
Judul bab diambil dari lagu "Senja Teduh Pelita" oleh Maliq & D'Essentials.
***
"Kenapa hujan terus sih?" bisik Raka, tanpa sadar, setelah kesekian kalinya dia menyibak gorden kamar.
"Tenang aja..." Hanya itu yang Davina bisa katakan. Bukannya tidak ingin menjawab panjang-panjang, tapi saat ini seorang MUA sedang merias wajahnya. Bagaimana mungkin dia bisa meladeni kegelisahan Raka panjang lebar?
Lagipula, Davina tidak ingin ambil risiko. Dia ingin tampil cantik di hari pernikahannya, jangan sampai kegelisahan calon suaminya menular padanya.
Raka, yang merasa mendapat jawaban yang tidak diinginkan, berpaling pada Davina. Bukannya tenang, dia malah terlihat semakin gelisah.
"Kamu gak takut kalau hujannya gak berhenti?" tanya Raka.
Davina tidak langsung menjawab. Dia menunggu sang MUA berpaling darinya untuk mengambil kuas concealer, barulah dia menggeleng pelan pada Raka.
"Kok bisa?" Raka malah protes.
"Ini baru complexion, Sayang, waktu masih banyak" kata Davina, pelan, sambil menunjuk wajahnya. Masih berusaha bersabar dengan sang calon teman hidup.
"Gak ngerti. Emang masih lama?" tanya Raka, dengan polosnya.
"Silakan kakak MUA aja yang menjawab," Davina mempersilakan seorang laki-laki di hadapannya untuk berbicara.
"Masih lama, Mas." Sang MUA tersenyum.
Raka mengeluh. Lalu, kembali selonjoran di sofa. Tapi dia tetap tidak bisa berlama-lama diam. Beberapa menit kemudian, dia sudah kembali mengintip ke luar jendela.
"Kenapa sih gak berhenti juga???" Raka menggeram.
Davina akhirnya mulai gerah dengan tingkah Raka, langsung mendesis kesal, "Bisa tenang gak sih???"
Raka menoleh pada Davina.
"Duduk tenang, boleh gak? Kalau kamu masih gelisah juga, mending kamu nunggu di luar deh!" Davina lanjut menggerutu.
Raka tidak bisa membantah.
Dia kembali duduk melorot di sofa, mencoba sibuk dengan ponselnya. Dia akhirnya berhasil memfokuskan perhatiannya pada beberapa konten lucu di youtube.
Tapi, lagi-lagi, hal itu tidak berlangsung lama.
Suara petir tiba-tiba menyentaknya.
"Sayaaaaang!" Raka merengek pada Davina.
Sang calon istri bukannya tidak ingin menjawab, tapi air brush sedang diarahkan tepat di seluruh wajahnya, bagaimana bisa dia meladeni Raka?
Sementara itu, Raka yang terperangkap dalam kekhawatirannya sendiri, kembali menyibak gorden jendela. Dia tertegun melihat kepulan awan hitam di langit.
"Gilaaaa! Gelap banget langitnya!" Raka berkata dengan nada kelewat panik.
Masih juga tidak ada tanggapan dari sang calon istri.
"Devni, apa kita panggil pawang hujan aja ya?" Raka memelas.
Tepat saat itulah, sang MUA menghentikan mesin airbrush-nya. Davina langsung melirik tajam pada Raka. Saatnya menghardik!
"Kamu tuh gak bisa punya iman sedikit aja ya???" Kali ini suara Davina menggelegar.
Raka langsung mengkeret.
"Emang kenapa sih kalau hujan??? Bilang aja ke semua orang kalau pemberkatannya jadi dipindahin ke dalam villa, susah amat?!" Davina terus merepet.
Raka tidak berani membalas jika Davina sudah meledak seperti ini. Tapi, calon istrinya sudah terlanjur emosi pada Raka.
"Tuh kan, kamu bikin make up ku kacau!" Davina mengeluh. Lalu dia mendelik secara dramatis ke arah Raka, lalu berkata, "Kalau kamu tetep mau nularin bad vibes ke sekitar kamu, mending kamu keluar deh!" Davina menunjuk pintu kamar pada Raka.
"Kok gitu?" Raka cemberut.
"Keluar!" Davina mengusir, lagi.
Akhirnya Raka mengalah saat melihat sang MUA mulai panik melihat ekspresi wajah Davina yang mungkin bisa mengganggu hasil maha karya-nya. Raka pun langsung cepat-cepat melangkah keluar dari kamar tersebut sebelum Davina malah jadi membatalkan pernikahan mereka karena keburu malas dengan tingkah Davina.
Begitu menutup pintu kamar, dia bertemu dengan Azel.
"Loh? Kenapa kamu belum siap-siap sih, Ka?" tanya sang ayah, kebingungan.
Raka menghela nafas, "Papa gak lihat langitnya? Gelap banget!"
Azel ikut menatap langit. Memang gelap. Tapi bukankah semua itu bukan masalah?
"Emang kalau hujan, kamu sama Davina batal nikah?"
"YA ENGGAKLAH!"
"Lah?! Terus… apalagi yang kamu tunggu? Pakaian gih!"
Raka malah bergeming. Azel gemas sendiri melihat kelakuan anaknya. Dia pun segera menarik Raka ke kamarnya sendiri.
“Papaaaa!!!” Raka merengek.
Azel tetap melakukan kewajibannya. Yaitu, menyadarkan sang anak!
Begitu tiba di kamar Raka, Azel langsung mengambil seluruh tuksedo lengkap sampai ke dasi, kemudian menyerahkan itu semua kepada Raka.
Namun, anaknya itu lagi-lagi bergeming.
“Raka!!!” Azel memaki.
Raka pun langsung cepat-cepat mengambil pakaian pernikahannya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu kenapa sih, Ka?!" Azel mengeluh dari luar, namun masih bisa terdengar oleh Raka.
Lagi-lagi Raka tidak tahu harus mengatakan apa, hanya bisa mengenakan seluruh pakaian pernikahannya dalam kesunyian. Sampai akhirnya, hanya tinggal tuksedo yang tidak bisa dia kenakan sendiri. Tuksedo itu benar-benar akan pas di badannya, jadi dia perlu meminta bantuan untuk mengenakannya!
Dia merutuk sebentar. Lalu, akhirnya berjalan keluar kamar mandi dengan penuh kekalahan.
"Perlu bantuan?" ledek Azel.
Raka menggedikkan bahu sambil menunjukkan tuksedonya.
Azel nyengir. Namun, tanpa banyak bicara lagi, dia segera mengambil tuksedo tersebut dari tangan anaknya. Kemudian, direntangkan beberapa senti dari punggung Raka.
"Wanna tell me what's going on?" tanya Azel, akhirnya, saat Raka memasukkan tangan kirinya.
(Mau kasih tahu Papa apa yang lagi kamu pikirin?)
Raka menghela nafas. Tetap tidak menjawab, malah melanjutkan untuk memasukkan tangan kanannya.
"I'm waiting..." kata Azel lagi, setelah Raka berhasil mengenakan tuksedonya.
(Papa nungguin loh...)
Raka pun berbalik, menghadap sang ayah. Azel harus mati-matian menahan rasa haru yang membuncah di dadanya. Anak yang rasanya baru kemarin merengek-rengek untuk diletakkan di pundaknya, sekarang sudah dewasa dan benar-benar siap untuk bertanggung jawab, tidak hanya hidupnya sendiri, namun juga atas hidup orang lain.
Azel tidak pernah punya kesempatan ini, sebab ayahnya telah lama meninggal dunia. Dan dia benar-benar bahagia bisa begitu sehat dan panjang umur untuk bisa menyaksikan hari bahagia Raka.
Di lain pihak, Raka sendiri disibukkan dengan banyak hal di kepalanya. Dia pun hanya menggedikkan bahu pada Azel.
"Raka takut," kata Raka, akhirnya.
"Takut kenapa?" Azel heran.
"Dua hari lalu, kita ketemu Nikolas. Terus, hari ini juga hujan melulu. Apa Raka lagi gak diizinkan semesta buat nikahin Davina ya karena pernah jahat banget?"
Azel menyembunyikan senyumnya. Keiblisan anaknya memang hanya bisa dihilangkan oleh Davina.
"Sekali lagi Papa tanya, kalaupun semesta gak ngizinin emang kamu batal nikahain Davina?"
Raka tertegun, barulah mengerti maksud sebenarnya dari pertanyaan papanya.
"Memangnya menurut kamu, hubungan Papa sama Mama dulu berjalan mulus? Memangnya kita gak ngalamin apa yang kamu bilang tadi... gak diizinin sama semesta?" Azel tersenyum miring.
Raka mengangguk, "Iya sih, Mama kan cantik, lebih muda lagi. Raka kalau jadi semesta juga gak bakal izinin Mama nikah sama kakek-kakek."
Azel menggerutu.
"Dunia tuh jauh lebih tentram kalau kamu gak pede deh, Ka."
Raka terkekeh, Azel mencibir. Namun, candaan mereka berhenti ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka. Nayla pun muncul dari balik pintu.
"Kalian darimana aja sih?!" Nayla mengomel.
"Aku kan harus bantuin anak aku pakai jas..." Azel cepat-cepat menjelaskan sebelum Nayla mengomel lebih panjang.
Nayla pun menoleh pada Raka. Dalam sekejap, airmatanya tergenang.
"Anakkuuuu..." Nayla terbata-bata. Azel langsung mendekap istrinya.
"Ma, jangan nangis dong! Acaranya bahkan belum mulai!" Raka mengeluh.
"Gak nyangka ada juga yang mau jadi istri anak iblis ini ya, Zel," kata Nayla, sambil menyeka airmatanya.
Raka tercengang karena perubahan mood mamanya. Dia kira mamanya akan terus terharus melihatnya akan menikah sebentar lagi.
"Davina lagi yang mau jadi istrinya, Nay." Azel menepuk-nepuk pundak Nayla. Benar-benar sikap sok terharu yang terlalu dibuat-buat.
Raka menggerutu. Namun, Azel dan Nayla segera memeluk Raka.
"Paaa... Maaa... Nanti Raka keringetan..." Raka mengeluh, tapi tidak berontak sama sekali. Kedua orangtuanya jelas tahu bahwa Raka sebenarnya tidak keberatan untuk dipeluk.
"Kamu baik-baik ya sama Davina. Jadi laki-laki yang bener, bertanggung jawab. Kalau ada masalah, diomongin. Jangan dipendam sendirian, terus malah jadinya dilampiaskan ke Davina." Nayla menguraikan nasihatnya dengan suara bergetar.
Raka mengangguk. Mereka sempat menunggu sang ayah untuk mengucapkan nasihat yang isinya akan kurang lebih sama. Namun, Azel tidak kunjung mengucapkan satu kata pun. Akhirnya, Nayla menyerah. Dia yang terlebih dahulu melepaskan pelukan, disusul dengan Raka.
Nayla memasangkan dasi Raka setelah itu. Dia berusaha keras untuk menahan airmatanya. Namun begitu dasi tersebut terpasang sempurna, Nayla tidak kuasa menahan rasa harunya. Dia pun menitikkan airmata.
Raka terenyuh. Betapa ibunya ini sangat mengasihi dia. Sambil mengusap airmata di pipi Nayla dia berkata, "Ini hari bahagia, Ma. Jangan malah nangis."
"Ini airmata bahagia," jawab Nayla.
Raka tersenyum. Agar suasana tidak terlalu mengharu biru, dia segera beralih pada kaca untuk mengamati diri sendiri.
"Gila! Raka ganteng banget!" Raka memuji diri sendiri.
Nayla langsung geleng-geleng, Azel tertawa.
Azel dan Raka mengamati Nayla yang sedang berjalan keluar kamar.
"Yang begitu tuh gak ada duanya," gumam Azel sambil tersenyum.
Raka terkekeh, "Baru juga mewek. Eh, beberapa detik kemudian udah kepikiran mau foto-foto."
Azel mengangguk. Lalu beralih untuk memandang Raka.
"Papa gak ada nasihat buat Raka?" tanya Raka, akhirnya.
Azel menggeleng.
"Pernah kehilangan orang yang kita cintai udah cukup jadi pelajaran besar. Dan Papa yakin untuk ke depan, kamu bakal melakukan seluruh hal yang terbaik untuk Davina."
Raka nyengir, sementara Azel menepuk bahunya.
"Ya udah! Yuk keluar, sebelum Mama kamu ngamuk."
Ayah dan anak tersebut pun melangkah keluar dari kamar tersebut dengan tangan sang ayah tersampir di pundaknya.
***
Kali ini Raka menunggu dengan tenang di ruang tengah villa dengan beberapa keluarganya. Dia bahkan diam-diam sempat mengintip sebentar ke jendela. Dan, ternyata masih hujan juga. Tapi, Raka tidak mau kalah lagi dengan kekhawatirannya. Dia langsung cepat-cepat geleng kepala. Tidak ada masalah, jika nanti hujan tetap tidak berhenti, venue pemberkatan bisa dengan mudah dipindahkan ke dalam villa. Toh, pernikahan yang mereka langsungkan benar-benar privat, hanya dihadiri keluarga inti dan sahabat-sahabat dekat.
"Gimana, Ka? Kita pindahin ke dalam aja?" Tiba-tiba Dave menghampiri Raka.
"Nanti aja, Pa," jawab Raka, enteng.
Melihat ketenangan Raka, Dave kebingungan, "Hah? Kamu yakin?"
"Yakiiiiin! Foto dulu yuk, Pa?" Raka malah merangkul Dave. Sang calon mertua hanya pasrah, mengikuti keinginan Raka. Keakraban antara calon menantu laki-laki dan calon ayah mertua satu ini memang tidak biasa.
Mereka sempat berpose beberapa kali di depan fotografer. Lalu, sesuatu mengalihkan perhatian mereka. Beberapa orang berdecak kagum, pandangan mereka bertumpu pada satu titik.
Raka mengikuti pandangan orang-orang tersebut.
Dan berdirilah Davina di ujung tangga lantai dua, dengan gaun putih dan make up sederhana. Cantik. Davina selalu berhasil memukau siapapun, bahkan dengan kesederhanaannya. Bahkan Raka, yang hampir seumur hidupnya sudah mengenal Davina, kehabisan kata-katanya. Davinda tidak hanya cantik, Davina indah.
Davina tersenyum tulus pada Raka. Dan segala hidup Raka, segala penantian, segala pencarian, berhenti. Segalanya memang selalu berhenti di Davina.
Selagi memandangi Davina, Raka menyadari sesuatu di kaca jendela, di belakang Davina. Hujan telah berhenti. Sekejap saja. Begitu mereka berdua bertemu. Seakan semesta akhirnya merestu. Raka lega luar biasa.
Sementara Davina, segala sesuatu menjadi tidak tampak lagi karena matanya telah berfokus sepenuhnya pada sang calon suami. Raka. Cinta sejatinya. Bila diingat lagi, dia pernah ada di momen ini, tapi dengan orang berbeda. Dulu dia begitu gugup. Namun, kali ini berbeda. Segala sesuatu rasanya begitu tepat. Bahkan jika bukan karena gaun dan sepatu hak tinggi, sepertinya dia akan segera berlari ke pelukan Raka saat ini.
Dan seperti tahu keinginan anak perempuannya, Diana langsung menahan tangan Davina, lalu memberikan kode bahwa anaknya tidak boleh melakukan hal yang sedang dipikirkan. Davina tersenyum kecil. Mamanya memang sungguh sangat mengerti dirinya.
"Hebaaat! Hujannya berhenti!" kata Nayla terkagum-kagum melihat langit yang tiba-tiba cerah.
Davina tersenyum jahil pada Raka, seperti mengatakan, "Apa aku bilang?"
Raka hanya terkekeh pelan karena bisa menangkap maksud Davina.
"Kita mulai aja?" Sang pendeta bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari villa, diikutin beberapa orang.
Sebelum melangkah mengikuti orang-orang, Raka menggumamkan sesuatu untuk Davina, "A bientot!"
Davina tersenyum. Kalimat familiar dari Raka yang sangat dia sukai.
Raka pun melangkah terlebih dahulu ke venue pernikahan. Semua tamu sudah duduk manis di bangkunya masing-masing. Dan di pintu masuk venue berdiri seseorang yang punya peranan paling penting dalam hubungan Davina dan Raka.
Dialah Rara. Orang yang dipilih Raka untuk mengantarkannya ke altar. Menurut Raka, sang kakak adalah yang paling pantas. Jika tidak ada restu sang kakak, tidak akan ada yang mau menolong dia, Raka akan tetap terpuruk dalam penyesalan selamanya.
"How do I look?" tanya Raka pada sang kakak.
(Gimana penampilan gue?)
"Gantengan suami gue," jawab Rara, seadanya.
Raka terkekeh.
Rara melihat sedikit kerutan di kerah kemeja Raka, maka dia menyempatkan diri untuk merapikan pakaian adiknya itu.
"Thanks, Kak."
"Hm."
"Beneran."
Rara menengadah, bertemu mata dengan Raka.
"Thanks for everything."
(Terima kasih buat semuanya.)
Rara diam-diam terenyuh. Adiknya benar-benar sudah dewasa. Dia sudah siap membuka lembaran baru dalam hidupnya. Dia pun menepuk bahu Raka, sambil berkata, "Jaga Davina."
"Pasti."
Rara mengangguk.
Mereka pun menghadap ke dalam venue.
"Are you ready?" tanya Rara.
(Lo udah siap?)
Raka mengangguk.
Rara menggandeng tangan sang adik, lalu mereka berjalan bersisian menuju altar. Rara benar-benar merasa terhormat diberikan kesempatan ini. Mengantarkan Raka ke sebuah tingkat kedewasaan baru.
Begitu tiba di altar, Rara hampir tidak bisa menahan airmatanya.
"Thanks, Kak. Sekali lagi," kata Raka.
Rara cepat-cepat melepas tangannya sebelum airmatanya menetes lebih deras. Dia hanya bisa menepuk bahu Raka, lalu duduk di bangkunya. Selalu menjadi yang paling pendiam, dan paling rapat menutupi seluruh perasaannya. Itulah Rara.
Dan Raka bersyukur sekali punya kakak semulia Rara.
Musik pun berubah lebih melembut, lebih mengalun.
Raka pun berbalik memandang pintu masuk.
Dan, berdirilah disana Davina digenggaman sang ayah.
Seluruh perasaan haru membuncah di hati Raka. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tanpa wanita yang akan dinikahinya ini. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa keputusannya untuk mengacaukan pernikahan Davina dulu adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Sementara Davina...
Dia melihat seluruh dunianya pada laki-laki yang sedang menunggunya di altar. Tempatnya nanti berteduh. Rumahnya. Temannya menghabiskan seluruh sisa waktu hidupnya.
"Yuk, Dav?" Dave menyadarkan Davina.
"Iya, Pa," jawab Davina dengan suara serak, berusaha tidak menangis sebelum acara.
Dave menyodorkan lengannya pada Davina. Sang putri menggandengnya. Lalu, mereka pun berjalan perlahan menuju altar.
Sekeliling Davina menjadi samar. Dia tidak peduli pada hal-hal lain. Dalam pandangannya hanya ada Raka. Laki-laki yang sudah ada di sepanjang hidupnya.
Dan akhirnya, mereka tiba di altar.
Dave menyerahkan tangan Davina pada tangan Raka. Dia pun berkata pada keduanya, "Kalian selalu bahagia ya."
Airmata Davina merembes. Raka tercekat.
Dave segera meninggalkan keduanya menuju tempat duduk sebelum membuat tampilan kedua pengantin kacau balau.
Raka dan Davina pun segera menenangkan diri, mereka menghadap ke altar. Sang pendeta pun segera memulai pemberkatan pernikahan itu.
Seluruh rangkaian acara terasa singkat, mulai dari puji-pujian lagu yang dinyanyikan bersama, khotbah yang berisi nasihat-nasihat pernikahan kepada Raka dan Davina, semuanya terasa begitu singkat. Meski Raka dan Davina sama-sama berusaha menikmatinya sebaik mungkin, merekam detik demi detik saat ini agar selamanya tertinggal dalam ingatan.
Dan yang terbaik dari seluruh rangkaian acara tersebut...
Saat sang pendeta memberi arahan kepada Davina untuk maju ke altar untuk mengucapkan janji pernikahan mereka, tiba-tiba matahari muncul menyinari mereka.
Raka dan Davina sempat terpana.
Lagi-lagi.
Seakan alam sedang berbisik, "Silakan bersatu, dunia telah merestu..."
Raka tersenyum, menggenggam tangan Davina. Mengamati wajah wanita cantik di hadapannya yang tertimpa sinar matahari.
"Davina Elisabeth Mahardhika..." panggilnya.
Davina tersenyum.
"Devni..." panggil Raka sekali lagi.
Davina terkekeh.
"Terima kasih telah datang di hidupku, telah selalu ada di seumur hidupku. Kamu adalah hal terbaik. Dan hari ini, aku berjanji, di sisa hidupku, aku akan mencintai kamu sepenuh hati, akan membahagiakan kamu dengan seluruh upayaku. Dan aku berjanji akan selalu ada untukmu, baik sehat maupun sakit, senang maupun sedih, kaya maupun miskin, selamanya... sampai maut memisahkan kita." Raka menyelesaikan janjinya dengan lancar, mantap, sambil memasangkan cincin di jari manis Davina. Segala yang terucap memang sudah terpatri teguh di hatinya. Tidak ada keraguan sama sekali.
Lalu, tibalah giliran Davina.
"Elraka Aditya..." Suaranya bergetar saat memanggil nama itu.
"Kekasih hatiku..."
Raka tersenyum.
"Terima kasih juga telah menjadi pelajaran terbesar sekaligus menjadi cinta sejati dalam hidupku. Kamu adalah yang terkasih, maka hari ini aku berjanji, di seluruh hidupku, akan selalu mencintai kamu, memberikan yang terbaik, menjadi pendukung terbesar untukmu... dalam segala keadaan, dalam segala kesusahaan, dalam segala kesenangan, aku berjanji akan bahagia berada di sisimu, dan kuharap kamu juga akan sama bahagianya denganku, selamanya... sampai maut memisahkan kita."
Janji yang manis.
Dua insan yang saling mencintai itu pun memateraikan janji pernikahan itu dengan sebuah ciuman. Yang akan mengikat. Selamanya. Atau seperti yang mereka janjikan... sampai maut memisahkan.
TAMAT
***
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengikuti kisah Raka dan Davina sejak awal. Maaf harus menunggu sangat-sangat lama untuk bab terakhir ini. Makanya aku sengaja panjangin biar kalian puas bacanya.
Kalau berkenan silakan mampir di karyaku yang lain ya, love you, ditunggu kritik dan sarannya di kolom komentar. Sampai ketemu di karyaku selanjutnya 🤗
IG : @ingrid.nadya