Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Adakah Yang Mau Menjawab?



Tidak seperti ketegaran yang ditunjukkannya di depan Raka, sebenarnya hati Davina bergemuruh saat mendengar setiap ucapan laki-laki itu di mobil tadi. Bagaimana laki-laki itu menatapnya dengan serius, tanpa keraguan sama sekali, bahkan matanya terlalu jujur sampai membuat Davina takut setengah mati.


Davina tidak pernah melihat Raka seserius ini!!!


Bahkan saat masih menjalin hubungan dulu, Davina dan Raka sama sekali tidak pernah membicarakan soal pernikahan. Rasanya terlalu jauh. Banyak mimpi yang ingin mereka wujudkan.


Namun, kenapa tiba-tiba Raka berubah?


“Pagi, Dav.” Beberapa orang menyapa Davina di ruangan resepsionis Espoir.


“Pagi.” Davina tersenyum, lalu cepat-cepat berlalu ke dalam ruangan kelas. Dia yakin wajahnya saat ini sedang tidak karu-karuan.


Dan yang paling utama dari langkahnya yang cepat ini, karena Davina ingin bersembunyi, dia ingin menenangkan hatinya!


Begitu tiba di ruang kelas, dia segera meletakkan tasnya, memasang musik apapun dari playlist-nya. Untung saja alunan piano Yiruma selalu jadi top playlist Davina. Kiss The Rain langsung mengalun di seluruh ruangan.


Lalu Davina berdiri di depan kaca.


Memandangi pantulan diri.


Wajahnya merah.


Ekspresinya tidak bisa dideskripsikan.


Davina segera menutup wajahnya. Terlalu malu untuk melihat dirinya sendiri saat ini. Kenapa dia malah merasa berbunga-bunga?


Kekonyolan macam apa ini?


Davina pun menjatuhkan diri di atas lantai. Tidur sepenuhnya sambil menatap langit-langit kelasnya.


“Gue bego banget sih!!!” Davina memaki diri sendiri sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Davina sudah pacaran dengan Raka sejak masih ABG, namun baru kali ini dia bertingkah seperti remaja labil hanya karena sesuatu yang dilakukan Raka.


“Daaaaav, lo kenapaaaaaa?” Tiba-tiba seseorang muncul, membuka pintu.


Davina kaget.


Dia segera menghentikan tingkah konyolnya, dan menoleh ke arah pintu.


Hatinya mencelos saat melihat Yuni muncul di pintu. Davina langsung duduk, merasa malu luar biasa karena tingkah ababilnya.


“Lo kenapa sih menggelepar gitu tadi? Gue kirain lo kesurupan!” Yuni mengamatinya.


Davina meringis.


“Yun? Kok lo disini sih? Gak lagi bulan madu?” Dia pun mencoba mengalihkan pembicaraan.


Yuni langsung tertawa pelan mendengar kalimat yang dilontarkan hampir semua orang setelah acara pernikahannya, “Suami gue sibuk kerja, lagian udah mau pertunjukan Nararya dan Espoir juga, jadi kita mutusin buat nunda bulan madu dulu.”


“Oh, kasihan…”


Yuni memandangi Davina dengan tatapan meremehkan, “Kasihan mana sama yang batal nikah?”


Davina cemberut. Yuni tertawa.


“Nih, gue bawa bubble tea.” Yuni memberikan sebuah plastik kepada Davina.


“Gue gak minum ini lagi.” Davina mengelak.


Lagi-lagi Yuni memberikan tatapan meremehkan padanya.


“Nyebelin lo!” Davina memaki, akhirnya menerima plastik itu.


Yuni tertawa, lalu ikut duduk di sebelah Davina.


“Lo gendut dimananya sih, Dav? Omongan Nikolas sama Tante Angel mah dicuekin aja,” kata Yuni.


“Tumben lo datang kesini,” kata Davina.


Yuni menggedikkan bahu.


“Nikolas yang nyuruh?”


Yuni diam saja, tidak menjawab. Davina langsung mengerti bahwa Yuni sedang mengiyakan pertanyaannya.


“Gimana perasaan lo sekarang?” tanya Yuni, akhirnya.


“Gak tahu,” jawabnya, jujur.


Yuni menarik nafas, “I hate to say this. Tapi Nikolas itu beneran sayang banget sama lo, Dav.”


Davina tertegun begitu mendengar kalimat itu. Rasanya seperti ditampar kuat-kuat oleh Yuni. Mungkin lebih baik jika dia ditampar saja sekalian!


Sungguh benar-benar saat yang tepat untuk Yuni datang dan mengingatkan Davina bahwa dia sudah bertunangan! Dan betapa tunangannya itu sangat mencintai dia!


Di saat baru saja dia merasa bahagia karena dilamar oleh sang mantan terindah…


Konyol!


Seluruh hidup Davina memang sungguhlah kekonyolan tiada henti!


Lalu, dia menatap cincin di jari manis tangan kirinya. Sebuah cincin yang disematkan Nikolas saat melamarnya beberapa bulan yang lalu. Di sebuah restoran mewah sebuah hotel ternama di Jakarta dengan disaksikan beberapa kerabat mereka. Dengan seratus tangkai mawar putih yang kata Nikolas dapat mewakilkan sisa hidup yang akan mereka habiskan bersama.


Nikolas memberikan Davina lamaran yang diimpikan semua wanita.


Tapi Nikolas tidak akan pernah membuat Davina menggila seperti gadis SMA labil seperti tadi. Davina tidak menghentakkan kaki secara konyol untuknya.


Hanya satu orang yang bisa membuatnya seperti itu…


Orang itu bahkan tidak harus membawa cincin. Ucapannya hanya bentuk tindakan spontan yang dilandasi sebuah keputus-asaan.


Yang ada di pikiran Davina hanyalah…


Tentang Raka yang ingin menikah dengannya.


“Dav…” panggil Yuni, lagi.


Davina tidak menjawab, maupun menoleh. Dia jelas tahu apa yang akan ditanyakan oleh Yuni. Sebab hatinya pun menanyakan hal yang sama.


“Davina… lo masih bakal nikah sama Nikolas kan?”


Davina menutup mata.


Adakah yang mau menjawab pertanyaan itu untuknya?


***


Davina melangkah masuk, melewati ruang keluarga di rumah Nikolas. Dia dapat bernafas lega begitu tidak menemukan siapapun disana. Dia sedang malas beramah-tamah dengan Angel. Dia pun cepat-cepat berjalan menuju kamar Nikolas.


Saat membuka pintu, Davina melihat Nikolas sedang berusaha mengambil gelas dari meja di sebelah tempat tidurnya.


Dia segera membantu calon suaminya itu.


"Thank you,” kata Nikolas, sambil tersenyum.


Davina hanya mengangguk.


“Naik apa kesini?” tanya Nikolas. Dia senang Davina hari ini benar-benar datang untuk menjenguknya.


“Taksi,” jawab Davina, singkat.


“Kok gak bawa mobil?”


“Soalnya tadi pagi dianterin sama Raka ke Espoir.”


Nikolas terdiam. Wajahnya langsung berubah kaku begitu mendengar nama Raka disebut. Sementara Davina menunggu, ingin melihat bagaimana reaksi Nikolas atas pernyataannya.


Tapi hanya butuh beberapa menit untuk Nikolas mengubah raut wajahnya. Membahas Raka saat ini hanya akan memperkeruh suasana hubungan mereka berdua.


“Kamu udah makan?” tanya Nikolas, sambil menyentuh tangan Davina.


“Udah. Kamu?”


“Belum, daritadi siang. Makanya ini aku laper banget. Aku sambil makan, boleh gak?” Nikolas menunjuk meja sebelah tempat tidurnya. Disana sudah terdapat satu mangkuk berisi bubur ayam.


“Boleh. Aku suapin ya,” kata Davina, sambil melepaskan genggaman tangan Nikolas.


Untuk kedua kalinya dalam hari ini, Davina tidak membubuhkan tanda tanya atau pun tanda seru pada kalimatnya. Tadi kepada Raka, sekarang kepada Nikolas. Dia hanya ingin sebebas-bebasnya melakukan apa yang dia mau.


Nikolas mengangguk sambil tersenyum kecil. Davina dengan telaten menyuapkan tiap sendok bubur kepada Nikolas.


“Enak banget kalau udah ada yang rawat,” kata Nikolas.


Davina tersenyum.


“Nanti kalau aku udah tua, terus gak bisa makan sendiri lagi, kamu bakal gini terus gak?” tanya Nikolas saat buburnya sudah habis setengah mangkok.


“Tergantung.”


“Tergantung apa?”


“Tergantung… nikahnya sama kamu atau enggak.”


Nikolas terdiam lagi.


“Ya, siapa tahu kan besok John Mayer tiba-tiba ngelamar aku.” Davina mencoba bercanda.


“Dav…”


“Hm?”


“Kalau kamu marah, ditunjukin aja dong. Jangan jadi berubah gini.”


“Aku gak marah.”


“Jadi ini apa namanya?”


“Kan aku cuma lagi bercanda.”


Nikolas menimbang-nimbang, mencoba mencari cara yang tepat untuk menyatakan maksudnya. Tapi tak akan pernah ada kalimat yang pas.


Dia mengambil mangkok dari tangan Davina.


“Davina…” Nikolas memanggil lembut calon istrinya.


Davina bergeming. Rasanya seperti ingin lari saja dari ruangan itu. Sebab seluruh kejadian tadi siang di Espoir kembali tengiang di kepalanya, saat dia duduk berdua bersama Yuni.


Lagi-lagi Davina tidak menjawab. Maka, Nikolas mengambil tangan calon istrinya dan menggenggamnya erat.


“Apa kamu masih mau nikah sama aku?” tanya laki-laki itu dengan mata penuh kesedihan.


Davina kehilangan seluruh kalimatnya.


Sungguh Davina ingin bertanya lagi…


Adakah yang mau menjawab pertanyaan itu untuknya?


***


IG : @ingrid.nadya