina sempat tergoda untuk mengambil ponselnya untuk menekan nomor seseorang. Yang pasti dapat menenangkannya dalam sekejap. Yang tentu akan mengarungi apapun demi Davina.


Namun, Davina mengalahkan keinginan hatinya.


Bertemu dan bergantung pada Raka saat ini hanya akan membuat semuanya semakin tambah kacau balau.


***


Happy weekend ya, readers semua. Selamat menikmati waktu dengan keluarga 🤗


IG : ingrid.nadya