
Rara menepikan mobilnya begitu melihat Davina sedang duduk di sebuah halte, tak jauh dari rumah Nikolas. Dia langsung menurunkan kaca mobil begitu tiba di hadapan Davina.
“Dav!” panggil Rara.
Begitu mendengar suara Rara, Davina segera berlari masuk ke dalam mobil.
“Pakai seat belt dulu.” Rara mengingatkan.
Davina mengangguk dan mengenakan sabuk pengamannya.
“Are you okay?” tanya Rara.
(Lo baik-baik aja?)
Davina hanya bisa menggeleng.
“Okay. Apa yang bisa bikin perasaan lo membaik?”
Davina menggeleng lagi, namun kali ini dia akhirnya mau bersuara.
“Gak tahu, Kak,” katanya.
Rara tidak banyak berkata-kata lagi, hanya melajukan mobil.
Tak lama kemudian, mobil sudah mengantri di barisan drive through sebuah restoran cepat saji. Saat mendapat gilirannya, Rara langsung memesan dua es krim bertabur oreo di atasnya.
Tak lama kemudian, mereka sudah mendapatkan pesanannya. Rara memberikan satunya pada Davina, lalu langsung menghentikan mobilnya di satu slot parkiran mobil restoran cepat saji tersebut.
“Kalau makannya disini, kenapa kita gak masuk ke dalam restoran aja, Kak?” tanya Davina, sedikit kebingungan.
Rara menggedikkan bahu, “Gak tahu. Udah kebiasaan aja daridulu. Kalau Papa Azel lagi galau, selalu bawa Kakak makan es krim kayak begini.”
“Emang Papa Azel bisa galau?”
“Bisa banget. Dia mah bucin nomor satu.” Rara meringis. Dia tidak akan pernah bisa melupakan masa-masa suram papanya.
Dan Davina akhirnya tertawa. Pelan. Tapi lumayan sedikit mengurangi kegusaran di wajahnya.
Rara pun jadi tersenyum. Tidak menyangka bahwa pembicaraan sederhana ini bisa menghibur Davina.
Setelah beberapa suap es krim, perlahan perasaan Davina benar-benar membaik. Dia tahu daritadi Rara menunggunya membicarakan apa yang terjadi padanya. Dia sampai harus meminta tolong Rara menjemputnya ke halte yang tidak jauh dari rumah Nikolas. Kalau dia jadi Rara, mungkin dia sudah tidak sabar memaksa dirinya sendiri untuk membuka mulut.
Tapi bagaimana memulai pembicaraan ini? Bagaimana mengurutkan semua kejadian yang dia alami hari ini? Terlalu banyak, terlalu memusingkan.
Maka, Davina akhirnya memutuskan untuk memulai dari yang pertama dia alami saja.
“Papa Azel ngelamar Mama Nay buru-buru gak sih, Kak?” tanya Davina.
“Bukan buru-buru lagi. Cuma butuh beberapa hari setelah mereka balikan.” Rara terkekeh.
Davina meringis, “Jadi ini udah mendarah daging?”
Tangan Rara berhenti menyendokkan es krim. Dia menatap Davina dengan mata yang membesar.
“Jangan… bilang…” Dia tidak berani meneruskan kalimatnya.
Davina meringis lagi, “Iya, tadi Raka ngelamar gue, Kak.”
Rara tidak percaya sama sekali dengan pendengadannya.
“Itu anak udah sinting apa gimana sih?” Rara memaki.
“Not a proper proposal, Kak. Gak ada cincin, gak ada kalimat will you marry me.”
“Lah? Terus?”
“Dia cuma bilang kalau dia gak pernah kepikiran soal pernikahan sama sekali, tapi gue selalu jadi pengecualian buat dia.”
“Anak setan!”
Davina menggedikkan bahu, seolah itu adalah hal remeh yang tidak membuatnya menggila tadi.
“Tapi lo nolak kan?” todong Rara.
“Ya iyalah, Kak. Kita semua tahu Raka belum siap dengan apa yang dia tawarkan.”
“Good point! Dia masih bocah banget, Dav.”
Davina mengangguk setuju.
Lalu Rara tersadar. Harusnya dia tidak mengatakan kalimat itu sama sekali! Dia harus mengoreksinya!
“Tapi bukan itu masalahnya, Dav! Lo kan udah mau married sama Nikolas!” Rara histeris.
Giliran Davina yang terdiam. Benar juga! Harusnya semua orang fokus pada hal itu! Bukannya ketidaksiapan Raka atas pernikahan!
Dengan munculnya topik Nikolas, Davina langsung teringat pada kejadian yang dia alami selama beberapa hari terakhir. Segala yang dia rasakan, rasakan dan sembunyikan di dalam hatinya.
Rara dapat menyadari perubahan ekspresi Davina dan tahu persis bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
“Dav, kasih tahu gue apa yang terjadi,” kata Rara, tegas.
Air mata Davina menggenang, namun dia menggeleng.
“Dav, gue mau lo jujur!” Kali ini Rara menggunakan otoritas anak sulungnya. Dia perlu mengetahui apa yang benar-benar terjadi.
“Aku… udah gak yakin lagi sama Nikolas, Kak…” kata Davina, sejujur-jujurnya.
Dan seperti saudara yang selayaknya selalu ada saat dibutuhkan, begitu pun Rara ingin selalu ada untuk Davina.
Dan seluruh cerita pun mengalir begitu saja dari Davina. Dia sadar, di hadapan Rara, sudah tidak perlu ada yang disembunyikan lagi. Bahkan Rara sudah melihatnya di saat-saat terburuknya dulu. Jadi, di saat-saat dia sudah menjadi lebih kuat seperti sekarang ini, kenapa dia perlu menutupinya?
***
Rara dan Davina berjalan masuk ke dalam rumah Mahardhika bersisian. Rara merangkul adiknya itu sampai ke dalam pintu.
“You’ll be okay. You’ll know what your heart wants, Dav,” kata Rara.
(Lo bakal baik-baik aja. Lo bakal tahu apa yang hati lo mau, Dav.)
Davina mengangguk, “Thanks, Kak.”
Rara mengangguk, lalu melepas rangkulannya.
Mereka pun berjalan melewati ruang keluarga. Dan mereka terkejut saat melihat seseorang sudah duduk manis disana.
“Hai.” Raka tersenyum lebar.
“Gue penasaran, ini orang setan apa hantu sih.” Rara meringis.
“Hey, I’m your brother!” Raka tidak terima.
(Hey, gue kan adik lo!)
“Bukan. Lo tuh antek-antek syaiton!”
Raka mencibir, tidak berniat membalas Rara lagi. Dia menoleh pada Davina yang daritadi hanya diam. Mata Davina terlihat sembab, pasti habis menangis. Ada apa dengan Davina?
Davina sendiri langsung merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu oleh Raka. Dia segera pamit undur diri dari ruang keluarga, “Davina cape. Davina tidur dulu ya.”
Dave mengangguk. Raka langsung panik begitu Davina menghilang.
“Pa, kok anaknya disuruh pergi sih? Kan aku kesini bukan cuma untuk nemenin Papa nonton bola!” Raka ngambek.
Dave tertawa lagi. Raka memang sudah kurang ajar sejak dulu padanya. Sifatnya ini sudah dianggap jadi hiburan untuk Dave.
“Ya kejar aja sih kalau mau ketemu anaknya lagi,” kata Dave.
“Beneran boleh?” Raka dibuat cukup kaget.
Dave menggedikkan bahu, yang diartikan Raka sebagai persetujuan.
Dia pun menoleh pada Rara. Matanya dibuat memelas mungkin. Anehnya lagi, Rara hanya menghela nafas.
“But don’t ever hurt her again,” kata Rara.
(Tapi jangan pernah sakitin dia lagi.)
“Gak bakal lagi.”
“Okay. Go!”
Raka tersenyum lebar, lalu langsung berlari mengejar Davina.
Dave melirik Rara begitu Raka menghilang.
“Tumben kamu dukung Raka,” kata Dave.
Rara duduk di sebelah Dave, lalu menyandarkan kepalanya di bahu ayah tirinya itu.
“Kayaknya aku berpihak ke Raka sekarang.”
Dave tertawa, “Dunia bener-benar mau kiamat apa gimana sih.”
Rara menghela nafas, “Kayaknya bentar lagi, Pa. Siapa yang nyangka kita lebih berpihak ke setan sekarang?”
Dave tertawa lagi, hanya bisa mengusap-usap lengan Rara.
***
Raka terus berlari mengejar Davina. Untung saja, wanita kesayangannya itu masih berjalan di lorong menuju kamarnya.
“Devni!”
Dia menarik tangan Davina dan menahannya.
Davina kaget, segera berontak.
“Lepasin aku!” Davina histeris.
“Enggak! Sampe kamu bilang kamu kenapa.”
“Bukan urusan kamu!!! Lepasin!!!”
“Devni…”
“Jangan ganggu dulu, bisa gak sih!!!”
“Gak bisa.”
Davina menggeram, “Lepasin gak? Kalau gak–“
“Kalau gak aku lepasin, emang kamu bisa apa sih, Devni?” Raka menantang Davina.
Amarah Davina langsung memuncak. Kenapa semua orang selalu menyepelekannya sih?
Dia tidak mau hal ini terjadi lagi! Dia berhak untuk tidak dipandang rendang!
Seketika, dia tiba-tiba teringat satu hal yang pernah diajari oleh Dave untuk menjaga diri dari serangan laki-laki berbahaya.
Davina mengangkat kakinya, lalu menendang tulang kering Raka sekuat-kuatnya.
“AWWW!” Raka menjerit, kesakitan.
Tangan Davina langsung terlepas.
Dia mempergunakan kesempatan itu untuk berlari menuju kamarnya.
“Salah sendiri!!! Kan aku udah bilang, jangan ganggu dulu!!!”
“Devni…” Raka berjalan terseok-seok menuju kamar Davina.
Tapi…
“BRAK!!!”
Davina membanting pintu di depan wajahnya.
Raka terpelongo.
Davinanya yang terbiasa bersikap lembut. Davinanya yang bahkan tak pernah mengucapkan kata-kata kasar…
Menendang dan membanting pintu di hadapan wajahnya???
“Devni,” panggil Raka, lagi.
“Aku bilang, PERGI!!!” jerit Davina.
Dan jeritan itu menyadarkan Raka. Sekonyong-konyong, senyum malah terhias di wajahnya.
Sungguhlah benar…
Setan harusnya tidak diberikan tantangan sebesar ini.
***
IG : @ingrid.nadya