
Dave dan Diana menunggu kepulangan kedua anak perempuannya dengan perasaan was-was. Meski sudah diberikan kabar oleh Rara beberapa jam yang lalu, tapi mereka tetap tidak bisa tenang sebelum keduanya pulang.
“Harusnya aku gak bolehin ya waktu Davina izin gak pulang.” Diana terdengar menyesal.
Dave menepuk punggung tangan Diana.
“Davina kan udah sama Rara. Bentar lagi juga pulang.”
“Aku tetap gak tenang.”
“Sabar.” Dave mencoba menenangkan Diana, juga hatinya sendiri. Terkadang menjadi laki-laki memang tidak mudah. Sudahlah harus menyembunyikan perasaan sendiri, dia pun harus berkewajiban menenangkan perasaan pasangannya.
Tak lama kemudian, mereka dapat merasa lega karena dua buah mobil sudah masuk ke dalam halaman. Tapi, saat Diana akan berlari menemui kedua putrinya, Dave malah menahan tangan Diana.
“Kenapa?” tanya Diana, tidak terima.
“Biarin Davina tenang dulu.”
“Tapi…”
“Kalau dia masih pengen sendiri, biarin aja. Jangan kita paksa dia bicara sekarang.”
Diana tahu suaminya benar. Davina selalu jadi orang yang sangat tertutup. Kalau mereka mencecar sekarang, Davina justru akan semakin menutup dirinya.
Maka, saat Rara dan Davina berjalan melewati ruang keluarga begitu saja, Dave dan Diana tidak berusaha menoleh, pun mencari tahu.
“Dia bakal baik-baik aja kan, Dave?” tanya Diana, khawatir.
“Dia punya kita semua, dia bakal baik-baik aja.”
***
Begitu tiba di kamarnya, Davina langsung membaringkan tubuhnya yang sangat lelah di atas ranjang. Ternyata jika kita menangis selama beberapa jam tanpa henti, kepala rasanya seperti akan pecah.
Davina menutup matanya. Perlahan-lahan kantuk mulai menguasai dirinya. Namun, saat kesadarannya benar-benar hampir hilang, tiba-tiba bayangan Nikolas dan Sienna beberapa jam yang lalu muncul lagi di benaknya.
Davina tersentak. Dia bangun dan langsung terduduk, kemudian mengamati sekitarnya dengan mata nanar. Tidak, tidak. Dia ada disini, di kamarnya. Tempat ternyamannya. Tidak akan ada yang mengecewakannya disini, tidak akan ada yang membuatnya merasa dikhianati.
Lalu, tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh, hujan pun perlahan mulai membasahi jendela kamarnya. Tapi ntah kenapa suara berisik itu mulai menenangkannya. Dia membaringkan diri di atas ranjangnya sambil mengamati luruhnya air di jendela.
Setelah tenang, barulah Davina mengolah perasaannya sendiri. Dia mencoba mengerti kenapa kejadian Nikolas dan Sienna sangat menyakitinya.
Dan Davina perlahan mengerti...
Dia selalu menganggap Nikolas sebagai satu-satunya laki-laki sempurna yang tidak akan pernah menyakitinya. Segala perjalanan cinta mereka ibarat dongeng. Seperti pangeran yang menemukan sang putri.
Makanya, begitu dia mengetahui fakta bahwa Nikolas punya affair dengan Sienna pertama kali. Dia yakin ini hanya karena karma buruk yang dia tanam kepada dirinya sendiri, telah bermain api dengan Raka.
Meski hatinya adalah milik Raka, tapi segala sesuatu tentang laki-laki itu penuh dengan ketidak-sempurnaan. Begitu pun balet, impiannya, berakhir pula dengan ketidak-mampuannya. Hidupnya terasa kacau. Dan Davina hanya ingin, ada satu aspek dalam hidupnya yang terasa sempurna, sampai pada akhirnya.
Sayangnya, Nikolas tidak ingin memberikan kenangan itu pada Davina. Seperti tahu bahwa setiap perbuatan selalu ada ganjarannya. Karena tidak bisa memiliki hati Davina, Nikolas seperti ingin mematri betapa buruknya perasaan dikhianati untuk Davina.
Perjalanan cinta Davina dan Nikolas dimulai dengan sebuah ciuman. Harusnya Davina tahu bahwa saat itu mereka sedang mengatur kutukan untuk akhir cerita cinta mereka, karena Davina malah memikirkan Raka. Mereka mengawali dengan pengkhianatan Davina, dan mengakhiri pula dengan pengkhianatan Nikolas.
Mereka memang harusnya sungguh sempurna untuk satu sama lain, sebab saling mengkhianati sampai akhir.
Airmata Davina perlahan menetes lagi, dia biarkan saja membasahi bantalnya. Sebab Davina sudah kehilangan tenaga. Dia baru berlari meninggalkan sesuatu. Dia baru saja mencabut sesuatu yang beracun dari hidupnya sendiri. Biarkan dia tidur untuk sejenak saja. Biar dia lepas dulu dari seluruh rasa sakit dalam hatinya.
Dan seperti ingin mengabulkan permintaannya, semesta menurunkan hujan semakin deras. Bunyi berisik itu sangat menenangkan Davina, sebab tak perlu lagi dia mendengar seluruh pikirannya. Kantuk kembali menguasai Davina, dan akhirnya Davina bisa tidur dengan tenang.
***
Davina tidak tahu tidur berapa lama, tapi dia masih bisa mendengar suara hujan samar-samar saat dia terbangun.
"Dav, bangun, makan dulu yuk?" Dianalah yang membangunkan Davina.
"Iya, Ma," jawab Davina dengan suara serak. Dia pun memaksa tubuhnya untuk duduk. Diana pun memberikan sebuah mangkuk berisi bakmi singkawang dengan bermacam-macam topping daging tidak halal di atasnya. Ada daging merah, pangsit, sam chan.
Well... jika sudah dihadapkan dengan semua ini, persetan sudah dengan patah hati!
"Yuk dimakan?" Diana mengerling.
"Tapi..." Davina ragu sejenak.
"Gak ada tapi lagi. Sekarang udah gak bakal ada yang ngelarang kamu makan lagi."
Davina menggaruk kepalanya, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan selama ini. Dan akhirnya, Davina mengambil sumpit dan sendok, lalu mulai menikmati bakmi singkawang penuh dosa itu.
Diana mengamati Davina menghabiskan bakmi itu sambil tersenyum. Mulai saat ini, dia berjanji akan mencekoki Davina dengan makanan bergizi.
Setelah mangkuk itu tak bersisa lagi, Diana segera duduk santai di sebelah Davina.
"Mama minta maaf ya, Dav," kata Diana, mengawali pembicaraan ibu dan anak ini.
"Kenapa Mama minta maaf?"
"Kayaknya karma kelakuan buruk Mama yang dulu kenanya ke kamu." Diana tampak menyesal.
"Ya ampun, Ma! Enggaklah! Ini salah Davina..."
Diana menggeleng, "Dulu tuh Mama jahat banget sama Papa Azel. Tapi Mama tetap masih bisa dapetin hati sebaik Papa kamu. Mama suka heran kenapa bisa, ternyata jadi kisah cinta anak Mama yang jadinya begini."
Davina segera menolak prasangka Diana.
"Ma, hati Davina udah selingkuh duluan dari Nikolas. Ini bener-bener salah Davina."
Diana memegang kedua pipi Davina.
"Davina bukan lagi nyalahin diri sendiri, Ma. Davina cuma mengatakan yang sebenarnya."
"Jadi, kamu baik-baik aja?"
"I will."
Diana tersenyum, lalu mengecup pipi putri bungsunya itu.
"Kamu selalu punya kami, Dav..." kata Diana.
"Mama, Papa, abang kamu, Kak Rara, Keysha, Papa Azel, Mama Nay..." Diana sengaja menggantungkan nama terakhir.
"Maaaa..." Davina mengelak.
"Kan Mama gak sebutin."
"Davina bakal sembuh lama banget, Ma..."
"Dan Mama yakin, dia bakal nunggu."
"Dia itu orang paling gak sabaran, paling egois, paling semua-muanya di dunia ini. Davina yakin dia gak bakal nunggu selama itu..."
"Cinta itu gila, Dav. Papa kamu aja nunggu belasan tahun." Diana mengerling.
"Well, sayangnya Raka itu bukan Papa."
"Let's see, Dav, let's see..." Diana tersenyum.
Davina tidak menjawab.
"Kamu mau sendiri lagi?" tanya Diana.
Davina menggeleng, malah menidurkan kepalanya di pangkuan Diana.
"Davina mau gini dulu..."
Diana tersenyum, lalu mengelus kepala anaknya itu.
"Ma, boleh ambilin hape Davina di meja situ?" pinta Davina, manja.
Diana pun mengambilkan ponsel anaknya itu. Davina segera menerima dan melihat semua notifikasi yang masuk. Nikolas, Nikolas, Yuni, Nikolas...
Di antara banjir pesan penyesalan dari Nikolas, ada satu pesan berbeda. Dari satu orang.
Raka : Jadi, ini pilihan kamu?
Davina segera menunjukkan pesan itu pada Diana.
"Lihat kan?! Manusia paling gak sabar semuka bumi!" omel Davina.
"Kenapa Raka ngomong kayak gitu?" Diana malah balik bertanya.
"Davina harusnya milih antara Nikolas dan Raka tadi malam. Kalau Davina gak datang ke tempat Raka, artinya Davina milih Nikolas."
"Pantesan izin gak pulang, mau nginep di tempat cowok!" Diana memencet hidung Davina.
"Davina kan udah gede." Davina cengengesan.
Diana mengeluh. Memangnya dia siapa bisa melarang anaknya? Dia juga tidak sebaik itu dulunya...
"Emangnya kamu bakal milih siapa?" tanya Diana, penasaran.
Davina diam saja, tidak mau menjawab mamanya. Dia ingin orang yang dia pilih jadi orang pertama yang mendengar. Tapi semua jadi kacau karena kejadian tadi malam.
Dari ekspresi Davina, Diana bisa menebak. Tapi, dia pura-pura tidak tahu saja.
"Ya, apapun jawaban kamu ke Raka, baiknya diomongin langsung, Dav. Kalau gak ada kabar gini, yang ada kamu bikin Raka bingung."
Davina menghela nafas.
"Iya, Ma. Tapi gak sekarang..."
Diama mengangguk, "Ya udah, kamu istirahat lagi deh."
Davina pun menutup mata, dia memang hanya ingin tidur lagi. Tubuhnya masih kelewat lelah.
Sebuah pesan masuk lagi, mengembalikan sedikit kesadarannya. Dengan sisa-sisa kesadaran, dia membaca pesan itu.
Raka : Aku pengen ketemu. Kamu dimana?
Davina mengamati pesan itu sejenak.
Aku di antah berantah, Raka. Aku hilang arah.
Davina menjawab dengan pikirannya.
Tapi semua itu tidak dia ketikkan, dia memang tidak berniat menjawab pesan siapapun dulu.
Dia membiarkan kantuk menguasainya dengan sempurna. Biarkan Davina istirahat sejenak.
***
Jangan lupa dukungannya, teman-teman! 🤗💗