
Davina dapat mendengar kalimat Raka sebelum beranjak keluar dari kamar rumah sakit.
“Gue nunggu di luar, kalau butuh apa-apa.”
Begitu katanya.
Pada Nikolas.
Bukan pada Davina.
Aneh.
Harusnya Raka tidak bersikap seperti itu.
Ini Raka. Dia tidak bersimpati pada orang lain. Dia mementingkan perasaannya sendiri.
Jadi, kenapa dia mengucapkan kalimat itu? Apa yang sedang Raka pikirkan? Apakah hanya sekedar untuk menarik perhatian Davina?
But here is the question…
Jika Raka berbohong, kenapa perkataannya justru terdengar tulus?
Davina bingung. Sejujurnya, akan lebih mudah jika Raka tetap bersikap kurang ajar. Lebih mudah kalau laki-laki itu tidak menawarkan diri untuk mengantarkannya ke Bandung. Lebih mudah jika laki-laki itu mengabaikan atau bahkan menyakitinya saja!
Tapi sejak dulu kan Raka tidak pernah membuat jalan kehidupan yang mudah untuk Davina. Segala sesuatu tentang Raka selalu rumit. Mungkin ini berbanding lurus dengan betapa besarnya dulu perasaannya pada Raka. Sebab semakin besar rasa cinta pada seseorang, justru semakin kita mempersenjatai mereka dengan berbagai macam hal yang dapat menyakiti kita.
Davina tidak bisa berhenti memikirkan hal tersebut, sampai akhirnya, satu tangan Nikolas mulai mengelus kepalanya.
Ah, benar…
Inilah udaranya.
Saat ini dia berada di dalam pelukan calon suaminya. Berani-beraninya dia malah memikirkan laki-laki lain!
Seperti tidak cukup saja semua hukuman ini. Seperti tidak jera juga Davina bermain hati.
Dia segera melepaskan pelukannya dari Nikolas. Laki-laki itu memandangnya, lekat-lekat. Wajah Nikolas terlihat menyesal, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa pada calon istrinya.
Mereka saling memandang selama beberapa saat.
Nikolas baru akan mengatakan sesuatu, namun Davina langsung memotongnya.
“Kita gak perlu bahas apapun, Nik.”
Nikolas diam saja, hanya bisa menggenggam tangan Davina erat.
“Despite everything, I’m right here, right now,” kata Davina.
(Terlepas dari segalanya, aku disini sekarang.)
Nikolas mengangguk, lalu menarik Davina lagi ke dalam pelukannya. Dia dapat merasakan tubuh Davina masih terasa kaku.
Dia pun mengusap-usap punggung Davina.
Perlahan tapi pasti, mata Davina memanas lagi. Seluruh perasaan yang daritadi ditahannya selama perjalanan Jakarta-Bandung, mulai meluap-luap.
“I’m really sorry,” bisik Nikolas.
Davina menggeleng.
Segalanya ini… bukan salah Nikolas. Davina tidak setia. Tidak bisa dipungkiri, dia mempertimbangkan Raka, dia menginginkan Raka. Seluruh hatinya bahkan masih meneriakkan nama laki-laki itu.
Ini adalah hukuman atas segala kebodohannya.
Lalu, airmata menetes lagi. Jelas pikiran barusan menyentak nurani Davina.
Ntah sampai kapan kekejamannya pada Nikolas akan berakhir…
Sebab bagaimana mungkin dia menganggap calon suaminya sendiri sebagai sebuah hukuman untuknya?
***
Setelah berbincang beberapa saat, dokter akhirnya mau memberikan obat pereda nyeri pada Nikolas. Hal itu membuat laki-laki tersebut langsung mengantuk dan dalam beberapa menit saja sudah jatuh tertidur.
Davina membenarkan letak selimut, mengamati sebentar wajah Nikolas.
Setelah yakin bahwa calon suaminya itu sudah tertidur pulas, Davina pun melangkah keluar kamar. Dia sempat mencari ke sekelilingnya, namun tidak juga menemukan Raka dimana pun.
Davina menghela nafas.
Pikiran yang sungguh bodoh…
Bagaimana mungkin laki-laki itu masih disini? Sudah empat jam lamanya, dia menemani Nikolas di dalam sana! Pasti Raka sudah pulang ke Jakarta.
Davina pun memilih untuk duduk di sebuah bangku tunggu di depan kamar Nikolas. Dari bangku tersebut, dia bisa melihat langsung ke taman rumah sakit. Dia menempelkan punggungnya ke sandaran bangku dan duduk merenung.
Sejujurnya, Davina tidak memikirkan apapun. Dia tidak ingin merasakan emosi apapun. Ini bukan waktu yang tepat!
Dia ingin menyembunyikan seluruh perasaannya ke dalam pintu itu lagi. Dia tidak ingin orang lain melihatnya pecah berantakan disini.
Di tempat asing ini…
Namun, sejalan dengan diabaikannya seluruh emosi dalam diri, sekonyong-konyong kebutuhan manusiawi Davina pun muncul. Lapar dan haus adalah yang paling mendominasi.
Davina melirik jam di ponselnya. Sudah jam lima sore. Pantas saja dia merasa lapar. Dia bahkan belum sempat menyantap sarapan yang diantarkan Raka ke dalam kamarnya!
Apa lebih baik dia pergi sebentar ke kantin? Tidak apa-apa kan jika dia meninggalkan Nikolas sebentar?
Davina baru akan berdiri, namun tiba-tiba sebuah plastik terulur di depan wajahnya.
“Lapar kan?” katanya.
Sungguh sebuah pertanyaan retoris!
Sebenarnya, tanpa menoleh pun, Davina sudah tahu siapa yang mengulurkan kantongan plastik tersebut. Ternyata dia masih disini?
“Aku mau beli sendiri aja,” tolak Davina.
Raka memilih mengabaikan kalimat Davina. Dia pun meletakkan kantongan tersebut di atas pangkuan Davina.
“Makan aja.”
Davina meliriknya tajam, “Daritadi kamu tuh bersikap seenaknya terus ya, Ka!”
“Kamu tuh tinggal di negara apa sih selama ini, Devni? Sejak kapan beliin makanan dan minuman buat orang lain jadi satu tindakan kriminal?”
Mereka saling memandang dengan kesal selama beberapa saat.
Akhirnya, Raka menarik nafas.
“Ini bakal menghemat waktu kamu, Devni. Kamu gak harus ke kantin lagi, ngantri lama, belum lagi nunggu makanannya dimasak…”
Davina diam saja.
Raka semakin serba salah.
“I’m sorry, okay? Aku salah. Aku minta maaf.”
Melihat sikap mengalah yang jarang sekali terjadi itu, Davina semakin menjadi-jadi. Dia balas dengan bertanya, “Memangnya salah kamu apa?!”
Raka menggeram. Wanita sungguhlah ibarat rumus kalkulus yang sulit terpecahkan. Bahkan manusia sejenius Albert Einstein pun tak akan bisa mengerti kemauan wanita!
Akhirnya, Raka memutuskan untuk benar-benar mengalah. Dia duduk di samping Davina, sambil bersandar sepenuhnya disana.
“Terserah kamu. Mulai sekarang semua terserah kamu,” kata Raka.
Davina memutar bola matanya. Tapi masih juga tidak menyentuh bungkusan di pangkuannya.
Akhirnya, Raka mengerti apa yang Davina inginkan. Dan hal itu membuat hatinya semakin terasa sakit.
Hanya satu hal yang diinginkan Davina saat ini.
Sesuatu yang bisa membuatnya bernafas sejenak.
Yaitu…
Ketidakberadaan Raka.
“Begitu kamu habisin makanan ini, aku janji bakal langsung pulang ke Jakarta, Devni.”
Raka bersumpah bisa menangkap sekilas cahaya di mata Davina begitu dia selesai mengatakan kalimatnya. Dan hal itu membuat segalanya semakin tidak tertahankan.
“Kamu janji?” tanya Davina, seperti semakin ingin menyakiti Raka.
“Iya,” jawabnya, singkat.
Lalu, akhirnya… Davina pun membuka plastik tersebut dan mulai makan.
Dengan lahap.
Cepat.
Tidak berbelas kasih sama sekali.
Seperti ingin berlomba dengan waktu.
Seakan Davina ingin Raka segera lenyap dari hadapannya.
Raka menghitung detik demi detik yang tersisa. Tidak akan banyak waktu lagi. Dia ingin menikmati segalanya.
Meski itu hanya dua minggu.
Atau lima menit.
Atau bahkan hanya tinggal sepuluh detik lagi.
Dia tidak ingin lagi mempergunakan sisa waktunya dengan menyesali masa lalu.
Dia ingin memanfaatkannya dengan memandangi Davina lebih lama. Betapa cantiknya wanita itu, selalu, baginya.
Tangannya terangkat ingin menyentuh Davina…
Refleks yang selalu dia punyai untuk wanita itu.
Namun, terhenti ketika…
“Habis!” kata Davina, sambil menelan suapan terakhirnya.
Raka menjatuhkan lagi tangannya ke sisi badan. Dia mengangguk, lalu bangkit berdiri.
“Aku pulang ya.”
Davina mengangguk pelan.
Raka pun beranjak.
Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti karena kehadiran orang lain.
Dua orang tersebut menatapnya dengan nanar.
“NGAPAIN KAMU DISINI?” Angel, ibu Nikolas, membentak Raka dengan suara melengking.
***
Readers yang baik, jangan lupa tombol likenya. Chapter-chapter sebelum ini banyak yang kelupaan ngelike loh. Makasih ya 😉🤍