
Selama Raka berada di Paris, baik Raka maupun Davina sama sekali tidak pernah membahas tentang kepulangan Raka. Atau tentang hubungan jarak jauh. Atau bagaimana mereka melewati jarak yang membentang berpuluh ribu kilometer di antara mereka setelah ini.
Tanpa perlu mendiskusikan apapun, mereka seperti sepakat hanya ingin sibuk dengan kebahagiaan mereka saat ini. Seakan enggan untuk membicarakan kesusahan selanjutnya.
Seperti malam ini, Davina mengajak Raka untuk berjalan melewati Berge de Seine. Tempat yang selalu jadi pelarian Davina selama dua tahun terakhir.
Di dalam ingatannya, Berge de Seine adalah tempatnya untuk melupakan Raka. Namun, setelah Raka kembali ke kehidupannya, dia ingin menciptakan sebuah memori baru.
Mereka berdiri di tepi jembatan.
“Dingin banget,” keluh Raka sambil memeluk dirinya sendiri. Kalau bukan demi Davina, dia tentu saja lebih memilih mendekam di balik selimut saat ini.
Davina menoleh pada Raka. Dia sudah lumayan terbiasa dengan musim dingin di Paris, namun Raka pasti begitu tersiksa saat ini.
“Sini, aku peluk.” Davina merentangkan tangan.
Seperti anak kecil yang merindukan pelukan ibunya, Raka berjalan dengan pasrah ke arah Davina. Giginya bahkan sampai bergemeletukan.
“Uuu, dingin ya?” Davina mengeluarkan suara anak-anak begitu Raka masuk ke dalam pelukannya.
Raka hanya mengangguk.
“I love you, Elraka,” kata Davina sambil terkekeh.
Oke. Sedingin apapun cuaca saat ini, seingin-inginnya Raka pulang dan menyalakan mesin penghangat di apartemen, untuk ini sajalah dia sekarang lebih memilih berdiri di atas jembatan ini. Untuk Davina.
Raka menyampirkan tangannya di punggung Davina, bibirnya bergetar saat mengatakan, “This... is... so... cold... but... I... love... you... too... Davina... Elisabeth... Mahardhika...”
Davina tersenyum. Ternyata dia sangat menyukai bagaimana Raka melafalkan nama lengkapnya. Dan ini sudah cukup. Hanya pelukan dan ungkapan cinta dari Raka saja sudah cukup untuk memberikan kenangan baru untuk Davina di tempat ini.
“Udah.” Davina melepas pelukannya.
“Yuk pulang?” Kini dia mengulurkan tangan pada Raka.
“Hah? Udah? Gini aja?” Raka tidak terima. Dia keluar dan hampir mati membeku seperti ini, hanya untuk berdiri di atas jembatan asing ini tidak lebih dari sepuluh menit???
Davina terkekeh. Dia memeluk lengan Raka, “Kenapa protes sih? Emang mau ngapain lagi?”
“Mau... ini...” Raka menunduk lalu mengecup singkat bibir Davina.
Davina terpelongo. Bibir Raka terasa dingin, namun berhasil menghangatkan hatinya. Wajahnya langsung memerah.
“Rakaaa! Ini kan tempat umum!” Davina memukul dada Raka.
Raka terkekeh, “Ini... bukan... Indonesia... Devni.”
Davina hanya bisa geleng-geleng. Bahkan saat sedang kedinginan pun, Raka tetap saja tengil. Daripada dia semakin melakukan hal yang iya-iya, lebih baik Davina menariknya menuju apartemen.
***
Tanpa terasa, tibalah hari Raka pulang ke Indonesia. Davina terbangun di pagi hari dengan perasaan yang hampa. Dia mengamati Raka yang masih tertidur nyenyak di sebelahnya.
Sebentar lagi, laki-laki ini akan pulang...
Tidak berada di sisinya lagi.
Dia mencoba mengenyahkan kesedihan yang tiba-tiba timbul. Dia tidak ingin terlihat sedih selama Raka masih disini.
Dia bergelung ke tubuh Raka.
“Hm?” Raka terbangun. Refleks tangannya melingkupi tubuh Davina.
“Pagi...” sapa Raka dengan suara serak, ditempelkannya bibirnya di kening Davina.
“Pagi,” jawab Davina.
Mereka bergelung lebih lama di atas tempat tidur pagi ini. Tanpa pembicaraan apapun. Keduanya hanya saling menikmati keberadaan masing-masing. Raka membelai rambut Davina berkali-kali, sesekali menenggelamkan wajahnya di wangi rambutnya. Davina sendiri hanya memeluk pinggang Raka dengan erat, merasakan detak jantung yang berirama.
Sampai akhirnya, mereka terpaksa beranjak dari tempat tidur. Beberapa jam lagi Raka akan pergi. Davina mengalah, Raka perlu bersiap-siap.
Davina segera memasakkan makanan untuk Raka. Sementara Raka sibuk memasukkan seluruh pakaian yang dibawanya ke dalam backpack.
Setelah selesai berkemas, dia pun berjalan ke arah dapur, mendapati Davina sedang duduk melamun dengan tatapan kosong. Dia menghela nafas pelan. Sama seperti Davina, sebenarnya dia pun tak rela harus pergi. Namun dia masih punya masa kuliah dua tahun lagi. Semoga mereka baik-baik saja selama dua tahun ke depan.
Dia pun melangkah kepada Davina setelah meyakinkan diri.
“Kamu masak apa hari ini?” tanya Raka, sengaja mengacak rambut Davina, agar wanita itu menyadari kehadirannya.
“Pancake,” jawab Davina singkat.
Raka duduk dan langsung melahap pancake-nya.
“Hari ini gak ada latihan?” tanya Raka.
“Ada, ntar sorean.”
Raka mengangguk. Tanpa dia sadari, Davina sengaja datang ke sekolah baletnya hari ini meskipun tidak ada kelas, agar dia tidak perlu pulang ke apartemen yang kosong nantinya. Bahkan dia sudah berencana untuk menginap di apartemen Yuni.
“Kamu mandi gih,” ucap Davina setelah Raka menghabiskan makanannya. Davina segera mengambil piring Raka dan mencucinya. Tapi bukannya segera mandi, Raka malah memeluk Davina dari belakang.
“Masa gak kangen?”
“Jangan genit-genit sama cowok lain ya.”
Davina terkekeh, “Bukannya kebalik?”
Raka merengut.
“Mandi gih, nanti telat. Papa Azel gak bakal brliin kamu tiket baru kalau kamu gak pulang hari ini.”
Raka mengeratkan pelukannya. Dia mencium bahu Davina lama. Seperti ingin menyimpan dalam ingatan bagaimana wangi tubuh Davina.
Keduanya berusaha tidak goyah. Keduanya berusaha untuk tegar. Bukankah jarak jadi tidak berarti untuk seseorang yang sangat berarti?
***
Bandara selalu memiliki banyak kisah tersimpan. Ada ayah yang melepas anaknya pergi. Ada seorang istri yang melambaikan tangan pada suaminya. Ada anak yang terisak-isak karena ibunya harus pulang ke kampung halaman.
Dan Davina dan Raka menambah kisah lain di Paris-Charles de Gaulle Airport hari itu.
Raka terus menggenggam tangan Davina.
“I hate to go,” keluh Raka, akhirnya, begitu mereka tiba di depan boarding gate.
Davina tersenyum kecil. Raka pun beralih, berdiri menghadap Davina, memandang dalam-dalam mata wanita kesayangannya. Mereka pernah ada di posisi ini, dua tahun lalu, di Bandara Soekarno Hatta. Tapi saat itu, Raka sudah siap untuk melepaskan Davina.
Sekarang...
Semuanya telah kembali ke tempatnya semula. Davina kembali menjadi orang yang paling Raka sayangi di dunia ini.
Namun, dia tetap harus pergi.
Dia menggenggam kedua tangan Davina.
Belum apa-apa, airmata Davina sudah menggenang. Dia tidak suka ini! Dia benci perpisahan!
Rasanya seperti ditampar kuat-kuat, disadarkan bahwa Raka sebentar lagi akan benar-benar pergi. Betapa seluruh hatinya ingin meneriakkan agar Raka tetap disini bersamanya. Namun, mereka kan masih punya kewajiban mereka masing-masing.
“Jangan nangis dong!” Raka mengusap airmata Davina yang menetes satu per satu.
Davina hanya menggeleng.
“Devni, jaga kesehatan ya... Aku suka kalau kamu berlatih keras buat kejuaraan balet. Tapi jangan sampe telat makan dan pulang kemaleman terus. Aku gak bisa jemput kamu lagi, jadi selalu ingat waktu pulang ya.”
Davina mengangguk.
“Bentar lagi Papa Dave sama Mama Dee datang kok. Kamu jangan kesepian ya. Main sama temen-temen kamu disini. Kalau kangen, kamu tinggal video call aku.”
Davina mengangguk lagi.
“Aku pergi, tapi gak bakal kemana-mana kok. I’m all yours, Devni.”
Airmata Davina jatuh lagi.
“Kamu gak ada yang mau dibilang sama aku?” tanya Raka.
“Ma-u, ta-pi...” Davina berbicara tersendat-sendat karena tangisan.
Raka segera memeluknya.
“Udah, gak apa. Gak usah ngomong. Aku tahu apa yang mau kamu bilang.” Raka menepuk-nepuk punggung Davina.
“I’ll be back in the blink of eye,” kata Raka, malah membuat Davina semakin tercekat.
Dibiarkannya wanita kesayangannya itu menangis di dadanya selama beberapa saat. Menuntasan seluruh kesedihannya.
Sampai akhirnya, pesawatnya sudah benar-benar dipanggil melalui pengeras suara.
“I have to go,” kata Raka.
Davina mengangguk, lalu melepas Raka.
Tapi Raka menahannya. Dia mencium pipi Davina, lalu berbisik di telinganya, “À bientôt, Devni...”
See you very soon...
Itulah janji Raka untuk Davina.
Lalu Raka melepaskan Davina dari pelukannya dan berjalan ke boarding gate.
Davina melambai pada kekasih hatinya itu. Meski rasanya separuh jiwanya pergi siang itu, namun Raka sudah berjanji akan menemuinya lagi dalam waktu dekat. Dia akan berpegang teguh pada janji itu.
Sebab dia yakin, Raka takkan mengecewakannya dua kali kan?
***