Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
31



" Lana apa besok kau sudah kuliah lagi ? Apa tidak bisa sepertiku saja ? Daddy tak menginginkan aku untuk sekolah di luar , dia bilang kondisiku sedang tidak baik baik saja . Apa kau mempunyai pikiran yang sama dengannya ? Bahwa aku tidak baik baik saja " rentetan pertanyaan di berikan Darrell pada ibu sambung sekaligus pengasuhnya . Tadi ia mendengar Lana menelpon salah satu dosen di kampusnya yang berbicara tentang tugas akhir semesternya .


" Di manapun tempat untuk mendapat pendidikan itu bukan hal yang terlalu penting , tapi semangat anda untuk belajar dan menyerap semua ilmu yang di berikan adalah hal yang paling penting menurutku ! Aku yakin anda sangat baik baik saja , tapi kadang orang dewasa mempunyai alasan sendiri untuk semua yang dilakukannya termasuk Tuan Sean . ltu sangat wajar .... jadi tidak usah berpikir terlalu jauh tentang itu " jawab Lana mencoba memberi jawaban yang membuat Darrell tidak bertanya lebih jauh lagi .


Wanita itu tahu jika anak itu sangat ingin melihat dunia luar seperti anak lainnya . Jangankan jalan jalan di taman , hanya untuk sekedar beli es krim di minimarket saja tidak pernah . Darrell akan membuat list snack yang ia mau dan penjaga atau maid yang akan membelikannya . Daddynya pernah berkata jika menjadi putra Alexander memang sedikit berbeda , keamanan dirinya adalah di atas segalanya .


" Apa orang orang di luar sana menganggap keadaan kakiku adalah hal yang aneh ? "


" Ckk jangan bertanya hal yang tidak tidak lagi , sekarang waktunya bersiap siap karena sebentar lagi anda akan pergi bersama Tuan Sean menemui dokter ! Aku berharap jika sebentar lagi kakimu akan sembuh dan kita bisa berlari mengitari taman bersama "


" Kau janji ?? Kau akan mengajakku ke taman ditengah kota ?? Aku pernah lihat ada stand es krim yang sangat ramai disana , aku ingin makan es krim rasa vanila bersamamu "


" Tentu saja ... Aku janji ! " sahut Lana berharap.Datrrell akan lebih bersemangat menjalani terapi dan operasi yang sepertinya akan di jadwalkan dalam waktu dekat ini .


Siang itu memang ada jadwal pertemuan dengan dokter yang sejak kecil menangani Darrell . Dan Sean sudah berpesan pada Lana jika ia akan menjemput putranya sebelum jam makan siang . Benar saja , suaminya datang tepat setelah Lana selesai menyiapkan Darrell .


" Kau siap boy ? "


" Siap Dad . Apa Dokter sudah menjadwalkan tanggal operasiku ? "


" Daddy belum tahu , tapi mereka bilang sudah menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok untukmu . Tapi tetap saja mereka harus menyiapkan semua prosedurnya . Semua butuh proses ... " sahut Sean dengan mata memicing melihat istri keduanya yang berdiri disamping putranya sudah memakai seragam maid . Kepala pelayan pagi tadi memberikan seragam maid itu padanya , mungkin atas perintah Tiffany tempo hari yang menginginkan agar Lana tidak tampil istimewa di depan Sean .


" Ganti bajumu ! "


" Tuan Muda ingin saya ikut mengantarnya ke rumah sakit dan alangkah lebih baik jika saya memakai seragam ini agar nantinya tidak akan ada pencari berita yang mengusik kita . Lagipula dengan memakainya saya menjadi tahu kedudukan saya di rumah ini . lm just a slaves .. tidak lebih "


Sean diam yak menanggapi kata katanya , pria itu mendorong kursi roda Darrell keluar menuju mobil . Sampai di mobil pun tatapan elang itu memandang istri keduanya yang dengan santainya malah duduk di jok depan di samping supir , bukan duduk bersamanya di kursi penumpang . Sampai di rumah sakit mereka segera pergi ke ruangan dokter yang akan menangani Darrell .


" Selamat siang Tuan Sean ... selamat siang jagoan !! " sapa dokter yang ternyata masih terbilang muda .


" Selamat siang juga Nona .. anda sangat cantik ! " akhirnya dokter itu tidak tahan untuk tidak menyapa wanita pelayan dari pasiennya .


" Dokter , dia Nannyku .... dan dia sudah bersuami . Jadi panggil dia Nyonya " sahut Darrell yang membuat sang dokter tertawa , pasien kecilnya ternyata sangat over protektif pada pengasuhnya .


Dokter muda itu akhirnya hanya bisa menyimpan rasa penasarannya pada wanita cantik di depannya , lagipula bukan hanya Darrel yang terlihat tidak suka jika ia memperhatikan maid cantik itu . Tapi ia merasakan aura kelam Sean Jayde yang seolah ingin menjadi benteng wanita itu .


Lana hanya menanggapi sapaan dokter tampan itu dengan sebuah senyuman lalu sengaja keluar dari ruangan dokter agar bisa lebih leluasa berbicara dan memberikan pemeriksaan pada Darrell .


Setelah menunggu beberapa saat Sean dan Darrell terlihat keluar ruangan , dan mereka segera pergi meninggalkan rumah sakit . Lana merasa ada yang aneh dengan iblis itu , terlihat sorot kemarahan ketika mata elang itu sedang melihatnya . Padahal ia merasa tak melakukan kesalahan apapun .


Seharusnya mereka akan mampir makan siang di restoran langganan , tapi entah kenapa Sean meminta supir untuk segera kembali ke mansion . Pria itu mengatakan ada urusan mendadak di perusahaan .


Sampai di mansion dengan langkah cepat Sean segera membawa putranya ke kamar , sedang Lana segera menghangatkan makanan yang sengaja dibuatnya tadi untuk bekal makan siang . Ia hanya takut tadi Darrell lapar saat masih diperjalanan .


Lana terkejut ketika tiba tiba Sean menarik tangannya dan kemudian sedikit menyeretnya ke lantai atas .


" Aku ingin bicara ... "


Wanita itu mencoba mengimbangi langkah lebar Sean agar cengkeraman tangan kekar itu tidak terlalu menyakitinya . Dia sengaja diam karena tahu jika suasana hati suaminya sedang tidak baik . Sepertinya mereka sedang menuju kamar utama milik Sean .


" Aaakkkhhhh .... "


Lana menjerit saat tubuhnya di dorong hingga jatuh di atas ranjang . la melihat Sean melepas asal jas yang dikenakan dan melepas dasinya , iblis itu menghampiri dengan tangan yang sudah mencengkeram erat lehernya . Bukannya tak ingin melawan tapi kekuatan Sean benar benar tak bisa membuatnya berkutik .


" Beraninya kau tersenyum pada pria lain ... "