
"Kamu kok diem?" tanya Davina.
Raka tidak menjawab. Dia sedang menikmati betapa nyamannya dipeluk oleh Davina, tidak boleh ada yang menganggunya, bahkan Davina sekalipun.
"Aku mau mandi..."
"Gak perlu. Udah wangi."
Davina tidak tahu lagi bagaimana caranya melepas Raka.
"Davina..." Tiba-tiba Rara datang untuk mengetuk pintu kamar Davina.
"Ka, ada Kak Rara tuh," bisik Davina.
Raka menggeleng pelan, enggan melepas Davina.
Davina pasrah, "Masuk aja, Kak."
"Oke." Rara pun membuka pintu, dan menemukan Davina sedang dipeluk erat-erat oleh Raka. Rara langsung geleng-geleng.
"Gak boleh dilepas?" tanya Rara.
Davina menggedikkan bahu, "Aku gak punya pilihan lain, Kak."
Rara pun duduk di ranjang Davina.
"Lo keren banget tadi, Dav!" kata Rara, sambil mengacungkan jempol.
"Keren apanya?! Lihat nih mata gue sembab lagi." Davina melebarkan matanya sendiri.
"Gak apa. Asal gak nangis di depan dia aja."
Davina mengangguk. Rara pun melirik Raka yang masih bergeming.
"Balikan?" tanya Rara, sambil menunjuk Raka.
"Ntah." Ini jawaban Davina.
"Iya." Ini jawaban Raka.
Rara tertawa. Raka mengendurkan pelukannya, dan memasang tampang cemberut pada Davina.
"Kita gak balikan?" tanya Raka.
Davina terkekeh, "Emang kamu nanya?"
Raka menggeram, "Emang gak cukup semua yang aku bilang tadi?"
"Yaaaaah... gimana ya..." kata Davina, iseng, sambil menggedikkan bahu.
"Sebentar lagi, aku tuh bisa gila karena kamu..." Raka merengek sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Davina.
Rara dan Davina langsung tertawa.
"Apa-apaan ini???" Tiba-tiba seseorang membentak. Semua kaget dan menoleh ke asal suara. Dave dan Diana juga turut masuk ke dalam kamar Davina.
"Ngapain peluk-peluk anak Papa?!" Dave membentak lagi sambil berjalan mendekat.
Raka cemberut, dan menarik Davina menjauh dari Dave, tapi tetap sambil memeluknya. Davina hanya bisa tertawa pasrah, digiring ibarat bola oleh Raka.
"Apaan sih, Pa?!" Raka terus membawa Davina menjauh dari Dave.
"Yang kamu bawa-bawa itu anak Papa, Ka!" Dave masih mencoba mengejar.
"Iya, tapi ini pacar Raka!"
"Lah?! Kepedean!" Davina menggoda Raka.
Raka berhenti, kembali ngambek pada Davina.
"Tuh! Anak Papa aja gak terima!" Dave mempergunakan kesempatan itu untuk segera merebut Davina dari pelukan Raka.
"Yah, Papa gak asyik ah!" Raka pun akhirnya menyerah. Lalu duduk di tengah Rara dan Diana.
"Ma, Davina direbut Papa..." Raka menunjuk Davina dan Dave, sambil gelendotan pada Diana.
"Itu anak Mama sama suami Mama. Kamu tuh siapa sih?" Diana ikut meledek Raka.
"Mamaaaaaa!" Raka merengek.
Semua pun tertawa.
"Kamu baik-baik aja?" Dave menyentuh kedua pipi Davina.
Putrinya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Seumur hidupnya, Davina selalu menghindari drama. Tapi disinilah dia saat ini, berputar-putar di dalam drama kehidupan sejak hari dimana harusnya dia menikah.
Semua hanya karena satu orang.
Orang yang sangat dia cintai dan mencintainya.
Yang telah kembali padanya.
Tapi, Davina sadar semua itu setimpal. Hanya Raka yang dapat membuatnya merasa hidup dan luar biasa bahag
"Papa sama Mama bakal ngomong sama Angel secepatnya untuk memutuskan pertunangan kalian. Papa sama Mama gak mau kamu diganggu lagi sama Nikolas," kata Dave, tegas.
"Oke, Pa." Davina mengangguk, kalem.
Lalu dia memandangi kedua orangtuanya, "Maaf ya, Pa, Ma. Karena Davina, nanti nama Papa sama Mama jelek."
"Lagian, ini semua bukan kesalahan lo. Logak boleh minta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahan lo." Rara menambahkan.
Davina terharu. Keluarganya benar-benar support system terbaik yang dia punya.
"Udah! Jangan nangis!" Dave dan Diana langsung memeluk dan mencium Davina. Setelah melihat apa yang baru saja dilalui anaknya, mereka hanya ingin membanjiri Davina dengan cinta dan rasa sayang. Untuk memastikan bahwa Davina selalu merasa dicintai dan diinginkan.
Setelah keluarga tersebut puas menunjukkan kasih sayangnya pada Davina, barulah mereka menoleh pada Raka. Laki-laki itu tersenyum-senyum sendirian.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Dave.
"Orang bahagia kan berhak senyum-senyum," sahut Raka, tengil.
Diana meremehkan, "Emangnya kamu kenapa bahagia?"
"Dapetin anak Mama lagi," katanya, bangga.
"Dih, GR kamu!" Davina meledek lagi.
Raka cemberut.
"Ya udah, Davina mandi dulu ya."
Semua mengangguk dan segera beranjak, kecuali Raka.
Dave menyadari hal itu.
"Heh, bocah tengil! Ayo, keluar!" Dave menyeret Raka.
"Gak mauuuuuu!" Raka mencoba bertahan di tempatnya.
"Enaaaak ajaaaa! Ayoooo!" Dave menyeret Raka lagi, sampai akhirnya Raka dapat tiba di pintu kamar Davina. Dia menyempatkan diri untuk memberika tatapan tidak rela pada Davina.
"Udaaaah, ayoooo!" Dave menyeret, lagi. Kali ini Davina sudah berhasil menutup pintu kamarnya.
"Paaaaaa!!!" Raka meringis, tapi tetap menurut pada Dave.
Semua tertawa. Dave memberikan sebuah tatapan rahasia pada Diana. Dan Diana mengerti. Dia bersama Rara pun sengaja berjalan lebih cepat, menciptakan jarak agar Dave dan Raka memiliki waktu untuk berbicara berdua.
"Papa mau ngomong apa?" tanya Raka, menyadari semua itu.
Dave terkekeh, "Sadar toh?"
"Tiba-tiba aja Mama sama Kak Rara kayak lagi lomba marathon. Siapa yang gak bakal sadar coba?!"
Dave menggeleng-gelengkan sambil tersenyum. Raka memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Dave. Ditambah lagi, Dave selalu menjadikan Raka sebagai jagoan yang akan memenangkan Davina pada akhirnya. Dia tahu Raka adalah yang dapat mencintai dan dicintai oleh putrinya secara luar biasa.
Namun, dia tetaplah sang ayah.
"Ka..."
"Hm?"
"Ini kesempatan terakhir kamu ya."
Raka tertegun. Apakah Dave sedang memberikannya peringatan? Dia cepat-cepat menyadarkan diri. Meskipun hubungannya dengan Dave selalu dipenuhi guyon dan sikap kurang ajar Raka, tapi untuk kali ini, dia ingin menunjukkan keseriusannya. Dia perlu meyakinkan Dave kali ini bahwa Davina sudah berada di tangan yang tepat.
"Iya, Pa. Raka gak butuh kesempatan lain lagi. Karena kali ini, Raka bakal jagain Davina sebaik-baiknya. Raka gak sanggup kehilangan Davina lagi, Pa."
"Baguslah."
"Papa bisa pegang omongan Raka."
Dave mengangguk, lalu mengacak rambut Raka, "Iya, Papa percaya sama kamu."
***
Setelah keluar dari rumah keluarga Mahardhika, Raka memacu mobilnya menuju Bogor, ke rumah orangtuanya. Nayla dan Azel yang duduk di teras melihat mobil Raka masuk ke pekarangan rumah mereka.
Saat mereka mengira akan melihat wajah penuh kekalahan lagi pada anak laki-laki mereka itu, Raka malah keluar dengan wajah sumringah. Bahkan senyuman Raka seakan sampai ke kupingnya sendiri.
"Mamaaaaaa!" Raka memanggil Nayla.
"Kenapa???"
"Temenin Raka beli sesuatu yuk?!"
"Hah?!" Wajah Nayla tampak kebingungan. Bukannya Raka sedang bermuram durja karena Davina.
Dan Raka langsung sadar, dia belum memberitahu kabar bahagia ini kepada orangtuanya.
"Raka udah dapetin Davina lagi."
"Puji Tuhaaaaaan!" Azel dan Nayla kompak bersorak. Sebab bagi mereka, hanya Davina yang memberikan pengaruh baik di hidup Raka.
"Dan sekarang Raka harus beli sesuatu supaya Davina gak kemana-mana lagi!" lanjut Raka.
Nayla melirik Azel.
"Selalu terburu-buru... persis kamu."
Azel tertawa.
Mereka memandang wajah anak mereka. Ah, yang penting Raka bahagia.
***
IG : @ingrid nadya