
"Devni, everything will be okay," kata Raka, untuk kesekian kalinya mencoba menenangkan Davina.
Wanita itu diam saja, menatap ke jalanan sambil mengusap air matanya.
Raka dan Davina sedang menuju Bandung. Tadinya Davina ini berkendara sendirian, namun keluarga besar mereka tentu melarangnya pergi sendirian dengan keadaan kalut seperti ini.
"Kamu gak mungkin pergi sendirian, Dav. Lagian kamu lagi demam juga!” Diana melarang keras. Supir keluarga Mahardhika sedang libur hari itu. Suami Rara sebenarnya sempat menawarkan diri, tapi Diana juga melarang karena suami Rara baru saja tiba di Indonesia kemarin. Dia tidak berada dalam kondisi yang fit juga.
"Ma, aku gak mungkin bisa tenang-tenang disini sementara calon suamiku di rumah sakit, gak tahu kenapa!” Suara Davina meninggi, menumpahkan kepanikannya.
Semua orang terlihat cukup kaget dengan emosi yang dimunculkan Davina. Wanita itu terbiasa bersikap tenang dan pintar menyembunyikan perasaannya. Tentu semua orang tidak terbiasa dengan Davina bersikap histeris seperti ini.
Davina sendiri pun sebenarnya juga tidak mengerti kenapa dia bisa begini. Sepertinya menunjukkan seluruh perasaannya di depan Raka tadi telah membuka sebuah pintu yang selama ini dia tutup rapat-rapat. Inilah sebenarnya yang Davina takutkan. Sekali pintu itu terbuka, dia tidak akan bisa menutupnya kembali. Perasaannya kini terpampang nyata di depan semua orang.
“Ya udah, aku aja yang nyetir.” Akhirnya seseorang bersuara.
Semua orang kembali kaget. Apalagi Davina.
“MAU KAMU APA LAGI SIH?!” Davina kembali histeris.
Walaupun tersinggung dengan sikap Davina, Raka mencoba bersikap tenang.
Dia menatap Davina dengan datar sambil berkata, “Aku juga gak suka nganterin kamu ke pelukan laki-laki lain. Tapi ini pilihan paling rasional, daripada biarin kamu mati di jalan tol.”
“Raka!” Nayla memukul bahu Raka.
Wajah Davina semakin memerah. Amarahnya semakin membara, apalagi ketika kedua orang tuanya malah memberi persetujuan.
“Ya udah, kamu pergi sama Raka aja, Dav. Ini lebih make sense, daripada kamu harus nyetir sendirian ke Bandung,” kata Diana.
“Mama–“ Davina ingin memprotes Diana, tapi Dave sudah menggeleng tegas. Davina tahu dia akan menang jika adu argumen dengan mamanya. Tapi dengan sang papa? Jangan harap!
Davina menggemeretakkan gigi. Dia membenci ide berduaan bersama Raka di dalam mobil menuju Bandung, tapi itu lebih baik daripada tidak bisa pergi sama sekali.
“Lo mau gue ikut?” Rara bertanya pada Davina, saat akhirnya dia mengalah dan segera mengambil keperluannya seadanya di kamar.
“Gak usah, Kak. Kasian Key.”
“Gak apa. Ada banyak yang bisa jaga.”
Davina memandangi Rara. Meski dia ingin kakaknya ada untuk melindunginya, tapi dia tidak ingin egois.
“I can handle Raka, Kak,” kata Davina, lebih kepada diri sendiri. Dia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri sejak tadi.
Raka adalah orang yang menjadi alasan kekacauan hidupnya, yang ingin dia hindari mati-matian, tapi malah selalu jadi orang yang melekat di hidupnya. Menempel seperti permen karet yang tidak mau lepas.
Akankah ini selamanya?
Davina merutuk dalam hati.
Tidak. Semesta tak mungkin sekejam itu.
Davina menyanggah sendiri pikiran buruknya.
Dan disinilah Davina dan Raka, melintasi tol Cipularang dalam keadaan hening total. Tidak ada musik di latar belakang. Raka berkonsentrasi penuh dengan jalan, sambil sesekali memeriksa keadaan wanita di sebelahnya.
Sementara Davina sendiri terlalu sibuk dengan pikirannya sejak tadi. Tidak ingin berbicara sepatah kata pun pada Raka, hanya terlihat sesekali menyeka airmata.
Raka tidak tahu cara menghibur Davina. Dia hanya bisa berulang kali mengucapkan kalimat klise seperti : tenang Dav, semuanya akan baik-baik saja. Yang hanya dibalas dengan kesunyian dari Davina. Bahkan berkali-kali dia membuang muka dari Raka.
Raka sebenarnya bingung. Davina tidak menjelaskan apapun. Setelah menelepon rumah sakit tempat Nikolas dirawat, Davina hanya diam di sepanjang jalan. Dia tidak memberitahu Raka samaa sekali tentang bagaimana Nikolas bisa berada di rumah sakit saat ini. Apakah sakit? Atau kecelakaan?
Raka hanya bisa berharap semuanya benar-benar baik-baik saja. Ya, Raka masih punya hati nurani walaupun sebenarnya memang akan lebih mudah untuknya jika Nikolas terjatuh saja dari lantai dua puluh dan langsung mati di tempat.
Tapi ternyata, bukan hal itu yang dia inginkan. Raka saja merasa takjub dengan dirinya sendiri. Tumben dia bersikap setidakegois ini. Bahkan dia menawarkan diri untuk mengantarkan Davina untuk menemui Nikolas!
What a breaktrough.
Setelah beberapa saat berkendara, Raka merasa kantuk menyerang. Di KM 72, dia memutuskan untuk menepi sebentar ke rest area. Begitu mobil mengarah ke luar tol, Davina langsung protes.
“Kenapa kita keluar tol?”
Raka menyindir, “Akhirnya berhenti jadi orang bisu?”
Davina menatapnya dengan geram.
“Kamu tuh!”
“Apa?”
“Brengsek!”
“Iya, iya. Terserah.”
Raka pun memarkirkan mobilnya begitu tiba di rest area.
“Kamu ikut turun gak?” tanya Raka.
Davina diam saja, tidak menjawab.
Demi efisiensi waktu, Raka pun segera keluar dari mobil dan membeli kopi seperti niatan awalnya. Tak perlu menunggu lama, dia sudah mendapat pesanannya. Dia pun segera kembali ke dalam mobil.
“Ini, buat kamu.” Raka menyerahkan sebuah gelas plastik pada Davina.
“Aku gak minta!” Davina menolak.
Raka pun meletakkan gelas plastik punya Davina di atas dashboard mobil, “Terserah kamu mau diminum atau gak. Kalau nanti minumannya jatuh ke kamu, aku juga gak tanggung jawab.”
Raka segera melajukan mobilnya, membuat gelas tersebut bergoyang. Davina segera mengambilnya dari atas dashboard.
“Kamu!!!” Davina menggeram.
“Teh chamomile doang itu isinya, supaya kamu tenang,” kata Raka.
Davina membuang muka lagi.
Raka kembali menutup mulutnya setelah itu. Bahkan ketika Davina mulai menyesap teh pemberiannya, dia juga tidak ingin mengomentari apapun. Dia tidak bertingkah jahil seperti biasa.
Ternyata…
Raka bisa bersikap sedewasa ini, saat dibutuhkan.
***
Akhirnya beberapa jam kemudian, mereka tiba di rumah sakit, tempat Nikolas dirawat. Mereka sempat kesulitan saat mencari kamar, namun setelah bertanya kesana kemari akhirnya mereka menemukan kamar yang dimaksud.
Begitu Davina membuka pintu kamar tersebut, duduklah disana Nikolas dengan wajah yang sedikit memar dan gips di tangannya. Sebuah selang infus juga terpasang di tangannya yang bebas.
Davina langsung berlari ke pelukan Nikolas, lalu menangis kencang sambil memeluk calon suaminya itu.
“Jangan nangis. I’m okay, Dav,” kata Nikolas, singkat, sambil menepuk punggung Davina.
Wanita itu tidak menjawab sama sekali, hanya terus menangis di pelukan Nikolas.
Di tengah-tengah situasi tersebut, Nikolas memandangi Raka yang masih berdiri terdiam di pintu.
“Gue cuma nganterin. Jangan salah paham!” Raka berkata seadanya.
Nikolas tidak menjawab.
Raka pun mengerti.
“Gue nunggu di luar, kalau butuh apa-apa,” katanya, lalu menarik gagang pintu.
Sebelum menutup pintu sepenuhnya, Raka sempat melihat Davina yang sedang memeluk Nikolas dengan erat. Seerat yang dia mampu, seperti tidak ingin melepasnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya, hati Raka terasa sakit luar biasa. Nyeri itu seperti menyalakan alarm peringatan di kepalanya. Menamparnya tepat di kesadarannya.
Bahwa Davina… benar-benar bukan miliknya lagi.
Bahwa inilah hukuman bagi orang yang pernah menyia-nyiakan sebuah pemberian terbaik.
Ternyata betapa menyeramkannya perasaan takut kehilangan itu…
Dan akhirnya dia menyadari…
Bahwa sebentar lagi, Davina benar-benar akan terlepas sepenuhnya dari genggamannya.
***