Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
66



Mata Damian fokus pada layar laptopnya , disana sedang terputar rekaman cctv yang orang orangnya retas dari rumah sakit . Hal yang seharusnya tidak ia lakukan , tapi terpaksa ia lakukan agar tahu akar dari semua masalah yang menimpanya .


" Lima orang itu sepertinya selalu berada di dekat Tuan , samar tidak terlihat karena mereka berpencar ! Jika dilihat dari gerak geriknya mereka selalu berusaha mengambil foto dari berbagai sudut .... " kata seorang penjaga yang saat ini ikut memperhatikan rekaman cctv bersama Damian .


Damian hanya mengangguk dan terus memperhatikan apa yang ada didepannya . Sepertinya memang ada orang yang ingin memotret semua kedekatannya dengan istri kedua atasannya . Mungkin saja mereka ingin membuat seolah olah ada hubungan khusus antara dirinya dan Lana . Pantas saja CEO Alexander Corp itu murka tanpa alasan kuat . Mungkin saja ada gambar gambar yang sudah terkirim dan membangun opini yang salah .


" Dua orang diantara mereka adalah orang yang tadi anda sapu bersih . Mereka adalah penyerang yang ingin mencelakai Nyonya Muda .... " lanjut orang yang ada disamping pria dengan wajah berparut itu .


" Bawa tiga orang lainnya ke markas , aku akan urus mereka setelah aku selesai dengan dosen bejat itu ! "


" Baik ... akan saya selesaikan secepatnya "


Damian memejamkan matanya karena jujur saja tubuhnya terasa sangat lelah . Semua yang terjadi hari ini adalah benar benar sebuah kejutan besar untuknya . Tak terasa pria itu benar benar terlelap walau saat ini tubuhnya hanya bersandar di sebuah kursi .


Tapi setengah jam kemudian ia membuka matanya karena bunyi dering diponselnya . Dengan segera Damian mengangkat penggilan diponselnya karena berpikir mungkin saja salah satu orangnya sudah mendapat informasi penting tentang Tiffany ataupun hal yang berkaitan Tuan Mudanya yang masih berada di rumah sakit .


Mungkin karena sudah lama bekerja untuk keluarga Alexander menjadikannya terikat dengan bocah tujuh tahun itu . Darrell adalah anak yang baik dan sangat menghormatinya . Keselamatan anak itu masih menjadi tanggung jawabnya , bukan karena dia adalah bawahan Daddynya tapi karena dia memang menyayanginya .


" Ya hallo , ada apa !? "


Dan tiba tiba pria itu langsung bangkit dan berlari keluar apartemen seperti orang kesetanan setelah mendengar jawaban dari orang yang menelponnya . Raut wajahnya terlihat khawatir sekaligus memerah karena amarah .


" Dasar ... anak dan bapak sama sama merepotkan !!! "


*


Dan di kantin rumah sakit terlihat dua pria tampan masih terlihat berdiri berhadapan .


" Kendrick Lee ... sepertinya saya sudah pernah mendengar nama anda , silahkan duduk ! "


Sean menjabat tangan pria bernama Ken itu karena ia yakin pria itu bukanlah salah satu musuh atau saingan perusahaannya . Jika tidak salah ia pernah mendengar jika dulu pria didepannya pernah mendapat penghargaan sebagai pengusaha muda berprestasi .


" Ada keluarga anda yang sakit dan dirawat di sini ? " tanya Sean ketika mereka sudah duduk di bangku yang berhadapan dengan dua cup kopi panas didepan mereka .


" Sepertinya kita sama Tuan Ken , putra sulung saya juga sedang dirawat di tempat ini . Besok padi adalah jadwal operasi pencangkokan tulang belakang untuk proses kesembuhan lumpuh yang di derita putra saya " jawab Sean sambil menyeruput kopi panas miliknya .


" Lumpuh ?? Apakah anda berkenan jika saya meminta sedikit waktu anda !? Saya ingin sedikit bercerita tentang seseorang yang merasa bersalah karena sudah membuat seorang anak mengalami hal yang sama seperti putra anda "


" Tentu saja , saya memang sedang ingin bicara dengan seseorang untuk bisa melupakan sesuatu yang membuat saya sangat kecewa "


Ken tersenyum mendengarnya , sebelum memulai ceritanya ia terlihat menghela nafasnya .


" Sekitar enam tahun yang lalu seorang wanita muda datang mengadu nasib dengan menjadi seorang maid di sebuah keluarga . Dia masih sangat muda dan terlalu naif hingga kemudian ada seseorang yang memanfaatkannya . Seseorang memaksanya melakukan hal yang benar benar tidak ia inginkan , menaruh racun di gelas seorang pria yang waktu itu akan mengantar putra tuannya ke rumah sakit . Dia berkeras tidak mau , tapi taruhannya adalah nyawanya sendiri "


Sean tampak mengerutkan dahinya ketika mendengar cerita itu . Dia yakin yang di ceritakan Ken adalah orang terdekat pria itu .


" Dan supir itu akhirnya meninggal dunia ?? "


Ken mengangguk dan kemudian tersenyum , sepertinya pria di depannya belum menyadari jika ceritanya itu berkaitan dengan pewaris Alexander .


" Sampai saat ini wanita itu masih tersiksa dengan rasa bersalahnya . Jika ada hal yang ingin dia lakukan adalah mencium kaki dan meminta maaf pada anak itu . Jika waktu bisa diputar maka dia memilih untuk tidak melakukannya , mungkin kehilangan nyawa akan lebih baik daripada harus tersiksa dengan rasa bersalah seumur hidupnya "


" Dia tak bisa menyalahkan dirinya sendiri , aku rasa tidak ada seorangpun yang mau kehilangan nyawa apapun alasannya . Dia melakukan itu bukan atas kehendaknya , jika ada yang bisa disalahkan adalah orang yang mengancamnya ! " ujar Sean menanggapi cerita pria didepannya . Ternyata kisah hidup anak yang diceritakan Ken tidak jauh berbeda dengan kisah hidup putranya . Yang harus mengalami kecelakaan karena sebuah konspirasi jahat . Dan sayangnya wanita yang disayangi Darrell adalah penyebab semua itu . Lana adalah bagian konspirasi yang membuat Darrell harus mengalami kelumpuhan sejak ia kecil .


" Jika anda adalah orang tua anak itu , apakah anda akan memaafkan wanita yang tega menuang racun itu ?? "


" Tidak .... "


Ken terdiam , ternyata jalan yang akan dilalui istrinya untuk menempuh maaf tidaklah mudah . Tapi dari awal dia sudah bertekad untuk mendampingi Nina walau harus mendapat konsekwensi terberat sekalipun .


" Tidak mudah memaafkannya , tapi aku tidak akan bisa menyalahkannya ! Maaf tapi sepertinya saya tidak bisa lebih lama menemani anda . Saya harus kembali ke kamar putra saya " ujar Sean yang kemudian berdiri dan menjabat tangan Ken . Pria itu ingin kembali ke kamar untuk istirahat sejenak , mungkin dengan tidur pikirannya akan lebih tenang esok harinya .


" Tidak apa apa, senang bisa berbicara dengan Anda Tuan ! "


Ken melihat kepergian pemimpin Alexander itu dengan seulas senyum tersembunyi di bibirnya . Dia berpikir walau akan sangat sulit tapi masih ada celah untuk Nina meminta maaf . Mungkin setelah operasi itu selesai dia akan membawa istrinya untuk menemui mereka .