Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Everything’s Falling Apart



Raka langsung menyesali perbuatannya begitu pintu tertutup. Bagaimana mungkin dia bersikap sekurang ajar ini pada wanita yang dia cintai sepenuh hati?


Dia cepat-cepat membuka pintu. Hatinya mencelos begitu melihat Davina sudah beranjak pergi dari tempat itu.


“Devni…” panggilnya.


Tapi Davina semakin mempercepat langkahnya.


Raka segera mengejar wanita itu.


“Devni!” Raka meraih tangan Davina dan segera mencengkramnya erat.


“Lepasin!!!” Davina meronta, mencoba melepaskan diri dari Raka. Namun, apalah arti kekuatannya dibandingkan Raka.


Laki-laki itu dengan mudah menarik Davina lagi untuk menuju ke unit apartemennya. Raka tidak ingin membuat keributan lebih banyak dan mengundang rasa penasaran tetangga apartemennya.


“Lepasin aku!!!” Davina menjerit saat Raka menyeretnya masuk, lalu menutup pintu.


Begitu mereka sudah di dalam ruang pribadi, Davina menjerit lagi, “Lepasin aku sekarang juga!!!”


Dan Raka pun melepaskan genggamannya.


Davina mempergunakan kesempatan itu untuk berjalan ke arah pintu. Dia tidak sudi melihat Raka.


Namun, Raka segera meraihnya lagi, kemudian memeluk Davina dari belakang. Wanita itu dapat mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Raka. Davina tidak suka ini!


Davina meronta-ronta minta dilepaskan. Bahkan Raka bisa merasakan tubuh Davina bergetar hebat karena amarah.


Akhirnya Raka melonggarkan pelukannya. Davina segera berbalik dan mendorong bahu Raka agar menjauh darinya.


“Kamu pikir kamu siapa bisa seenaknya kayak gini???” Davina menunjuk wajah Raka.


“Pacar kamu,” jawab Raka, dengan gampangnya.


“Bener-bener kamu ya!!!” Davina berbalik lagi, dia meraih knop pintu dan menyentaknya sampai terbuka.


Namun, Raka tidak mau mengizinkan Davina untuk pergi dari hidupnya lagi. Dia menarik Davina lagi, lalu dengan cepat menutup pintu itu.


Dia menyandarkan Davina ke pintu, lalu menciumnya.


“Raka!!!” Davina mencoba berteriak, berontak, dan melepaskan diri dari ciuman Raka yang kasar.


Namun, Raka bersikukuh, semakin mengunci Davina dalam rengkuhannya. Davina tidak lagi bisa melawan, akhirnya dia membiarkan Raka bertindak sesuka hati.


Dia benci selalu mengalah seperti ini. Dia benci jika Raka dapat bertindak seenaknya pada dirinya.


Bahkan saat Raka menciumnya seperti ini, tubuhnya malah pasrah dengan sentuhan itu. Dia tidak membalas, namun tidak lagi menolak. Segala rasa frustasi Davina meluruh dalam airmatanya. Tubuhnya bergetar karena tangisannya tiba-tiba meledak.


Raka tersentak saat menyadari tangannya – yang mencengkram tengkuk Davina – basah karena airmata. Dia melepaskan ciuman dan cengkramannya.


Dia memandang wajah Davina yang menangis dengan pilu.


“Aku kacau, Devni…” Raka meletakkan dahinya di bahu Davina.


Kini Davina sudah terisak dengan kencang.


“Aku lagi kacau banget… Tolong jangan pergi…” Tangan Raka perlahan melingkari pinggang Davina.


Inilah Raka yang Davina kenal…


Inilah sentuhan Raka yang Davina suka…


Lembut… menenangkan…


Bukan kasar dan menuntut seperti tadi.


Menyadari bahwa semarah apapun dia saat ini pada Raka namun hatinya malah sudah memaafkan laki-laki itu lebih cepat dari yang seharusnya. Hal ini membuat Davina semakin frustasi. Kadang dia merasa perasaannya pada Raka seperti kutukan.


“Jangan pergi… Aku gak bisa kalau gak ada kamu…” ucap Raka, lirih, sambil kembali mencium pipinya. Turun ke leher, hingga ke bahu.


Davina tidak lagi bisa mengelak. Dia membiarkan Raka menyentuhnya lagi. Perlahan Rama menuntun Davina menuju ke kamar. Bahkan saat Raka menidurkannya di atas kasur, Davina merengkuh leher Raka dan memeluknya erat. Dia menenggelamkan wajahnya di bahu Raka, lalu menangis lagi.


Dia hanya ingin berada di sisi Raka, dia tidak peduli jika laki-laki itu bisa bertindak sejahat apa saat sedang banyak pikiran. Dia mencintai laki-laki ini, sebesar-besarnya, seada-adanya.


Davina membiarkan tubuhnya kembali larut dengan sentuhan Raka. Mereka tidak membahas apapun, tidak membicarakan apapun. Raka hanya ingin memeluk Davina sepanjang malam. Untuk menghilangkan segala keresahannya, segala kekhawatirannya. Segala beban yang akan dipikulnya.


Tanpa Raka dan Davina sadar, bahwa memendam isi hati masing-masing sama sekali tidak menyelesaikan masalah apapun. Hal yang mereka lakukan sekarang ibarat kembali menyimpan satu bom waktu yang lain.


***


Davina terbangun di pagi hari tanpa Raka di sisinya. Dia segera keluar dari kamar dan menemukan Raka duduk terlentang di atas sofa, sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Davina mendekat, lalu dengan lembut mengangkat bantal tersebut dari wajah Raka.


Begitu melihat Davina di hadapannya, entah kenapa Raka langsung merasa tenang.


Raka menggeleng. Dia tidak bisa menceritakan masalahnya pada Davina. Dia tidak ingin Davina khawatir. Besok Davina akan pulang ke Paris. Kalau dia tahu sekarang, Davina tidak akan mau meninggalkannya. Davina pasti mau mendampinginya disini. Padahal Davina masih punya satu perlombaan yang ingin dia ikuti.


Raka tak pernah mau lagi jadi penghalang mimpi Davina.


I’ll do it by myself…


Pikir Raka, sambil menyentuh pipi Davina.


Dia akan menceritakan semuanya pada Davina saat wanita itu sudah tiba di Paris nanti.


Nanti.


Tidak sekarang.


“Gak apa-apa,” jawab Raka, akhirnya.


“Bohong! Kamu sampai mabuk-mabukan tadi malam.”


Raka menghela nafas, lalu berkata, “Makanya kamu jangan jalan sama cowok lain.”


Davina menggeleng, “Aku yakin bukan karena itu aja.”


Raka tersenyum, “It’s all about you, Devni. It’s always about you. So don’t mess up with me.”


Davina menatap Raka penasaran, mencoba menyelidiki kebenaran di matanya. Tapi dia tidak bisa menebak.


Mungkin Raka akan menceritakannya segalanya di waktu yang tepat.


Dia pun menyentuh kedua pipi Raka, “I’m always about you too, Raka.”


“I know.”


“Besok aku pulang.”


“I know it too.” Raka menghela nafas.


“Mau anterin aku pulang ke rumah? Aku harus packing.”


“Kalau dipaksa…” Raka memamerkan senyum miringnya.


“Dasar!”


Raka menarik Davina dalam pelukannya, “Setengah jam lagi aja ya pulangnya?”


Davina tersenyum, “Kalau dipaksa…”


Raka terkekeh.


Benarlah adanya. Saat Raka terjatuh, sakit, berdarah-darah, Davina adalah aspirin.


***


Raka mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Sesekali dia menoleh ke sebelahnya. Menikmati waktu-waktu yang tersisa dengan kekasihnya itu sebelum mereka terpisahkan jarak lagi.


Raka baru sadar telah bertingkah begitu bodoh selama seminggu ini, benar-benar mengabaikan keberadaan Davina. Padahal kekasihnya itu sudah sengaja pulang untuknya.


“Kita boleh singgah sebentar di toko kue depan itu gak? Aku kepengen banget makan lemper sebelum pulang.” Davina menunjuk sebuah bakery di seberang jalan, tak jauh dari mobil Raka yang melaju.


“Oke. Tapi kayaknya parkirannya penuh.”


“Gak apa. Berhenti di seberangnya aja. Nanti aku nyeberang sendiri aja.”


Raka mengangguk.


Mobil pun berhenti.


Davina melepaskan sabuk pengamannya.


Saat Davina hendak membuka pintu, ntah kenapa Raka merasa begitu tidak rela. Dia merasa aneh di sekujur tubuhnya, seperti tidak ingin Davina pergi.


Namun, dia tidak melakukan apapun… dia pikir ini hanya perasaan mellow biasa saat akan berpisah lagi dengan Davina.


Maka dia biarkan Davina berjalan menjauh dari mobilnya, menyeberang sendirian. Saat itu pula, sebuah mobil melaju dengan kencang dari arah berlawan.


Raka tidak sempat memperingatkan Davina.


Raka kehilangan seluruh lisan dan daya.


Raka merasa ikut kehilangan nyawa saat tubuh Davina terhempas oleh laju mobil tersebut.


Seluruh dunia Raka perlahan terasa berjatuhan di sekelilingnya, apalagi saat melihat Davina tergeletak tak berdaya di sebuah sisi jalan.


***