Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Sekali Lagi, Mungkin Untuk yang Terakhir Kali



Raka mengamati ponselnya lama. Pesannya sudah dibaca, tapi tidak ada tanda-tanda Davina akan membalas pesannya.


Raka tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Daritadi dia hanya berbaring lesu di tempat tidur. Dia tidak membuat gerakan sedikit pun. Patah hati membuatnya benar-benar kehilangan gairah apapun.


Beberapa jam kemudian, pintu kamarnya tiba-tiba digedor kencang-kencang.


“Rakaaaaaa!!! Rakaaaaaa!!!” Nayla menjerit ketakutan.


Raka mengernyit. Merasa diabaikan, Nayla menggedor semakin kencang. Raka langsung cepat-cepat membuka pintu sebelum mamanya itu mendobrak pintu.


“Kenapa, Ma?” tanya Raka, bingung.


Nayla malah langsung memeluk anaknya.


“Kamu ngapain aja daritadi kok gak jawab???”


“Hah?”


“Daritadi mama ngomong dari luar, kamu gak jawab-jawab.”


“Raka gak denger…”


“Bohong!”


“Sumpah, Ma!”


“Kamu gak kepikiran aneh-aneh kan?”


Raka menggeleng, melemaskan seluruh ototnya di dalam pelukan Nayla sambil berkata, “Tapi kok rasanya kayak mau mati, Ma…”


“Rakaaaa!!! Kamh tuh kalau ditolak cewek jangan langsung kepikiran mau bunuh diri!!!” Nayla meluapkan emosinya.


“Eh???”


“Kamu tuh bisa nyari cewek selain Davina, Ka. Kamu jangan gini dong.” Nayla masih histeris.


“Maaaa, Raka gak pengen bunuh diri…”


“Terus ngapain ngomong-ngomong mati???” Nayla marah.


“Ya ampun, Raka cuma lagi frustasi! Pikiran Raka gak sesempit itu juga, Ma,” keluh Raka.


Nayla melonggarkan pelukannya, lalu mengamati Raka. Dan memang tidak ada kebohongan disana.


“Jangan pernah mikir macem-macem ya, Ka!” Nayla mengingatkan Raka, sambil mengelus pipi anaknya itu.


“Iya, Ma.”


“Janji sama Mama!”


“Iyaaaa! Ya ampun!”


Nayla pun melepaskan pelukannya dari Raka. Tapi si anak dajjal malah menarik Nayla lagi ke dalam pelukannya.


“Ma, kalau Raka emang bener-bener kehilangan Davina gimana ya?” Raka bergumam di bahu mamanya itu.


Nayla mengelus-elus punggung Raka, “Ya udah, kamu relain aja.”


“Berat gak?”


“Mama dulu sampe pindah ke Sumba sebulanan waktu putus dari Papa.” Nayla cengengesan.


“Terus jadi lupa?”


“Enggak. Adanya malah jadi gak bisa berhenti mikirin.”


“Terus, Raka harus gimana?”


“Temuin Davina sekali lagi.”


“Terus?”


“Terus, kamu dan Davina bakal tahu apa yang sebenarnya kalian berdua inginkan kalau udah ketemu.”


“Tapi dia udah milih Niko, Ma.”


“Ka, Davina datang sama kamu ke rumah ini beberapa hari yang lalu. Sekarang Mama tanya apakah itu gak ada artinya sama sekali?”


“Mama jangan bikin Raka berharap.”


“Tapi kalaupun nantinya Davina tetap milih Niko, kamu harus ikhlas. Yang terpenting dari mencintai adalah melihat dia bahagia.”


“Walaupun itu artinya Raka menderita?”


“Walaupun itu artinya kita menderita…”


Raka memeluk Nayla semakin erat.


“Duh, anak tengilku bisa juga galau karena cewek…” Nayla tertawa.


“Davina sih, ngapain coba milih orang lain. Udah ada yang ganteng kayak gini juga.”


Nayla langsung melepas pelukannya. Lalu, berjalan meninggalkan anaknya.


“Kamu tuh gak ada tobatnya!”


Raka tersenyum kecil melihat mamanya pergi. Tidak ada yang tahu, ini dilakukannya hanya untuk membangun kembali sisa-sisa harga dirinya.


***


Raka masuk ke dalam kamar papa dan mamanya pagi-pagi sekali.


“Ma, Pa, Raka pulang dulu ya.”


“Kok pagi-pagi banget, Ka?” tanya Nayla. Matanya menyipit, belum terbiasa dengan cahaya. Sepertinya dia dan Azel masih belum seratus persen sadarkan diri.


“Ada townhall kantor, Raka lupa…”


“Oke. Ya udah, hati-hati ya.”


Raka mengangguk, lalu berjalan keluar. Tapi baru dia meraih gagang pintu, Azel sudah memanggil namanya lagi. Raka pun menoleh.


“Kapan kamu mau temuin Davina lagi?”


Raka tertegun.


Azel dan Nayla menunggu.


“Dia belum balas chat Raka.” Raka mengelak.


“Emang kamu gak tahu rumahnya Davina dimana?


Raka tidak bisa berbohong lagi.


“Raka pergi dulu…” Dia pun cepat-cepat meninggalkan kamar orang tuanya.


Daridulu Raka tidak perlu persetujuan Davina untuk datang ke rumahnya, kantornya, Paris. Kenapa Raka sekarang sok-sok butuh izin Davina hanya untuk menghampirinya?


Raka benci mengakuinya. Namun, dia memang hanya belum siap. Menemui Davina sama artinya seperti merealisasikan ketakutan terbesarnya. Seperti mengesahkan bahwa dia memang sudah kehilangan Davina sepenuhnya. Bahwa Davina sudah memilih, dan pilihan wanita kesayangannya itu bukan dia…


***


Raka tiba di kantornya tepat pukul sembilan pagi. Seperti biasa townhall diadakan di satu aula yang tidak terlalu besar, di dalam kantor Creature.


Seperti biasa, townhall diadakan untuk memberitahu seluruh karyawan tentang bagaimana performa perusahaan selama beberapa waktu ke belajang, juga sekaligus memberi informasi tambahan tentang perusahaan sendiri.


Salah satu agendanya adalah terkait dengan diakuisisinya Creature oleh salah satu perusahaan teknologi raksasa. Diharapkan dengan semua ini, karyawan semakin semangat untuk memberikan performa terbaik untuk perusahaan.


Seperti biasa, townhall dibuka dengan basa-basi sedikit dari Raka. Sebagai seorang pemimpin, apapun yang ada di dalam isi hati ini harus bisa disembunyikan. Raka mungkin bisa membuat candaan ataupun nasihat serius saat ini. Namun, pikiran sebenarnya hanya berisi Davina saja.


Setelah Raka, Liana menggantikan untuk mengungkan bagaimana kinerja Creature setahun belakangan dari sisi finansial. Apa saja yang telah mereka capai, dan apa target ke depannya.


Setelah itu, giliran Tia yang mengambil alih. Dan inilah yang mereka semua tunggu-tunggu, sesuai desas-desus yang beredar di antara karyawan beberapa hari ini.


Akhirnya, mereka akan mendengar para petinggi mengungkapkan secara resmi bahwa mereka akan bergabung dengan Olsen.


Dan hebatnya, Tia berhasil mendatangkan Julia pagi itu ke Creature. Semua orang langsung berdecak senang.


Seperti biasa, Julia selalu semempesona biasanya. Dia terlihat hangat dan sangat antusias, membuat seluruh perhatian tertuju padanya.


Raka tertegun melihat dua orang wanita yang berdiri bersebelahan itu. Baik Julia maupun Tia adalah dua wanita cantik dan single dalam kehidupan Raka. Seperti Davina, mereka tipikal wanita independen yang tahu tentang apa yang ingin mereka lakukan dalam hidup.


Lalu Raka mengamati lagi orang-orang di sekitarnya. Banyak sekali wanita cantik, yang selama ini tidak Raka sadari keberadaannya. Seluruh kualitas Davina bisa ada pada siapa saja. Posisinya harusnya sangat mudah untuk digantikan siapapun.


Namun…


Yang Raka tidak pernah sadari selama dua tahun terakhir, bahwa Davina sudah membuat wanita lain menjadi hambar untuk Raka. Sejak perpisahan menyakitkan mereka, secara diam-diam, Raka selalu menanti kapan akhirnya Davina kembali dalam kehidupannya.


Sebab sepanjang hidupnya, hati Raka hanya akan mengenal satu wanita saja.


Dan dia adalah Davina.


Tidak peduli apapun kata dunia, siapapun wanita cantik di sekitarnya, Raka hanya akan mencintai satu wanita itu saja. Dan Davina perlu tahu itu.


Raka benar-benar hanya butuh Davina tahu. Setelah itu, dia akan sanggup merelakannya. Karena dia ingin Davina bahagia, dengan atau tanpa dirinya.


Raka tidak sabar menunggu seluruh rangkaian acara itu berakhir. Karena Raka tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Dia harus menemui Davina.


Sekali lagi.


Mungkin untuk yang terakhir kali.


Untuk patah hati semengeringkan mungkin.


Untuk menghancurkan dirinya sendiri.


Untuk membiarkan Davina, kali ini, benar-benar mengucapkan selamat tinggal padanya.


Raka sudah siap.


***


IG : @ingrid.nadya