Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Kesia-siaan Dalam Hidup



Pagi menjelang. Akhirnya, Davina sanggup memaksakan diri untuk menggerakkan otot-ototnya yang begitu kaku. Kemarin, dia telah menyiksa diri seharian. Sudah saatnya dia bangkit dari tempat tidur ini dan bertemu keluarganya. Dia tidak ingin menjadi beban pikiran lagi untuk orangtua dan kakaknya. Bagaimana pun caranya, dia harus bangkit. Setidaknya, dia harus tampil layak.


Dia pun segera membersihkan diri di kamar mandi. Dia berusaha menghindari cermin pagi ini, namun dia sempat sekilas melihat bayangan wajahnya saat melewati cermin. Wajahnya masih terlihat kuyu dan sembab. Tapi sebuah senyuman akan memperbaiki segalanya.


Sebelum keluar dari kamarnya, dia sengaja memberitahu Espoir bahwa dia takkan datang kesana hari ini. Mungkin dia akan mengambil cuti panjang lagi. Kali ini, dia ingin menjadi egois. Lagipula pertunjukan balet mereka sudah selesai dan terbilang sangat sukses. Tidak apa-apalah untuk seminggu ke depan, Davina menghilang sejenak, menata diri dan menata hatinya.


Dia berharap...


Tidak ada satu pun yang menyadari kesialan hidupnya. Pernikahannya gagal, sekarang menemukan calon suami tidur dengan wanita lain. Hidup Davina sudah selayaknya drama opera sabun murahan. Bukannya membuat orang lain sedih dan menyayangkan nasibnya, tapi malah akan menertawakan setiap kesialannya itu.


Davina menghela nafas. Sudah cukuplah dia mengasihani diri. Dia harus keluar dari kamarnya ini.


Dia pun melangkah ke arah pintu kamar. Saat tangannya mencapai gagang pintu, dia berusaha meyakinkan diri, bahwa di luar sana hanyalah ada keluarganya. Yang tidak akan menghakimi setiap kesia-siaan dalam hidupnya. Justru ini adalah tempat teraman, ternyamannya. Justru mereka yang akan menjadi penopang yang teguh.


Davina pun akhirnya membuka pintu. Kaget saat melihat Mbak Nur sedang berjalan ke arah kamarnya sambil membawa nampan sarapan.


"Eh, Mbak, mau sarapan sama yang lain?" tanya Mbak Nur.


"Iya, Mbak. Maaf ya. Sini aku aja yang bawa."


"Ih, gak apa-apa, Mbak. Ini aku bawa lagi ke ruang makan."


Mereka pun berjalan menuju ruang makan. Hanya ada keheningan. Mbak Nur tidak berusaha memperhatikan atau pun menghiburnya. Dan Davina menyukainya. Bersama dengan orang yang tidak tahu permasalahan dalam hidupnya sungguh menyenangkan.


Saat tiba di ruang makan, seluruh orang terkesiap saat Davina muncul.


"Tanteeeeeee!" Keysha yang sadar duluan, langsung berlari menuju Davina.


Davina merentangkan tangan untuk memeluk keponakan kesayangannya itu.


"Keeeey kangeeeen tahuuuu!" kata Keysha, dengan gemasnya, begitu Davina merengkuh tubuh mungilnya.


"Kan Tante disini. Kalau kangen, kenapa gak datang ke kamar Tante aja?" Davina menguyel-nguyel pipi Keysha.


"Key mau datang, mau peluk. Tapi Mama bilang, Tante lagi sibuk di kamar." Keysha menjawab dengan polosnya.


Davina melemparkan senyum pada Rara. Kakaknya itu begitu bijak, tidak memberitahu sesuatu yang membingungkan untuk anak sekecil ini.


Lalu, tiba-tiba tangan mungil Keysha menyentuh kedua pipi Davina.


"Tante, jangan sedih-sedih lagi ya."


Semua orang terpana.


"Sumpah! Gue gak bilang apa-apa!" Rara mengangkat kedua tangannya.


Semua orang tahu Rara benar. Namun, Keysha selalu menjadi anak paling perasa. Tampang boleh mengikuti sang papa. Namun kepribadiannya adalah sepenuhnya Rara. Key kecil bahkan sudah bisa mengetahui ketika orang baru menangis? Kepekaan anak kecil memang kadang di luar logika berpikir!


"Kok Key tahu sih Tante lagi sedih?" tanya Davina.


Keysha menggedikkan bahu saja, lalu tangannya malah sekarang memeluk lagi leher Davina.


"Ooooh..." Diana tidak bisa menahan rasa harunya.


Airmata Davina sendiri sudah merebak. Tapi, dia cepat-cepat menguasai diri agar keponakannya itu tidak melihatnya menangis. Walaupun ini adalah airmata haru.


Lama Keysha memeluk tantenya itu. Seperti ingin menyalurkan banyak ketenangan untuk Davina.


Diam-diam, Davina mengamati seluruh keluarganya.


Apa dulu katanya?


Dia ingin satu aspek dalam hidupnya sempurna, yaitu Niko?


Bodoh sekali.


Lagi-lagi kesia-sia-an dalam hidup!


Sebab sesungguhnya dia sudah memiliki sesuatu yang sempurna dalam hidupnya. Yaitu, keluarganya. Ya. Pada akhirnya, memang keluargalah yang akan selalu ada untuk kita.


Begitu Keysha melepas pelukannya, mereka pun bergabung kembali di meja makan. Abang iparnya segera memberikan kursi di sebelah Dave untuk sang anak Papa.


"Makasih, Bang," ucap Davina.


Abang iparnya balas tersenyum saja. Si pemilik senyum paling teduh.


Lalu sebuah tangan terulur untuk menepuk punggung tangan Davina.


Papanya.


Davina tersenyum.


Tanpa perlu mengatakan apapun, dia sudah tahu bahwa Papanya sedang memberikan semangat padanya. Dan Davina akan selalu berterima kasih untuk itu.


***


"Pa, Ma..." Davina memanggil Dave dan Diana tiba-tiba.


"Ya, Sayang?"


"Let's call off the engagement," kata Davina, mantap.


(Ayo batalkan pertunangannya.)


Mereka semua langsung memandangi Davina.


"Kamu udah yakin?"


Davina mengangguk.


"Oke." Dave dan Davina setuju. Tidak ada yang dapat membuat mereka menyetujui pernikahan Davina dan Nikolas lagi. Tapi mereka hanya ingin Davinalah yang memutuskan. Dan mereka sangat senang bahwa Davina sependapat dengan mereka.


"Gimana cara batalinnya? Kita harus datang atau–" Davina tidak dapat meneruskan kalimatnya karena Dave langsung memotong kalimatnya.


"Itu, kamu gak perlu pikirin, Dav. Biar Papa sama Mama yang mikirin," kata Dave.


Davina mengangguk. Dia memang selalu bisa mengandalkan keluarganya.


"Kamu fokus patah hati aja." Diana mengacak-acak rambut putrinya itu.


"Jadi, cukup fokus nangis-tidur-makan aja?"


Diana mengangguk, dengan tampang meledek. Mamanya memang paling bisa membuat segala sesuatu jadi terdengar normal dan wajar.


"Thanks, Pa. Thanks, Ma." Davina tersenyum.


"Thanks, Kak Rara." Rara menyindir.


Davina pun tertawa.


Dia pun segera bergelayut manja pada Rara. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher kakaknya itu.


"Kakaaaak terbaik gueeeee!" Dia menciumi pipi Rara.


"Iyuhhhh, lo bauuu, Dav!" Rara berusaha menghindar.


Semua orang tertawa.


Benarlah adanya bahwa selama ini Davina selalu mengejar yang sia-sia. Dia mengira Nikolas adalah tempat ternyamannya. Padahal, segalanya ada disini.


Sungguh kesia-siaan dalam hidup.


Dan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Mereka semua tertegun.


Mbak Nur segera berlari hendak membukakan pintu, namun Rara segera berlari mengejarnya. Dia sudah menyeleksi siapapun tamu yang hendak berkunjuk dari kemarin.


"Emang dia ada datang?" tanya Davina.


Dave dan Diana kompak menggeleng.


"Mana berani dia. Mau digebukin sekampung?" Diana meremas tangannya.


Davina tertawa. Mamanya kan memang bisa bertingkah barbar jika diperlukan.


Tak lama kemudian, Rara muncul di ambang pintu ruang keluarga. Bersama seseorang. Rara terlihat menarik-narik tangan orang tersebut seperti tidak juga berhasil mengalahkan kekuatannya.


Orang itu bertemu pandang dengan Davina.


"Kamu kemana aja?" Raka bertanya dengan suara lantang. Nadanya sarat emosi dan penuh rasa frustasi.


Davina tidak menjawab.


Hanya terpana.


Ah, ada satu lagi...


Yang tidak akan pernah menjadi kesia-siaan dalam hidupnya.


***


Hai, semuanya! Karena anak rawon udah mau tamat, aku mau berterima kasih dengan kesabaran kalian dengan adain giveaway kecil-kecil-an untuk lima orang pemenang. Kecil sih, pulsa 50rb aja buat masing-masing orang. Caranya gampang cukup follow IG-ku dan jawab pertanyaan yang akan aku kasih di jam 3 sore besok. Satu pertanyaan aja. Nanti akan aku umukan pemenangnya di hari Minggu. Oh iya, pertanyaannya akan jadi clue untuk novel baru yang akan terbit di bulan Oktober, masih di NT. Gitu, ditunggu yaaaa 🤗


IG : @ingrid.nadya