
Davina bergegas mandi paginya. Lalu, mematut wajah di cermin. Matanya bengkak setelah menangis beberapa jam di hadapan Raka tadi malam.
Dia masih ingat semua kejadian itu.
Raka hanya menemaninya menangis selama beberapa saat. Mereka tidak mengatakan apapun, tetap membiarkan kaca menjadi pembatas di antara mereka. Raka memandangi Davina lekat-lekat, seperti hanya ingin menikmati waktu mereka.
Setelah yakin bahwa Davina baik-baik saja, Raka pun pergi.
Begitu saja.
Saat sudah sendiri lagi, Davina sempat melanjutkan tangisannya di ranjang, sampai dia ketiduran.
What a night!
Pikir Davina.
Dia selalu kagum dengan caranya menyiksa diri sendiri! Konyol sekali!
Ponsel Davina bergetar, mengalihkan perhatiannya.
Nikolas : Have some time today?
(Punya waktu hari ini?)
Davina segera mengetik balasan untuk calon suaminya itu
Davina : I'll come to your house at 5.
(Aku bakal datang ke rumah kamu jam 5.)
Setelah itu, Davina menyimpan ponselnya di dalam tas karena tidak ingin melihat balasan Nikolas lagi. Dia pun segera melangkah keluar kamarnya. Dia hanya ingin cepat-cepat tiba di Espoir, hanya ingin mengajar dan melakukan hal-hal yang dia sukai.
Namun, saat dia melangkah ke ruang keluarga, dia mendengar suara ribut-ribut.
"Lo mau ngapain sih, Ka?" Rara menggeram, frustasi.
Raka hanya diam.
"Nikolas lagi sakit. Lo jangan nambah beban pikiran Davina dong." Kini suara Rara terdengar memelas. Tapi Raka tidak ingin menjelaskan maksud kedatangannya saat ini, sebab hanya akan membuat semua perasaan kalutnya semakin nyata.
"That's okay, Kak," sahut Davina, tenang.
Baik Raka maupun Rara langsung menoleh ke asal suara. Wajah Davina terlihat sembab, namun ekspresinya datar, tidak menunjukkan emosi sama sekali.
"Dav, lo yakin?" tanya Rara, hati-hati. Seperti takut, kalau-kalau dia salah mengucapkan sesuatu, Davina akan pecah berantakan di hadapannya.
Tapi Davina hanya mengangguk pelan. Dia tampak setenang palung samudera terdalam, tidak ada riak ombak sama sekali di permukaan, sebab segala sesuatu justru bergejolak jauh di dalam sana. Jauh di dalam hatinya.
Rara tidak bisa berkata-kata lebih lanjut, apalagi saat Davina malah beralih memandang Raka sambil berkata, "Anterin aku ke Espoir ya."
Kalimat itu tidak dibubuhi tanda tanya, pun tanda seru. Bukan ajakan ataupun perintah. Davina hanya ingin mengatakan keinginannya. Dan Raka mengerti apa artinya. Dia hanya tidak mau mengakuinya.
Dia pun mengangguk, lalu mereka berdua berjalan ke luar ruangan, meninggalkan Rara kebingungan sendirian.
"What's wrong?" Suami Rara muncul menggendong Keysha yang baru saja terbangun.
(Ada apa?)
Rara tersadar dari lamunannya, lalu menatap suaminya dalam-dalam.
"Sometimes I wonder..." Rara menggantungkan kalimatnya.
(Kadang aku penasaran...)
Suami Rara menunggu dengan sabar.
"Why Davina still love Raka that much... It's been years..."
(Kenapa Davina masih mencintai Raka sebesar itu... Ini udah bertahun-tahun...)
Rara berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala. Sang suami hanya bisa menyembunyikan senyuman. Rara tersadar dengan senyuman tersembunyi dari suaminya, langsung mengerti bahwa dia sedang diledek.
"WHAAAAAT?" tanya Rara, dengan kesal.
Sang suami menggedikkan bahu, "Well, yeah..."
"WHAAAAAATTTTTTT???"
***
Davina melangkah bersisian dengan Raka menuju mobil. Tidak ada satupun dari mereka yang mau membuka percakapan, mereka juga tidak sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Karena jika mereka sedang menggunakan logika, mereka tentu sadar bahwa tindakan mereka saat ini adalah sebuah kesalahan besar.
Mereka masuk ke dalam mobil masih dalam kebisuan. Namun, begitu Raka hendak melajukan mobilnya, dia menyadari sesuatu.
"Seatbelt?"
"Ah..." Davina menarik seatbeltnya dengan terburu-buru, membuatnya tersendat.
(Biar aku bantu.)
Davina sempat menarik nafas pelan saat jemari Raka menyentuh bahunya sekilas, melintangkan sabuk di sepanjang tubuhnya, sampai ke pinggangnya.
"Thanks," kata Davina, begitu sabuk pengamannya sudah terpasang sempurna.
Raka tidak menjawab, memilih untuk menyalakan musik. Begitu mendengar lagu apa yang diputar, Davina langsung melirik laki-laki di sebelahnya.
"Really?" Davina tidak habis pikir.
Raka hanya menjawab dengan menggedikkan bahu.
Lagu Shouldn't Matter, But It Does dari John Mayer mengalun lembut di dalam mobil Raka.
Davina hapal luar kepala lirik lagu tersebut, dia menyenandungkan setiap kata dengan fasih. Raka menikmati segalanya dalam diam.
"It could've been always, it could've been me. We could've been busy, naming our baby number three."
Perlahan wajah Davina berubah geli setelah menyenandungkan lirik tersebut. Selanjutnya dia hanya bisa terkekeh pelan. Tawa yang lumayan menyegarkan setelah berhari-hari terperangkap dengan kegelapan pikirannya sendiri.
"Really? Kamu beneran berpikir kalau hubungan kita lancar, harusnya kita sekarang lagi namain nama anak ketiga kita?" Nada Davina mengejek.
Raka menggedikkan bahu lagi, "Who knows, Devni... Who knows..."
Davina tertawa lagi. Pikiran bahwa Raka mau settle down di usia muda seperti ini benar-benar konyol. Raka melirik Davina yang masih sibuk dengan tawanya.
"Well, sekarang aku beneran tersinggung," kata Raka, akhirnya.
"Raka dan pernikahan kayaknya bahkan gak bisa digabung dalam satu kalimat," jaga Davina di sela tawanya.
Raka mencibir. Namun, tidak menyangkal bahwa perkataan Davina bisa jadi benar. Raka masih ingat saat ditodong Rafael tentang apa yang bisa dia tawarkan setelah menggagalkan pernikahan wanita kesayangannya itu, Raka tetap merasa bahwa menikah di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun adalah hal konyol.
Beberapa saat kemudian, mereka larut lagi dalam keheningan. Hanya suara halus dan menenangkan John Mayer lah yang menemani perjalanan mereka.
Mobil Raka sudah hampir tiba di Espoir. Tinggal satu belokan lagi, maka Davina akan segera berpisah darinya. Maka, Davina pun menoleh pada Raka yang terlihat sedang berkonsentrasi penuh pada jalan.
"Kamu diam banget hari ini," katanya.
"Kamu tahu kenapa aku diam, Devni," jawab Raka, tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan.
Davina tersenyum kecil, mengerti betul maksud perkataan Raka. Tanpa perlu ducapkan, tanpa perlu ditunjukkan, mereka sama-sama tahu bahwa perpisahan sudah di ujung mata. Davina sudah memilih.
"Kamu juga gak mau lihat aku daritadi," kata Davina, lagi.
Raka menghela nafas. Haruskah dia mengatakan kebenaran agar Davina berhenti menginterogasinya?
Baiklah.
Jika itu yang Davina inginkan.
"Cause it hurts so bad," jawab Raka, sebenar-benarnya, senyata-nyatanya perasaannya.
(Karena rasanya sakit banget.)
Davina mengangguk. Kali ini dia bukan hanya mengerti, namun juga merasakan hal yang sama.
Lalu, tanpa terasa, mobil sudah berhenti di depan Espoir.
Davina membuka sabuk pengamannya sendiri kali ini. Dia tidak yakin pada kemampuan diri sendiri jika Raka menyentuhnya lagi.
"Thanks, Ka." Davina pun hendak beranjak membuka pintu.
"Devni..."
Seperti yang sudah-sudah, Davina langsung berhenti. Menurut pada panggilan Raka.
Davina menoleh pada Raka.
"Aku terlalu egois, terlalu keras kepala, selalu mementingkan diri sendiri. Makanya, aku belum pernah memikirkan pernikahan sama sekali."
Raka menggantungkan kalimatnya. Davina menunggu.
"Tapi, kamu selalu jadi pengecualian..."
Davina tidak menjawab.
"Buat kamu, aku mau jadi apapun, Devni, mau melakukan apapun. Karena kamu satu-satunya pengecualian."
***
Pada sadar gak lagi dikasih spoiler-spoiler singkat kisahnya Rara? š
IG : @ingrid.nadya