Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
The Albrecht



Davina menerima mawar merah dari kurir sore itu dengan perasaan senang luar biasa. Dia sudah tahu dari siapa gerangan bunga tersebut tanpa harus membuka kartu yang diselipkan di antara tangkai bunga.


“Nikolas?” tanya Yuni.


Davina tersenyum, misterius. Meski ditodong pistol sekali pun, dia tidak akan memberitahu Yuni dari siapa bunga tersebut.


Dia pun berjalan menjauh, meletakkan bunga tersebut di atas sebuah meja, lalu membaca suratnya di sudut ruangan.


(Always) you…


(Selalu) kamu…


Davina tersenyum. Benar kan tebakannya!


Raka. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya merasa istimewa. Membahagiakan, sekaligus membahayakan!


“Davina!” Seseorang memanggilnya.


Davina menoleh.


“Ada calon suami kamu,” kata orang itu sambil menunjuk pintu masuk backstage.


Beberapa orang di ruangan langsung bersorak menggoda Davina. Diam-diam dia melirik Yuni. Kini Yuni pasti sudah tahu bahwa si pengirim bunga bukanlah sahabatnya. Nikolas tidak mungkin memberikan bunga jika dia sempat hadir di backstage.


Yuni kini tampak hanya geleng-geleng kepala dalam kesunyian. Davina tidak punya pembelaan apapun. Dan tidak ingin membela diri pula. Jadi, dia mengabaikan kekesalan Yuni dan berjalan ke arah Nikolas.


“Hai,” sapa Nikolas, begitu Davina menemuinya.


“Hai, Nik.”


“Gimana perasaan kamu?” tanya laki-laki itu.


“Excited. Tapi nervous juga.”


“Pasti berhasil!” kata Nikolas, dengan yakin.


Davina tersenyum. Laki-laki inilah yang selalu mempercayai mimpinya tentang Espoir sejak awal. Dia pulalah yang selalu mendorong Davina hingga sampai di titik ini. Dan Davina akan selalu berterima kasih untuk itu.


“Thanks, Nik,” kata Davina, tulus.


Nikolas tersenyum. Dan topik pembicaraan pun habis. Mereka tampak kikuk selama beberapa saat, sampai akhirnya Nikolas mengatakan sesuatu.


“Mamaku datang,” katanya.


Davina memilih tidak menjawab, hanya mengangguk. Dia mengerti tujuan Nikolas mengatakannya. Nikolas hanya ingin menunjukkan pada Davina bahwa Angel juga mendukung pagelaran seni ini.


Tapi, dalam hatinya, Davina selalu tahu bahwa menjadi guru balet takkan pernah membanggakan bagi Angel.


“Aku nunggu di apartemenku ya nanti malam, bukan di rumah Mama…” Nikolas mengingatkan. Dengan sengaja menggantungkan kalimatnya, menunggu reaksi dari Davina.


Tapi wanita itu hanya bergeming, tidak merespons apapun. Nikolas tersenyum kecil.


“Aku pergi dulu,” kata Nikolas, akhirnya.


“Oke.”


Nikolas pun berbalik, meninggalkan Davina. Setelah Nikolas benar-benar menghilang, barulah Davina masuk lagi ke dalam ruangan.


Ternyata Yuni sudah menunggunya.


"Bunganya dari Raka?" tanya Yuni.


"Iya," jawab Davina.


"Dav... kamu beneran lebih milih Raka dibanding Niko–"


Belum sempat Yuni berceloteh panjang lebar, Davina segera memotong kalimatnya.


"Kamu tahu apa yang bikin aku begini, Yun, kamu tahu..." Davina pun berlalu, meninggalkan Yuni.


Mungkin Yuni pernah menjadi sahabatnya di Perancis dulu. Tapi ketika di hadapkan pada hubungan Davina dan Nikolas, Yuni tetaplah sahabat Nikolas yang akan selalu membelanya, apapun yang terjadi. Dan Davina sedang tidak butuh mendengar supporter dari pihak mana pun. Dia sudah punya pilihannya.


***


Pertunjukan dimulai. Davina mengamati Tiara menarikan Giselle dari belakang panggung dengan terpukau. Anak didikan kesayangannya itu menari dengan anggun, dengan penuh kesungguhan. Mengingatkan Davina pada masa-masa dia masih sibuk mengikuti kompetisi dimana-mana. Sekaligus mengingatkannya pada Paris. Kota sejuta kenangan baginya.


Davina tersenyum.


Untuk segala sesuatu ada masanya. Begitupun untuk memaafkan dan menerima. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk benar-benar meninggalkan semuanya di belakang dan menerima semua keadaan. Dengan tekat bulat, Davina menguncinya di sebuah kotak kenangan masa lalu dan berjanji tidak akan membuka lagi kotak tersebut.


Sebab disinilah Davina. Menemukan impiannya yang lain. Mengajar, menyuntikkan mimpi dan semangat yang dulu dia punya untuk anak-anak didiknya. Dengan bangga, memandangi Tiara yang sedang memberikan penampilan terbaiknya. Sebagai Giselle, sebuah peran yang sama sekali tidak mudah untuk perempuan dengan umur semuda Tiara.


Davina pun beralih mengamati Ivan. Sang Albrecht. Yang membuat hidup Giselle kacau balau. Memperdaya Giselle dan membiarkannya terluka, penuh kesedihan.


Davina lalu mengamati bangku penonton. Di bangku terdepan, duduklah sang Albrecht untuk Davina. Laki-laki itu sudah menyakitinya sedemikian rupa, meninggalkannya lebih dari sekali. Namun, kepadanyalah hati Davina selalu tertuju.


Kemudian, di barisan yang sama, tak jauh darisana, ada sang Hillarion untuknya. Laki-laki yang telah menjadi zona nyamannya. Yang membantunya selama ini. Dan kepadanyalah rasa terima kasih yang besar Davina alamatkan.


Dua laki-laki itu berharga. Memberikan banyak pelajaran untuknya. Dan dia tidak akan mau jika dua laki-laki berharga itu terus menerus kebingungan dengan sikapnya.


Davina menutup mata, meresapi dan mendengar hatinya berbicara. Dia memang sudah menentukan pilihan sejak awal. Tidak ada yang bisa menggoyahkan pilihan itu lagi.


Namun, segala perasaan yang baru dia sadari saat ini ketika melihat Tiara menari, membuatnya sadar.


Bahwa dia butuh waktu yang lama untuk memaafkan segalanya. Dia tahu betapa sulitnya untuk melupakan seseorang ketika tidak mendapatkan sebuah salam perpisahan yang layak. Jadi, dia perlu melakukannya.


Menurut orang bijak, saat satu pintu tertutup, maka pintu yang lain terbuka. Jika logikanya dibalik, maka, ketika Davina ingin membuka sebuah pintu yang baru, dia pun harus menutup pintu yang lama.


Dan ketika acara selesai, ketika semua orang mengucapkan selamat untuknya, ketika Nikolas memeluknya, matanya mencari seseorang. Dan akhirnya, dia menemukannya. Berdirilah disana Raka.


Dia tersenyum penuh arti.


Davina balas tersenyum. Ah, seluruh hatinya masih benar-benar dimiliki oleh laki-laki itu.


***


Davina membiarkan dua laki-laki itu pulang duluan darinya. Dia sudah mengatakan akan memilih. Dan mereka benar-benar akan tahu jawabannya malam ini.


Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi ketika seluruh kegiatannya beres. Dia berterima kasih kepada semua orang, lalu melangkah ke mobilnya. Dia sudah tahu tujuannya.


Dia tidak peduli ini sudah selarut apa, dia melajukan mobilnya ke tempat tujuannya. Ke sebuah apartemen.


Berkali-kali dia menekan bel, namun tidak juga dibukakan. Dari sela pintu, dia bisa melihat bahwa lampu di dalam padam, berarti tidak ada orang di dalam.


Davina berpikir sejenak. Kemana kira-kira orang ini pergi.


Dia kembali mengamati jam.


Dia sudah tidak punya waktu lagi!


Sebuah tempat tiba-tiba terlintas di pikirannya. Tubuh Davina bergetar begitu mengingatnya. Dia langsung melajukan mobilnya ke tempat tersebut.


Wajahnya pucat, berharap semua ini tidak benar. Niatnya untuk datang, benar-benar baik. Jangan sampai semuanya dirusak!


Tak lama kemudian, dia tiba di sebuah kantor.


Perusahaan Tedjakusuma.


Davina memarkirkan mobilnya begitu saja. Lalu, segera berlari menuju ruangan Nikolas.


Tubuh Davina semakin bergetar begitu melihat lampu masih menyala. Sebenarnya tubuhnya menolak ketika tangannya mencapai gagang pintu. Namun, dia tidak ingin menipu diri sendiri lagi.


Kejadian di Bandung sungguhlah bukan hanya satu kesalahan, melainkan sesuatu yang telah dilakukan berkali-kali! Dia harus melihatnya dengan mata kepala sendiri!


Sebab, setelah ini, jalannya akan lebih mudah lagi...


Dan dia pun membuka pintu itu...


Dan benarlah adanya...


Nikolas sedang melakukan hal yang tidak pantas dengan Sienna, sang sekretaris.


Davina tertegun. Dia memang selalu melakukan kesalahan.


Sebab, Nikolaslah sang Albrecht dalam hidupnya. Bukan Raka.


***


IG : @ingrid.nadya