Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
I’m With Him, You’re With Her



“Kamu dimana, Raka?” Davina bergumam saat dia harus kembali memutuskan panggilan telepon ntah untuk keberapa kalinya.


Sebegitu sibuknya kah Raka sampai mengabaikan telepon Davina? Tidak bisakah memberikan informasi apakah Davina harus menunggu di Nararya atau lebih baik pulang saja?


Davina menghela nafas.


Dia kembali teringat pada malam ulang tahun Raka. Dia menunggu tanpa kabar. Sampai ketiduran di sofa ruang keluarga. Azel dan Nayla bahkan sampai harus membangunkan Davina dan menawarkan untuk mengantarkannya pulang.


Namun, mana mungkin Davina melewatkan ulang tahun Raka?! Bukankah dia pulang hanya untuk melihat laki-laki itu untuk setidaknya meniup lilin secara langsung?


Akhirnya, dia istirahat sebentar di kamar tamu, setelah mendapat paksaan dari Nayla. Karena sadar Davina pasti merasa sangat lelah.


Namun, sampai hari berganti…


Raka tidak juga pulang.


Jika mengingat hal itu, Davina masih merasa tidak terima. Egonya mengatakan, untuk apa dia pulang jika tetap ditinggalkan seperti itu? Bukankah Raka yang memintanya pulang?


Tapi kenapa pada akhirnya Raka melewatkan hari ulang tahunnya sendiri dengan bekerja!


“Eh, Dav, kok masih disini?” Yuni tiba-tiba muncul. Beberapa hari terakhir ini, dia memang menyempatkan diri untuk mengajar kelas di Nararya secara cuma-cuma. Begitu pun Davina.


Hanya saja tadi kelas Davina selesai satu jam lebih cepat. Siapa yang menyangka ternyata dia masih duduk di ruang depan Nararya sambil mengamati ponselnya?


“Belum dijemput.” Davina berusaha ceria.


“Raka lagi main sama temennya ya?” tanya Yuni.


Davina tertegun sejenak mendengar pertanyaan Yuni. Rasanya seperti ditampar sekencang-kencangnya!


Di umur mereka yang sekarang, kebanyakan laki-laki memang harusnya masih sibuk nongkrong, bersenda gurau dengan temannya, dan melakukan beberapa hal tidak bermanfaat lainnya. Membubuhkan tatto di badannya, pergi ke club malam untuk minum-minum, nongkrong tidak tahu juntrungan.


Tapi…


Raka berbeda.


Di umurnya yang menginjak dua puluh tiga tahun, kekasihnya itu sudah tahu apa yang ingin dia lakukan untuk hidupnya. Kekasihnya itu tengah berusaha mewujudkan mimpinya dari awal. Merintis semuanya sendirian.


Dan kenapa Davina tidak bisa memahami hal itu? Kenapa dia bersungut-sungut?


Bukankah tujuannya pulang adalah ingin memberikan Raka hadiah? Bukankah sebuah pengertian juga adalah sebuah hadiah? Kenapa dia tidak bisa memberikannya pada Raka?


Davina akhirnya menggeleng.


“Enggak, dia lagi kerja.”


“Wow! Raka udah kerja? Bukannya dia masih kuliah ya?” kata Yuni, kagum.


Lihat! Orang lain saja bisa bisa mengagumi Raka, kenapa Davina tidak? Kenapa dia malah tidak terima saat pacarnya sibuk bekerja?


Sungguh konyol…


Pikir Davina.


“Udah, Yun. Dia bikin start up.”


“Keren!”


Davina hanya mengangguk. Jadi merasa ikut bangga karena kekasihnya.


Beberapa saat kemudian, ponsel Yuni berdering.


“Hey, Nik! Iya, udah kelar kok! Bentar! Gak sabaran amat sih! Iya, iya!” Yuni pun mematikan ponselnya setelah selesai mengomel.


“Gue udah mau jalan nih, Dav. Lo gak mau ikut aja?”


“Enggak deh, Yun. Gue masih nungguin Raka.”


“Ye, daripada lo sendirian disini! Gue sama Niko, temen gue yang tadi, cuma mau nongkrong di kafe dekat sini kok. Lo kabarin aja ke Raka biar ntar dijemput disana.”


Ah, benar juga…


Pikir Davina.


“Udah. Gak usah mikir lama-lama! Yuk, buruan!” Yuni langsung menarik tangan Davina.


“Tapi, gue belum ngabarin Raka…”


“Ntar aja sambilan di jalan!”


Davina pasrah saat dirinya ditarik keluar dari Nararya. Yuni menggiringnya sampai ke sebuah mobil.


Nikolas yang sempat merasa kesal karena kelamaan menunggu Yuni, langsung tersenyum sumringah saat melihat Davina ikut bersama temannya itu.


Saat Yuni membukakan pintu mobil untuk Davina, Nikolas menyambutnya dengan nada ramah yang berlebihan, “Eh, Davina, kita ketemu lagi.”


Davina tersenyum, “Hai, Nik! Gue ikutan ya!”


“Boleh banget dong. Males juga berduaan sama Yuni.” Nikolas nyengir.


“Sialan lo! Tadi aja galau karena malam mingguan gak ada yang nemenin!” Yuni yang baru naik ke jok penumpang di sebelah Nikolas, langsung memukul bahu laki-laki itu.


Nikolas tertawa.


“Oh iya, ini malam minggu ya…” Davina bergumam. Baru sadar bahwa ini memang hari Sabtu!


“Lah? Gimana sih yang punya pacar malah lupa ini malam minggu?!” Yuni meledek.


Davina tertawa saja. Memangnya dia bisa bilang apa? Well, di hari ulangtahunnya saja, Raka lebih memilih untuk bekerja. Konon malam minggu…


Davina jadi teringat bahwa dia perlu mengabari Raka. Dia pun mengambil ponselnya dan mengetik pesan.


“Lo kenal dimana sama Yuni, Dav?” Nikolas mulai bertanya, sambil melirik Davina melalui spion. Mobil perlahan meluncur ke jalan raya. Yuni yang sadar bahwa Nikolas sedang melancarkan aksi modusnya hanya bisa memutar bola matanya.


Davina yang tidak terlalu multi tasking, segera berhenti mengetik.


“Di Nararya, Nik,” jawabnya.


“Tapi kita mulai deket tuh waktu sekolah di Paris ya, Dav?” Yuni menambahkan.


“Iya.” Davina mengangguk.


“Oh, jadi Davina bisa balet juga ya?”


Bukankah Nikolas sedang menanyakan hal yang sudah jelas terpampang di depan mata?


Yuni jengah dengan basa-basi bodoh Nikolas, dia langsung memotong, “Ya, menurut lo Davina di Nararya ngapain? Belajar bercocok tanam? Belajar gimana caranya tumbuhan berfotosintesis?”


Nikolas mencibir. Davina sendiri sudah tertawa terbahak-bahak mendengar repetan Yuni.


Nikolas melirik dari kaca spion, mengamati Davina yang sedang tertawa dengan cantiknya. Kenapa bisa ada wanita sesempurna ini?


Davina sempat sadar bahwa Nikolas menatapnya lama dari spion.


DENGAN MENGHINDAR.


“Boleh lihat jalan dulu gak, Mas? Kalau mau lihat spion terus, gue aja deh yang nyetir!” Yuni menggerutu, lagi.


Nikolas cengengesan.


Tapi sampai mereka tiba di kafe yang dimaksud, tidak sekalipun Davina menatapnya balik dari spion. Wanita itu malah beberapa kali memeriksa ponselnya seperti berharap akan sesuatu. Tapi sepertinya, dia tidak kunjung mendapatkan apa yang dia harapkan atau ditunggu.


Akhirnya Nikolas sadar. Tubuh Davina boleh disini, di mobilnya, tapi jiwa dan pikirannya ada di tempat lain.


***


“Mesen apa, Dav?” tanya Yuni, begitu sadar Davina menatap menu buku terlalu lama. Pelayan sudah cukup lama menunggu.


Davina tersentak. Dia cepat-cepat memilih daftar teratas menu kafe tersebut, “Aglio olio aja deh.”


“Minumnya?”


“Cola pakai lemon ya, Mbak.”


Pelayan mengangguk. Setelah mengulangi pesanan mereka, sang pelayan pun pergi.


“Lo lagi ada pikiran ya, Dav?” Yuni bertanya sambil merapikan poni Davina yang sudah mulai panjang. Poni itu menutupi mata indahnya.


“Pikiran mah ada aja kali, Yun.”


“Tapi lo kayak gak konsen banget daritadi.”


Kalau mereka hanya berdua saja, Davina tentu akan menumpahkan seluruh perasaannya saat ini pada Yuni. Namun saat ini, ada orang lain di sebelah mereka. Dan Davina cukup peka untuk mengetahui bahwa Nikolas tertarik padanya.


“Gak apa.”


Seperti sadar bahwa Davina enggan membicarakan hal ini di depan laki-laki lain, Yuni langsung berhenti mengorek terlalu dalam.


“Ya udah. Eh, toilet dimana ya? Gue kebelet banget deh.” Yuni celingak-celinguk.


“Tuh!” Nikolas menunjuk sebuah papan tanda toilet.


“Gue tinggal bentar ya, Dav.” Yuni segera ngibrit menjauh.


Tinggallah Davina dan Nikolas disana.


Berdua.


Dengan canggung.


“How long will you stay in Indonesia?” Akhirnya Nikolas bertanya, mencoba berbicara sesantai mungkin agar Davina merasa nyaman.


“Minggu depan udah balik.”


Nikolas mengangguk. Dia menunggu Davina membuka topik obrolan sepertinya. Namun wanita itu diam membisu.


“Masih ada rencana balik ke Indo? Atau bakal netap disana?” tanya Nikolas, lagi.


“Belum tahu, Nik. Keinginan sih pasti ada. Tapi masih banyak yang pengen gue lakuin disana.”


Woman with vision. Interesting…


Pikir Nikolas.


“Betah di Paris?” Dia mencoba mengorek Davina lebih dalam.


“Lumayan.”


“Ada kendala bahasa? Katanya disana orang-orangnya gak mau pake Bahasa Inggris ya?”


“Iya banget.” Davina terkekeh. Dia ingat beberapa kali diabaikan oleh gurunya di awal-awal kedatangannya karena dia masih belum fasih berbahasa Perancis.


Lalu, Davina sadar. Daritadi hanya membiarkan Nikolas bertanya. Dia sama sekali tidak ingin membicarakan tentang dirinya sendiri dengan laki-laki lain.


Lebih baik dia mengalihkan pembicaraan menjadi topik tentang Nikolas saja.


“Lo sendiri gimana, Nik? Sibuk apa?” tanya Davina, berusaha terdengar senatural mungkin saat membalikkan pertanyaan itu.


Keahlian barunya setahun terakhir jika ada laki-laki yang ingin berusaha mendekati dan mencari celah.


“Lagi lanjutin usaha bokap aja, Dav.”


“Oh ya? Usaha apa?”


“Kecil-kecilan aja,” jawab Nikolas, seadanya, selalu berusaha menghindar dari pertanyaan itu.


“Kayaknya gak cuma ‘kecil-kecilan’ deh!” Davina meledek, menyadari Nikolas telah mengalihkan pandangannya.


Laki-laki itu hanya tertawa. Tidak mengiyakan, tidak juga mengelak.


Well, hanya kaum borjuis yang bisa mengerti maksud kaum borjuis lainnya. Mereka tertawa bersamaan selama beberapa saat.


Davina merasa ada seseorang di dekatnya mengamatinya. Tapi dia mengabaikannya. Mungkin hal itu hanya karena suara tawanya yang kencang.


Namun…


Ketika orang itu bersuara…


Dia terperanjat.


“Davina?” Suara sopran itu baru beberapa kali saja mampir di telinganya, namun dia tidak akan lupa…


Dia menoleh pada asal suara.


Berharap telinganya salah mendengar…


Karena kalau tidak…


“Eh, bener! Ka! Ada Davina!” Wanita itu menarik lengan laki-laki di hadapannya. Sosok paling familiar di ingatan Davina.


Rasanya dia ingin segera bersembunyi saat itu juga.


Namun, terlambat.


Kekasihnya sudah menoleh padanya.


Seakan semesta sedang bersiap mengguncang seluruh dunia mereka.


Raka… digandeng oleh wanita lain.


Sementara Davina… duduk berdua dengan seorang laki-laki asing.


***