Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
76



" Aaaaaaa ... keluaaarr !!!! " pekik Ranaa kembali masuk ke dalam kamar mandi ketika melihat seorang pria berdiri tepat di depan pintu kamarnya yang tadi sengaja ia buka .


Sendirian di rumah terpencil ini membuat dia ketakutan walau semalam Damian sudah mengatakan jika rumah ini sangat aman untuknya . Banyak penjaga walau jaraknya lumayan jauh dan area rumah tidak akan ada binatang buas walau ada di tengah hutan . Karena hutan yang ada disekitar rumah adalah hutan buatan yang sengaja Damian buat agar bisa lebih tenang jika sedang beristirahat dirumah kayu miliknya .


Dan untuk menghilangkan rasa takutnya Ranaa sengaja membuka pintu kamar agar merasa tak ' sendirian ' .


Sedang Damian hanya berdiri terpaku , semua yang barusan terjadi bagai sebuah mimpi untuknya . Dia pria dewasa , tak bisa ia pungkiri ada sesuatu yang berkobar dalam dirinya ketika disuguhi tubuh polos dengan bentuk sempurna itu . Gadis itu memang sudah mengganggu pikirannya sejak ciuman pertama mereka di mobil . Rasa bibir yang manis dan memabukkan itu membuatnya ingin merasakannya lagi . Tapi beruntung dia belum terlalu gila untuk menerkam tubuh itu saat ini juga .


Damian tertawa kecil ketika melihat kepala Ranaa muncul di pintu kamar mandi , dia tahu benar apa yang akan dikatakan gadis itu selanjutnya .


" Hei ... kenapa kau tidak segera pergi !? "


" Kau butuh bantuanku Nona ! Kau lupa membawa handuknya ... " sahut Damian dengan seringai yang membuat gadis itu menatapnya sebal .


" Bukan lupa , tapi aku memang tidak tahu dimana kau menyimpannya . Tak ada satupun lemari di sini ! " gerutu Ranaa dengan kepala masih mengintip di pintu kamar mandi .


Sungguh ia merasa heran dengan gadis menggemaskan yang bersembunyi di kamar mandi miliknya . Padahal tadi dia berpikir mungkin akan menemukan gadis itu sedang tersedu atau putus asa karena melewati malam yang pasti membuatnya trauma . Bukankah tak ada gadis yang mau berdiri di tempat pelelangan para pria hidung belang ?


Ranaa menutup rapat pintu kamar mandi ketika melihat Damian yang melangkah masuk ke kamar . Tak lama kemudian terdengar sebuah ketukan , dan ketika ia membuka pintu ternyata sebuah handuk sudah tersampir di gagang pintu .


Sepertinya Damian sudah tidak berada didalam kamar itu karena pintu kamar yang tadi terbuka sudah tertutup rapat . Setelah mengenakan handuk untuk membungkus tubuhnya sebatas dada Ranaa memberanikan diri untuk keluar kamar . Gadis itu merutuki dirinya sendiri ketika melihat laci dibawah ranjang kayu yang sepertinya sengaja di buka agar dia bisa melihatnya . Ternyata ada banyak laci yang menyatu dengan ranjang kayu . Pria itu menata kamar minimalisnya dengan sangat rapi .


" Dimana dia ... "


Benar dugaannya , dari jendela kamarnya ia bisa melihat pria itu sedang duduk di tepi danau . Dengan cepat ia mengambil paper bag di atas meja nakas yang berisi pakaian gantinya , tentu saja lengkap dengan ********** .


Entah siapa yang membelinya tapi pagi tadi ketika ingin duduk di teras depan ia sudah menemukan dua paper bag tergantung di pintu . Ranaa segera mengganti baju karena ingin segera keluar bicara dengan pria menyebalkan yang sudah ada diluar sana .


Damian memejamkan matanya karena merasakan kehadiran gadis yang tadi sempat menerbangkan akal sehatnya . Aroma sabun yang menguar membuat dua matanya terpejam menikmati sensasinya .


" Kau ingin pulang ?? " tanya Damian yang melihat Ranaa sudah duduk di sisinya. , di sebuah kursi kayu panjang di tepi danau .


Ranaa yang mendapat pertanyaan itu terlihat menggeleng kuat . Pulang pun ibunya akan terus berusaha mengumpankan dirinya agar di peristri oleh pengusaha kaya . Davina berkata jika mereka butuh seseorang untuk menopang hidup mereka .


" Tapi kau tak bisa terus berada di lingkungan penuh pria ' haus ' seperti ini ! Aku tak bisa terus menjagamu karena kau sangat tahu jika aku punya banyak pekerjaan " ujar Damian , walau yakin para pria di kamp pelatihan miliknya akan berpikir seribu kali untuk nekat datang ke tempat ini tapi tetap saja akan menjadi beban pikiran ketika meninggalkan gadis itu seorang diri di rumah kayunya .


" Tapi aku belum mau pulang , dan aku bisa menjaga diriku sendiri . Beri aku senjata seperti yang terus kau bawa di balik jaket yang kau kenakan , aku pernah latihan menembak jadi sudah tahu bagaimana cara menggunakannya "


Damian tersenyum dan mengeluarkan sebuah senjata api ukuran kecil dari balik jaket yang ia sampirkan di sandaran kursi . Pria itu memberikan benda kecil itu pada gadis disampingnya .


" Bawa ini dan arahkan kepadaku jika aku macam macam ! "


Ranaa terlihat bingung , kenapa ia malah diminta mengarahkan senjata api itu pada pria disampingnya .


" Apa kau berniat jahat padaku ? Jangan bercanda , kau yang menolongku ! " ujar Ranaa membiarkan senjata api itu hanya tergeletak disampingnya . Gadis itu akan menyimpannya ketika mereka selesai berbicara di tempat ini .


" Aku sama dengan pria pria diluar sana , aku punya keinginan untuk bercinta ... Aku punya fantasi yang tidak pernah bisa kau bayangkan . Jadi turuti nasehatku ! "


" Kau bisa bercinta dengan istrimu , jangan bilang jika kau belum punya istri ! Kau sudah terlalu tua untuk hidup sendiri .... "


" Kami berpisah sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu , dia memiliki anak dari pria lain ! Dan aku tidak akan bisa memisahkan anak dari ayah kandungnya " kata Damian dengan suara datar dan wajah tanpa ekspresi walau luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh . Sedang Ranaa terlihat langsung menundukkan kepalanya merasa bersalah telah mengungkit sesuatu yang pasti sangat menyakitkan .


" Ehhmm maafkan aku waktu itu , aku terpaksa menciummu karena aku tidak ingin para penjahat itu melihatku . Dan aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau sudah menyelamatkan aku "


" ltu tidak gratis , kau pikir aku melakukannya dengan cuma cuma ??! "


" Berapa aku harus membayar , akan aku bayar dengan cara mencicil ! Aku hanya pegawai magang yang tidak punya penghasilan fantastis " ketus Ranaa yang membuat pria disampingnya tersenyum dalam hatinya . Walau menjadi seorang putri dari pengusaha kaya nyatanya gadis itu tetap tidak mau hidup tergantung pada kedua orang tuanya .


" Hei kau belum menjawabnya ... " seru Ranaa ketika melihat Damian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkannya .


" Aku akan datang lagi untuk menagih , dan saat itu mau tidak mau kau harus membayarnya ! Akan ada penjaga yang akan mengantar stok makanan sore nanti . Jangan coba coba keluar sampai dia pergi dan tak terlihat lagi ! "


Bukan apa apa jika dia harus mengatakan itu , tapi ada rasa tak rela jika kecantikan gadis itu harus di lihat oleh pria lain . Damian tak mau tahu , hanya dia yang akan menjadi satu satunya pria leluasa memandangnya .


Hanya dia !