Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
DON'T YOU EVER TOUCH ME AGAIN!



Saat Davina tahu tentang kesalahan Nikolas dan Sienna di Bandung, segalanya berubah. Nikolas dapat merasakan secara perlahan-lahan, Davina mulai terlepas dari genggamannya.


Davina terang-terangan mengakui pada Nikolas bahwa Raka menjemputnya, mengantarnya, bahkan menemaninya. Davina seakan ingin perasaannya juga dimengerti. Bahwa dia berhak marah. Dia berhak kecewa atas segala hal yang salah pada hubungannya dan Nikolas.


Terutama ketika usaha terakhir Nikolas, memberikan kejutan untuk Davina di Espoir malah disambut dingin oleh wanita itu. Tidak ada lagi binar yang sama untuk Nikolas.


Nikolas tahu bahwa dia sudah kalah perang. Apalagi saat menyadari bagaimana Davina dan Raka saling memandang penuh arti satu sama lain dari kejauhan. Dia tahu begitu saja bahwa dia sudah tidak punya kesempatan lagi. Davina tidak akan menemuinya malam ini. Calon istrinya itu akan berlari ke pelukan laki-laki lain.


Dan, semua itu karena kesalahannya! Semua orang benar! Dia adalah sumber yang menghancurkan segalanya!


Jika dia tetaplah sosok yang sempurna untuk Davina, jika dia tidak pernah membiarkan Raka masuk lagi dalam kehidupan Davina, jika dia tidak berselingkuh...


Segalanya akan berjalan tepat seperti yang dia inginkan! Davina masih akan tetap ada di pelukannya!


Dan sekarang, semuanya kacau balau! Apalagi yang bisa dia lakukan untuk menutupi segala perasaannya saat ini?


Sebuah ide gila muncul di kepalanya.


Menghubungi Sienna terlihat seperti sebuah ide cemerlang. Menenggelamkan diri lagi di hangatnya pelukan wanita itu lagi mungkin akan sedikit meredakan segala perasaan menyesal yang menyerangnya bertubi-tubi.


Nikolas sudah tidak peduli lagi...


Sebab semua ini memang terjadi hanya karena kebodohannya.


Dia segera menekan tombol panggilan ke nomor Sienna.


"Kamu dimana?" tanya Nikolas, begitu Sienna menjawab teleponnya.


"Kenapa kamu nelepon aku lagi, Nik?"


"Kamu dimana?" Nikolas mengulang lagi pertanyaannya.


"Kantor kamu."


"Ngapain malam-malam di kantor?"


Sienna terdiam. Dia tidak mau mengatakan bahwa selama dua hari terakhir, dia selalu datang ke kantor pada malam hari. Dia sudah mengajukan surat resign sejak seminggu yang lalu. Dia tidak ingin melihat Nikolas lagi, makanya dia memilih untuk mengemasi barang-barangnya di malam hari.


Dan, Nikolas langsung mengerti. Sienna takkan sudi lagi jika disuruh datang ke apartemennya. Dan dia pun sama sekali tidak tahu dimana letak kediaman Sienna. Kalau dia tidak mempergunakan kesempatan ini, Sienna pun juga akan hilang dari genggamannya.


"Tunggu aku di kantor!" kata Nikolas, tegas.


"Tapi, Nik–"


"Aku bilang, tunggu aku di kantor!"


Nikolas memutuskan hubungan telepon dan segera melajukan mobilnya ke kantornya. Begitu dia melihat Sienna, segalanya langsung terlupakan. Dia merengkuh Sienna dalam pelukannya, lalu terjadi lagilah sesuatu yang telah mereka lakukan berkali-kali.


***


Davina masih terpaku, berusaha mencerna apa yang terjadi saat ini. Terutama pemandangan di hadapannya.


Sebenarnya Nikolas dan Sienna sedang melakukan apa ini? Kenapa harus disini? Kenapa harus saat ini? Bukankah seharusnya sekarang Nikolas sedang menunggu Davina?


Davina kesulitan memproses semua ini.


"Da-Davina..." Sienna tampak gelagapan. Tangannya berusaha menggapai apapun yang dapat menutupi tubuhnya saat ini.


Sementara Nikolas...


Laki-laki brengsek itu terlihat mencari-cari pakaiannya yang berserakan sembarangan di lantai.


"Well..." Akhirnya Davina menemukan suaranya. Terdengar mencicit, seperti suara anak tikus yang terluka.


Gerakan Nikolas dan Sienna berhenti mendengar suara Davina, mereka memandangi orang yang berdiri di sudut pintu. Tatapan itu nanar, tidak fokus, seperti baru menyaksikan sesuatu yang teramat mengerikan.


Dan tentu saja, hal ini memang terlihat sangat mengerikan, karena kalau dipikirkan, harusnya Davina sudah resmi menikah dengan laki-laki pengkhianat tersebut sejak beberapa minggu yang lalu.


"Ma-maaf kalau gue mengganggu, silahkan dilanjutkan..." Davina buru-buru menarik gagang pintu. Namun, tangannya terasa lemas, tidak bisa berfungsi dengan baik. Gagang itu pun terlepas dari genggamannya, meski saat itu, pintu masih belum tertutup dengan sempurna.


"Maaf! Maaf!" Davina panik. Dia segera berbalik, berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat terkutuk itu. Dia bisa merasakan seluruh tubuhnya masih bergetar, ntah karena rasa marah atau benci, dia sudah tidak tahu.


Tidak, tidak, tidak, jangan menangis! Davina bodoh, please jangan menangis!


Davina terus memohon pada dirinya sendiri, sambil terus berjalan.


Namun, pandangan Davina perlahan kabur, airmatanya sudah menggenang. Sangat susah berjalan dalam keadaan seperti ini.


"Davina!" Nikolas memanggil.


Davina mempercepat langkahnya. Dia tidak lagi sudi melihat Nikolas.


"Dav!" Tanpa diduga, tangan Nikolas dapat menggapai lengan Davina.


Ini tangan yang sama dengan yang dulu sering memeluknya, membelai kepalanya, memberikan kehangatan. Tapi kenapa sekarang sentuhannya terasa menjijikkan?


Bahkan Davina terlalu mual untuk melanjutkan pikirannya sendiri.


"JANGAN PERNAH SENTUH AKU LAGI!" Davina menjerit, histeris. Seluruh airmatanya langsung tumpah ruah.


Nikolas terpaku. Detik itu juga, dia sadar telah sangat menyakiti Davina. Sungguh-sungguh telah melukai wanita itu. Calon istrinya. Kekasih hatinya. Seseorang yang seharusnya dia bahagiakan.


"LEPASIN! LEPASIN AKU SEKARANG JUGA!" Davina berontak, mencoba melepaskan genggaman Nikolas.


"Dav, dengerin dulu..." Nikolas memohon. Suaranya sarat dengan siksaan. Dia tidak menyangka bahwa menjadi penyebab orang yang kita cintai menangis adalah sesuatu yang sangat tidak bisa tertahankan.


Setiap airmata dan jeritan Davina juga terasa mengiris hatinya.


"GAK ADA LAGI YANG PERLU AKU DENGAR!" Davina meraung.


Dan dengan sekali sentakan, Davina pun terlepas sepenuhnya dari genggaman Nikolas. Dia segera berlari meninggalkan laki-laki itu.


Nikolas menatap punggung Davina.


"Davina... aku sayang sama kamu..." Davina dapat mendengar Nikolas mengiba.


Davina berbalik dengan dramatis.


Dia mengangkat kedua tangannya, menunjuk penampilan Nikolas yang berantakan karena baru melakukan sesuatu yang tidak pantas, "Ini yang kamu maksud dengan rasa sayang???"


"Dav..."


"KARENA KALAU IYA, PERSETAN DENGAN RASA SAYANG KAMU!!!" Davina memaki untuk terakhir kalinya.


Lalu, dia berlari keluar dari kantor tersebut, tanpa berbalik sekalipun.


Cukup sudah. Semuanya tamat disini. Tidak perlu ada kata perpisahan. Harusnya dia memang tidak usah datang ke tempat ini, sejak awal!


Davina buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin cepat-cepat pergi darisana.


Dan setelah beberapa saat berkendara, barulah tubuhnya kembali dikuasai oleh perasaan lagi. Airmatanya merebak lagi. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Dia tidak lagi punya tenaga untuk melakukan apapun.


Dia menepikan mobilnya di tengah jalan. Segera diambilnya botol air dan kain handuk yang selalu dia simpan di mobilnya. Dia tuangkan air tersebut ke handuk, lalu dia usapkan handuk basah tersebut ke daerah lengan yang sempat terkena sentuhan Nikolas.


Dia jijik. Dia tidak sudi disentuh lagi.


Selanjutnya Davina hanya bisa menangis, meraung, menumpahkan seluruh perasaannya.


Dia tidak mungkin melanjutkan perjalanan ini sendirian. Dia butuh memanggil seseorang. Dia tidak ingin membahayakan nyawanya sendiri.


Hanya ada satu nama yang terpikirkan oleh Davina. Orang yang telah dia ceritakan tentang segalanya. Yang selalu paling bisa bersikap netral dan tenang di antara semuanya.


"Please, jawab..." Davina merintih, ketika panggilan pertamanya tidak dijawab.


Dia pun mencoba untuk kedua kalinya. Barulah telepon dijawab.


"Dav?" Suaranya serak seperti baru terbangun.


Syukurlah, syukurlah, dia mengangkat.


Batin Davina.


"Kaaaaak..." Davina merintih sambil terisak.


"Daaav??? Lo kenapaaaa???" Suara Rara terdengar panik. Tentu saja, ini sudah pukul dua pagi, dan Davina meneleponnya sambil terisak seperti ini.


"Kaaaak, please, datang kesini..." Kini Davina sudah meraung dengan penuh kesedihan.


"Iya, Dav, iya. Lo dimana???"


"Nanti gue kirim titiknya dari chat."


"Oke, gue kesana. Tapi, please kasih tahu Kakak, keadaan lo baik-baik aja kan???"


Davina menggeleng, hatinya sakit dan penuh kesesakan. Ini airmata yang dia tahan selama seminggu terakhir. Ini airmata yang dia tahan sejak kejadian di Bandung tempo hari.


Semuanya tumpah ruah hari ini…


"Kak, please, cuma Kakak yang boleh datang." Davina terisak lagi.


"Oke, oke."


Dan mereka pun memutuskan hubungan telepon.


***


Jangan lupa dukungannya ya, teman-teman! 🥰