Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Til The End



Davina sengaja mengambil cuti di keesokan harinya. Dia tahu sebentar lagi Espoir akan mengadakan acara besar bersama Nararya, tapi dia ingin membuat sebuah keputusan egois dulu. Demi dirinya. Demi kewarasannya sendiri.


Dia hanya ingin menghabiskan waktu sehari saja untuk rehat sejenak. Di rumah, yang selalu menjadi tempat ternyamannya. Beserta keluarganya, yang selalu menerima apa adanya dia.


Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponselnya pagi itu.


Dari Nikolas.


I’m afraid to lose you, Dav.


(Aku takut kehilangan kamu, Dav.)


Begitu isinya.


Davina hanya membaca pesan itu, tidak berniat membalasnya sama sekali. Sekali lagi, hari ini dia hanya ingin bertindak egois. Tanpa perlu memikirkan perasaan orang lain. Bahkan jika orang itu adalah tunangannya sekalipun!


“Tanteeeeee!” Suara Keysha menyentak Davina dari lamunannya. Anak kecil itu dengan penuh semangat menggedor-gedor pintu kamar Davina.


Meski sudah ditegur Rara, Keysha tetap ingin bermain dengan Tantenya secepat mungkin.


Dia terus menggedor pintu sambil meneriaki nama Davina. Senyum langsung merekah di wajah Davina karena suara cicitan menggemaskan ala anak kecil itu.


Dia pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.


“Pagiiii, anak keciiiil!” sapa Davina.


“Pagiiii, Tante Davina!” Keysha merentangkan tangannya.


Davina langsung mengerti kemauan Keysha. Dia pun merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.


“Hari ini kita mau main apa?” tanyanya.


“Bolaaaa! Ayo, main bola!”


Davina melirik Rara yang berdiri tak jauh dari mereka, sedang memegang bola kesayangan Keysha.


“Jangan komen! Anak gue emang atletis!” Rara mengoceh.


Davina tertawa, “Siapa yang mau komen?! Gak apa-apa dong! Siapa tahu nanti Keysha jadi the next Alex Morgan!”


“Alex Morgan itu siapa?” tanya Keysha. Matanya yang bulat menatap Davina penasaran.


“Alex Morgan itu tante yang jagooooo banget main sepak bola.”


Mata Keysha berbinar.


“Key mau jadi Tante Alex Morgan!!!” Dia menjerit.


“Iya dong. Key bisa jadi apaaaa ajaaa yang Key mau!” Davina mencium pipi keponakannya itu dengan gemas.


Mereka pun berjalan bersisian sambil bergandengan tangan. Mereka menuju ke pekarangan rumah keluarga Mahardhika.


“Mama jadi kiper ya!” Keysha mengatur Rara agar berdiri di ujung kanan lapangan.


“Kiper Tante siapa dong?” Davina pura-pura protes.


Keysha berpikir sejenak.


"Key bangunin Papa ya, Ma?" Keysha berteriak pada Rara, lalu dia berlari kembali menuju rumah.


"Ehhh? Jangan, Key!" Davina jadi panik sendiri. Abang iparnya sedang bekerja.


"Papa lagi kerja, Key!" Rara juga ikut mengejar Keysha. Tapi anak kecil itu sudah terlalu bersemangat berlari.


Saat itulah, dua pasang tangan tiba-tiba merengkuh Keysha dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.


"Om Rakaaaaaaa!!!" Keysha menjerit kesenangan sambil merentangkan tangan. Dia selalu suka main pesawat-pesawatan seperti ini dengan Raka.


Davina langsung berhenti mengejar Keysha begitu menyadari kehadiran laki-laki itu.


Tak lama kemudian, Raka menurunkan Keysha ke dalam gendongannya. Keysha sudah besar, tidak mungkin dia berlama-lama mengangkat keponakannya itu. Bisa rontok seluruh badannya.


Davina sendiri sengaja mendengus keras-keras sampai terdengar oleh Raka yang berdiri tak jauh darinya. Raka sampai harus menyembunyikan senyumnya dengan menciumi pipi Keysha.


"Mau ngapain sih kamu kesini?" tanya Davina, kesal. Tangannya terlipat di dada. Tanda bahwa dia begitu defensif dengan kehadiran Raka saat ini.


"Emang gak boleh ngelihat keponakan sendiri?" celetuk Raka, mencoba tidak menoleh pada Davina. Seperti biasa, sok ingin terlihat cuek. Padahal dalam hati, dia rindu juga melihat wajah Davina.


Rara sendiri sudah berjalan mendekat pada Raka.


"Lo tuh masih kerja apa udah jadi pengangguran sih? Main mulu lo sekarang!" Rara merepet panjang lebar pada adik laki-lakinya itu.


"Bos kan suka-suka mau kerja kapan aja," kata Raka, lagi. Kini dia sedang berusaha menghindar dari serangan cubitan dari Keysha pada pipinya.


"Cubit terus, Key! Sampe pipi Om Raka copot!" gerutu Davina.


Lagi-lagi Raka berusaha menyembunyikan senyumannya. Davina sungguhlah tidak bisa mengabaikan kehadirannya. Dan dia begitu bahagia menyadari fakta itu.


"Tante Davina!" Keysha menunjuk Davina.


Rara juga ikut menyembunyikan senyumannya saat ini. Setelah beralih menjadi Tim Raka, dia diam-diam senang melihat cara Raka mengejar Davina.


Bukan sistem tarik ulur seperti yang dilakukan kebanyakan laki-laki lain. Tapi sistem bergerilya. Maju terus, tapi secara tidak kentara. Tidak ada yang menyadari kehadirannya. Tahu-tahu nanti sudah di depan benteng saja.


Rara diam-diam mengerti kenapa Davina dulu bisa secinta itu pada Raka. Sebab Raka pun sama hopeless-nya. Mereka berdua itu dua bucin yang terlalu saling mencintai saja.


"Tante sama mama aja, Key? Om Raka jago loh jadi kiper," kata Davina, dia tidak sudi membiarkan Raka dekat-dekat dengannya.


Keysha tampak berpikir sejenak.


"Ya udah, Om Raka sama Key ya!" Keysha memeluk erat leher Raka.


"Boleh dong."


Davina sudah berjalan kembali ke pekarangan. Rara menyadari bahwa Raka mengamati punggung Davina yang sedang berjalan menjauh.


"Lo ngelamar kemarin?" Rara meledek dengan suara pelan.


"Udah hopeless gue, Kak." Raka tertawa pelan.


"Terus, sekarang kenapa masih disini? Sadar kan kesempatan lo udah hampir habis? Dan kemungkinan besar dia gak bakal milih lo?"


Raka mengangguk.


"I know. Tapi gue pengen nikmatin semuanya... sampai akhir."


Rara tersenyum kecil, menepuk bahu Raka, lalu berkata, "Gue pengen lo kejar dia sampai lo bisa dapetin dia lagi!"


Raka kaget dan menoleh pada Rara. Wajahnya terlihat bingung. Kenapa tiba-tiba Rara berpihak padanya?


"Jangan tanya kenapa! Janji sama gue, lo harus ngejar dia sampe akhir! Jangan pernah nyerah lagi!"


Raka menatap Rara lekat-lekar.


"Masih niat main gak sih?" Davina bertanya sambil melambai-lambai pada Raka dan Rara.


Sebelum mereka masuk kembali ke lapangan, Raka mengangguk pada Rara, "Gue janji, Kak."


***


Davina sebenarnya memberikan kemudahan pada Keysha. Beberapa kali dia melepaskan kesempatan untuk Keysha menggiring bola sampai ke gawang seadanya yang dijaga oleh Rara.


Tapi Rara tidak mau mengajarkan kemudahan pada Keysha. Dia berkali-kali menggagalkan tendangan Keysha ke gawang.


Dan saat akhirnya, Keysha berhasil menggolkan satu tendangan ke gawang Rara, Raka langsung mengangkat Keysha dengan penuh semangat.


"Kita menang! Kita menang!" kata Raka sambil mendudukkan Keysha di pundaknya.


Keysha melonjak-lonjak dengan girang.


Rara dan Davina pura-pura mengeluh, "Yah, kita kalah deh..."


"Tante Davina kalah! Tante Davina kalah!" Raka mulai memanas-manisi Davina.


"Tante kalah! Tante kalah!" Keysha ikut-ikutan.


"Wah, Key nakal ya! Mau tante gelitikin?" Davina mengangkat tangan untuk menakut-nakutin Keysha yang paling tidak tahan digelitikin.


"Ooooom! Lariiiiii! Key takuuuuttttt!" Keysha melonjak-lonjak di bahu Raka.


Raka refleks berlari mengikuti kemauan Keysha. Davina yang hanya terfokus pada Keysha juga ikut mengejar mereka. Jadilah mereka kejar-kejaran selama beberapa saat.


Rara yang ditinggal begitu saja, hanya bisa menutup mulut untuk menyembunyikan senyumnya. Saat ini pemandangan itu terlihat menyenangkan.


Hati Rara menghangat.


Baru kali ini dia sadar bahwa harusnya keluarga mereka bisa sebahagia ini...


Sehangat ini...


Baru Rara menyadari semua itu, tiba-tiba satu sosok muncul.


Raka berhenti berlari, Davina juga berhenti berlari.


Nikolas muncul di pekarangan rumah mereka dengan perban membalut di lengannya.


***


Selamat hari senin, readers! Tetap semangat ya ☺️


IG : @ingrid.nadya