
Seperti yang sudah bisa ditebak, senyum tengil langsung mengembang di wajah Raka.
“Kenapa kamu gak suka kalau aku deket-deket sama Jules?” tantang Raka.
“Jules… Jules… Jules…” Davina menggumam kesal.
Kalau saja dia tidak punya niat untuk menginterogasi Davina, pasti dia sudah tertawa saat ini. Davina yang cemburu seperti ini ternyata juga menggemaskan.
“I mean, Julia. Kenapa gak suka?”
Menyadari bahwa perasaannya kini terpampang nyata di depan Raka, Davina segera memalingkan wajah lalu berkata, “Ya, gak suka aja! Emang harus ada alasannya?”
“Cinta aja butuh alasan! Masa benci enggak?”
“Dimana-mana ya, orang selalu bilang, cinta gak butuh alasan!”
“Aku punya alasan…”
“Apa?”
Raka berdiam sejenak. Dia harus mempergunakan kesempatan ini untuk menyatakan dengan gamblang perasaannya.
Dia memandangi Davina lekat-lekat. Tapi Davina langsung memalingkan wajahnya.
“Lihat aku, Devni…”
“Enggak!”
“Look at me…” Raka meraih dagu Davina dengan lembut, lalu menahan wajah wanita itu agar mau bertemu mata dengannya.
“Aku, cinta, kamu, karena, kamu, adalah, kamu.” Raka memberi penekanan di setiap kata yang terucap dari mulutnya.
“Semua keras kepala kamu, kebohongan kamu sama diri sendiri, bahkan sikap kamu yang akhir-akhir ini begitu semena-mena…”
“Kamu tuh masokis apa gimana sih?”
“I will be anything you need. That’s how much I love you.”
(Aku bakal menjadi apapun yang kamu butuhkan. Segitu besarnya rasa sayangku ke kamu.)
“Termasuk jadi simpenan wanita bersuami?”
Raka menggeram. Dia melepas dagu Davina, lalu memalingkan wajah.
“Kamu gak bakal nikah sama Nikolas,” gumam Raka.
Davina hanya menggedikkan bahu. Tentu saat ini dia sedang ragu pada keteguhan Nikolas. Tapi juga tentu tidak mudah baginya melepaskan laki-laki itu.
Nikolas adalah laki-laki pertama yang dapat membuatnya berpaling dari Raka, yang membuatnya jatuh cinta lagi. Dalam hati kecilnya, selalu ada rasa terima kasih untuk Nikolas sebab telah menyelamatkannya dari sesuatu yang buruk di masa lalu.
Davina pernah kehilangan segalanya. Dan Nikolas yang memberikan sebuah tujuan baru untuknya. Tapi apakah rasa terima kasih cukup? Apakah segala pengorbanan Nikolas bisa mempertahankan Davina?
Sementara di hadapannya saat ini, ada Raka. Laki-laki yang diinginkannya lebih dari apapun.
Samson punya Delilah.
Hawa punya sang ular.
Jika semua orang punya racunnya masing-masing…
Maka, Davina… punya Raka. Sang racun termanis, yang paling memabukkan. Tapi bagaimana jika racun itulah yang bisa membuatnya merasa bahagia?
“Tadi kamu nanya aku mau kemana kan malam ini?” Kini mata Davina memancarkan binar kehidupan. Sudah lama dia tidak seperti ini.
“Iya.”
“Bawa aku kemana pun. Dimana aku bisa lupain Nikolas dan kesalahan kamu dulu.”
“Kamu serius?”
Davina mengangguk.
Raka langsung bangkit berdiri. Dia mengulurkan tangan pada Davina sambil berkata, “Can I kidnap you, Miss?”
(Boleh aku culik, Nona?)
“With pleasure…”
(Dengan senang hati…)
***
Stockholm syndrome adalah kondisi psikologis yang dialami oleh korban penculikan dimana mereka malah jatuh cinta dengan penculik mereka. Kondisi ini pertama kali digunakan oleh media pada tahun 1973 terhadap empat orang korban penyanderaan di sebuah perampokan bank di Stockholm, Swedia. Setelah dibebaskam, empat korban tersebut malah kenolak untuk memberikan kesaksian di pengadilan karena mereka malah bersimpatik kepada para penyandera.
Mungkin stockholm syndrom bukanlah sebuah diagnosis kesehatan mental yang resmi. Tapi ntah kenapa, Davina merasa, dia sedang mengalami sindrom ini.
Raka adalah penyanderanya. Dan dia malah… jatuh cinta dengan penyanderanya itu.
Buktinya, saat Raka benar-benar menculiknya sore itu, Davina malah merasakan sesuatu yang bergejolak di dadanya. Tanda-tanda kehidupan, tanda-tanda jatuh cinta yang sesungguhnya.
Mereka tidak pergi jauh-jauh. Raka hanya mengajak Davina ke Ancol. Ribuan kali Raka mendengar Nayla mengatakan bahwa suasana Ancol di malam hari sangatlah romantis, tapi Raka tidak percaya.
Namun, kemana lagi dia bisa mengajak Davina, selain Ancol? Di waktu yang singkat dan spontan ini…
Jadilah, mereka disini. Di sebuah kafe pinggir pantai terkenal di Ancol, Segarra Beach Club. Davina duduk di bangku pantai berkanopi khas Segarra, berdua dengan Raka.
Matahari mulai tenggelam. Sinar jingganya terpantul di wajah Davina, membuat perasaan Raka semakin tidak tertahankan.
“Devni,” panggil Raka.
“Hm?” Davina tidak berpaling dari benda berpendar jingga yang mulai tenggelam di ufuk barat itu.
“Mau sampai kapan kita begini?”
Davina menggedikkan bahu, “Sampe malam mungkin. Kenapa? Udah bosan?”
“Bukan…”
Davina menoleh pada Raka.
“Jadi?” tanyanya.
“Mau sampai kapan kita pura-pura bisa tanpa satu sama lain?” Raka menggenggam tangan Davina.
Mata Davina memandangi Raka lekat-lekat.
“Kamu bisa, tanpa aku. Gak usah bacot!” Davina menarik tangannya dari genggaman Raka. Lalu, kembali memandangi senja.
“Kenapa kamu selalu ngerusak momen romantis sih?” Raka mengomel.
“Aku gak butuh momen romantis lagi, Ka. Kalau aku cuma mau romantis-romantis, aku bisa dapetin semua itu dari Nikolas.”
Tajam, menohok. Hati Raka ngilu.
“Jadi, kenapa kita disini? Kalau kamu bisa dapetin semuanya dari Nikolas.”
Airmata Davina menggenang. Benar. Kenapa dia disini? Malah memandangi senja bersama sang penculik? Sindrom ini sungguh akut menyerang kewarasannya!
Tapi dia tahu alasannya.
“Cuma satu yang Nikolas gak bisa kasih,” lanut Davina.
Raka menunggu.
Davina pun menoleh lagi padanya. Dengan airmata yang berlinang pun Davina tetap cantik. Bahkan sangat cantik untuk Raka.
Davina menekan dada Raka dengan jari telunjuknya.
“Ini yang gak bisa dia kasih.”
Raka terpaku.
“Kamu… dia gak bisa jadi kamu…”
Nafas Raka terhenti sejenak. Sepertinya dia dilanda euphoria yang berlebihan.
Dia langsung menangkap tangan Davina, dan menggenggamnya erat, “Makanya, pilih aku.”
“Ka, aku belum sembuh. Setiap dengar nama Julia aja aku hampir gila. Kalau aku kembali ke kamu, memangnya kamu siap aku hantuin dua puluh empat jam setiap kali kamu kerja bareng Julia?”
“Devni, kamu mau pasang kamera rahasia di kepalaku juga aku rela. I can be–“ Belum sempat Raka meneruskan kalimatnya, Davina sudah memotong.
“Anything I need. Aku tahu, Ka. Aku kenal kamu. Seumur hidupku. Tapi cinta harusnya gak seperti itu…”
“Jadi, aku harus gimana, Devni? Kasih tahu aku. Aku gak bisa kehilangan kamu lagi…”
“Tapi, kamu memang udah kehilangan aku.”
Raka menggeleng, “Kamu disini sekarang, bersamaku, karena kamu selalu jadi milikku, Devni.”
Dan Davina dapat merasakan bahwa hatinya membenarkan setiap perkataan Raka. Tapi saat mulutnya hampir mengiyakan kalimat Raka, sesuatu menyadarkannya.
“Davina?” Suara seseorang memanggil namanya.
Sekujur tubuhnya mendadak kaku. Dia tidak bisa lari lagi. Davina pun menoleh pada Angel, dengan tangan yang masih digenggam oleh Raka.
Stockholm syndrom ini benar-benar akan menghancurkan seluruh hidupnya.
***
IG : @ingrid.nadya