Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Is It Only In My Imagination?



“Kamu sendiri siapa?” Julia bertanya balik.


“Kenapa kamu malah nanya balik? Kamu yang jelasin duluan!” Nada Davina belum pernah seketus ini pada orang selain Raka. Di pikirannya saat ini hanya dipenuhi pertanyaan kenapa ada wanita lain di apartemen kekasihnya?


Davina menatap Julia dengan intens, benar-benar menuntut penjelasan dari sosok wanita di hadapannya.


“Aku–“ Belum sempat Julia menyelesaikan kalimatnya, Raka muncul dengan kotak pizza di tangannya.


Julia langsung menyadari kehadiran Raka. Sementara dahi Raka tampak berkerut.


Sesaat kemudian, wajah Raka berubah sumringah. Menyadari bahwa Davina kini muncul di depan apartemennya.


“Devni?” Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan nada senang dalam suaranya.


Davina menoleh pada Raka. Matanya berkilat.


“Kamu ngapain berduaan sama cewek lain di dalam apartemen???” Suara Davina meninggi.


Raka kaget.


“Jawaaaab!” Davina menuntut.


Raka dan Julia saling tatap sejenak. Dan seperti bisa membaca pikiran masing-masing, mereka langsung tertawa beberapa saat kemudian.


“Ya ampun! Beneran galak ternyata!” kata Julia masih belum bisa mengendalikan tawanya. Dia sampai memegang perutnya.


“Gue bilang juga apa. Percaya kan lo akhirnya?” Raka juga masih terbahak-bahak.


Julia mengangguk.


Amarah Davina semakin memuncak. Dia sudah tidak tahan lagi! Dia merasa dipermainkan oleh Raka dan juga wanita yang ada di hadapannya.


Davina segera berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


“Harusnya aku memang gak usah pulang!!!” maki Davina saat melewati Raka.


“Eh, mau kemana?” Raka segera mengejar Davina. Dia menggapai tangan Davina begitu jarak mereka sudah mendekat.


“Lepasin!!!” Davina berusaha menghempaskan tangan Raka. Tapi tenaga Raka lebih kuat.


“Gak mau.” Laki-laki itu malah tersenyum, jahil.


“Aku bilang lepasin!!!” Davina berontak.


“Makin galak, makin cantik.”


“Rakaaaa, lepasin aku!!! Kamu tuh seneng banget ya nyakitin aku!!!”


Raka tidak menanggapi makian Davina, dia malah menarik Davina kembali ke unit apartemennya. Davina dapat melihat Julia tetap menanti di tempat yang sama sambil tersenyum.


“Mau ngapain kamu???” Davina masih berontak. Tidak sudi jika harus mendengar penjelasan dan kebohongan.


Begitu tiba di hadapan Julia, bukannya mengatakan apapun, Raka malah berteriak memanggil ke dalam unit apartemennya, “Albert!”


“Yo!” Albert menyahut dari dalam.


Davina tersentak.


“Keluar dulu!” perintah Raka.


“Ngapain?”


“Udah buru! Penting ini!”


Davina menggigit bibir, memandang takut-takut pada Julia yang kini sudah melipat tangan sambil tersenyum jahil.


Dan, akhirnya Albert muncul.


“Ngapai–“ Albert tidak menyelesaikan kalimatnya begitu melihat Davina.


“Well, hai! Aku Albert!” Albert segera mengulurkan tangan pada Davina.


Raka langsung menampar tangan Albert, “Enak aja lo!”


Albert tidak terima. Dia memandang Raka menuntut penjelasan.


“Cewek gue!” jelas Raka.


“Wow!” Albert speechless. Akhirnya dia mengerti kenapa Raka bertindak semena-mena dengan memajukan deadline tanpa belas kasihan. Kalau Albert jadi Raka, dia bahkan tidak akan peduli lagi pada pekerjaannya sendiri. Dia akan rela jadi budak Davina dua puluh empat jam.


Raka sendiri kini sudah beralih pada Davina. Wanita itu tampak merasa bersalah karena akhirnya menyadari bahwa tadi dia telah menuduh yang tidak-tidak pada Julia.


“Davina, ini Albert dan Julia, temen-temen kampusku.” Raka tersenyum dibuat-buat pada Davina. Dia beberapa kali bercerita tentang dua orang ini. Tentu Davina ingat nama mereka.


Oh crap…


Pikir Davina.


Dia melirik pasrah pada Julia.


“I’m so sorry…” katanya, lirih.


Julia langsung tertawa terbahak-bahak. Dengan akrab, tangannya terangkat untuk menepuk-nepuk bahu Davina.


“It’s okay, Dav.”


“Lo pasti mikir gue cewek gila kan?” Davina meringis.


Julia menggeleng, lalu mencubit kedua pipi Davina, “Enggak sama sekali. Gue malah jadi sadar orientasi **** gue udah berubah. Gue ternyata demen cewek. Tinggalin Raka deh, Dav. Nikah sama gue yuk di Amerika?”


Davina akhirnya tertawa. Sedikit lega karena Julia ternyata sesantai ini menanggapi kegilaannya tadi.


“Davina cuma sayang sama gue. Lo gak usah ngarep!” Raka menjauhkan tangan Julia dari pipi Davina.


“Emang tadi kenapa?” tanya Albert penasaran.


Raka dan Julia malah menoleh pada Davina. Wajah Davina kontan memerah. Sebenarnya betapa Julia masih ingin menjahili Davina. Tapi dia merasa tidak tega.


Dia segera menarik Davina lepas dari genggaman Raka, lalu membawanya masuk ke dalam apartemen.


“Apartemen cowok lo tuh kosong, Dav. Malu-maluin banget.” Julia meledek ruang tengah Raka yang mereka gunakan untuk bekerja. Hanya ada karpet di tengah ruangan, tempat laptop-laptop mereka berserakan.


Davina mengamati seluruh ruangan apartemen Raka. Dia langsung merasa iba. Sudah berapa lama Raka tinggal disini? Dua minggu kan kalau tidak salah. Bagaimana mungkin Raka bisa tinggal di apartemen tanpa perabotan seperti ini?


Apakah Raka punya piring? Dispenser? Atau peralatan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumannya?


Davina tidak bisa berhenti merasa kasihan pada kekasihnya. Dia pun menoleh diam-diam pada Raka. Laki-laki itu hanya tersenyum miring saat menyadari tatapan Davina.


“Kamu datang gak bilang-bilang sih. Aku kan belum sempat ngisi perabotan,” jelas Raka, karena dapat menyadari apa isi pikiran Davina.


Davina tidak bisa menjawab Raka, karena ada Julia dan Albert disini.


“Lo berdua mau ditinggal dulu gak? Kita bisa lanjutin besok?” Julia bertanya, penuh harap.


“Enggak! Tetep kerja!” jawab Raka, tegas. Lalu dia beralih pada Davina, “Gak apa ya? Biar besok gak digangguin kerjaan lagi?”


Davina mengangguk. Dia bisa bilang apa lagi? Tadi kan dia sudah menggila.


“Ngomong sama kita aja galak,” gerutu Julia.


Albert juga mendengus.


Raka cengengesan.


“Bentar ya.” Dia pun menarik tangan Davina menuju kamarnya.


Setelah menutup pintu kamar, dia langsung merengkuh Davina dalam pelukannya.


“Kok cepet banget sih datangnya?” Raka mencium puncak kepala Davina.


Bukannya menjawab, Davina malah menenggelamkan wajahnya di dada Raka, “Aku malu.”


Raka tertawa, “Jules santai kok orangnya.”


Davina menengadah, “Jules?”


“Itu nama panggilan dia.”


“Kamu juga yang buat?”


“Hah?”


“Iya kan? Brengs*k! Bukan cuma aku yang dikasih nama panggilan!”


Raka tertawa lagi, “Masih cemburu juga?”


“Iya!” Davina tidak membantah sama sekali.


“Devni, cuma kamu yang aku kasih nama panggilan. Itu nama, Albert yang manggil begitu duluan.”


“Oh.”


“Udah kan? Gak cemburu lagi? Aku lanjut kerja, boleh?”


“Apa aku pulang aja ya?”


“Eh, jangan! Dua jam lagi juga kelar kok.”


“Terus aku ngapain dua jam?”


“Ada televisi kok disini. Bisa nonton netflix.”


Davina menggerutu.


“Stay, please?” Raka memohon.


Akhirnya Davina mengangguk.


“Thank you. Aku lanjut dulu ya.” Raka mencium pipi Davina sekilas. Lalu berjalan keluar.


“Kamu mau pintu kamarnya ditutup apaa dibuka?” tanya Raka.


“Buka aja.”


“Oke.”


Raka pun lanjut berkumpul bersama Julia dan Albert. Awalnya, Davina mencoba tidak peduli. Namun, diam-diam dia memperhatikan bagaimana akrabnya Julia dan Raka. Hatinya gelisah.


“Yang ini gimana sih, Ka?” Julia mendekat pada Raka.


Raka menoleh pada laptop Julia, dia terlihat mengetik sesuatu. Lalu sesaat kemudian, dia menoleh dengan sombong pada Julia, “Gitu aja gak bisa.”


Julia mendengus, “Sialan! Mendingan gue tanya Albert!”


Raka tertawa, lalu mengacak rambut Julia.


Davina semakin gelisah melihatnya.


Apakah selain dengannya, Raka juga se-touchy ini? Apakah ini hanya ada dalam imajinasinya? Apakah ini hanya cemburu tidak beralasan?


Davina menghempaskan tubuhnya ke ranjang Raka. Dia memejamkan mata.


Harusnya dia tidak usah datang lebih awal…


***