Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Keinginan Seorang Ibu



“NIKOLAAAAAS!!!” Begitu tiba di rumah, Angel terdengar lantang memanggil nama anaknya.


Karena tidak ada jawaban, Angel memanggil lagi, “NIKOLAS!!!”


Nikolas, yang sejak tadi berada di dalam kamar, langsung menemui ibunya itu. Sebelum ibunya semakin kebakaran jenggot.


“Kenapa sih harus jerit-jerit gitu, Ma?” Nikolas menggerutu, namun dengan tetap dengan nada sopan.


“Kamu sibuk tidur-tiduran di kamar, sementara calon istri kamu berduaan di Ancol sama laki-laki yang gagalin pernikahan kalian!” omel Angel panjang lebar.


“Oh…” Hanya itulah reaksi yang terlontar dari mulut Nikolas.


“Kamu kok cuma oh aja sih, Nik? Davina berduaan sama Raka di Segarra! Kamu kok gak marah sih?” Angel memberi penekanan di tiap akhir kalimat, mencoba mencari reaksi yang rasional dari anaknya.


Namun, Nikolas bergeming. Dia kini hanya terlihat menggaruk-garuk kepalanya.


“Nik, jangan bilang kamu putus sama Davina?!” Suara Angel meninggi.


Nikolas tidak menjawab.


“Nikolas!”


Nikolas menghela nafas, lalu memandang mata ibunya, “Memangnya kalau putus kenapa, Ma?”


Rasanya Angel seperti didorong dari lantai tiga puluh oleh anaknya sendiri. Atau mungkin beginikah rasanya disambar petir???


“‘Niko! Kamu ngomong apa? Jangan suka sembarangan kalau ngomong!” Suara Angel sudah benar-benar meninggi.


Tapi, Nikolas memilih mengabaikan ibunya. Dia berjalan masuk kembali ke kamarnya. Kepalanya sudah hampir pecah memikirkan Davina, jangan sampai ibunya ikut-ikutan membuatnya pusing.


Sesampainya di kamar, Nikolas langsung menghempaskan diri ke ranjangnya.


“Apa balik ke apartemen ya?” gumam Nikolas. Dia memang sudah hidup sendiri sejak beberapa bulan yang lalu. Begitu memutuskan untuk melamar Davina, dia mencoba untuk hidup sendiri. Dia membeli sebuah apartemen di dekat kantor keluarganya agar nantinya setelah menikah, dia dan Davina bisa hidup disana.


Apa daya malang tidak bisa ditolak…


Segala rencananya berantakan.


Karena satu orang!


Dan kini dia membiarkan orang itu melangkah terlalu jauh dengan calon istrinya. Dia sudah kebingungan bagaimana merebut kembali apa yang dulu menjadi miliknya.


Apalagi sejak…


Tiba-tiba suara ketukan pintu menyentak lamunan Nikolas, membawanya kembali ke realita. Pintu terbuka sedikit, kepala ibunya masuk sedikit di celah pintu.


“Mama boleh masuk, Nik?” tanya Angel.


“Kalau cuma mau ngomel, jangan deh!” elak Nikolas.


“Enggak kok. Mama janji.”


Nikolas menilai sebentar ekspresi Angel. Tapi, wajah ibunya itu kini terlihat sungguh-sungguh. Dia pun melunak.


“Ya udah, Ma, masuk aja.”


Angel pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.


“Udah gimana bahu kamu, Nik?” tanya Angel.


“Gitu dong! Yang ditanya kesehatan anaknya dulu. Bukannya langsung ngomel-ngomel gak jelas!”


“Iya, Nik, iya. Mama minta maaf ya.”


Nikolas mendengus. Angel berdiam diri sejenak sambil mengamati anaknya yang berbaring dengan wajah kusut di atas tempat tidur.


“Mama tuh cuma pengen yang terbaik buat kamu, Nik,” gumam Angel.


“Gimana kalau Davina bukan yang terbaik buat Nikolas?” tanyang Nikolas.


“You will be marry one of the Mahardhika’s heir, Nik. Memangnya kamu nyari yang terbaik yang gimana lagi?”


(Kamu bakal nikahin salah satu pewaris Mahardhika, Nik.)


“Bullshit soal nama belakang keluarga! Davina tuh bukan komoditi, Ma!” maki Nikolas.


Dia pun lanjut menyalurkan amarahnya pada Angel, “Aku tuh beneran sayang sama Davina, Ma! Tapi kalau dia pengennya sama orang lain, buat apa aku bertahan?”


Angel terpancing.


Nikolas berhasil mengatupkan mulutnya. Dia jadi menyesal menceritakan semua ini pada Angel. Namun, dia perlu menjelaskan saat Angel mendesaknya di rumah sakit Bandung.


Begitu melihat Davina pamit sebentar ke kantin rumah sakit, Angel langsung menginterogasi Nikolas. Dan akhirnya, mengalirlah seluruh cerita dari mulut laki-laki itu. Tentang apa yang sebenarnya terjadi disana.


“Kamu yang setuju dengan semua rencana Raka. Ngasih mereka waktu sebulan untuk dekat. Kamu mikir apa sih???” Angel meledak lagi.


“Mama tadi janji gak bakal marah kan?! Kalau mau marah-marah lagi, mending mama keluar deh, aku udah cukup pusing karena masalah ini!”


Angel menggeram. Sejujurnya, dia perlu menyalurkan amarahnya yang terpendam. Tapi, dia tahu tidak bisa melakukannya pada Nikolas saat ini.


Dia mencoba menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam agar amarahnya cepat menghilang.


“Jadi, kamu maunya gimana, Nik? Putus dari Davina? Bikin keluarga kita makin malu? Setelah pernikahan kalian gagal, sekarang kamu biarin calon istri kamu juga beneran kabur sama orang yang gagalin pernikahan kalian?”


“Aku gak peduli, Ma! Demi Tuhan, aku gak peduli–“


“Tapi Mama peduli!” Suara Angel kini terdengar penuh otoritas. Dia lelah melihat ketidakwarasan anaknya ini.


“Kamu tahu berapa lama Papamu berjuang untuk menaikkan nama keluarga kita??? Sekarang kamu mau rusak gitu aja??? Segampang itu??? Semudah itu???”


Nikolas kini yang terdiam.


“Papa sama Mama cuma pengen yang terbaik buat kamu, Nik. Dan menurut kami, Davinalah yang terbaik buat kamu.”


Seandainya Angel tahu isi hati anaknya. Nikolas pun tahu bahwa sosok Davina hanya akan terjadi sekali seumur hidup saja dalam hidupnya. Namun, dia sadar betul tak akan pernah memiliki hati wanita itu sepenuhnya.


Dia boleh membohongi dirinya sendiri. Bahkan membohongi Davina. Tapi, jelas setengah saja tidak akan pernah cukup.


“Nik, kamu tuh terlalu lembek ke Davina. Udah saatnya kamu tegas,” kata Angel.


“Aku harus apa? Marah-marah di depan umum? Narik tangan Davina dari Raka?”


“Ya! Kalau memang itu yang dibutuhkan?!” Angel seperti menyentak kesadaran Nikolas.


Apakah memang sudah saatnya dia tegas?


“Kamu terlalu lama diam, Nik. Saatnya kamu ngerebut apa yang udah jadi milik kamu selama ini!”


“Tapi, Ma…”


“Nikolas Tedjakusuma! Papa sama Mama pernah ngajarin kamu kata menyerah?”


Nikolas menggeleng.


“Then, go get her!” desak Angel.


Nikolas pun bangkit berdiri. Dia segera pergi meninggalkan Angel di dalam kamarnya.


Angel dapat mendengar suara mobil Nikolas melesat keluar dari kediaman Tedjakusuma.


Angel perlahan tersenyum. Anaknya sungguhlah sudah beranjak dewasa. Dia hanya butuh sedikit dorongan untuk mengklaim miliknya sendiri.


Tiba-tiba sesuatu bergetar di atas tempat tidur.


Angel melirik. Nikolas ternyata meninggalkan ponselnya.


Sebuah pesan muncul di layar pop up.


Angel sempat tertegun membaca isinya.


Tapi dia tidak peduli!


Nikolas harus mendapatkan Davina kembali!


Karena kalau tidak, bagaimana nanti dia akan menghadapi komunitasnya? Dimana dia harus menempatkan wajahnya padahal dia selalu menyombongkan diri bahwa dia sebentar lagi akan berbesan dengan keluarga Mahardhika?!


Angel menggeleng. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia cepat-cepat beranjak keluar dari kamar Nikolas. Dia perlu distraksi, sesuatu yang dapat mengalihkan pikirannya dari kisah cinta anaknya.


Dia berjalan ke ruang tamu sambil berdoa dalam hati, semoga kali ini usaha anaknya memenangkan Davina kembali dapat berhasil.


Hanya satu yang Angel lupakan…


Bahwa justru dia adalah salah satu sumber keraguan Davina untuk memilih Nikolas.


***


IG : @ingrid.nadya