Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Kamu Ikut Aku!



Davina dan Nikolas tidak pergi jauh-jauh. Mereka hanya berjalan menuju ruang tamu, kemudian berhenti disana.


“Kenapa Raka disini?” tanya Nikolas terburu-buru, bahkan sebelum Davina sempat duduk.


Davina berbalik, menatap Nikolas dengan tajam. Calon suaminya itu seakan memantik sumbu amarah yang masih belum padam dari kemarin.


“Kamu yang kenapa datang kesini???” Davina bertanya balik dengan nada suara yang meninggi.


Nikolas balas menatap Davina terluka. Baru kali ini Davina membentaknya. Sejak kapan calon istrinya menjadi seperti ini?


Dengan suara sendu, Nikolas bertanya, “Jadi, Raka boleh datang kesini, tapi aku enggak?”


Playing victim. Hal ini sama sekali tidak menumbuhkan simpatik, Davina malah menangang balik Nikolas dengan bertanya, “Jadi, menurut kamu, aku senang dia datang?”


Nikolas kaget.


Karena tidak berhasil melunakkan Davina, amarah Nikolas jadi ikut terpancing. Dia berkata dengan nada dingin, “Dav, aku ngelihat kamu lari-larian sama dia tadi.”


“Demi Tuhan, Nik, aku ngejar Keysha!”


Nikolas memutar bola matanya, “Iya iya, kayak aku percaya aja, Dav.”


“Kamu…” Wajah Davina memerah. Amarahnya telah sampai di titik tertinggi.


Tangannya menuding Nikolas saat dia berkata, “Kamu sama sekali gak berhak nuduh aku!”


Wajah Nikolas langsung berubah. Amarahnya seketika surut. Dia sadar situasi hubungannya dengan Davina sedang buruk, harusnya dia tidak mencoba memancing masalah. Ini hanya akan membuat semuanya bertambah parah.


Nikolas akhirnya memilih duduk di kursi ruang tamu. Dia membiarkan Davina menatapnya dengan penuh amarah, tentu tidak terima dengan sikap tenangnya yang dibuat-buat itu. Namun, saat dia sudah mempersiapkan diri untuk dihantam oleh berbagai makian dan cacian lagi, Davina malah berbalik darinya.


Punggung Davina yang tampak begitu lemah, kini bergetar. Dia menarik nafas berkali-kali untuk menghindar dari serangan emosi yang membanjirinya saat ini. Dia tidak sudi menangis! Bukan ini alasannya mengambil cuti! Dia ingin tenang! Dia ingin berhenti berpikir sejenak! Tidakkah ada yang mau mengerti? Jika Raka dan Nikolas benar-benar mencintainya, bukankah mereka harusnya mengerti apa kebutuhan Davina saat ini?


Melihat calon istrinya mulai dikuasai oleh perasaannya, Nikolas segera memegang satu tangan Davina dengan tangan yang tidak dibalut perban.


“Davina, sayang,” panggil Nikolas, lembut.


Ya.


Inilah Nikolas yang Davina kenal. Yang selalu bersikap lembut. Dan tidak mungkin menyakitinya.


Dia berbalik, mencoba menemukan kembali Nikolas yang dimaksud. Namun, alih-alih melihat sosok yang akan selalu mencintai dan menjaganya, dia sekarang hanya berhadapan dengan sosok yang mengecewakan.


Nikolas jelas mengerti arti tatapan Davina. Dan dia merasa pantas mendapatkan semua itu. Tapi sungguh, dia tidak ingin melepaskan Davina. Tidak sekarang. Tidak selamanya.


Davina adalah kekasihnya, calon istrinya. Sempurna untuknya. Bagaimana dia bisa membiarkan wanita itu pergi darinya?


“Davina…” Nikolas memanggil lagi, kali ini dengan nada memelas.


Davina menggeleng, wajahnya kini lebih seperti memohon. Lebih menyedihkan dari yang Nikolas lakukan.


“Makanya, kamu kasih aku waktu dulu, Nik. Biarin aku berpikir jernih.” Suara Davina bergetar.


“Aku gak mungkin biarin kamu sendirian, Dav, sementara ada Raka disini.”


Davina menarik nafasnya. Sudah saatnya, dia harus mengatakan apa yang benar-benar dia rasakan saat ini.


“Here is the truth…”


(Inilah kebenarannya…)


Davina memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Sebenarnya aku udah gak peduli lagi, Nik. Kamu nyakitin aku. Raka nyakitin aku. Kenapa aku tetap harus milih di antara kalian berdua? Aku pengen bahagia. Kalau kalian gak bisa ngasih itu, buat apa aku memilih?”


Nikolas merasakan hatinya berdenyut menyakitkan melihat Davina seperti ini. Saat itulah, dia menyadari betapa menakutkannya kehilangan Davina.


“Can’t you see I’m drowning, Nik? I need to save myself.”


(Gak bisa kamu lihat aku lagi tenggelam, Nik? Aku perlu nyelamatin diriku sendiri.)


“But I want to save you.”


(Tapi aku pengen nyelamatin kamu.)


“Kamu pernah coba dan kamu berhasil. Tapi sekarang, kamu yang nenggelamin aku lagi.”


Nikolas menatap Davina dalam-dalam. Dia sadar bahwa tidak ada gunanya saat ini untuk menentang calon istrinya itu.


“Aku minta maaf.” Hanya itu yang bisa diucapkan Nikolas.


Nikolas tahu bahwa sudah percuma untuk memberi argumen. Akhirnya, dia mengangguk.


Untuk sejenak, dia mengamati Davina lagi. Lalu dia pun melepaskan tangan itu.


“I love you.” Nikolas memajukan wajahnya. Davina tidak sempat menghindar. Nikolas pun mengecup singkat bibirnya. Lalu berjalan, dan menghilang di balik pintu.


Airmata Davina meleleh. Dia cepat-cepat menghapus airmatanya, berikut bekas ciuman Nikolas. Lalu, dia segera berlari ke ruang keluarga.


Masih ada Raka disana. Bahkan lengkap dengan Keysha, Dave, Rara dan suaminya. Mereka semua terkesiap begitu melihat wajah Davina yang bersimbah airmata.


“Lo kenapa, Dav?” tanya Rara, panik.


Tapi Davina mengabaikan Rara, malah beranjak ke lemari. Berjinjit untuk mengambil koleksi wine yang dimiliki Dave.


“Hey, Dav, kamu kenapa?” Dave, yang ikut kebingungan dengan tingkah Davina, bertanya.


“Dav, ini masih pagi.” Suami Rara juga mengingatkan.


Tapi lagi-lagi Davina tetap mengabaikan Dave. Matanya malah tertuju pada satu orang saja. Siapa lagi kalau bukan Raka.


“KAMU…” Davina menunjuk Raka.


Dahi Raka mengerut. Apakah dia akan mendapat caci maki lagi? Dia tahu tadi sudah bersikap kurang ajar pada Nikolas. Sudah sepantasnya Davina memakinya habis-habisan.


Raka bahkan sudah bersiap-siap jika botol wine itu malah dilemparkan ke kepalanya.


Semoga asuransi kantor bisa menutup biaya medis… Semoga kerusakan di kepalanya, tidak menurunkan kemampuannya untuk mengelola Creature nantinya…


Pikir Raka iseng.


Namun, saat pikirannya sudah mengelana kemana-mana, yang terjadi selanjutnya malah sama sekali di luar ekspektasinya.


“IKUT AKU!” perintah Davina.


“Hah?” Raka tidak percaya dengan pendengarannya.


Namun, Davina segera berjalan keluar dari ruang keluarga tanpa satu pun mengerti apa yang baru saja terjadi.


“Ada yang paham gak?” tanya Raka.


Semua menggeleng, masih terlalu terkejut untuk dapat berkata-kata.


Lalu, tiba-tiba Davina muncul lagi di sudut pintu. Wajahnya memerah lagi, menahan amarah.


“IKUT ATAU ENGGAK?!” Davina mulai histeris.


“Eh iya, ikut…” Raka jadi serba salah. Saat ini dia kan masih memangku Keysha!


“TUNGGU APA LAGI?!” Davina mendesaknya lagi.


“Iya, iya.” Raka pasrah, berdiri sambil mengangkat Keysha. Rara sendiri langsung merentangkan tangan untuk menyambut Keysha ke pelukannya.


Davina sudah tidak sabar, dia segera pergi lagi.


“Gue tuh harus gimana sih?” tanya Raka pada tiga orang dewasa lain di ruangan.


“Ya ikut sana! Tapi jangan aneh-aneh!” ancam Rara dan Dave, berbarengan.


“Ya ampun, gue masih sayang nyawa kali.” Raka mengeluh.


“RAKAAAAAAA!!!” Suara Davina kembali terdengar lantang.


“Iya, iyaaaa, I’m comiiiiing,” sahut Raka, pasrah, segera berlari mengejar Davina.


Sepeninggal Raka, tiga orang dewasa yang tertinggal hanya saling bertatapan. Lalu tak lama kemudian meledak dalam tawa.


“Keingat satu nama gak?” tanya Rara, di sela tawanya.


Dave mengangguk, “Azel-lah!Gak beda dikit pun!”


***


Mau diajak kemana tuh si anak dajjal?! 🤪


IG : @ingrid.nadya