Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Sebuah Hukuman Bagi Yang Tergoda



Raka pun beranjak setelah menutup pintu dengan sempurna. Namun, tak lama kemudian pintu malah terbuka lagi.


Raka segera berbalik dan menemukan Davina sudah berdiri di hadapannya dengan wajah memerah.


“KAMU SALAAAAH!” kata Davina. Jari telunjuknya menuding Raka, suaranya juga membentak laki-laki itu dengan lantang.


Raka mengernyit.


“Aku tarik kata-kataku tadi! Memang kamu yang salah di hubungan kita dulu! Selalu kamu yang salah! Kamu jadi pengecut waktu kita dihadapkan sama hubungan jarak jauh! Kamu jadi pengecut waktu hubungan kita penuh masalah!” Davina terus memaki. Sekarang tidak hanya wajahnya yang memerah, bahkan seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah yang membuncah tiba-tiba.


Raka kesulitan untuk menjaga ekspresi wajahnya. Meski Raka tahu bahwa Davina sedang meluapkan seluruh amarah terpendamnya selama ini, tapi yang ingin dia lakukan saat ini justru adalah memeluk wanita kesayangannya ini. Davina selalu terlihat begitu menggemaskan saat marah-marah. Ibarat gonggongan mini pomerian atau red toy poodle yang justru malah ingin membuat kita ingin menguyel-uyel gemas wajah mereka…


Well, Raka sebaiknya tidak pernah memberitahu rahasia ini. Bahwa dia baru saja mengibaratkan Davina seperti anjing kecil, yang meski lucunya luar biasa, mereka tetaplah seekor binatang.


Raka sebaiknya fokus pada Davina. Sebab wanita itu seperti akan meneruskan pidato panjangnya.


Dan benar saja…


“Terus sekarang, apa yang kamu harapkan, Ka? Kamu datang lagi, ngerusak semuanya, semua kebahagiaan yang udah cape-cape aku bangun setelah kamu hancurin–“


Belum sempat Davina menyelesaikan kalimatnya, Raka langsung memotong. Setan memang tidak bisa melihat celah sedikit pun, begitu melihat kelemahan manusia, dia akan mengambil kesempatan sebaik mungkin.


“Kalau kamu balik sama aku, kamu gak perlu cape-cape bangun kebahagiaan kamu, Devni. It just comes naturally. Karena aku kebahagiaan kamu, dan kamu juga kebahagiaan aku,” kata Raka, mantap. Tidak ada keraguan sama sekali. Seperti yang sudah-sudah.


Selalu manis, mulut manis yang penuh racun untuk hati Davina.


Wanita itu langsung menggeleng kepala dengan tegas, “Bullshit!!!”


Raka malah tersenyum miring, seperti meremehkan.


Dan melihat semuanya itu, Davina sekonyong-konyong tersadar.


Raka sama sekali bukan sang buah terlarang.


Jika mau diibaratkan sebagai kisah penciptaan manusia, ada satu peran yang ternyata lebih cocok untuk Raka dibandingkan hanya sebuah buah terlarang penuh godaan.


Raka adalah bentuk nyata dari sang iblis, yang memaksanya terjerumus masuk ke dalam godaan tersebut. Yang terus menerus membisikkan ide gila di hatinya. Yang terus menerus mencoba meyakinkan bahwa apa yang dia tidak miliki adalah apa yang dia butuhkan.


Dan mau tahu apa yang lebih sadis dari semua itu?


Bahwa…


Sang buah terlarang…


Justru adalah keinginannya sendiri.


Keinginannya untuk kembali bersama Raka. Keinginannya untuk kembali merasakan pelukan hangat, seperti yang tadi mati-matian dia tolak di dalam kamar. Keinginannya untuk kembali menjadi seseorang yang dicintai oleh Raka sepenuh hati.


Bahkan Davina sudah tidak bisa mempercayai hatinya sendiri.


Bukankah dia sudah berjuang jatuh bangun untuk sampai di posisi ini? Sampai dia bisa berdiri tanpa perlu pegangan pada seseorang yang tidak bisa diandalkan seperti Raka? Yang selalu membiarkannya jatuh, pecah berantakan. Sendirian.


Selagi Davina sibuk dengan pikirannya sendiri, Raka berjalan mendekat. Jarinya menempel di dahi Davina begitu saja.


“Devni…” panggilnya.


Davina tersentak.


“Jangan mikir yang berat-berat!” kata Raka, lagi.


Davina hendak membuka mulut lagi. Tapi Raka langsung menahannya.


“Aku disini bukan untuk bikin kamu pusing lagi. Aku disini untuk nunjukin ke kamu kalau aku nyesal. Aku bodoh. Dan aku dulu memang cuma omong besar…” Tangan Raka kini sudah bermain-main di bingkai wajah Davina, mengelus wajah cantik itu dengan penuh perasaan.


“Tapi aku minta kamu lihat aku yang sekarang, Devni.”


Davina tidak menjawab. Pun menolak.


“Aku benci sama kamu yang sekarang!” kata Davina.


“Kenapa? Karena justru bikin kamu lebih jatuh cinta dari yang dulu-dulu?!”


Sesungguhnya, dia sudah mulai ragu dengan motifnya mengkonfrontasi Raka secara langsung seperti ini. Sepertinya kejadian di kolam renang semalam, kejadian di dalam kamar barusan, segala kilasan kenangan masa lalu yang memabukkan, membuatnya jadi tidak bisa berpikir jernih. Apakah dia justru ingin mendengar semua ini dari Raka? Apakah dia ingin diyakinkan… bahwa Raka masih… menginginkannya?


Davina cepat-cepat menghempaskan tangan Raka dari wajahnya.


“Gak tahu malu!” makinya. Meski mengatakannya tepat ke depan wajah Raka, Davina justru sedang memaki diri sendiri.


Dia adalah wanita yang bertunangan. Seharusnya bahkan sudah menikah. Dan apa yang dia lakukan saat ini dengan laki-laki lain?


Di depan kamarnya.


Membicarakan masa lalu.


Membuat laki-laki lain ini malah menjanjikan masa depan yang… dia… ternyata inginkan juga.


“Konyol!” kata Davina, lagi, seperti tidak juga puas memaki diri sendiri.


Raka mengangguk, bersiap menerima semuanya itu, “Aku memang konyol, Devni…”


Davina beralih menatap wajah Raka.


“Semuanya ini… gak bakal terjadi kalau aku gak bertingkah konyol dulu…”


Davina diam saja, tidak menjawab.


Faktanya, semua sudah terjadi.


Raka meninggalkannya berdarah-darah.


Pun Davina, tidak berusaha menyelamatkan Raka dari lubang hitam rasa bersalah dan ketidakberdayaan.


Dan ketika semua sudah berubah menjadi baik-baik saja seperti sekarang, bukankah konyol jika mereka masih menginginkan keberadaan masing-masing di hidup mereka? Mereka tidak pernah lulus menghadapi ujian berat, apa yang membuat mereka berani berpikir bahwa ada masa depan untuk mereka?


“Devni… Please…”


Ya, Davina tidak akan pernah membenci panggilan itu.


“What about now?” tanya Raka, lirih.


Bagaimana dengan sekarang?


Sungguh pertanyaan yang sia-sia. Sebab semua orang tahu jawabannya, bahkan Raka sendiri sekali pun. Namun si pemilik jawaban tidak akan pernah membiarkan kalimat itu terlepas dari mulutnya.


Apalagi…


Ketika seseorang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


“Davina!!!” panggil Rara. Wajahnya luar biasa pucat.


Firasat Davina langsung tidak enak.


Dia sudah bermain-main di tepi jurang terlalu lama, maka jatuh adalah ganjaran yang masuk akal atas kebodohannya itu.


“Kenapa, Kak?” tanya Raka, karena Davina benar-benar kehilangan lisannya.


“Nikolas…” Rara terlihat ragu.


Dan Davina paham bahwa bagi mereka yang tergoda akan selalu disediakan hukuman yang setimpal. Seperti Hawa yang dihukum keluar dari Taman Eden. Begitu pun dia… harus dihukum… karena telah berani-berani tergoda pada sang iblis, untuk kesekian kali, tanpa jera, tanpa ampun.


“Nikolas kenapa?” Suara Davina asing.


“Nikolas… masuk rumah sakit…”


Davina menutup mata. Harusnya… dia tidak pernah tergoda lagi.


***


Yey, aku update! Mumpung semalam lagi sempat nulis. Terima kasih yaaaa komen-komen kalian, it really means a lot 🥲💜