
Bandung, Seminggu yang Lalu…
“Dav, pakaian kamu diganti ya, teman-teman Tante mau datang,” kata Angel.
Davina mengangguk. Ntah dia masih memiliki baju yang bagus atau tidak untuk digunakan. Seingatnya dia secara acak memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya. Ntah baju-baju yang tersisa itu bisa mendapatkan uji kelayakan dari Angel.
Dia pun mengganti baju dengan yang paling layak menurutnya. Namun, begitu dia keluar dari kamar mandi, Angel berdecak.
“Gak ada yang lain, Dav?”
“Gak ada, Ma.”
Angel menghela nafas.
“Ya udah, pake yang itu aja.”
Davina mengangguk, lalu kembali duduk di sebelah ranjang Nikolas. Dia mengambil bubur sarapan Nikolas, lalu mulai menyuapi calon suaminya itu.
Diam-diam, Davina merasa seperti seorang suster yang sedang melayani Nikolas, bukan seorang calon istri.
“Temen Mama ngapain datang sih? Aku mau istirahat,” kata Nikolas saat sudah menghabiskan setengah mangkok buburnya.
“Ya, mau jenguk kamu lah. Kamu yang sopan ya nanti, mereka udah jauh-jauh datang dari Jakarta loh!”
Nikolas tidak menjawab. Dia malas beradu argumen dengan ibunya, tidak akan pernah menang!
“Dav, udah kenyang,” kata Nikolas begitu Davina menyodorkan satu suapan lagi.
“Satu kali lagi, please? Kamu makan baru dikit banget.” Davina memelas.
Nikolas tidak tega dengan nada itu, akhirnya kembali membuka mulutnya untuk menerima makanan.
“Gini dong, baru calon istri yang baik, Dav.” Angel tersenyum. Senyum pertamanya pada Davina setelah memusuhinya berjam-jam, hanya karena Davina datang kesini bersama Raka.
Davina pikir dia tidak akan mendapatkan keramahan Angel lagi selama sisa waktu, apalagi dengan baju compang-camping yang dia miliki. Tapi untunglah, Angel tidak menyiksanya lebih lanjut.
Davina tidak menjawab, hanya memalsukan senyuman pada Angel.
“Kalian baik-baik ya. Jangan biarkan orang lain masuk dalam hubungan kalian loh! Apalagi kamu, Dav!” Angel mengingatkan, lagi.
Tangan Davina seketika mencengkram mangkok dengan kuat. Wajahnya berubah.
Seandainya Angel tahu semuanya…
Bukan Davina yang pantas mendapatkan kalimat itu, melainkan anak Angel sendiri!
Tapi, mana mungkin Davina mengungkapkan semua itu! Mana tega dia membuat Nikolas tidak punya wajah di depan ibunya sendiri!
“Kan malu kalau pernikahan kalian sampai batal dua kali. Karena orang yang sama pula.” Angel masih melanjutkan celotehannya.
“Ma!” Nikolas menghardik ibunya.
Akhirnya! Sebuah respons yang masuk akal!
“Bisa berhenti ngomong gak? Aku mau tidur.” Nikolas pun memunggungi ibunya, dan memilih menghadap Davina. Dia memegang tangan Davina, erat-erat.
Seperti ingin mengisyaratkan pada Davina betapa menyesalnya dia saat ini. Sudah kedapatan selingkuh. Sekarang ibunya pun bersikap kurang ajar seperti ini.
“Maafin aku, Dav.” Dia bergumam, pelan.
Davina mengangguk.
Angel berdecak lagi, “Kalau udah sama calon istrinya aja, hobinya melawan!”
Angel pun masuk ke dalam kamar mandi setelah itu. Davina jelas sakit hati!
“Are you okay?” tanya Nikolas, dengan suara pelan, mencegah ibunya mendengar percakapan ini.
Davina menggeleng, “Bentar lagi hampir gila karena Mama Angel.”
Nikolas tertawa pelan.
“Gimana aku? Udah puluhan tahun jadi anaknya.”
“Ya, kamu udah terbiasa. Aku belum.”
Mereka berdua akhirnya tertawa berdua. Ini obrolan santai mereka pertama. Sejak masuk rumah sakit, Angel sama sekali tidak membiarkan mereka berduaan saja. Membuat mereka tidak bisa membicarakan apapun, padahal begitu banyak hal yang ingin disampaikan, ditanyakan, diselesaikan.
Dia mengelus pipi Davina.
“Makasih kamu udah mau maafin aku.”
Davina mengangguk, menyentuh tangan Nikolas di pipinya. Berharap semua pengorbanan ini sepadan dengan apa yang dia dapat. Nikolas.
“Tapi, ada yang mau aku tahu,” kata Davina, akhirnya.
Hati Nikolas mencelos. Dia tahu ini saatnya untuk membicarakan sedikit tentang peristiwa kemarin.
“Ini pertama kalinya buat kalian, atau sebelumnya…” Davina sengaja menggantungkan kalimatnya. Setiap kata yang terucap dari mulutnya, diam-diam menciptakan keretakan-keretakan kecil di hatinya.
Nikolas tidak tahu harus mengatakan apa. Dia takut jika mengatakan yang sebenarnya, Davina akan meninggalkannya. Namun, jika dia berbohong…
Bagaimana jika kelak Davina tahu yang sebenarnya?
Tapi Nikolas memilih mengambil resiko jangka panjang. Dia tidak ingin mengkonfrontasi emosi Davina lebih jauh lagi.
“Baru pertama kali. Maafin aku, Dav.”
Davina mengangguk, menelan setiap pahit kenyataan yang ada. Dia sanggup. Dia harus sanggup!
“Seinna di ruangan berapa?” tanya Davina, lagi.
“Ke-kenapa?” Nikolas terbata.
“Aku cuma pengen bicara sama dia.”
“Tapi, Dav, ini bukan salah Sienna. Ini salahku.”
“Aku tahu, Nik. Aku cuma pengen tahu sisi Sienna aja.”
Nikolas tidak punya pilihan lain. Untuk mendapatkan kepercayaan Davina lagi, dia harus mengorbankan Sienna.
“Dua ratus satu.”
“Oke. Nanti sore, aku bakal jenguk dia ya.”
Nikolas mengangguk. Ntah bagaimana caranya dia dapat memberitahu Sienna untuk menyeleraskan kalimat mereka nantinya.
***
Setelah jam besuk tiba, Davina melangkahkan kakinya ke dalam kamar Sienna. Begitu melihat Davina, Sienna yang duduk sendirian dalam ruangan langsung salah tingkah.
Sekejap saja, Davina merasa terenyuh dengan kondisi Sienna. Bagaimana mungkin tidak ada seorang pun yang menemaninya disini?
“Lo gak ada yang jagain?” tanya Davina.
“Nyokap gue lagi sibuk,” jawab Sienna.
Davina tidak membahas hal itu lebih lanjut. Hal itu adalah ranah pribadi Sienna, tidak akan dia bahas lebih lanjut.
“Gue boleh duduk disini?” tanya Davina, sambil menunjuk bangku di sebelah ranjang Sienna.
“Boleh.”
Davina pun duduk disana. Sienna menunggu. Mungkin sebentar lagi dia akan mendapat badai amukan, cacian, makian, atau yang lebih parah kekerasan fisik dari Davina.
Dia menghibur dirinya sedikit. Mungkin saja, dia orang pertama dan terakhir yang jadi korban kekerasan fisik dari Davina, di seumur hidupnya. Sebab Davina adalah wanita yang sangat lembut, tidak terbayangkan siapapun dia bisa melukai seseorang.
Namun, bayangan itu menghilang seketika ketika Davina berdehem pelan, lalu bertanya dengan suara lembut, setengah menahan isakan.
“Kenapa kalian selingkuh?”
Sienna menatap kedua mata wanita di hadapannya. Lidahnya kelu. Lebih baik semua bayangannya tadi terealisasikan daripada dia harus menghadapi Davina yang terisak seperti ini!
“Niko cuma butuh temen, Dav. Dia stres karena lo makin lama makin deket sama Raka…”
Davina berusaha menahan mati-matian airmatanya. Tentu saja, dia sedang menyalahkan diri sendiri!
“Dav, maafin gue. Gue juga khilaf. Setelah ini, gue bakal berhenti jadi sekretarisnya Nikolas.”
Davina tidak mengangguk, pun tidak menggeleng. Dia tidak ingin menjadi penghalang pintu rezeki siapapun, pun dia tidak ingin Sienna tetap menjadi sekretaris Nikolas!
“Bener ini pertama kali kalian selingkuh?” tanya Davina, lagi.
Sebenarnya, saat itu, Davina bisa melihat keraguan di mata Sienna. Di sudut hati kecilnya, dia tahu bahwa wanita itu sedang kebingungan bagaimana menjawab pertanyaan Davina.
Tapi Davina ingin mempercayai setiap kata yang dia dengar. Dia bayangkan.
Baginya, Nikolas adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah menyakitinya. Nikolas ada di saat dia membutuhkan dukungan dan kasih sayang. Nikolas harusnya sempurna! Tidak boleh memiliki kecacatan sama sekali!
Dan saat akhirnya Sienna mengangguk, Davina sebenarnya tahu…
Bahwa bukan hanya Sienna yang berbohong, tapi juga Davina terhadap dirinya sendiri!
“Gue janji ini yang pertama dan terakhir, Dav,” kata Sienna, lagi, sambil mulai berurai airmata.
Davina mengangguk.
Lagi-lagi. Dia mencoba percaya pada kebohongan itu!
***
IG : @ingrid.nadya