
Sidang pertama antara Creature dan Wetix digelar hari ini. Bukti-bukti yang disuguhkan kedua belah pihak sama beratnya, sama mendukungnya.
"Dengan ini, tergugat dapat menyuguhkan bukti kongkrit bahwa segala komunikasi dan segala sharing data antara tergugat dan penggugat dilakukan di dalam wadah aplikasi yang dikelola sendiri oleh penggungat. Tergugat sudah menjalankan segala protokol yang ada selama menggunakan aplikasi tersebut. Dan apabila ada kebocoran informasi yang terjadi di dalam aplikasi, tergugat tidak bisa menjadi pihak yang bertanggung jawab sendirian." Begitulah Ikhsan menutup argumennya siang itu.
Hakim memutuskan untuk menunda sampai sidang kedua sebelum benar-benar memutuskan hasil sidang. Mereka sama sekali tidak bisa menebak
Sepulangnya dari pengadilan, Raka, Albert dan Julia pun makan bertiga di sebuah warung tenda. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau membuka percakapan. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Bahkan sampai mereka kembali ke dalam mobil Albert, tetap tidak ada yang membuka suara. Karena pikirannya masih kacau, Raka memang sengaja nebeng di mobil temannya itu.
Oh, these times are hard
They are making us crazy
Don't give up on me, baby
Suara Danny O'Donoghue dari The Script terdengar dari radio mobil Albert. Raka menatap lurus-lurus ke arah jalan tanpa ekspresi. Dia mencermati setiap lirik dari lagu For The First Time tersebut dalam diam.
Persis sama.
Lagu itu adalah isi hatinya yang sebenarnya...
Raka menghela nafas. Sebenarnya semua hal ini bisa sederhana.
Dan Julia menyadari semua itu.
"Ka," panggilnya.
"Hm?" Itu kata pertama Raka hari ini.
"Kemarin Davina nelepon gue."
Raka menoleh dengan cepat, "Terus?"
"Dia minta penjelasan sebenarnya lo kenapa."
"Lo engga–" Suaranya menggantung saat menyadari ekspresi Julia saat ini. Raka kehilangan daya. Jadi, Davina sudah tahu semuanya?
"LO GAK BERHAK, JULES!" maki Raka.
"Emang ini bukan urusan gue, Ka. Tapi Davina berhak dapetin penjelasan. Dia berhak tahu semuanya, Ka..." kata Julia.
Raka merasa kepalanya memang akan meledak. Dia cepat-cepat berpaling dari Julia, mengepalkan tangannya. Kenapa tidak ada satu pun di dunia ini yang berjalan sesuai kemauannya?
Dia hanya ingin Davina tidak melihatnya sebagai produk gagal. Cacat dimana-mana. Apa permintaan itu pun terlalu berat untuk dikabulkan oleh semesta?
"Ka..." panggil Julia.
"I need you to shut up, Jules!" hardik Raka.
(Mending lo diam, Jules!)
"Raka..."
Raka tidak tahan lagi, "Can you stop ruining my life?!"
(Lo bisa gak sih berhenti ngerusak hidup gue?!)
Julia terdiam.
Untungnya saat itu mobil Albert sudah memasuki pelataran apartemen Raka. Pertengkaran itu selesai begitu saja dengan Raka yang cepat-cepat keluar dari mobil Albert.
Julia mengamati Raka yang berjalan ke dalam apartemennya.
"Akhirnya dia ngeluarin perasaan dia yang sebenarnya tentang gue, Bert," kata Julia.
Albert tidak menjawab, hanya menepuk punggung Julia.
"Lebih baik kayak gini kok. Gue lebih suka dia nyalahin gue."
Albert hanya menggedikkan bahu, lalu melajukan mobilnya.
Kedua temannya ini aneh. Dia lebih baik tidak berkomentar saja.
***
Raka mengurut keningnya saat lift mengantarkannya ke lantai unit apartemennya. Jika dia sedang kalut, sepertinya dia lebih baik menjahit mulutnya saja. Dia harusnya tidak boleh berinteraksi dengan bentuk mahluk hidup apapun yang memiliki perasaan!
Dia menekan tombol kunci otomatis, kemudian masuk ke apartemennya dengan perasaan campur aduk.
Saat berbalik, Raka terdiam saat melihat ada satu sosok di ruang tamu apartemennya.
Davina selalu secantik ingatannya.
Apalagi jika tanpa airmata.
Tidak seperti sekarang.
Wajah itu sembab dan terlihat merana.
Dan dialah penyebab semua itu.
"Raka..." panggil Davina, dengan susah payah.
"Ngapain kamu kesini?" Raka bertanya acuh tak acuh sambil melepaskan sepatunya.
Jadi, Davina sudah bisa berjalan sendiri? Raka bersyukur dalam hati. Tiga minggu tidak bertemu ternyata kemajuan penyembuhan kaki Davina sudah sepesat ini.
"Kenapa kamu gak cerita, Ka?" Davina malah bertanya balik, bukannya menjawab pertanyaan Raka.
Memangnya apa yang bisa dijelaskan Raka saat ini? Seperti belum cukup saja sakit yang dia timbulkan di hati Davina.
"Ka, kalau kamu ada masalah, kamu jangan pendam semuanya sendirian. Aku ada, Ka, buat bantu kamu."
"Gak ada yang perlu dibantu."
"Papa bisa bantu kamu, Ka. Papa kenal..."
Hal itu akhirnya membuat Raka menoleh pada Davina.
"Kamu ceritain masalahku ke Papa Dave?" Dia merasakan amarahnya meluap.
Dia sanggup menahankan segala perasaan di dalam hatinya asal tidak ada satu pun yang menyentil harga dirinya.
Davina terdiam saat menyadari semua itu.
"Aku tanya sekali lagi, kamu ceritain masalahku ke Papa Dave???"
"Cu-cuma sama Papa, Ka..." Davina terbata-bata.
Tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Raka. Nama Rara tertera disana.
"Dan kenapa sekarang Kak Rara nelepon aku, hah?!" hardik Raka, lagi.
Davina terdiam. Dia benar-benar hanya cerita dengan Dave dan Rara. Bukankah dia butuh pendapat orang lain? Bukankah Raka juga butuh orang lain untuk menghadapi semua ini?
Raka kehilangan harapan.
Bahkan kalau Davina saja yang tahu tentang kegagalannya ini sudah jadi sebuah pukulan besar untuk Raka. Apalagi kini ada Dave dan Rara. Dia tidak bisa membayangkan kalau kedua orangtuanya juga tahu.
"Just go, Dav!" kata Raka, akhirnya.
(Pergi aja, Dav!)
Davina tersentak, tidak percaya dengan pendengarannya.
"Davina... don't you hear me?"
(Davina... kamu gak bisa dengar aku?)
Davina terpaku.
"I said go!"
(Aku bilang pergi!)
Airmata Davina merebak. Dia sudah bukan lagi seorang Devni untuk Raka. Dia hanyalah Davina. Seorang yang asing untuk Raka.
Davina cepat-cepat melangkah keluar dari apartemen Raka. Dia tidak akan bisa menolong orang yang tidak mau ditolong. Meski orang tersebut adalah orang yang begitu dia cintai sepenuh hati.
Raka mendengar pintu apartemennya dihempaskan begitu saja oleh Davina.
Lalu dia duduk di sebuah kursi dan menjawab telepon Rara.
"Kenapa, Kak?" tanya Raka, sambil kembali mengurut keningnya.
"Ka, lo udah gimana? Hasil sidangnya hari ini apa? Lo kenapa gak cerita, Ka?" Rara menyemburkan segala kekhawatirannya.
"Belum tahu, Kak. Masih nunggu putusan sidang kedua. Kakak belum kasih tahu Papa sama Mama kan?"
"Lo gak mau Papa sama Mama tahu?"
"Enggak."
Rara terdiam di ujung sana.
"Papa sama Mama belum tahu kan?!" tanya Rara lagi.
"Belum. Kalau tadi lo gak jawab telepon, gue udah mau telepon ke mereka."
"Jangan, Kak! Tolong kasih tahu Papa Dave juga supaya gak kasih tahu Papa sama Mama juga. Gue bisa nyelesaiin semua ini sendirian, Kak. Tolongin gue kali ini aja. Gue gak mau siapapun untuk tahu lagi."
"Oke." Rara akhirnya setuju, meski dengan berat hati.
"Lo putus sama Davina karena ini?" tanya Rara.
Raka tidak menjawab.
"Lo pengecut, Ka!"
Raka diam saja.
"Kalau ada masalah, diomongin baik-bai–"
"Udah ya, Kak?! Masalah gue udah cukup banyak. Jangan ditambahi lagi."
Raka memutuskan hubungan telepon, meninggalkan ponselnya di ruang tamu, lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin menghilang sejenak dari kepenatan. Sudah cukup dia menghadapi satu hakim tadi siang, jangan siapapun berani menjadi hakim lagi untuknya.
***