Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Di Tepi Jurang



“Ka, lo tadi harusnya nunggu Davina jelasin dulu,” kata Julia, saat wajah Raka – yang sedang menyetir di sebelahnya – mulai tenang.


Mereka masih berada di perjalanan menuju kantor Omnya Albert. Dua puluh menit lamanya Julia membiarkan Raka sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk membahasnya.


Seorang teman harus mengingatkan temannya saat berbuat salah kan? Meskipun timingnya sebenarnya masih kurang tepat…


“We don’t have time, Jules…” Raka mengelak.


“We do! Nunggu lima menit bisa loh, sampai Yuni muncul aja.”


Cengkraman tangan Raka pada setir mobil mengeras. Dia hanya tidak bisa membayangkan jika lima menit berlalu dan Yuni benar-benar tidak muncul. Bagaimana kalau ternyata Davina memang pergi hanya berdua dengan laki-laki tadi??? Dia bahkan tidak tahu laki-laki itu siapa dan darimana…


Dia sedang tidak dalam kondisi cukup waras untuk membiarkan hal itu berlalu begitu saja. Bisa-bisa dia juga akan mengkonfrontasi laki-laki di hadapan Davina tadi. Bisa-bisa dia memukuli laki-laki itu dengan segila mungkin.


Seakan belum cukup saja satu kasus yang akan menjebloskan Raka ke penjara…


“Udah, Jules. Gak usah dibahas. Ini bukan urusan lo.”


Julia menghela nafas. Tentu ini bukan urusannya. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan kalimat Raka. Dia hanya merasa perlu mengatakan semua hal tadi. Itu saja. Kalau tidak diterima, ya sudah.


Suasana kembali hening.


Raka menyalakan musik untuk mengisi kekosongan. Untuk setidaknya membuat sesuatu yang lebih berisik dari pikirannya sendiri.


***


Mereka bertiga duduk menunggu di ruang tunggu Firma Hukum tersebut dengan perasaan was-was. Apalagi Raka.


Albert sampai melirik Julia karena sejak datang tadi wajah Raka sudah berubah drastis. Mereka mencoba berbicara dari lirikan mata. Namun, bagaimana Julia mengisyaratkan tentang perang dingin antara Raka dan Davina di kafe tadi seperginya Albert.


“Bert, tadi di bawah ada kafe. Temenin gue beli kopi dong.” Julia memelas.


“Eh, ya udah, boleh.” Albert akhirnya bangkit berdiri bersama Julia.


“Lo mau apa gak?” Julia menyentuh pundak Raka.


“Enggak deh.”


“Oke.”


Julia dan Albert pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Raka hanya bisa menghela nafas panjang. Dia mengerti sekali dua temannya itu pergi untuk membicarakan kejadian di kafe tadi. Jadi, dia membiarkannya saja. Dia malas harus repot-repot menjelaskan pada Albert bahwa dia tidak lagi bisa menjaga ekspresinya saat ini bukan hanya masalah Creature saja.


Sepertinya kepala Raka rasanya memang akan pecah sebentar lagi!


Dan seperti menambah beban pikirannya saat ini, ponselnya bergetar lagi untuk kesekian kalinya. Nama Devni muncul lagi di layar.


Dia mengabaikan panggilan telepon tersebut. Sejujurnya dia bukan sedang lari dari masalah. Dia hanya memberi waktu untuk dirinya sendiri menenangkan hatinya.


Tadi saja dia sudah berkata kasar pada Davina. Bagaimana kalau sekarang dia dipaksa menjawab telepon ini? Dia takut mengatakan sesuatu yang akan dia sesali lagi.


Raka tidak pernah menjadi pintar dalam mengekspresikan maksudnya yang sebenarnya. Dia adalah laki-laki tolol yang suka lupa mengerem mulutnya saat keadaan hatinya sedang tidak baik. Selalu, dan tidak akan pernah berubah.


Tak lama kemudian, Albert dan Julia kembali.


“Nih.” Julia memberikan segelas signature chocolate pada Raka.


“Gue gak pesen!” Raka menolak.


“Udah, minum aja. Orang stres tuh butuh yang manis-manis.” Julia mencoba mencairkan suasana.


Raka menerima gelas plastik tersebut dan menyeruputnya. Sungguhlah benar menyuntikkan sedikit glukosa dalam darah akan membuat mood kita membaik. Bahu Raka melemas seketika.


“Everything is gonna be okay.” Julia mengelus punggung Raka.


Karena moodnya sudah sedikit membaik, Raka tersenyum kecil, seperti meledek Julia, “Tenang, Jules. Gue gak bakal nangis kayak lo tadi kok.”


Julia mencibir, “Harusnya gue biarin aja lo bad mood ya.”


Raka masih belum bisa tertawa, dia hanya menggedikkan bahu.


Seseorang wanita tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


“Dipanggil ke ruangan sama Pak Ikhsan.” Wanita itu tersenyum.


Mereka saling tatap.


“Ready?”


Mereka mengangguk. Lalu berjalan masuk menuju ruangan yang ditunjuk.


Mereka tidak siap. Namun, mereka lebih baik tahu tentang apa yang akan menunggu mereka ke depannya nanti.


Apapun itu, apapun itu…


Pikir Raka sambil menguatkan hatinya.


***


Mobil Raka masuk ke dalam pelataran apartemen saat malam telah sangat larut. Bukan lagi Raka yang menyetir mobil. Tadi dia sengaja menelepon Rafael untuk menjemputnya ke Herriot Sky sebelum dia mencapai titik batas kadar toleransi alkohol tubuhnya.


Begitu Rafael selesai memarkirkan mobil, dia menoleh pada sepupunya itu.


Raka hanya menjawab Rafael dengan anggukan. Setelah beberapa saat, dia memang sudah mulai sadar. Dia yakin susah bisa jalan ke unit apartemennya sendirian.


Mereka pun berjalan menuju lobby apartemen. Rafael hanya ingin memastikan Raka benar-benar baik-baik saja sebelum dia menghentikan taksi untuk pulang.


“Lo yakin gak mau gue panggilin siapa-siapa, Ka?” tanya Rafael, begitu mereka tiba di lobby.


“Don’t you dare!” desis Raka.


Rafael menghela nafas, “Alright! Call me if you need anything ya.”


Raka hanya mengangguk.


Rafael pun membiarkan Raka masuk ke dalam apartemennya sendirian.


Begitu tiba di lift, Raka menyandarkan kepalanya ke dinding lift. Terlalu banyak hal yang perlu dipikirkan. Tapi dia hanya ingin istirahat malam ini. Dia ingin membiarkan dirinya jadi pengecut untuk malam ini saja.


“Maaf, Mas, mau turun di lantai berapa?” tanya seorang ibu-ibu muda pada Raka. Dia sadar Raka sedang mabuk berat dan belum memencet tombol lantai unitnya sendiri di lift daritadi.


“Sebelas.” Raka mencoba bergerak untuk memencet tombol lift. Tapi sang ibu sudah memencetnya terlebih dahulu.


“Makasih, Bu.”


Ibu muda itu hanya mengangguk.


Raka kembali menyandarkan kepalanya. Rasanya seperti dihajar Mike Tyson berkali-kali. Kepalanya sakit sekali.


Kalau sedang stres, migrainnya memang suka kumat. Apalagi saat ini ditambah dengan asulan alkohol dalam tubuhnya.


Pintu lift terbuka.


“Mas, udah di lantai sebelas,” kata ibu muda tadi.


“Oh iya, makasih, Bu.”


Raka pun keluar dari lift.


Untung saja ada ibu muda itu. Kalau tidak, Raka akan menyerah dan memilih untuk tidur di dalam lift saja.


Raka hampir tiba, ketika dia melihat seseorang sedang berjongkok sambil memeluk lututnya sendiri di depan unitnya.


Raka tertegun.


Kenapa Davina disini?


Sungguh ini benar-benar saat yang tidak tepat untuk bertengkar dengan kekasihnya.


“Raka…” Wajah Davina terlihat lega begitu melihat Raka.


“Kamu ngapain disini?” tanya Raka.


Davina tidak bisa mengartikan nada suara Raka. Ntah laki-laki itu marah atau senang melihatnya disini, dia tidak tahu sama sekali.


“Aku daritadi nungguin kamu disini. Kita perlu ngomong.” Air mata Davina menggenang.


Tidak, tidak…


Raka sedang tidak waras. Dia sedang kalut. Pikirannya kacau balau. Tidak boleh ada yang dibahas hari ini.


“Devni, kamu pulang aja ya.”


“Aku gak mau. Aku mau kita selesaiin hari ini juga.”


“Jangan, Devni.”


“Ka, please, dua hari lagi aku pulang ke Paris… Aku gak mau aku pulang dengan keadaan kita yang kayak gini…”


“Masih ada besok, Devni.”


“Aku gak bisa, Ka. Aku mohon.” Davina memelas.


“Aku bilang besok!!!” Suara Raka meninggi. Davina sampai tersentak saat dibentak begitu.


Raka menyadari bahwa airmata Davina kini sudah menggenang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia membentak Davina. Tapi dia tidak punya perasaan simpati hari ini.


Dia ada di tepi jurang saat ini!!! Dia tidak bisa memikirkan perasaan orang lain, selain perasaannya sendiri!!!


“Makanya aku bilang bahasnya besok aja!” Raka menyentak pintu dengan kasar sampai terbuka.


“Raka…” Davina bergumam.


Raka berhenti.


“Aku ini emang cuma sekedar omong kosong ya buat kamu?” Davina menyuarakan sakit hatinya tadi siang pada Raka.


Raka benar-benar tidak punya waktu untuk ini sekarang. Tanpa berbalik, dia menjawab, “Kalau itu menurut kamu…”


Raka pun menutup pintu dengan kasar


Dan untuk pertama kalinya, dalam hidup Davina, seseorang membanting pintu tepat di depan wajahnya.


***