
Selesai meeting dengan staffnya Sean segera kembali ke ruangan kantornya , sebelum mencapai pintu Damian memberikan sebuah laporan yang baginya tidak begitu penting untuk di dengar .
" Tuan ... Nyonya Tiffany sudah sampai di mansion , orang kita bilang jika dia sudah bertemu dengan Nona ... maksud saya Nyonya Lana ! "
Sean tidak menanggapi kata kata Damian , ada rasa kesal di hatinya ketika melihat Damian yang selalu saja memperhatikan istri mudanya . Dia tahu jika Damian khawatir Tiffany akan menindas Lana secara istri mudanya jauh lebih cantik dan muda dari supermodel itu . Damian tahu betul jika istri pertamanya tak pernah mau tersaingi dan bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan sesuatu yang dianggap bisa menyainginya .
Ketika sudah duduk dan membahas sebentar tentang poin poin yang di hasilkan meeting Damian segera beranjak bermaksud kembali ke ruangannya sendiri . Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara atasannya .
" Hubungi Chris ... minta dia memanggil Tiff siang ini juga apapun caranya ! Aku masih ada keperluan yang belum terselesaikan " seru Sean , pria itu baru bisa bernafas lega ketika Damian sudah mengangguk dan keluar dari ruangannya .
Pagi tadi ia pergi meninggalkan kamar Lana ketika wanita itu masih terlelap . Sangat wajar jika wanita itu kelelahan karena mereka melewati malam yang benar benar menggairahkan . Damian mungkin benar , tak ada salahnya jika ia mempunyai keturunan dari darahnya sendiri .
Tapi dari Lana ? Apakah kelak ia bisa mencintai anak dari wanita yang sangat ia benci ? Wanita yang menyebabkan ia harus melihat Darrell harus hidup di atas kursi rodanya . Tapi apa salahnya ? Mungkin saja itu bisa menjadi alat belas dendamnya . Dia akan mengambil anaknya dan menceraikan Lana setelahnya , bukannya itu sebuah pembalasan yang setimpal ? Wanita itu pasti akan menangis darah dan mungkin tidak mau hidup lagi .
Pikirannya sedang berpikir dan mempertimbangkan tentang apa yang akan dilakukan kepada istri mudanya . Lagipula sejak semalam tubuh Lana selalu menghantui pikirannya . Tak pernah ia rasakan sensasi luar biasa seperti ketika dia menyentuh ataupun mengambil kegadisan gadis muda itu . Lana benar benar mengobrak abrik sisi prianya ! Gadis itu membangkitkan sesuatu yang lama sudah dikuburnya . Dan itu membuatnya ingin terus menyentuhnya lagi dan lagi .
Karena merasa tidak bisa konsentrasi bekerja akhirnya Sean memutuskan untuk kembali ke mansion walau ia tahu jika ada satu undangan malam ini . Tubuhnya terus saja berkeringat dan itu membuatnya sangat tidak nyaman . Mungkin mandi di bawah kucuran air dingin mampu mengusir rasa gerahnya .
" Kau urus perusahaan , aku pulang ... " ujar Sean yang berpapasan dengan Damian di depan pintu .
" Tapi Tuan ... kita masih ada acara makan malam dengan Nyonya Davina "
Sean tak menjawabnya , tapi tatapan tajamnya cukup untuk memberikan jawaban pada pria yang selalu membuatnya kesal itu .
Lana semakin memberontak ketika merasakan Sean semakin mengeratkan rengkuhannya . Aroma tubuh iblis tampan itu sungguh membuatnya tidak bisa bernafas . Gadis itu semakin kesal ketika semua pukulan ataupun cubitannya hanya dianggap seperti angin lalu saja , tak berarti sama sekali .
" Semalam aku sudah melayanimu dengan sangat baik , sekarang giliranmu ... kau juga harus melayaniku dengan baik !! "
" Hahh ... Kau gila !! ltu tidak adil , kau tahu jika semalam aku gila karena dibawah pengaruh obat ! Bukan karena kemauanku sendiri ! " pekik Lana panik karena tubuh polos itu malah menggiringnya ke arah ranjang .
" Aku tidak peduli ... Dan jangan berteriak karena itu hanya akan membuang tenaga saja ! Berteriaklah nanti jika sudah ada berada di bawahku ... "
" B*jingan !! B*debah !! Kau gil ... empphhhtttt !! " Lana tak bisa meneruskan kata katanya karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Sean . Benda kenyal itu benar benar membuatnya kewalahan , hisapan dan cecapan tanpa jeda membuat Lana seperti kehilangan kesadarannya . Nafasnya seperti sedang diambil alih oleh iblis itu ! Mungkin pria itu benar benar ingin mengakhiri hidupnya sekarang ini .
Tapi sesaat kemudian ciuman penuh tuntutan itu berubah menjadi penuh kelembutan , bahkan dengan mudahnya lidah Sean masuk dan mengabsen semua yang ada dalam rongga mulutnya . Lana tak memungkiri jika dia sangat menikmatinya , dan entah dorongan darimana perlahan bibirnya membalas setiap l*matan itu dengan penuh gelora .
" Breathe .... hahhss .... hahhhss " bisik Sean agar wanitanya bernafas , diapun tak jauh berbeda dengan Lana yang sedang terengah engah sambil sekuat tenaga menyerap seluruh oksigen disekitarnya . Bibir kemerahan itu membuatnya kehilangan nalarnya .
Tanpa Lana sadari jika saat ini dia sudah berada di bawah kungkungan tubuh perkasa yang terlihat berkilat karena sedikit berkeringat .
" Jangan .... " Lana menahan satu tangan Sean yang sudah membuka satu persatu kancing piyama tidurnya . Tapi pria itu sepertinya menjadi tuli karena setelah berhasil membuka atasan piyama kedua tangannya malah menarik bawahan beserta kain segitiga di dalamnya . Lana hanya bisa memejamkan matanya ketika dinginnya tatapan luar itu seperti menyapu seluruh bagian tubuhnya .
" You're mine .... "