Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Menggali Kuburannya Sendiri



Raka masuk ke dalam mobil dengan membawa americano dan green tea latte.


“Buat kamu,” katanya, sambil menyerahkan gelas green tea latte tersebut.


“Aku kan gak mesen,” sahut Davina.


“Tapi, aku mau beliin.” Raka memaksa dengan meletakkannya di tangan Davina.


Wanita itu hanya bisa menggerutu, “Kalau aku naik lima puluh kilo abis ini, kamu harus tanggung jawab!”


“Iya, iya. Kalau kamu gendutan, terus Nikolas gak mau lagi, aku yang bakal nikahin kamu.”


“Ngarep!”


“Selama janur kuning belum melengkung…” Raka berceloteh, lalu tiba-tiba teringat.


“Udah melengkung aja aku gagalin,” tambahnya, enteng.


“Terus kamu bangga?”


Raka mengangguk, “Itu salah satu prestasiku.”


Davina memutar bola mata.


“Kamu itu impianku sekarang. Jadi, setiap usaha yang berhasil untuk menggapai impian itu, aku anggap sebagai prestasi.”


“Ngomong terus! Aku kapan pulangnya?”


“Pengen banget cepet-cepet pisah dari aku.”


Davina menggedikkan bahu.


“Padahal sisa waktu tinggal sedikit lagi…” gumam Raka, sambil meraih rem tangan. Dengan sengaja sedikit menyentuh satu tangan Davina yang terletak di dekat sana.


“Udah, jalanin aja mobilnya,” kata Davina, pura-pura tenang. Padahal tentu saja tubuhnya selalu suka, bahkan hanya dengan sentuhan-sentuhan kecil seperti itu.


Raka pun mulai melajukan mobilnya.


“Tadi Mama Dee ngomong apa?” tanya Raka, mencoba mengisi keheningan. Sebentar lagi, dia akan berpisah dari Davina, dia harus menggunakan kesempatan itu untuk berbincang lebih lama.


“Cuma nanya lagi dimana aja.”


Raka mengangguk.


Hening lagi.


Raka benci.


Sementara Davina…


Tanpa diharapkan, kepalanya malah sibuk memikirkan foto Raka dan Julia yang tadi. Kegagalan hubungan mereka yang dulu adalah karena tidak adanya keterbukaan satu sama lain. Davina memendam perasaannya, Raka pun demikian.


Mereka ingin saling menjaga, namun berakhir dengan saling menyakiti.


Sebenarnya jika ingin semuanya membaik, memang harusnya mereka menanamkan keterbukaan di antara mereka.


Namun, bukankah Raka dan Davina tidak sedang menjalin sebuah hubungan? Raka berhak berteman dengan siapapun. Dia bukanlah milik Davina lagi.


Jadi, Davina tidak berhak menuntut keterbukaan dari Raka kan? Memangnya siapa Davina?


“Devni…” Raka memanggil, tiba-tiba.


“Hm?” Davina menoleh pada Raka.


“Lagi mikirin apa?” Suara Raka terdengar lembut dan membujuk.


“Gak ada.”


“Bohong.”


Davina menghela nafas. Bukankah beberapa hari ini dia sudah lepas kontrol? Apa salahnya jika dia semakin mengendorkan lagi pengendalian dirinya?


Maka, dia pun mengkonfrotasi Raka, “Mikirin… kita ini sebenarnya apa sekarang? Apa yang sebenarnya lagi kita lakuin?”


Hening sejenak.


Raka tampak berpikir. Seperti sedang diberikan tantangan membuat aplikasi yang sangat rumit oleh klien. Dia harus memilih satu per satu kata yang akan diucapkan dengan baik. Sebab salah satu kata saja, dia bisa-bisa kehilangan klien tersebut.


Dan dia tidak menginginkannya.


Dia tidak ingin kehilangan Davina. Lagi.


“We can be anything you want,” jawab Raka, akhirnya.


(Kita bisa jadi apapun yang kamu mau.)


“Tapi aku gak tahu apa yang aku mau.”


“Kamu maunya aku. Gampang. Sederhana. Kamu aja yang mikirnya ribet.”


“Aku udah tunangan!”


“So what?! Udah aku gagalin pernikahannya!”


“Kurang ajar!”


“Udah terlalu terlambat untuk menyadari aku kurang ajar, Devni. Terima aja aku apa adanya, soalnya kamu stuck di aku.”


“Kalau nantinya di akhir, aku tetap milih Nikolas, gimana?” tantang Davina.


Raka merenung lagi.


Memikirkan bahwa dia bisa jadi bukan pilihan akhir Davina membuatnya merasa tersiksa. Dia tidak bisa membayangkan dan tidak mau membayangkan sama sekali. Sebab hal itu pasti akan membuatnya nelangsa setengah mati.


Namun, sebenarnya, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia sudah mempersiapkan diri akhir-akhir ini. Terutama sejak sadar bahwa Davina telah berubah menjadi orang lain…


Dia tidak sedang berhadapan dengan Davina dari dua tahun yang lalu, yang mencintainya sepenuh hati. Ini bukan Davina yang akan rela meninggalkan apapun demi dirinya.


Ini Davina… yang lukanya telah diobati oleh Nikolas.


Ini Davina… yang telah diberikan yang terbaik oleh Nikolas.


Ini Davina… yang setengah hatinya pasti sudah dimiliki oleh Nikolas.


Dan meskipun seluruh hal itu sempat disangkal oleh Raka selama beberapa saat. Sekarang dia sadar bahwa kemungkinan untuk memenangkan Davina sungguh teramat kecil.


Raka bisa menawarkan apapun pada Davina, menjanjikan seluruh dunia untuk wanita kesayangannya itu. Tapi, dia tetaplah Raka yang pernah menyakiti Davina. Dia tetaplah laki-laki yang pernah meninggalkan Davina.


Dan Nikolas tidak punya kecacatan di bagian itu sama sekali. Dia sesempurna kertas putih. Mengawali segalanya bersama Davina dengan clean sheet.


“Kalau emang pada akhirnya kamu milih Nikolas, aku gak punya pilihan lain, selain menikmati saat-saat terakhir ini sama kamu.”


Bahkan dengan mengatakannya membuat nyeri yang hebat di hati Raka. Kehilangan Davina seperti sudah senyata ucapannya. Dan ini hanyalah saat-saat terakhir mereka.


Davina boleh mengabaikan Nikolas saat ini. Wanita kesayangannya itu boleh memberikanjarak pada tunangannya.


Namun, bagaimana kalau hal itu bukan karena dia mencintai Raka? Bagaimana kalau hal itu hanya karena dia ingin menikmati saat-saat terakhir bersama Raka?


Untuk menuntaskan keadaan…


Untuk menuntaskan apa yang dulu tidak pernah tuntas di antara mereka…


Davina diam saja setelah itu. Ntah apa yang dia pikirkan. Ntah bagaimana perasaannya. Segalanya campur aduk. Dia saja belum bisa mendefinisikan bagaimana perasaannya pada Raka, sekarang ditambah pula dengan ketidakwarasannya hanya karena foto Julia dan Raka.


Seperti satu saja tidak cukup…


Selagi keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, tanpa terasa mobil Raka sudah hampir mencapai kediaman Mahardhika.


Davina panik.


Untuk sementara, bagaimana kalau dia menyingkirkan sejenak pemikirkan tentang Julia? Bagaimana kalau dia fokus saja bagaimana dia akan memilih antara Nikolas dan Raka?


Dan sekonyong-konyong, Davina mendapatkan sebuah ide. Ide gila yang seperti akan menghantarkannya langsung ke liang kuburnya sendiri.


Namun, mungkin ini bisa jadi ide jenius yang tidak bisa terulang dua kali.


Saat mobil Raka mulai memasuki halaman rumahnya, dia pun segera membuka tasnya sendiri dan mencari sesuatu.


Davina terus mengaduk tasnya bahkan setelah mobil berhenti.


“Udah sampai, Devni.” Raka mengingatkan.


“Bentar.” Davina terus mencari.


Dan akhirnya…


Dapat!


Satu tiket lagi untuk pertunjukan EspoirxNararya.


Davina langsung menyodorkan tiket itu pada Raka begitu dia menemukannya. Raka pun menerima dan membaca sejenak itu apa.


“Katanya gak mau aku datang,” katanya begitu menyadari isi tiket.


“Nikolas juga datang,” sahut Davina cepat.


Raka terdiam.


“Mamanya juga, Papanya juga.”


Raka semakin tidak habis pikir.


Tapi Davina butuh egois. Dia butuh melihat dan membandingkan secara langsung kedua laki-laki ini.


Yang memberatkan Davina untuk memilih Nikolas adalah keluarganya. Maka, kehadiran Nikolas sendiri adalah nilai lebih.


Sementara yang memberatkan Davina untuk memilih Raka adalah Raka sendiri. Maka, kehadiran Nayla dan Azel adalah poin plus untuk Raka.


“Devni, kamu gak mau ada drama kan di acara penting sekolah balet kamu?” Raka menghela nafas.


“Aku yakin kamu sama Nikolas udah cukup dewasa untuk menerima apapun keputusan aku nantinya, tanpa harus membuat adegan pukul-pukulan atau hal-hal konyol lainnya.”


Dan Raka tahu Davina benar.


Atau… kalaupun Raka tidak bisa menahan diri, dia tahu bahwa pengendalian diri Nikolas tentu sangat baik. Dan dia bisa mengandalkan itu.


Akhirnya, Raka mengangguk.


Dia tidak punya pilihan lain. Jadi, dia hanya bisa berkata, BRING IT ON!


***


IG : @ingrid.nadya