
Setelah kegiatan panas yang memeras keringat bersama suaminya Lana tak bisa memejamkan mata walau tubuhnya terasa sangat lelah . Perkataan pria itu tentang anak membuatnya hati dan pikirannya tidak tenang . Dia adalah seorang wanita dan ia yakin tidak seorang pun ibu yang bisa melepas anaknya begitu saja , walaupun anak itu mungkin bukan lahir karena ikatan rasa cinta .
Terbersit keinginan untuk diam diam meminum obat pencegah kehamilan , tapi jika ia melakukannya maka dia akan terperangkap selamanya di istana iblis ini . Jika ketahuan resikonya akan lebih besar untuk keluarganya , Sean bisa saja mengamuk dengan brutal dan pengorbanannya selama ini akan menjadi sia sia . Dia benar benar terperangkap oleh iblis itu .
Bosan berada di kamar Lana kemudian keluar menuju dapur , perutnya terasa sangat lapar setelan iblis tampan itu menguras habis tenaganya . Satu lembar roti tawar ataupun sebuah apel mungkin bisa sedikit mengganjal perutnya . Kebiasaan dietnya melarang Lana untuk makan makanan berat saat tengah malam seperti ini .
Sampai di dapur matanya memicing karena melihat seorang pria bertubuh besar sedang duduk di meja makan sendirian . Secangkir kopi panas di depan pria itu membuat aroma dapur sangat wangi dan menenangkan , dari dulu Lana memang sangat menyukai semua hal beraroma kopi .
Pria itu tak menyapa Lana yang berjalan melewatinya menuju lemari pendingin , bahkan ketika wanita itu duduk didepannya dengan membawa dua buah apel merah dan sebuah pisau untuk mengupas . Mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal sebelumnya .
" Bagaimana bisa anda keluar kamar saat tengah malam seperti ini !? "
" Bukan urusanmu !! Urus saja Tuan Besarmu itu !! " sahut Lana dengan ekspresi datar , meniru ekspresi wajah pria didepannya . Damian adalah pria paling menyebalkan urutan kedua tentu saja setelah tuannya . Lana berpikir pasti pria dengan wajah berparut itu sudah berkonspirasi mengenai obat lucknut yang telah dia minum waktu itu .
" Anda berpikir terlalu jauh Nyonya , saya dan tuan besar tidak akan pernah menggunakan cara licik pada siapapun musuh kami ataupun anda ! Kami mungkin bukan orang baik tapi pikiran kami tidak picik " kata Damian seolah bisa membaca apapun yang di pikiran istri kedua atasannya itu .
" Persetan ... b*jingan tetaplah b*jingan ! Kalian selalu menganggap remeh wanita jadi sekarang dengarkan aku baik baik . Suatu saat kalian akan jatuh bertekuk lutut di bawah kaki seorang wanita !! Suatu saat kalian menangis karena rasa kehilangan . Dan saat itu baru kalian tahu betapa hebatnya kekuatan kaumku !! " seru Lana dengan suara tertahan karena tak ingin menjadi perhatian para penjaga diluar sana ataupun maid yang mungkin masih terjaga .
" Dasar manusia aneh ! "
Setelah selesai dengan apelnya Lana beranjak bermaksud kembali ke kamar , tapi entah kenapa kakinya malah melangkah menuju kamar Darrell . Dia ingat janjinya yang ingin membacakan anak itu cerita dongeng pengantar tidur malam ini , tapi karena ulah Daddynya ia jadi lupa semuanya .
Hatinya sedikit berdebar ketika melihat pintu kamar Darrell yang tidak tertutup sempurna . Matanya terpaku ketika melihat Sean yang sepertinya tertidur di kursi sofa di sisi ranjang putranya dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya . Dan begitupun Darrell yang sudah terlihat terlelap dengan wajah yang sangat damai .
Melihat semua itu menjadikannya teringat pada ayahnya sendiri . Pria yang sangat mencintainya dengan tulus sekaligus tempatnya untuk bersandar . Sejak kecil dia adalah seorang tuan putri untuk kedua orang tuanya , kasih sayang selalu melimpah untuknya .Tiba tiba ada rasa ingin pulang untuk melihat wajah wajah penuh cinta di rumahnya . Tapi hal itu tak akan terwujud karena Sean pasti tidak akan mengijinkannya keluar dari sangkar emas ini .
Setelah sempat diam diam mengecup dahi putra sambungnya dengan penuh kasih sayang Lana kembali ke kamarnya . Perutnya sudah baik baik saja itu artinya dia bisa tertidur dengan nyenyak .
Benar saja setelah berbaring rasa kantuk sudah merengkuhnya menuju alam mimpi . Merasa dingin Lana mengeratkan pelukannya pada guling yang tadi tergeletak di sampingnya . Wanita itu semakin erat memeluk gulingnya ketika merasa hangat dan lembutnya benda kenyal itu mampu menenteramkan jiwanya .
Dan semakin lama Lana semakin menenggelamkan dirinya pada hangatnya sesuatu yang dipeluknya . Berharap esok pagi adalah hari yang lebih indah untuknya . Dia tak peduli ketika samar mendengar sebuah suara bariton yang sepertinya mengucapkan sesuatu untuknya .
" Good night .... "