
Rara menghentikan mobilnya begitu melihat mobil Davina terparkir di sebuah tepi jalan. Saat dia keluar dari mobil, bulu kuduknya langsung meremang. Ini sudah hampir pukul tiga pagi, dan adik perempuannya seorang diri diantah berantah tanpa penjagaan siapapun. Bagaimana kalau ada orang jahat yang berniat menyerangnya?
Rara segera berlari menuju mobil Davina. Jantungnya berdegup sangat kencang saat dia dapat membuka pintu begitu saja. Davina bahkan tidak ingat untuk mengunci pintu!
Rara baru bisa tenang saat melihat Davina setidaknya utuh secara fisik di dalam mobilnya. Tapi dia bersumpah, tidak akan pernah memaafkan orang yang membuat Davina seperti ini.
Sebenarnya dia punya satu terdakwa. Siapa lagi kalau bukan…
Raka!
Apa lagi yang dilakukan Raka pada Davina kali ini??? Bukankah adik laki-lakinya itu sudah berjanji akan menjaga Davina??? Jadi, kenapa Davina ada disini saat ini, menangis sendirian???
Rara bersumpah akan memanggang Raka hidup-hidup, jika memang ini adalah kelakuannya.
“Dav…” panggil Rara, sambil merentangkan tangannya pada Davina.
Adiknya itu mengangkat wajah. Rara terkejutmelihat betapa sembabnya wajah Davina saat ini.
Ya Tuhan, kira-kira sudah berapa lama Davina menangis sendirian disini?
Rara membatin. Hatinya terenyuh.
Davina adalah sosok wanita luar biasa, kenapa sulit sekali baginya untuk mendapatkan kebahagiaan? Rara benci selalu mendapati Davina selemah ini. Dia benci pada siapapun yang menyakiti adiknya.
“Lo kenapa, Dav?” Airmata Rara bahkan ikut merebak, hanya dengan melihat Davina.
Davina tidak menjawab, malah menangis lagi. Kemudian, dia langsung memeluk Rara dengan erat dan terisak hebat disana. Segala kepiluan hatinya tumpah.
Rara tidak banyak bicara lagi. Dia hanya bisa mengusap-usap punggung Davina yang masih bergetar dengan hebat. Dia hanya bisa menunggu Davina menuntaskan segala isi hatinya.
Davina meratap di bahunya, menangisi setiap kebodohan yang dia lakukan. Harusnya dia tahu bahwa memaafkan seorang pengkhianat dan penipu adalah tindakan paling bodoh yang pernah dia lakukan seumur hidupnya!
***
Setelah Davina agak tenang, Rara tidak langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Dia malah mencondongkan tubuhnya ke jok belakang untuk mengambil botol minuman Davina.
“Minum dulu.” Rara menyodorkan botol itu.
Davina menurut. Dia menghabiskan semua sisa airnya.
Rara mengelus kepala Davina.
“Udah tenang?” tanyanya.
Davina mengangguk.
“Udah bisa cerita?” tanya Rara, lagi.
Davina mengangguk lagi, untuk kedua kalinya.
Rara memberi waktu kepada Davina. Dia akan menunggu selama apapun itu, selama waktu yang dibutuhkan Davina.
“Kaaaak…” Baru satu kata itu saja yang bisa diucapkan, tapi airmata Davina sudah merebak lagi. Rara menenangkannya lagi.
“I’m so stupid.”
(Aku bodoh banget.)
Rara menggeleng, “You just love too deeply. We are all like that. It’s in our DNA.”
(Lo hanya mencintai terlalu dalam. Kita semua kayak gitu. Udah ada di DNA kita.)
Giliran Davina yang menggeleng.
“Ini tentang Nikolas, Kak.”
Sekujur tubuh Rara mendadak terasa kaku. Jadi, ini bukan tentang Raka? Bahkan mendengar nama Nikolas saja membuat Rara naik darah.
Rara salah. Ini bukan tentang adiknya yang bodoh, tapi tentang laki-laki brengsek yang masih diberikan kesempatan kedua oleh Davina.
“Kenapa dia?”
Davina menggedikkan bahu, menahan mati-matian airmatanya, “Tadi aku nyamperin dia ke kantornya, dan dia… dia…”
Rara mengusap-usap punggung Davina.
“Dia dan… Sienna…” Davina susah payah melanjutkan kalimatnya.
Dan Rara langsung mengerti begitu saja.
“Oh, Tuhan…” Airmata Rara merebak lagi.
Akhirnya, Rara mengerti. Kalimat itu akan terasa begitu pahit untuk diucapkan, apalagi disaksikan secara langsung. Rara langsung merengkuh tubuh Davina yang bergetar lagi.
“Dia gak layak lo tangisin, Dav…”
“Tapi rasanya sakit…” rintih Davina.
Rara mengangguk, sambil mengelus-elus rambut Davina.
“Gimana gue gak nangis, Kak, kalau gue kesakitan?” Suara Davina terdengar begitu pilu.
Rara menggeleng. Dia melepas pelukannya pada Davina. Dia mengusap airmata di pipi Davina, kemudian memegang kedua lengan adiknya itu. Dia menatap dalam-dalam ke mata Davina agar tersampaikan seluruh maksudnya yang sebenarnya.
“Dav, lo udah sering denger cerita tentang Papa Azel kan?”
“Kenapa tiba-tiba ke Papa Azel?”
“Denger dulu!”
Davina mengangguk.
“Sebelum ketemu Mama Nay, Papa Azel bener-bener rajanya orang brengsek. Kalau ada lembaga yang ngasih sertifikat untuk orang brengsek, Papa Azel bakal jadi orang pertama yang nerima.”
Rara memberi jeda sejenak, mengamati perubahan raut wajah Davina. Dia memang sengaja berusaha membuat cerita ini sejenaka mungkin agar perhatian Davina teralihkan.
“Dia nidurin banyak cewek. Jessica, Ulfa, Lolita…”
“Kok kakak tahu semua namanya?”
“Kakak cuma ngarang…”
Di tengah airmatanya, akhirnya Davina dapat tersenyum.
“Tapi semua berubah setelah ketemu Mama Nay. Ketika kita ketemu dengan orang yang tepat, segalanya baru terasa masuk akal, Dav. Berhenti jadi brengsek jadi masuk akal. Berhenti nidurin cewek jadi masuk akal. Karena kita cuma pengen jadi yang terbaik untuk orang yang kita cintai.”
Davina terpaku, seperti tahu kemana arah pembicaraan ini.
“Mungkin lo bukan Mama Nay di cerita Nikolas. Mungkin lo bukan pemeran utama di ceritanya. Mungkin lo itu cuma Jessica, Amanda, Paula…”
Airmata Davina kini menetes lagi. Tapi ada satu beban yang terangkat di hatinya.
Sambil mengusap airmatanya sendiri, Davina sengaja bercanda, “Namanya kok berubah?”
“Yaaah, namanya juga ngarang.”
Dan Davina akhirnya bisa tertawa pelan.
“Jadi, gue gak bodoh ngasih kesempatan kedua buat Nikolas?” tanya Davina, lagi.
“Yaaaah, tetap bodoh sih.”
“Kaaak!” Davina protes.
Rara tersenyum, “Siapa sih yang gak bodoh karena cinta?”
Davina meresapi semua kalimat Rara dengan baik. Semua orang di dunia ini pasti pernah berlaku bodoh atas nama cinta. Jadi, Davina tidak perlu malu.
“Kalau udah topik bodoh karena cinta, jangan buat Kakak mulai sama kisahnya Mama dan Papa Dave…”
Davina tertawa lagi. Kini dia mulai merasa tenang, dia pun menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. Memang kakaknya ini selalu bisa diandalkan. Rara selalu tahu apa yang harus dia katakan di saat-saat seperti ini.
“Lagian, ya, Dav…” Rara sengaja menggantungkan kalimatnya agar mendapat atensi penuh dari Davina.
Davina melirik Rara.
“Emangnya lo mau jadi pemeran utama di kisahnya Nikolas? Bukannya lo masih dan akan terus jadi pemeran utama di kisah satu laki-laki lain?” Rara mengerling.
“Kaaaaak!”
Rara pun tertawa. Davina bermisuh-misuh.
“Jadi, udah tenang?”
Davina mengangguk.
“Mau lanjutin nangisnya di rumah gak, Dav? Mobil Mama tuh di belakang sana gak ada yang jagain, jangan sampe hilang, gak sanggup Kakak ngegantinya.”
Davina tertawa lagi.
“Kakak kan anak kesayangan. Paling nanti Papa yang bakal ganti mobilnya kalau hilang.”
“Bener juga.”
“Makanya, temenin gue dulu ya?”
Rara mengangguk.
Mereka pun duduk di mobil hanya untuk mendengar lagu-lagu mellow selama beberapa saat. Sesekali Davina tampak menghapus airmatanya sendiri. Rara disana hanya diam, menemani. Sampai matahari terbit. Sampai pagi menjelang.
Tanpa Davina sadari, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Raka : Jadi, ini pilihan kamu?
***
Jangan lupa tetap tekan tombol like-nya ya, teman-teman 🥰
IG : @ingrid.nadya