
Karena memang sudah sangat gerah Lana langsung menuju kamar mandi bermaksud ingin membersihkan diri . Badannya terasa lengket karena seharian tidak tersentuh oleh air . Setelah menyiapkan air dan aroma terapi di bath up gadis itu melucuti semua kain yang menempel ditubuhnya kemudian berendam .
Tak berapa lama ia merasakan keanehan pada dirinya , tubuhnya tetap merasakan gerah walau sudah berendam dalam air dingin . Nafas Lana mulai tersengal dengan merasakan pening di kepalanya . Ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya hingga merasakan seluruh tubuhnya terasa panas .
Ada yang aneh dengan dirinya , Lana berpikir apakah dia sedang demam akibat seharian harus menahan lapar ? Tapi sepertinya tidak , perutnya merasa baik baik saja karena ia sempat memakan seiris roti sebelum masuk ke kamar mandi . Gadis itu memutuskan untuk segera membilas dirinya dan segera keluar dari sana sebelum keadaan tubuhnya semakin tidak karuan .
Dengan hanya berbalut jubah mandi tanpa mengenakan apapun lagi di dalamnya gadis itu segera merebahkan tubuhnya di ranjang . Bukannya mereda tapi Lana merasa tubuhnya malah semakin menjadi . Ada gelenyar yang sudah merasuki setiap pembuluh nadinya , rasanya panas dan .... aneh ! Seperti ada sesuatu yang yang harus ia lepaskan dengan segera .
Dan sementara itu Sean bergegas ke kamar istri keduanya untuk melihat keadaan gadis itu . Berharap apa yang ia pikirkan tidak terjadi , entah tapi instingnya tidak baik ketika saat pertama melihat Tiffany membawa gelas itu padanya . Selama hidup bersamanya tak sekalipun istri pertamanya itu menyiapkan sesuatu untuknya baik itu makanan atau minuman . Tiffany hanya melayaninya ketika mereka sedang ada di atas ranjang , dan masih ia ingat dengan jelas bahwa wanita itu teramat sangat pintar menggoyang ranjangnya .
Sean menghela nafas ketika melihat Lana terbaring diranjangnya , sepertinya wanita itu sudah terlelap . Tapi sesaat kemudian dahinya mengernyit karena melihat tubuh itu sangat gelisah . Sean harus menelan kasar salivanya ketika melihat jubah mandi tersingkap di bagian atas dan bawahnya . Mungkin karena Lana tidak mengikatnya dengan benar .
Dua paha mulus seputih porselen itu terekspose sempurna , dan belahan diantara dua bukit yang menjulang itu terlihat dengan sangat jelas . Dan wangi sabun yang menguar di indera penciumannya mampu menghadirkan pikiran pikiran kotor yang meracuni otaknya .
" Panas ... tolong .... " suara memohon itu membuyarkan lamunan nakal Sean .
Pria itu mendekat dan mengambil segelas air , perlahan ia duduk disamping Lana agar bisa lebih jelas melihat keadaannya . Wajah gadis itu memerah dan seluruh tubuhnya bergetar seakan sedang kedinginan .
" Wanita brengsek !! " umpat Sean dalam hatinya menyadari apa yang ia duga benar benar terjadi . Sesuai dugaannya Tiffany pasti mencampur sesuatu di dalam minuman yang tadi dibuat untuknya . Sesuatu yang pasti akan membuatnya memohon untuk dipuaskan malam ini .
Dia memang membenci gadis didepannya , tapi jika pun ingin menaklukkan ia tidak akan pernah memakai cara kotor ini pada Lana . Walau begitu ada rasa puas ketika melihat sorot lembut itu terlihat begitu mendamba dirinya .
Sean membantu Lana bangun agar bisa meminum air yang dibawanya , dan gadis itu langsung menenggak habis satu gelas penuh air yang disodorkannya tadi .
" Sekali lagi kau berbuat ceroboh ! "
" Aku tidak tahu maksudmu , apapun akan salah karena kau tidak menyukaiku " sahut Lana yang belum sadar jika hampir separuh bagian dua bukitnya terlihat dengan jelas .
" Jus yang kau minum tadi mengandung racun , racun yang akan membuat siapapun ingin disentuh ... Aku yakin kau tahu maksudku !! "
" Bajingan ... manusia rendah !! " lirih Lana dengan beringsut menjauh dan menyambar selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya . Dia tahu racun apa yang dibicarakan suaminya karena merasa sesuatu tidak beres di dalam tubuhnya . Gadis itu berusaha keras menahan dirinya , berusaha mengabaikan makhluk sempurna yang terlihat sangat seksi dan begitu menggairahkan dengan setelan piyamanya .
" Terserah ... Tapi kau tidak akan bisa melewati malam ini tanpa aku ! Aku akan terus berada disini dan tidak akan lancang menyentuhmu . Tapi gunakan aku jika kau memang sudah benar benar tidak bisa menahannya " ujar Sean yang kemudian berdiri dan membuka jubah tidurnya . Pria itu kemudian merebahkan dirinya seolah ingin tidur disamping Lana .
Sedang Lana meremas kuat selimut yang digunakannya untuk menutup tubuhnya , rasa panasnya menjadi ketika melihat iblis tampan itu memejamkan mata di sampingnya . Tanpa disadari ia semakin mendekat dan tangannya mulai menyentuh rahang kokoh yang dihiasi bulu bulu yang mulai tumbuh itu .
Lana tersenyum menang mendengar bibir yang selalu mengucap kebencian itu mendesis tertahan ketika ia mulai mengecupi leher dan dadanya . Dengan terampil tangannya seperti melukis abstrak didada bidang dan perut yang dipenuhi pahatan sempurna itu .
Lana tak habis pikir dengan dirinya sendiri , kini ia merasa seperti seorang j*lang yang benar benar menikmati permainannya pada tubuh liat itu . Rasa panasnya sedikit berkurang ketika ia berhasil naik ke atas perut Sean dan meraih semua yang bisa ia raih .
" Aaaarrgghhhh ... jangan salahkan aku ! Kau yang memintanya !! "