
Raka memperhatikan perubahan ekspresi Davina. Saat itulah dia menyadari bahwa kalimatnya memang bisa disalahartikan.
"Devni, kamu tuh mikir apa sih?" Raka memencet hidung Davina.
"Abis kamu yang ngomongnya begitu!" Wajah Davina langsung memerah.
Raka sendiri hanya bisa terkekeh melihat Davina salah tingkah. Sejujurnya, memang benar dia juga merindukan hal 'itu'. Tapi tadi dia tidak berpikiran kesana sama sekali.
"Emang mau kemana pake nyelinap segala?" tuntut Davina.
"Ntar juga tahu." Raka nyengir.
"Oi, pasangan norak, buru masuk mobil! Ntar kita tinggal baru tahu rasa!" Dave memanggil.
"Papaaaaaaaaa!" Raka dan Davina kompak menggerutu.
"Udah, buru masuk!"
Pasangan kekasih itu mau tidak mau harus melangkah lebih cepat, menuruti perintah Sang Kaisar Agustus.
***
Hari berlalu begitu saja. Raka melirik jam di ponselnya berkali-kali. Sudah jam delapan malam. Matanya beralih pada abang iparnya yang malam ini jadi teman sekamarnya. Abang iparnya ternyata sudah tidur dengan nyaman di dalam selimut.
"Bang?" Raka mengetes.
Tidak ada jawaban.
Malah sekarang terdengar suara dengkuran halus.
Raka cepat-cepat mengetik pesan di ponselnya.
Raka : Abang udah tidur. Kak Rara?
Davina : Udah juga.
Raka : Lobby. 5 menit lagi? Can you make it?
Davina : Oke. See you there.
Raka langsung mengganti bajunya, dan melangkah dengan semangat menuju lobby. Saat tiba di disana, Davina sudah menunggu disana.
"Cepet banget turunnya. Udah gak sabar ketemu aku ya?" ledek Raka.
Davina menoleh.
"Rese! Udah yuk jalan, takut yang lain ngelihat." Dia langsung menarik tangan Raka untuk keluar dari lobby hotel.
"Kita mau kemana? Naik apa?" tanya Davina.
"Jalan kaki. Deket sini kok."
"Oke."
Mereka pun mulai melangkah. Selama beberapa saat Raka membiarkan Davina sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun, dia tidak tahan berlama-lama seperti itu. Dia pun berdehem.
Davina menoleh lagi pada Raka, "Kenapa?"
Raka menyodorkan lengannya, "Kita udah lama gak ketemu. Kamu gak kangen gandeng aku?"
Davina terkekeh, lalu langsung mendekat dan memeluk lengan Raka, "Kangen dong."
Raka tersenyum.
"Kita mau kemana sih?" tanya Davina, lagi.
"Aku yakin kamu udah pernah kesana sih."
"Terus ngapain kita kesana lagi?"
"Kan belum pernah sama aku."
Davina mencibir.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka pun tiba di tempat tujuan. Davina memandangi gedung tinggi di hadapannya. Raka benar. Dia sudah pernah kesini. Tapi tentu Davina rela mengunjungi tempat apapun berkali-kali asal dia bisa membuat kenangan baru bersama kekasihnya.
Raka terus menggandeng tangan Davina sampai ke tempat tujuannya.
Tokyo Sky Deck.
Tempat mereka bisa melihat semaraknya kota Tokyo di malam hari.
Davina menyentuh kaca gedung sambil mengamati pemandangan di bawahnya. Kenapa selalu menyenangkan melihat pemandangan malam hari di kota apapun? Jakarta, Paris, Tokyo, semuanya sama. Menyenangkan. Meneduhkan.
Tiba-tiba Davina merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"I miss you so much, Devni..." bisik Raka.
"So do I, Raka. So do I."
"Kamu kapan dong pulang ke Jakarta?"
Davina tersenyum tidak rela pada Raka. Pertanyaan itu... Pertanyaan yang berkali-kali keluar dari mulut Raka akhir-akhi ini. Meski dia tahu Raka tidak punya alasan lain, selain karena merindukannya. Namun tetap terasa berat saat mendengarnya.
"I know, I know. Jangan pasang tampang kayak gitu dong." Raka terkekeh.
"Iya."
"LDR nyiksa kamu banget?"
Raka menggeleng, "Lebih nyiksa waktu kita putus."
Davina bahkan tidak mau mengingat penyiksaan itu lagi, "Makanya, jangan mau kalah sama jarak ya."
"He'eh."
Mereka membiarkan keheningan menguasai mereka sejenak. Mereka hanya menikmati kehadiran satu sama lain.
Begitulah anehnya hubungan jarak jauh. Saat jarak membentang memisahkan, seakan-akan kita punya ribuan hal untuk diceritakan pada pasangan kita. Namun, begitu kita sudah bertemu, hal-hal itu jadi tidak berarti sama sekali. Kita hanya ingin menikmati kehadiran satu sama lain, karena sadar bahwa setiap detik bersamanya sangat berharga.
"Devni..." panggil Raka akhirnya, memecah kesunyian.
"Hm?"
"Aku punya mimpi baru."
"Apa?"
"Begitu kuliah selesai, aku dan temen kuliahku bakal bikin start up."
Davina berbalik. Matanya berbinar.
"Beneran? Kamu serius?"
Raka mengangguk.
"I'm so happy for you!!!"
"Jangan dulu dong. Baru juga mau dimulai."
Davina terkekeh.
"Start up apa?" tanya Davina, excited.
"Sebenarnya sama kayak developer yang lain sih. Cuma kita fokus ngedevelop aplikasi untuk perusahaan-perusahaan lain aja. Kita yakin setiap perusahaan pasti punya kebutuhan spesifik yang beda dari perusahaan lain. Misalnya, kalau di rumah sakit, apa sih aplikasi yang bisa dikembangkan supaya apoteker bisa ngeracik obat lebih cepat. Sistem antrian dan sebagainya."
Meski Davina tidak terlalu mengerti, dia sungguh-sungguh merasa senang jika Raka terus mencari jati dirinya seperti ini. Nafas Davina adalah balet. Sejak dulu. Sementara Raka, minatnya selalu berganti-ganti. Dan dia senang jika Raka menemukan minatnya yang sesungguhnya.
"Aku yakin kamu sukses, Ka. Aku yakin kamu bisa berhasil melakukan apapun."
"Amin!"
Davina mengalungkan tangannya di leher Raka.
"So I'll be dating a CEO?" Davina mengerling.
Raka tertawa. Davina segera mencium sekilas bibir Raka.
"Hello, Mr. Zuckerberg!" Dia mengerling.
"No way! I'll be the next Bill Gates!"
Davina cemberut, "I am dating kakek-kakek dong?"
"The richest kakek-kakek on earth."
Davina tertawa.
"Ya meskipun kamu gak butuh duit dari aku lagi sih." Raka bermisuh-misuh, mengingat harta kekayaan keluarga Mahardhika.
Davina tidak peduli cibiran Raka. Dia hanya ingin terus memeluk laki-lakinya.
"Aku juga bakal dikasih apartemen sendiri loh sama Papaku," kata Raka, lagi.
Davina kaget, matanya membesar, "Seriusan? Emang boleh sama Mama Nay?"
"Boleh. Meskipun pake acara nangis-nangis dan ngambek sebulanan. Tapi Papa bilang ini cara bagus supaya aku lebih mandiri. Ya, walaupun, Papa sama Mama bakal tetap punya akses ke apartemenku sih. Supaya gak aku salah gunain."
Mata Davina semakin berbinar. Dia tidak menyangka ternyata Raka bisa berubah. Manusia pada hakikatnya memang adalah mahluk hidup yang akan terus berkembang. Dan Davina senang melihat Raka juga berkembang, apalagi ke arah yang jauh lebih baik seperti ini.
"Pacarku kok makin keren sih?"
"Iya dong."
Davina tersenyum lebar. Baru kali ini dia mendapat kabar baik berkali-kali dalam satu hari.
"Baiklah. Karena kamu udah segini kerennya, aku mau kasih kamu hadiah deh."
"Apa?" Kali ini mata Raka yang berbinar.
"Tadi kamu nanya kan kapan aku pulang ke Indonesia..." Davina menggantungkan kalimatnya.
Wajah Raka semakin sumringah.
"I'll try to make it next month, on your birthday."
Raka bersorak. Tidak ada hadiah yang lebih baik dibandingkan kehadiran kekasihnya di sisinya saat hari ulang tahunnya.
***