
Raka menatap Davina, dalam-dalam. Begitu serius dengan setiap kata yang telah dia ucapkan. Namun, karena tidak juga mendapat kalimat balasan dari Davina, Raka pun bertanya lagi.
"Jadi?" tanyanya, hati-hati.
Lama Davina terdiam, mencoba mencerna apa yang terjadi. Saat dia memperoleh kesadarannya, anehnya, sekonyong-konyong, wajah Davina perlahan berubah.
"Pffft!" Dia berusaha menahan tawanya. Dia sampai harus menutup mulutnya.
Raka kaget. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa reaksi Davina akan jadi seperti ini. Raka tidak banyak menonton film romantis, tapi bukankah di saat-saat seperti ini, harusnya sang pemeran wanita sedang berusaha menahan airmatanya? Bukankah ini adalah saat-saat yang mengharukan?
JADI, KENAPA DAVINA MALAH TERTAWA SEPERTI INI???
"Sorry, are you proposing me!?" Davina bertanya sambil menatap Raka tidak percaya.
(Maaf, kamu lagi ngelamar aku?)
Raka cemberut.
"Ini beneran? Seorang Raka? Aku gak percaya!" Davina tidak bisa berhenti meledek.
Raka kehilangan lisannya. Wajahnya terlihat kesal setengah mati. Tak menyangka semua perkataan tulusnya barusan malah ditanggapi seperti ini oleh Davina. Dan... Davina tidak berhenti sampai disitu!
"Terus cincinnya mana? Dengan kesuksesan Creature yang sekarang, aku gak terima kalau cuma cincin berlian kecil!"
Raka memutar bola mata sambilang mendengus, "Never mind!"
(Lupain aja!)
Davina tertawa lagi.
Raka semakin bertambah kesal dengan reaksi Davina ini.
"Jangan ngambek dong..."
"Shut up!" maki Raka.
"Kasar deh! Padahal tadi katanya aku ini pengecualian."
Raka mendesis, "I hate you so much, Devni."
(Aku benci banget sama kamu, Devni.)
Davina mengibaskan tangannya, "No way! You love me! Buktinya kamu baru ngelamar aku!"
(Mana mungkin! Kamu sayang sama aku!)
Raka menggeram.
Davina tertawa lagi. Tak pernah menyangka Raka ternyata seputus asa ini sampai melamarnya.
Bahkan seluruh dunia pun tahu bahwa Raka sendiri tidak siap dengan apa yang ditawarkannya saat ini.
"Aku udah telat masuk kelas! Bye!" Davina akhirnya memutuskan untuk berpamitan, daripada melanjutkan lakon mereka saat ini.
Dia segera membuka pintu dan berjalan cepat meninggalkan mobil Raka.
Saat melihat punggung Davina yang semakin menjauh, Raka malah jadi tidak rela. Dia cepat-cepat menurunkan kaca mobil dan berteriak, "Devni!"
Lagi-lagi tubuh Davina menurut. Dia pun menoleh pada Raka.
"Jadi, apa jawabannya?" tanya Raka.
"YES! OF COURSE YES! BUT IN ANOTHER LIFE!"
(YA! TENTU AJA IYA! TAPI DI KEHIDUPAN YANG LAIN!)
Raka menggeram, frustasi. Davina tertawa. Lalu, kembali berbalik menuju Espoir. Setelah semua badai dalam hidupnya beberapa hari terakhir, akhirnya dia mendapat sedikit hiburan. Semesta berbaik hati menunjukkan sebuah sisi terang dari hidupnya.
Raka sendiri sudah menumpukan kepalanya di kendali mobil. Tidak pernah menyangka bahwa keadaan jadi berbalik seperti ini. Bahwa pada akhirnya, dialah yang mengemis cinta Davina.
Bahkan menawarkan sesuatu yang mustahil pun ternyata dia lakukan juga agar bisa mendapatkan Davina lagi.
***
Raka melajukan mobilnya menuju Creature setelah itu. Dia ingin bertemu Tia sambil memeriksa keadaan kantornya setelah beberapa minggu tak terurus.
Sesampainya disana, Raka segera mencari orang yang ingin ditemuinya iru. Dan untungnya, dia langsung menemukan Tia, di tengah ruangan, sedang memunggunginya sambil bercengkrama dengan para staff.
"Pagi, Ka!" Beberapa orang menyapa saat melihat Raka mendekat.
"Pagi, pagi!" sahut Raka sambil tersenyum.
Sapaan itu menarik perhatian Tia, dia segera berbalik.
"Eh, Ka, tumben masuk kantor," kata Tia, tanpa basa-basi. Sejak Creature jadi sesukses ini, kehadiran Raka dan Albert di kantor memang bisa dihitung jari.
"Gue mau nanya sesuatu," kata Raka. Berusaha tidak terlihat gusar di depan seluruh karyawannya. Well, seorang pemimpin tidak boleh menunjukkan beban pikirannya di depan orang lain.
Tia mengernyit. Selama ini, tidak pernah ada pertanyaan yang membuat Raka sampai harus datang ke kantor. Apakah ini hal yang serius? Tentang urusan kantor kah?
"Ruang meeting ya," kata Raka, lalu segera berjalan menuju ruang meeting terdekat.
Tia merasakan seluruh mata memandangnya saat ini.
"Tenang, guys, tenang! Hubungan dengan investor masih bagus, keuangan perusahaan juga masih oke, jangan takut di PHK!" Tia meyakinkan teman-teman kantornya begitu Raka menghilang.
"Go! Go! Go!" Mereka semua langsung mendorong Tia untuk segera menyusul Raka.
Tia pun langsung menuju ke ruangan meeting tersebut. Dia sedikit panik saat melihat wajah gusar Raka. Tia menutup pintu dengan kencang.
"Shoot! Perusahaan ini mau bangkrut?! Kita semua mau diPHK?! Oh, no, gimana gue bisa bayar cicilan mobil gue?! AND DAMNNN! I shouldn't buy that Gucci bag yesterday!" Tia mengutuk dirinya sendiri.
"Lo ngomong apa sih, Ti?" tanya Raka.
"Lo mau ngurangin karyawan kan? Perusahaan ini udah mau bangkrut ya?! Kenapa lagi lo datang ke kantor, manggil gue, kalau bukan karena hal sepenting ini?!" Tia histeris.
Dan Raka pun mengerti maksud semua ini.
"Enak aja lo ngomong!" Raka memaki.
Tia langsung terdiam.
"Creature baik-baik aja!" lanjut Raka lagi.
Namun, dalam sekejap Raka tersadar, sudah beberapa minggu ini dia tidak mempedulikan Creature sama sekali.
"Atau... itu yang gue dengar dari kalian semua beberapa hari terakhir ini..." Raka mengaku dengan takut-takut.
Tia dengan suksesnya terpelongo karena kalimat Raka. Segera mendatangi bosnya itu lalu memukuli lengannya.
"LO BENER-BENER YA!!!" maki Tia.
"Aw, sakit! Ya ampun! Kenapa semua cewek yang gue kenal barbar semua sih?!" Raka mengeluh.
Tia meringis, lalu menghentikan kekejiannya.
"Lo tuh bikin anak-anak kantor pada panik, tau gak?! Kita kan takut, kenapa lo tiba-tiba muncul, terus pengen bicara sama gue?!" Tia mengomel panjang lebar. Staff mana pun tentu akan panik jika bos besar tiba-tiba muncul dan memanggil bos HRD. Dengan wajah kalut pula. Membuat skenario PHK besar semakin nyata saja.
"Bukan, bukan. Gue manggil lo bukan karena itu. Gue yakin Albert udah sanggup ngurusin semuanya sendirian."
"Terus buat apa lo digaji?!"
"Salah lo, kenapa tetap mau gaji gue padahal gue gak kerja?!"
"Bener-bener bos setan!"
Raka tertawa mendengar ocehan Tia. Setelah puas memaki Raka, akhirnya Tia pun duduk di sebelahnya.
"Jadi, apa yang lo mau tanya sama gue?" tanya Tia.
Raka menggaruk kepala.
"Apa, woy?" Tia tidak sabaran.
Akhirnya Raka pasrah, dia memang harus bertanya pada orang lain, "Gue sama sekali gak masuk kriteria calon suami idaman ya?"
Tia mengernyit. Dia masih mencerna pertanyaan Raka.
"Tia..." Raka sampai harus memanggil lagi.
"Sorry, gue kayaknya salah dengar. Boleh ulang pertanyaan lo?"
"Gue ini bukan calon suami idaman ya?"
"Wow! Gue gak salah dengar! Lo kenapa? Amnesia? Kepala lo kebentur?"
"Nothing!" Raka mendengus.
"Jadi, kenapa lo nanya?! Kayak bukan lo!"
Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menengadahkan wajahnya ke langit-langit kantor, "Davina bener-bener mengacaukan pikiran gue!"
"Setuju!" Tia mengangguk. Baru kali ini dia melihat bosnya sekacau ini.
Tia membiarkan Raka sibuk dengan pikirannya sendiri selama beberapa saat. Dia suka melihat Raka menderita karena wanita. Apalagi wanita tersebut adalah seseorang yang pernah disakitinya di masa lalu.
Namun, akhirnya dia sadar bahwa Raka benar-benar kacau saat ini.
"Well..." Tia memancing.
Dan Raka betul-betul terpancing. Dia melirik Tia dengan cepat.
"Lo beneran mau dengar pendapat jujur gue?" tanya Tia.
Raka mengangguk.
"Gue rasa lo sama sekali bukan tipe calon suami idaman siapapun."
"DAMMMNNN!"
"Lo tuh lebih ke... tipikal pacar paling brengsek yang pernah ditemui skapapun." Tia pun tertawa kencang.
"SIAL!"
Lalu Raka merenung lagi, "Mungkin gue emang gak punya kesempatan ya..."
Tia menunggu lagi, karena masih tidak mengerti apa yang terjadi pada Raka yang sebenarnya.
Raka menggedikkan bahu, "Gue baru ngelamar Davina, dan gue ditolak mentah-mentah."
"HAH???"
"Chill, Tia! Lo gak salah dengar!"
Mata Tia membesar lagi, "WHAT???"
Jika Tia saja sekaget ini, maka Raka benar-benar maklum kenapa Davina menolaknya mentah-mentah. Ini adalah sebuah kemustahilan yang tidak terbantahkan.
***
IG : @ingrid.nadya