
Sebenarnya, sore itu, Raka benar-benar datang ke ruangan dokternya Davina. Namun, dia tidak pernah benar-benar masuk. Langkahnya terhenti tepat di luar ruangan ketika sang dokter mengatakan sesuatu.
“Pemulihan Davina mungkin agak lama. Butuh fisioterapi sekitar lima sampai enam bulan untuk bisa benar-benar sembuh,” kata sang dokter.
Raka tertegun. Tangan yang tadinya hendak memutar knop pintu ruangan langsung terhenti.
Enam bulan? Lomba yang akan diikuti oleh Davina akan berlangsung tiga bulan dari sekarang!
Perasaan bersalah kembali menyerang Raka habis-habisan. Dia memutuskan untuk batal masuk ke dalam ruangan dokter. Bagaimana ekspresi yang bisa dia tunjukkan di depan Dave dan Diana? Dialah yang menyebabkan semua ini!
“Tapi apakah kaki Davina bisa benar-benar sembuh seperti sedia kala, Dok?” Raka bisa mendengar Diana bertanya.
Tidak ada sahutan untuk sementara waktu.
Tangan Raka mengepal. Demi Tuhan, jangan sampai dia mendengar lagi kabar tidak enak. Karena kalau tidak, Raka tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Raka memohon mati-matian dalam hatinya.
Namun, semesta telah memutuskan takdirnya.
Raka dapat mendengar sang dokter menghela nafas pelan, lalu berkata, “Mungkin tidak akan bisa kembali seratus persen lagi…”
Raka langsung merasa dipukul telak. Dia bisa mendengar suara terkesiap dari Diana dan juga Dave saat itu.
“Tapi, tenang saja, Davina akan tetap bisa menari. Hanya tiba bisa seratus persen seperti dulu lagi. Kita akan berusaha semaksimal mungkin. Mari kita sama-sama berharap.” Dokter tersebut buru-buru menjelaskan lebih lanjut.
Raka tidak sanggup lagi mendengar semuanya. Dia memilih cepat-cepat melangkah pergi dari tempat itu, sebelum dia mengetahui kenyataan yang lebih menyakitkan lagi.
***
Saat Dave dan Diana kembali ke kamarnya, dahi Davina tampak mengernyit. Dia mencari sebuah sosok, namun setelah Dave dan Diana masuk, mereka langsung kembali menutup pintu.
“Raka mana, Ma?” tanyanya.
“Raka?” tanya kedua orangtuanya, berbarengan.
“Iya, Raka!” Davina mengulangi lagi.
“Mama gak ngerti, Dav,” jelas Diana.
“Tadi Raka bilang mau nyusul ke ruangan dokter.”
“Gak ada, Sayang. Bukannya Raka belum datang ya?”
“Udah, Ma. Tapi tadi dia pergi sebentar, bilangnya mau nyusulin Papa sama Mama ke ruangan dokter.”
Dave dan Diana saling tatap. Sepertinya mereka bisa menebak alasan Raka pergi. Apakah Raka mendengar pembicaraan mereka dengan dokter tadi?
Sementara itu, Davina mencoba menyembunyikan kepanikannya di depan kedua temannya. Nikolas dan Yuni tidak boleh tahu apa yang terjadi.
“Mungkin dia pergi sebentar ke kantin rumah sakit. Biasanya jam segini dia ngantuk, pasti lagi beli kopi.” Davina memberi penjelasan pada semua orang.
“Iya. Nanti Papa susulin ke kantin ya.” Dave mengelus sayang kepala anaknya itu.
Davina mengangguk.
Untuk beberapa saat, Yuni dan Nikolas masih mencoba bertahan disana hanya demi kesopanan. Namun, mereka bisa menangkap kegelisahan Davina. Sehingga mereka izin untuk pamit pulang. Mereka tidak ingin menjadi penghalang Davina untuk mencari kekasihnya.
Setelah menyalam Dave dan Diana, mereka segera beranjak menuju pintu keluar. Nikolas sempat mengintip sebentar sebelum menutup pintu kamar Davina itu.
“Udah, jangan dilihatin terus,” bisik Yuni sambil tertawa pelan.
Nikolas segera menutup pintu. Lalu mereka pun berjalan bersisian.
“Kayaknya mereka bakal putus… lagi…” gumam Yuni.
“Lagi?” tanya Nikolas.
Yuni mengangguk, “Mereka pernah putus sebelum Davina ke Paris. Kayaknya Raka bukan tipe yang bisa bertahan di situasi sulit.”
Nikolas merenung sejenak, “Apa sulitnya sih? Davina kan cuma kecelakaan. Tapi dia toh baik-baik aja sekarang.”
“Raka ini unik menurut gue, Nik. Kadang suka irasional kalau udah menyangkut soal Davina.”
“Terlalu cinta?”
“Mungkin… Yah, lo tunggu aja lah. Kalau gue dapat kabar baik, nanti langsung gue kasih tahu lo.” Yuni menepuk bahu Nikolas.
“Sinting!” Nikolas tertawa.
“Jodoh gak ada yang tahu, my bro!”
“Tapi masa sampe harus doain orang putus sih?”
“Ya ampun! Yang udah mau nikah aja masih bisa ditikung kok. Apalagi cuma pacaran ini.” Yuni tertawa.
***
Raka tidak juga menjawab panggilan telepon Davina. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, Davina menyerah.
“Masih gak jawab?” tanya Diana.
Davina menggeleng, “Mungkin dipanggil dosen lagi ke kampus, Ma. Atau ada kerjaan di Creature.”
Davina berusaha tersenyum, seperti biasa, Davina selalu rapi dalam menutupi setiap tingkah laku Raka yang suka seenaknya. Sebab dia tidak ingin Raka terlihat jelek di mata siapapun.
“Kamu yakin? Mau Papa coba telepon?” tanya Dave.
“Gak usah, Pa. Ntar juga pasti Raka jawab.”
Mau tidak mau, Dave menuruti keinginan Davina.
“Tadi dokter bilang apa, Pa, Ma?” tanya Davina, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dave dan Diana kompak memegang tangan Davina.
Dia langsung menarik nafas panjang, sadar betul bahwa bukan kabar baik yang akan dia dapatkan.
Dia sendiri yang dapat merasakan bagaimana kondisi kakinya saat ini. Dan sebenarnya… sejak awal… dia sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk dari kecelakaan ini.
“Kata dokter, kamu perlu fisioterapi lima sampai enam bulan…” Dave mengawali semuanya.
Davina menutup matanya, mencoba memahami bahwa tidak semua yang dia inginkan dapat dia miliki. Perlombaan yang sangat ingin dia menangkan hanya tinggal tiga bulan lagi. Dan ini adalah tahun terakhir dia bisa mengikuti perlombaan tersebut. Sepertinya dia memang harus merelakan keinginannya yang satu ini.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa.
Pikir Davina.
“Ada lagi yang perlu Davina tahu?” tanya Davina.
Diana menatap Dave dengan ragu.
“Ma… Davina gak suka dibohongin. Lebih baik Davina tahu sekarang, daripada nanti-nanti. Jauh lebih sakit.” Davina meyakinkan Diana.
Diana mengeratkan genggaman tangannya pada putrinya itu.
“Ada kemungkinan kaki kamu gak bisa pulih seratus persen lagi…”
Airmata Davina perlahan mengalir.
Dia sudah mempersiapkan batinnya untuk yang satu ini. Namun, dia tidak menyangka bahwa dia tidak akan pernah sanggup menerimanya.
“Dav, dokter yakin kamu masih bisa nari, Sayang… Kamu jangan nangis, Dav… Oh, anakku sayang…” Diana segera memeluk Davina.
“Kita bakal cari pengobatan terbaik, Sayang. Kemana pun itu. Dokter manapun itu. Kamu jangan takut. Kita akan berusaha, Dav.” Dave ikut memeluk istri dan putrinya itu.
Davina tidak lagi sanggup menjawab. Dia hanya ingin menangis.
Bahkan di kondisi terbaiknya pun kadang dia masih mungkin melakukan kesalahan di atas panggung. Bagaimana dia bisa melakukannya dengan kaki yang tidak lagi dapat berfungsi seratus persen?
Seperti yang semua orang tahu…
Balet ibarat bernafas bagi Davina.
Dan bagaimana dia bisa terus bernafas, bila udaranya menghilang?
Seluruh impian Davina perlahan memudar.
Seluruhnya…
Paris…
Balet…
Panggung…
Dan terakhir…
Raka.
Yang kini menghilang ntah kemana, di masa-masa terburuk dalam hidupnya.
***
Readers, terima kasih udah bersabar ya, sebentar lagi aja, sebentar lagi kita bakal masuk ke masa sekarang 🙂