
Raka, Albert dan Julia berjalan keluar dari ruang sidang dengan raut wajah kecewa. Ikhsan, selaku kuasa hukum, menepuk punggung mereka bertiga, seperti ingin memberikan semangat kepada mereka.
Sidang pertama sudah selesai. Tahap mediasi sudah dilakukan. Namun, Wetix, selalu pihak penggunggat sama sekali tidak ingin mencapai kata sepakat untuk melakukan perjanjian perdamaian. Padahal Creature sudah menjanjikan akan mengembalikan secara tunai seluruh nominal yang ada di dalam perjanjian mereka.
Namun sepertinya Wetix berpendapat kerugian diderita lebih besar karena ide aplikasi mereka sudah terdengar oleh para kompetitor jauh sebelum aplikasi go live.
Raka pusing tujuh keliling.
Kepalanya seperti akan pecah sebentar lagi.
Jika tahap mediasi tidak bisa mencapai kata sepakat, maka mereka harus menghadapi persidangan hukum yang selanjutnya. Kira-kira dua minggu lagi, sidang akan dilanjutkan dengan pembacaan tuntutan hukum dari pihak Wetix.
“Jadi, sekarang kita harus gimana, Om?” tanya Albert pada Ikhsan. Nada putus asa dari Albert mencerminkan seluruh isi hati mereka bertiga.
“Kita harus segera mengumpulkan bukti. Apapun yang dapat mendukung. Kemarin kita sudah bahas kira-kira apa yang bisa menjadi celah di dalam agreement Creature dengan Wetix. Namun, Om yakin mereka sudah mempersiapkan sanggahan dari celah-celah tersebut. Om butuh bukti yang lebih kuat. Apapun itu. Sekecil apapun. Kita harus brain storming. Bagaimana kalau langsung ke kantor Om saja setelah ini?” Ikhsan memberikan usul.
Raka menggaruk kepala, “Langsung sekarang, Om?”
“Iya. Kenapa? Kamu ada keperluan?”
Raka menoleh pada Albert dan Julia. Mereka paham betul kegundahan hati Raka.
“Terserah lo, Ka. Gue bebas.” Julia menepuk bahu Raka.
Berbeda dengan Julia yang lebih moderat, wjaah Albert sedikit menuntut.
“Tapi ini penting banget, Ka,” katanya.
Sebenarnya Raka merasa Albert ada benarnya.
Namun, dia sudah membuat janji pada Davina akan segera datang ke rumah sakit hari ini. Davina sudah membuat ultimatum kalau Raka tidak juga muncul di rumah sakit hari ini, Davina akan mendatangi apartemen Raka tidak peduli dia bisa berjalan atau tidak.
Raka bingung.
Dia menarik nafas sebentar, lalu segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan pada Davina.
Raka : Ada urusan bentar di Creature. Mungkin bakal telat ya ke rumah sakit. Please jangan datang ke apartemen, aku lagi gak disana.
Raka melihat pesannya hanya dibaca oleh Davina.
Raka cepat-cepat mengetik lagi.
Raka : Aku janji bakal datang hari ini, Devni…
Tetap hanya dibaca.
Raka : Jam besuk sampai jam delapan kan? Aku janji sebelum itu udah sampai di RS.
Akhirnya Davina mau membalas pesan Raka.
Davina : Oke.
“Jadi, gimana, Ka?” tanya Albert.
“Ya udah, ketemu langsung di kantor Om Ikhsan ya?”
Semua mengangguk, lalu berpencar ke mobil masing-masing.
***
Raka berjalan buru-buru di sepanjang lorong rumah sakit. Waktunya hanya tinggal dua puluh menit lagi sebelum jam besuk rumah sakit habis.
Begitu tiba di kamar Davina, dia sempat meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih layak untuk ada disini. Selama Davina membutuhkannya, dia akan mencoba ada…
Meski perasaan bersalah ini akan pelan-pelan memakan jiwanya.
Kemudian, dia membuka pintu. Tampaklah Davina yang sedang disodorkan sendok berisi makanan oleh Diana.
“Raka!” Airmata Davina menggenang. Tidak menyangka bahwa Raka benar-benar datang hari ini. Tadinya dia sempat putus asa.
Diana mendesah lega, lalu bangkit berdiri menuju Raka.
“Pacar kamu bikin Mama pusing, gak mau makan daritadi. Kamu yang kasih gih! Mama suntuk!” Diana meletakkan piring di tangan Raka lalu berjalan ke luar ruangan. Dave ikut berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
Sebelum keluar, dia menyempatkan diri menepuk bahu Raka. Matanya seperti meminta permakluman atas tingkah istri dan putrinya.
Raka menggeleng pelan, seperti mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dave pun segera keluar setelah itu.
Kemudian, Raka berjalan ke sebelah Davina.
“Kamu kenapa gak mau makan?” tanya Raka sambil menyodorkan sesendok nasi pada Davina.
“Kamu habis darimana?” tanya Davina. Hatinya sedih melihat wajah kuyu Raka. Matanya tampak lelah dan kurang tidur.
“Ada urusan Creature. Makan dulu ya baru boleh nanya-nanya.” Raka menggoyangkan pelan sendok di hadapan Davina.
Akhirnya, Davina menurut. Dia mulai mengunyah suapan nasi yang diberikan oleh Raka.
“Creature lagi sibuk banget sampe kamu gak bisa datang kesini?”
“Iya. Aku ada tugas akhir juga di kampus, Devni.”
“Tapi dalam seminggu ini, masa kamu gak bisa datang sekalipun?”
Raka mencoba melebarkan senyumannya, “Ini kan udah datang. Makan lagi nih.”
Davina kembali menerima suapan dari Raka.
“Banyak kerjaan ya?”
“Iya." Raka mengangguk.
Selanjutnya pembicaraan mereka hanya diisi dengan pertanyaan-pertanyaan dari Davina. Namun, tidak sekalipun terdengar pertanyaan balik dari Raka.
Setelah Raka selesai menyuapi Davina, dia menyempatkan diri menyuci piring di wastafel.
“Kamu hari ini nginep disini kan?” tanya Davina.
“Aku gak bisa, Devni.” Raka menjawab tanpa menoleh.
“Kenapa?”
“Aku kan udah bilang banyak kerjaan.”
“Gak bisa, Devni.”
“Please?”
“Maaf… kerjaanku banyak banget…”
Davina tiba-tiba meledak.
“Kerjaan kamu terus yang diurusin!!! Aku kapan diurusinnya???” Suaranya meninggi. Tanpa dia sadari, seluruh rasa frustasi yang dia pendam beberapa hari terakhir tumpah ruah pada Raka.
Kekasihnya itu kaget, sampai menoleh pada Davina.
“Kenapa kamu marah-marah, Devni?” tanyanya.
“Kamu menghindar dari aku kan beberapa hari terakhir, Ka???” Akhirnya Davina menyuarakan seluruh perasaannya.
“Aku gak menghindar.” Bahkan Raka saja tahu bahwa dia sedang berbohong saat ini!
“Terus kemana kamu seminggu yang lalu???Tiba-tiba menghilang gak ada kabar???”
Raka memalingkan wajahnya.
“Aku lagi bener-bener banyak kerjaan, Devni. Kamu bisa tanya Albert dan Julia kalau gak percaya.”
“Masa bodoh sama mereka! Aku butuh kamu, Ka! Aku butuh ngobrol sama pacarku! Kenapa kamu gak sadar sih???”
Raka menarik nafas. Setelah selesai menyuci piring, dia pun kembali duduk di dekat Davina.
“Ya udah, kamu mau cerita apa?” Bahkan hati Raka sendiri pun terasa sakit saat mengatakan hal ini. Betapa dia pasti terlihat sangat acuh saat ini.
Mata Davina sudah mulai kembali berkaca-kaca.
“Kamu sama sekali gak mau tahu soal kondisiku? Kamu gak nanya sama sekali gimana keadaanku?” tanya Davina, berusaha menahan isakan tangisnya.
Raka bergeming.
Wajah tegar yang daritadi dia coba tampilkan, perlahan berubah.
Dia tidak lagi bisa menutupi perasaannya sama sekali. Ekspresinya goyah. Inilah yang dia takutkan jika harus berhadapan langsung dengan kekasihnya itu.
Bahwa Davina akan bisa membaca seluruhnya… Davina dapat melihat seluruh isi hatinya…
Dan Davina memang langsung mengerti…
“Jadi, kamu udah tahu?” Airmata Davina mengalir.
Raka tidak menjawab. Dia berpaling untuk menahan airmatanya sendiri.
“Jadi, kamu udah tahu kalau aku gak bakal bisa ikut perlombaan impianku? Kamu tahu kalau kondisi kakiku gak bakal bisa balik seratus persen lagi, tapi kamu tetap pergi?! Kamu tetap menghilang ntah kemana, bukannya nemenin aku disini?!” Davina menumpahkan seluruh emosinya.
Raka mengunci rapat-rapat mulutnya.
Akhirnya dia mengalah…
Dia tidak punya pembelaan apapun lagi. Karena seluruh tuduhan Davina benar adanya. Dia menghindar. Dia menghilang. Dia tidak berani ada. Dia merasa tidak layak untuk hadir.
Kemana gerangan perginya Raka yang selalu merasa percaya diri? Kemana Raka yang selalu merasa pantas mendapatkan apapun?
“Kenapa kamu diam, Ka?! Kamu gak pengen bilang apa-apa?”
Tapi Raka tetap tidak menjawab.
“Aku gak butuh kamu selalu ada buatku. Aku gak butuh kehadiran kamu kalau kamu cuma diam, kalau kamu gak nanya keadaanku sama sekali.”
“Aku gak tahu mau ngomong apa, Devni…”
“Banyak banget yang bisa kamu bilang… banyak…” Davina meratap.
Raka tahu persis kalimat apa yang dibutuhkan Davina darinya.
Kamu bakal baik-baik aja, Devni…
Ayo kita cari dokter lain, kita cari second opinion, kita cari kemungkinan terbaik yang lain…
Kalaupun enggak, it’s okay not to be okay, Devni…
Ayo kita cari mimpi yang lain, ayo kita rajut tali impian yang baru…
Dan tenang aja, aku akan selalu ada buat kamu…
Sesungguhnya segala kalimat itu dapat Raka ucapkan saat ini.
Namun…
“Kasih aku waktu sebentar aja, Devni…” Justru kalimat inilah yang dipilih oleh Raka. Karena memang inilah yang dia butuhkan. Waktu, untuk sebentar saja menyelesaikan perasaan bersalahnya. Waktu, untuk menyelesaikan segala urusan hukum Creature.
“Waktu buat apa???”
“Buat maafin diri sendiri…”
Davina terpana. Wajah Raka terlihat begitu tersiksa.
“Tapi ini bukan salah kamu…” kata Davina, pelan.
Raka tidak mau menjawab, dia malah bangkit dari tempat duduknya.
Dia menunjuk seluruh tubuh Davina yang terbalut perban, “Semuanya ini… karena aku gak bisa jagain kamu.”
“Bukaaaan!” Davina merintih.
Raka malah bangkit berdiri. Davina menggeleng melihat Raka yang mulai berjalan menjauh. Dia tahu persis apa yang akan terjadi jika memberikan waktu untuk berpikir sendirian kepada Raka.
“Jangan pergi!!! Kamu mau kemana??? Elraka??? Raka!!!” Davina histeris. Dia sama sekali tidak punya kemampuan untuk mengejar Raka saat ini.
“Rakaaaaa!!!”
Raka masih mendengar suara Davina, namun dia bergegas pergi. Sebab dia tak ingin sekalipun mendengar tangisan Davina yang kembali pecah karena kepergiannya.
Dan benarlah tebakan Davina, sampai dia keluar dari rumah sakit pun, Raka tidak pernah muncul lagi.
***