
Enam bulan kemudian…
Davina tiba di Bali tepat siang hari. Saat matahari di atas kepala. Sudahlah matanya hanya memiliki daya lima watt saja, pikiran pun masih jauh di awang-awang, tapi dia harus memaksakan diri untuk segera keluar dari pesawat sebelum para pramugari mengusirnya.
Davina pun berjalan terseok-seok menuruni tangga pesawat. Dan sepertinya dia beruntung hari ini, karena kopernya muncul pertama kali di atas konveyor. Dia pun bisa segera berjalan menuju pintu kedatangan Bandara Ngurah Rai, dimana orangtuanya menunggu, dimana kekasih hatinya juga menunggu.
Davina terus berjalan dengan penuh semangat, sampai akhirnya tiba di depan pintu kedatangan.
Namun…
“Davinaaaa!” Diana merentangkan tangan.
Davina malah cemberut.
“Kok cemberut sih?” Diana tersinggung. Dave di sebelahnya malah terkekeh.
“Raka mana?” Davina malah bertanya balik pada mamanya.
Diana menggaruk kepala.
“Ma?” Davina menuntut lagi.
“Kamu aja yang jawab!” Diana langsung memindahkan tanggung jawab pada Dave.
“Kok aku sih???” Dave tidak terima.
“Paaaaa???” Davina merengek.
Dave jadi serba salah. Dia tidak punya pilihan lain.
“Raka lagi ngurusin bajunya,” jawab Dave, akhirnya.
Davina merengut, “Bukannya udah kelar semua kemarin?”
Dave menggaruk hidungnya. Dia memang tidak lihai berbohong, apalagi kepada putrinya sendiri. Apakah lebih baik dia berkata jujur saja?
"Pa! Jangan bohong!" Davina mengancam.
Dave punya pilihan apalagi?
“Raka… tadi malem bachelor party sama Rafael. Dan, sekarang dia masih hangover.”
“Apa???” Amarah Davina naik sampai ke ubun-ubun.
“Sabar, Dav, sabar!” Diana mencoba menenangkan anak perempuannya itu.
“Gimana bisa sabar, Ma???? Kan Raka tahu Davina datang hari ini!!!” Davina menggeram.
“Sabar, Dav. Namanya juga pesta lepas lajang.” Dave berusaha menenangkan putrinya.
Mata Davina memicing, “Dia dimana???"
“Di villa.”
Davina kembali menggeram. Niat hati melepas rindu setelah sebulan tidak bertemu, malah disambut dengan keabsenan karena kekasihnya mabuk-mabukan tadi malam. Davina berjalan dengan muka cemberut sampai ke mobil.
“Calon pengantin pemarah banget sih!” goda Dave.
“Davina gilas dia kalau udah ketemu nanti!”
Dave menyeringai. Dalam hati, dia memang sedikit mendukung jika sesekali Raka mendapat hukuman.
***
Setelah perjalanan beberapa menit, tibalah mereka di salah satu villa keluarga Mahardhika yang terletak di Nusa Dua. Orang kaya memang tidak pernah tanggung-tanggung memilih lokasi mendirikan villa pribadi.
“Davinaaaaaaa!” Rafael merentangkan tangannya lebar-lebar begitu melihat Davina.
“Lo apain calon suami gueee?!” Davina menepis tangan Rafael yang hendak memeluknya.
Rafael langsung cengengesan, “Ya ampun, galak banget sih!”
“Dimana calon suami gueeee, Rafaaaaa???”
Rafael tertawa, “Di kamar atas, Dav.”
Davina menggerutu, lalu cepat-cepat berjalan ke arah tangga. Dia sempat melihat Nayla dan Azel sedang duduk di depan televisi, di dalam ruang tamu villa.
“Papa Azel, Mama Nay, Davina peluknya nanti ya. Mau marahin anak dajjal dulu,” kata Davina.
Azel dan Nayla langsung tertawa.
“Bogem aja, Dav! Kita dukung!” Nayla malah menyemangati.
“Go, go, Davina!” Azel ikut-ikutan.
Davina jadi terkekeh sendiri karena malah mendapat dukungan dari kedua calon mertuanya.
“Kamar yang mana, Raf?” Davina menjerit saat tiba di lantai dua villa tersebut.
“Paling ujung!” jawab Rafael, tidak kalah lantang.
Davina berjalan lebar-lebar menuju kamar yang dimaksud. Dia tidak menahan diri sama sekali. Bahkan membuka pintu dengan sentakan yang berisik.
“Ra–“ Suaranya terhenti begitu melihat Raka yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya.
Hatinya terenyuh.
Mana tega dia marah pada wajah itu, yang hanya terlihat polos saat tidur saja. Dan anehnya, hatinya malah terfokus pada segala kerinduan yang dia rasakan. Raka memang sengaja pulang ke Indonesia sebulan lebih cepat dari Davina untuk mengurusi pernikahan mereka.
Dari mulai dekorasi, katering, segala macamnya, Raka yang mengatur. Davina hanya ikut meeting dengan vendor melalui zoom saja. Jika biasanya pengantin wanita yang hampir gila saat mengurusi pernikahan, berbanding terbalik dengan kondisi mereka berdua. Rakalah yang mengurusi semuanya. Tanpa mengeluh sama sekali.
Malah bisa dibilang, Rakalah yang paling semangat untuk segera melangsungkan pernikahan ini.
Davina pun berjalan ke sebelah tempat tidur, dia menumpukan dagunya tepat di depan wajah Raka. Setelah apa yang Raka lalui selama sebulan terakhir, rasanya tidak pantas jika Davina marah-marah hanya karena Raka minum-minum sedikit.
“Hmm…” Raka menggumam dalam tidurnya.
“Minum sedikit dari Hongkong!” Davina menggerutu saat mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut Raka.
Tapi Raka masih bergeming, tidak tergoyahkan. Wajahnya merah. Rambutnya terlihat semakin ikal.
"Udah mau nikah dua hari lagi, tapi rambutnya belum dirapihin coba.” Davina mengelus-elus kepala Raka.
“Hehe.” Tiba-tiba Raka tersenyum dalam tidurnya.
“Dih! Mimpi apaan nih bocah?!” Alis Davina terangkat.
“Devni… sayang…” Raka tersenyum-senyum sendiri.
Davina speechless.
Dia sampai memeriksa Raka berkali-kali, apakah laki-laki itu hanya berakting. Siapa tahu semua ini hanya muslihat Raka agar Davina memaafkannya. Namun, diperiksa berulang kali pun, laki-laki itu benar masih belum terbangun sama sekali.
Begitu menyadari bahwa Raka memang sedang memimpikannya, Davina pun akhirnya memaafkannya. Begitu saja. Jika terlalu cinta, memang jadi sulit untuk memendam amarah terlalu lama.
Dia mencium kening Raka sekilas, lalu akhirnya keluar dari kamar itu. Dia pun kembali ke ruang tamu villa untuk menemui lagi keluarganya.
“Loh? Kok udah kelar marahnya? Cepet banget!” tanya Dave, diam-diam tidak terima.
Davina tertawa.
“Davina gak bisa marah lama-lama sama calon suami.”
“Ya ampuuuuuuuuun! Duo bucin ini emang gak ada lawan!!!” Rafael memaki.
Tawa Davina semakin berderai.
"Anak Azel sama anaknya Dave dikawinin sih. Begini jadinya!" Diana menggerutu.
Tawa pun membahana di seluruh ruangan. Sudah lama rasanya keluarga ini tidak berkumpul lengkap seperti ini.
***
Raka baru benar-benar terbangun di malam hari. Jantungnya benar-benar seakan melompat keluar dari tenggorokannya begitu melihat jam. Matilah dia!!!
“Devniiiiii?” Raka memanggil.
Tapi tidak ada jawaban.
Raka rasanya ingin memukul kepalanya sendiri. Betapa bodohnya dia. Kenapa bisa-bisanya dia minum alkohol terlalu banyak sehari sebelum kedatangan Davina? Pasti wanita kesayangannya itu sedang memendam sejuta amarah untuknya.
Dia pun segera menelepon nomor Davina. Dan betapa kagetnya dia saat suara ringtone tiba-tiba terdengar di balik punggungnya.
Dia pun menoleh.
Benarlah! Davina berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang!
“Bagus ya!” Davina pura-pura marah.
“Devniiii, sayaaaaang…” Raka memelas.
“Bisa-bisanya kamu mabok-mabokan sehari sebelum aku datang!”
“Maafin aku…”
“Gak!”
"Ngapain aja kamu bachelor party? Ngundang penari striptis?"
"Sumpah, enggak! Mana ada yang begitu disini, Devni."
"Ya bisa aja! Mana aku tahu!"
“Devniiii, maaf. Jangan mikir yang enggak-enggak. Oke, aku salah karena mabok-mabokan.”
“Bodo amat!” Davina pura-pura berjalan meninggalkan Raka.
Tapi Raka cepat-cepat mengajarnya. Dia segera menangkap tangan Davina.
"Apa?" tantang Davina. Raka terkekeh, sadar bahwa sebenarnya Davina tidak terlalu marah padanya.
“Kalau aku peluk kamu sekarang, pasti kamu langsung maafin aku. Tapi aku takut ditabok Papa Dave kalau peluk-peluk kamu disini,” ucap Raka, tidak tahu malu.
“Emang anak setan!” maki Davina.
“Maafin ya? Please?” Raka membuat tampang memelas lagi.
“Gak mau!”
“Kok jahat?”
“Abisnya mulut kamu bau alkohol! Aku jadi gak bisa cium!”
Raka terkekeh lagi. Davinanya memang tidak bisa marah-marah terlalu lama padanya.
“Aku stres tahu ngadepin vendor katering, vendor baju, vendor dekor…” Raka mulai mencoba menarik simpatik Davina.
“Kamu ngomong begitu supaya aku kasihan kan?! Terus gak marah lagi sama aku?” Davina mendengus.
“Kan kamu sendiri yang bilang aku ini mirip setan. Setan kan punya seribu cara supaya bikin manusia jatuh ke dalam dosa.” Raka cengengesan.
“Dasar!!!”
Raka memamerkan senyum miringnya. Bagaimana Davina bisa bertahan dari senyuman itu?
Sudah sahlah, Davina sepenuhnya memaafkan Raka. Dia langsung menghambur ke pelukan calon suaminya itu.
“Kalau ada Papa Dave, aku bisa dijitak loh.” Raka celingak-celinguk.
“Semua udah pergi makan malam.”
“Kok kamu gak ikutan?”
“Masa aku tinggalin calon suamiku sendirian sih?”
Raka terkekeh. Baru kali ini Davina menggunakan sebutan itu untuknya. Calon suami. Ah, rasanya menyenangkan. Rasanya Raka rela menghadapi vendor sebertingkah apapun asalkan calon istri yang ditunggunya di altar adalah Davina.
“Baik banget sih kamu…” Raka memeluk pinggang Davina erat-erat.
“Emang. Kamunya aja yang jahat, malah mabuk-mabukan waktu aku gak ada.”
“Kan udah minta maaf.”
“Udah dimaafin juga.”
Raka mencium kening Davina sekilas.
“Aku lapar, Ka. Nyusul yang lain yuk?”
“Boleh.”
“Ya udah, mandi sana. Bau alkoholnya masih kenceng banget.”
“Oke.” Raka pun melepas pelukannya dari Davina. Lalu berjalan kembali ke kamarnya.
Tapi sebelum melangkah lebih jauh, dia berhenti sebentar, menoleh pada Davina lalu mengerling, “Gak ikutan?”
Davina tertawa.
“Ajak tembok sono!!!”
Raka ikut tertawa, kali ini benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
***
“Tumben pada makan cantik. Biasanya pengen ngebabi mulu,” celetuk Raka saat sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran di daerah Nusa Dua, tidak jauh dari villa keluarga Mahardhika.
“Kolesterol Papa naik.” Davina terkekeh.
“Ya ampun. Dasar orangtua!”
“Hey! Itu calon mertua kamu!”
“Udah jadi papaku sejak lahir. Gimana dong?!”
Davina ikut tertawa. Benar juga!
Dia pun segera menggandeng tangan Raka. Laki-laki itu langsung tersenyum.
“Udah gak marah lagi?”
“Kan daritadi udah gak marah.”
“Good girl.”
“Yuk masuk! Laper!”
Raka mengangguk. Mereka pun berjalan bersisian ke dalam restoran tersebut. Davina memeluk lengan Raka. Rindu rasanya. Raka sampai tersenyum melihat tingkah manja Davina ini.
Namun, belum mereka mencapai pintu masuk, mereka berpapasan dengan beberapa orang. Mereka saling terpaku sejenak.
Kesadaran Raka pulih terlebih dahulu, dia pun melirik ke sebelahnya. Lalu, menyadari ekspresi Davina yang langsung berubah kaku melihat orang tersebut.
“Ni… ko…” Davina tampak speechless.
Raka menoleh lagi pada sosok di hadapannya.
Nikolas tidak lebih terkejut daripada Davina.
Tapi, siapa gerangan orang-orang di sebelah Nikolas tersebut?
***
Hayooo! Yang penasaran gimana nasib Nikolas setelah putus dari Davina, merapat ya minggu depan 🤗
IG : @ingrid.nadya